The Feel

The Feel
gadis pengasuh. part 1


__ADS_3

“Ada apa telfon? Bukankah sudah kubilang aku ingin pulang?” ujar Bagas dengan ketus dari dalam ruangan sambil merapikan meja kerjanya.


“Saya ingin memberi tahu ada paket untuk Bapak. Apa perlu saya antar ke ruangan Bapak sekarang juga?” tawar sekretaris itu.


“Tidak perlu, biar aku turun sendiri untuk mengambilnya,” jawab Bagas tegas.


“Jadi Presdir ingin turun mengambil paketnya di respsionis?” tanya sekretaris, memastikan dia tidak salah dengar.


“Iya,” jawab Bagas singkat dan langsung bergegas pulang. “Paketnya datang tepat waktu,” gumam Bagas, tersenyum tipis kemudian keluar dari ruangannya.


Dengan cepat, Bagas turun ke lantai bawah. Ketika Bagas lewat, semua karyawannya memberi hormat.


Setelah sampai di lobi, karyawan yang bertugas di bagian resepsionis pun langsung menyapanya. ”Selamat siang, Presdir.”


“Siang, dimana paketku?”tanya Bagas, menatap wanita di balik meja resepsionis.


“Sebentar, Presdir. Akan saya ambilkan,” ucap karyawannya langsung mengambilkan kotak berukuran sedang di bawah meja, “ini, Presdir,” ujar karyawannya, menyerahkan kotak itu sambil tersenyum.


“Apa Presdir ingin menghadiri sebuah acara dengan membawa kado itu?” tanya Ratna, salah satu repsepsionis di perusahaannya.


“Iya,” jawab Bagas.


“Pasti kado itu untuk orang yang sangat sepesial bagi Presdir,” imbuh Ratna tersenyum menggoda sambil menaikturunkan alisnya.


“Benar,” jawab Bagas.


Mendengar itu, Ratna semakin ingin menggoda Bagas.“Orang itu pasti wanita,” tebak Ratna.


Bagas dengan cepat mengangguk. “Tentu. Karena wanita itu sangat spesial, lebih dari siapa pun dalam hidupku,” jelas Bagas, tersenyum tipis.


Ratna bergumam wow lalu berkata, “Pasti dia akan sangat senang. Aku jadi iri.”

__ADS_1


”Terima kasih, aku pamit pulang dulu, ya?” pamit Bagas tersenyum sambil menepuk pundak Ratna dan langsung pergi membawa kado itu.


“Wah beruntung sekali wanita itu mendapatkan pria yang tampan, kaya, pintar, dan seksi,” gumam Ratna. Matanya tampak berbinar dan bibirnya tersenyum lebar sewaktu memandangi punggung kokoh Bagas yang perlahan menjauhi lobi.


Bagas pulang mengendarai mobil.


Di rumah Nyonya Suyatmi, adik Nyonya Suyatmi menggerutu tentang Bagas. “Bagaimana ini, cucuk kesayanganmu malah belum datang di hari penting seperti ini,” keluhTuan Andy dengan sinis. Keluarga adik Nyonya Suyatmi dari awal memang tidak menyukai Bagas. Mereka tidak ingin Bagas mendapatkan warisan sedikit pun dari Nyonya Suyatmi.


Hanya Andin yang menyukai Bagaskarena Andin menyimpan hati untukkakak sepupunya itu.


“Jaga ucapanmu, aku ini tidak pilih kasih, mungkin saja dia masih sibuk atau terjebak macet,” sahut nyonya Suyatmi.


“Ah! Itu bukan alasan. Aku saja rela pulang lebih awal demi merayakan ulang tahun Kakak,” timpal Tuan Andy, memutar bola mata sambil tersenyum miring.


“Jangan samakan kau dengan Bagas. Dia punya banyak perusahaan yang harus diurus,” bela Nyonya Suyatmi, tidak terima cucunya dihina Andy.


“Kalo aku punya banyak perusahaan, aku juga akan tetap datang ke pesta Kakak tepat waktu.” Tuan Andy terus berdalih.


“Itu kan karena tidak beruntung saja.” Iaberkilah. Kakinya bergoyang-goyang dan keringat mulai terbit di dahinya.Tuan Andy punmemalingkan muka ke  arah pohon di kanannya.


“Bilang saja kalau otakmu tidak lebih pintar dari Bagas,” cemooh Nyonya Suyatmi seraya menatap remeh Andy. Merasa direndahkan, Andy mendengkus dan menggerutu dalam hati.


Di lain tempat tapi di waktu yang bersamaan, Bagas sedang dalam perjalanan menuju rumah. Di tengah perjalanan, Andin, adik sepupu Bagas, meneleponnya. “Halo, Kak, kenapa kau belum pulang? Acaranya akan segera dimulai,” tanya Andin seraya berjalan mondar-mandir di tengah taman.


“Mana salammu?” tegur Bagas.


“Iya,assalamualaikum,” sapa Andin.


“Waalaikumsalam, aku sedang di jalan dan mungkin jika tidak macet, aku akan segera tiba dalam tiga belas menit,” jawab Bagas sambil menyetir. Dia menyadari ada nada khawatir dalam suara Andin.


“Hm begitu, ya sudah cepat ya karena tinggal kau saja yang belum datang, Kak,” pinta Andin.

__ADS_1


“Iya aku tahu dan jangan mulai tanpa aku ya,” balas Bagas tersenyum tipis lalu menatap ke depan.


Seketika Bagas terbelalak sewaktu melihat seorang anak kecil berlarihendak menyeberang tepat di depan moncong mobilnya. Sebuah bola plastik hitam dan putih memantul-mantul di aspal jalan, dikejar oleh anak kecil itu. Bagas langsung mengerem mendadak hingga tubuhnya condong ke depan dan kepalanya terbentur dasbor.


Denyut jantungnya yang kencang seakan menyembur telinganya. Anak kecil itu puluhan senti saja jauhnya dari moncong mobilnya. Kaki Bagas rasanya langsung lemas. Dia mendongak untuk memeriksa keadaan anak kecil itu. Untung saja si anak kecil hanya tersenggol sedikit dan terjatuh pelan. Sekilas tidak tampak mengalami luka serius, paling tidak hanyagoresankecil saja. “Maaf, Andin, aku harus matikan teleponnya,” kata Bagas memutus sambungan telepon.


“Ada apa, kak?” tanya Andin. Bukannya menjawab, Bagas malah langsung mematikan teleponnya lalu keluar dari mobil untuk memeriksa keadaan anak kecil itu.


“Apa kau terluka, Adik kecil?” tanya Bagas khawatir sambil membantunya berdiri.


Anak lelaki itu menggeleng pelan. “Hanya sedikit sakit, Tuan,” jawab anak kecil yang bernama Tino.


“Di mana yang sakit?Sini, biar kuperiksa,” pinta Bagas memperhatikan anak kecil itu.


“Di sini, Tuan,” tutur Tino, meringispelan sambil menunjukkan bahu kanannya.


Saat Bagas sedang memeriksa luka anak itu, datanglah seorang wanita muda bernama Dwi Kusuma Umi Hani yang biasa dipanggil Kusuma. Dia datang bersama rombongan anak. “Ada apa denganmu, Tino?” tanya Kusuma menatap khawatir Tino.


“Aku tertabrak, Kak, tapi tidak terlalu parah,” jawab Tino meringis pelan.


Kusuma langsung berdiri dan menatap Bagas tajam. “Kau yang telah menabraknya ya!” tuduh Kusuma marah pada Bagas.


Bagas yang sedang memeriksa Tino langsung bangkit berdiri dan menatap Kusuma dengan heran. “Jadi kau kakaknya anak ini?” tanya Bagas menunjuk Tino.


“Bukan, aku gurunya,” balas Kusuma ketus sambil menarik Tino ke belakang punggungnya seolah Bagas akan menyakiti Tino.


“Ohh ... jadi kau gurunya anak ini, ya?” tanya Bagas mengangguk-angguk.


“Iya, memangnya ada apa?” Kusuma balik bertanya, raut wajahnya malah tampak menantang.


“Aku bisa melaporkanmu karena telah lalai menjaga anak muridmu dan membiarkannyabermain di jalan,” kata Bagas sembari menatap nyalang Kusuma.

__ADS_1


Bersambung... follow IG faghan_mw author ya dan kasih dukungan jika suka dengan cerita nya😊


__ADS_2