The Journey Of Raa : The Lostland, Nusantara

The Journey Of Raa : The Lostland, Nusantara
Perjalanan ke Ibukota


__ADS_3

Api merah menyala melalui malam gelap, menyemburkan percikan cahaya yang menari-nari di sekitarnya.


Derasnya angin memperkuat kobaran si jago merah yang mengamuk, membentuk langit menjadi latar belakang penuh dengan kepulan asap hitam yang menutupi langit dan bintang.


Deru api yang membara menghancurkan segala yang ada di jalurnya, merobek dan melahap apa pun yang ditemuinya.


Serpihan-serpihan kehidupan tercerai-berai tanpa sisa di tengah reruntuhan, meninggalkan hanya jasad-jasad berdebu yang terbakar dan hampa dengan bercak darah dimana-mana.


Hanya derap langkah seorang pria yang terdengar redup.


Napasnya sesak, matanya pedih, dan perasaannya yang tidak karuan.


“Apa yang terjadi selama aku pergi? Kenapa bisa terjadi hal seperti ini? Hancur … kenapa harus sudut senyum desaku yang harus dimusnahkan?” Dia berkata dalam hatinya yang berdetak hebat.


Lirikannya tak henti melihat rumah-rumah yang hanya tersisa puing-puing kayu hitam.


Sesaknya napas tidak semata-mata hanya karena kobaran asap kebakaran, tapi juga mata yang terbelalak melihat kematian dimana-mana.


“Lina, aku harap kamu baik-baik saja. Tunggu aku, Lina!” Pikirannya kini hanya berharap orang yang disebut-sebutnya ini baik-baik saja.


Tidak lama kemudian, tepat di depan kediaman rumahnya, langkah pria itu terhenti dengan mulut yang gemetar takut.


Tanpa memikirkan api menjalar ke tubuhnya, dia nekat menerobos rumahnya itu.


Secepat kilat dia berada di kamarnya dan membanting pintu.


Pria itu ingin menyelamatkan Lina, istri tercinta, namun sayangnya dia terlambat.


Matanya melebar, raut wajahnya berubah suram. Melihat Lina terbaring dengan darah menutupi hampir semua wajahnya dan tangan yang memeluk seorang bayi.


Wanita itu dengan keadaan nyawa yang akan segera terlepas dari jasadnya berkata dengan nada yang lemas dan terbata-bata, “Maafkan aku karena tidak bisa menjaga bayi kita dan … kita tidak bisa bersama lagi, sayang.”


Mendengar ucapan istrinya saja membuat sesak di dada dan sendu pada mata.


Kata-katanya tertahan di tenggorokan seakan ia tercekik. Terakhir kalinya bagi pria itu melihat wajah cantik sang istri yang dicintainya.


Ia meraba perlahan dan merasakan bayinya yang baru saja satu hari lahir ke dunia sudah dingin tanpa ada tawa atau suara manis.


Pria itu memeluk kedua insan yang paling ia sayangi, dekapan cinta untuk terakhir kali.


Sesaknya begitu hebat menusuk hatinya, tangisnya tak terhenti, dan teriakannya begitu sakit sampai suaranya hilang.


***


“HAH!”


Tiba-tiba pria itu terkejut, bangun dengan napas terengah-engah, terlihat mata toska tuanya seakan panik.


Tangan kiri menopang kepalanya yang pusing, “Mimpi itu lagi, bisa-bisanya aku ketiduran di bukit.”


Dia terduduk di atas hamparan alam yang membentang luas, tak ada siapa-siapa disana selain dirinya dan lapang hijau yang menemani di bawah naungan cakrawala langit.


Rambut hitam dengan ujung-ujung yang berwarna sama dengan matanya melambai-lambai tersapu angin.

__ADS_1


Dia adalah Raa, salah satu hal yang ia benci adalah tidur. Berasal dari desa kecil dipinggiran Abisend City, Zagal.


Dua tahun lalu, dia menikah dengan seorang putri keturunan raja di Abisend City, bernama Lina Vilnhurt.


Kota ini merupakan tiga wilayah besar di Negara Emperian, Benua Cassiont.


Keduanya direstui untuk menikah dan sembilan bulan kemudian, mereka dikaruniai seorang bayi mungil yang manis.


Suatu hari, Raa mendapatkan sebuah misi untuk pergi seorang diri ke Lunarian City—wilayah paling utara dan terjauh dari ibukota.


Membutuhkan waktu tiga hari perjalanan dari Abisend City ke Lunarian City begitupun sebaliknya.


Saat Raa kembali, naas sekali bahwa ia harus menerima fakta Abisend City terbantai habis dan luluh lantak.


Semuanya hilang termasuk istri dan bayinya. Setelah kejadian itu, dia selalu bermimpi hal yang sama dan Raa pada akhirnya “benci” tidur.


“Yah, kayaknya aku mending ke rumah sensei.” Dia berkata dengan wajah yang lemas.


Setelah insiden yang menimpanya itu, entah bagaimana caranya Raa masih bisa bertahan hidup.


Saat itupun, Kagetora (acap dipanggil sensei/guru oleh Raa), menemukan tubuhnya yang berlumuran darah.


Lantas ia membawa dan merawat Raa, bahkan setelah kesembuhannya, Kagetora melatih ilmu pedang pada pemuda ini.


“Kagetora sensei! Kau di dalam kah?” Raa memanggil nama tersebut dengan tubuh yang menerobos masuk begitu saja ke kediaman Kagetora—lagi pula mereka tinggal serumah.


“Eh? Tumben banget dia kagak ada di rumah? Biasanya juga anti banget kalau keluar, apalagi waktu panas gini paling anti sama matahari,” gumamnya dengan sindiran polos.


Nafsu makan Raa yang seperti hewan buas lantas tak bisa menghentikan godaannya tersebut dan berniat menghabiskan “sedikit” saja makanan itu.


Dia berkata dengan tatapan penuh nafsu, “Em, gak apa-apa kali yah aku cicip dikit aja makanan sensei, dikit kok hehehe!”


Saat Raa mengucapkan “selamat makan”, sebuah batu kecil tiba-tiba mengenai kepala Raa dan wajahnya membentur meja.


“WADAW!”


“Jangan sembarangan mengambil makanan, anak kecil!” Ucapan itu keluar dari suara berat seseorang dengan tawa keras diakhir kata.


Raa menyeringai dengan tangan yang sudah memegang pedang katana miliknya dan tanpa aba-aba dia bergerak secepat kilat ke depan pria yang berdiri di belakangnya.


Dengan pedang yang sudah terhunus, kapanpun senjata itu siap menebas.


Sayangnya serangan dadakan itu bisa ditahan, kecepatan dan reflek menghunus pedang pria tua itu tidak bisa diremehkan.


“Cih, padaha udah secepat ini tapi sensei masih bisa mengimbanginya. Keren!” Raa tersenyum.


“Dasar bocah! Tempat ini terlalu kecil untuk pertarungan kita, apa kau ingin menghancurkan ruangan ini?” Pria tua yang disebut sensei ini memiliki tatapan tajam.


“Kalau begitu, biar aku yang memperlebar area pertarungan kita.” Kakinya menendang keras Kagetora hingga terpental ke belakang.


Untungnya dia masih bisa mempertahankan posisi berdirinya, kalau orang biasa mungkin sudah terjungkal-jungkal karena tendangan Raa.


Seketika Raa terdiam saat ia sedang dalam keadaan semangatnya saat melihat tangan Kagetora yang seakan menghentikan pertarungan ini.

__ADS_1


“Sudah, sudah! Selama dua tahun ini kau sering berlatih denganku dan itu tidak membuatmu berkembang secara signifikan karena kau hanya bertarung dengan orang yang sama. Iblis yang kita temui juga hanya iblis rendahan sehingga itu terlalu mudah untukmu,” ucap Kagetora seakan menyembunyikan sesuatu untuk Raa.


Pria bermata biru toska tua itu merasa bingung, “Jadi maksudnya aku harus melawan orang lain, begitu sensei?”


Wajahnya terlihat begitu serius untuk disampaikan, “Tidak hanya satu, kau akan bertemu berbagai orang dengan banyak sihir yang berbeda kalau kau mau ikut serta dalam pertarungan Arena of Valor.”


Raa tercengang, kemudian ekspresinya berubah menjadi sumringah karena setelah dua tahun akhirnya ia bisa bertarung dengan orang-orang yang mungkin lebih kuat darinya.


“Itu artinya aku akan bertarung dengan orang yang lebih kuat dariku,” ucap Raa senang seperti anak kecil yang baru saja diberi kado.


Kagetora memberikan secarik kertas yang berisikan surat izin dan bertandatangan resmi dari pihak kerajaan.


“Apa ini?” tanya Raa sedikit memecah kebahagiannya.


“Ini adalah surat izin yang telah ditandatangani oleh Jenderal Tertinggi, Julius Caesar.” Kagetora menjawab.


Raa berteriak semakin kegirangan dan itu terdengar cerewet di telinga gurunya, walaupun dia sudah terbiasa karena sifatnya yang selalu positif ini.


“Asal tahu saja, surat ini khusus diberikan untukmu. Negara Emperian meskipun negara yang besar, tapi tidak menutup fakta negara ini memiliki sisi gelap terutama Empyrean of Light sebagai ibukota. Tiap wilayah di negara ini, mereka dikuasai oleh para ningrat dan keluarga kerajaan yang arogan sehingga kau jangan kaget saat menemukan diskriminasi apalagi pada rakyat jelata.” Kagetora menjelaskan sedikit pengetahuan agar Raa bisa memahi dunia luar, dalam konteks ini adalah Empyrean of Light yang menjadi tujuannya.


Arena of Valor adalah sebuah ajang untuk menunjukkan kekuatan para pengguna sihir dari Empyrean of Light, ibukota Emperian.


Karena Raa dan Kagetora masih berada di wilayah ibukota tepatnya dekat perbatasan Abisend City, dia diizinkan ikut serta asalkan membawa surat yang telah ditandatangani oleh pihak kerajaan.


Mereka yang beruntung akan direkrut menjadi Kesatria Sihir dan berlatih di kerajaan.


“Baiklah aku mengerti! Bagiku diskriminasi bukan hal yang sulit untuk aku atasi, lagi pula aku sudah dilatih oleh guru terhebat.” Raa tertawa ikhlas dan sedikit malu.


Kagetora yang mendengarnya sangat senang dan tidak bisa menahan air mata keharuan.


“Huwa! Berhentilah bicara seperti itu bodoh, cepat kau kemasi barang-barangmu! Aku sudah menyiapkan semuanya.” Kagetora membalikan badannya dan tidak bisa melihat ke arah Raa karena takut dicap sentimental.


“Eh! Kau mau mengusirku!” Raa berteriak, salah paham dengan ucapan Kagetora.


“Bukan bodoh! Maksudnya siap-siap!” Kagetora menjitak kepala Raa.


“Atatata, sakit!”


***


Singkat cerita, Raa sudah berangkat ke ibukota dengan segala perbekalan yang telah disiapkan Kagetora tercinta.


Menurut petunjuk yang diberikan, seharusnya ia sebentar lagi sampai di tujuan. Langkahnya ditemani aroma sejuk pagi hari dengan angin yang terkadang menggelitik telinga karena dinginnya.


Tidak lama kemudian setelah melewati bukit, Raa melihat ke arah depan tak jauh dari ia berada.


Bangunan-bangunan klasik gaya pertengahan terlihat memanjakan mata Raa.


Raa berteriak riang, “Jadi seperti ini perkotaan, ada bangunan yang megah sekali. Itu pasti istana.”


“Benar juga, kata sensei aku harus menjaga sikapku,” ucapnya sambil membayangkan gurunya yang selalu memberikan banyak petuah, itu membuat Raa jengkel.


Raa melanjutkan perjalanan dan beberapa saat kemudian, dia sampai di Empyrean of Light.

__ADS_1


__ADS_2