
Kali ini Raa benar-benar kesulitan, tidak hanya diam terikat oleh lilitan Medusa tapi juga dia dipaksa menutup mata agar tidak melihat Eyes of Malefictio.
Sayangnya, kemampuan lain dari mata ini adalah memiliki kekuatan kutukan yang tersambung dengan tangan kiri Medusa.
Walaupun lawannya menutup mata, selagi Medusa bisa menyentuhnya mereka akan menjadi batu.
Tangannya sejengkal lagi bisa menyentuh kepala Raa, wajah Medusa sudah sangat senang.
Tiba-tiba sebuah energi yang berbentuk tebasan sabit, wujudnya sedikit transparan, memotong tangan kiri Medusa.
Medusa langsung menoleh ke sumber kekuatan itu dengan wajah yang kesal.
"Siapa kau?! Berani-beraninya kau memotong lenganku!" teriaknya dengan suara yang menakutkan.
Raa yang mendengarnya tercengang, memang sebelumnya dia merasakan ada kekuatan yang melintasinya.
"Woy! Apa kau baik-baik saja?!" teriak seseorang kepada Raa, dia pria yang mengenakan seragam Kesatria Sihir Kerajaan sambil menggenggam pedang.
Kedua temannya menyusul dari belakang ke arah pria ini.
"Entahlah, menurutmu apa aku terlihat baik-baik saja?" Raa bertanya balik, itu adalah sebuah sarkas yang menunjukkan dirinya tidak dalam keadaan yang baik.
"Baiklah, aku anggap kau tidak baik-baik saja!" sahutnya polos.
Tanpa sengaja Raa membuka mata dan berteriak, "Ya emang! Apa kau tidak bisa melihat situasinya? Capai sekali kayaknya meladenimu."
Medusa menyadarinya dan sigap menatap Raa dengan cahaya pada mata Eyes of Malefictio.
Raa pun baru ingat kalau dia membuka mata dan kemudian menutup lagi, satu detik saja terlambat dia pasti sudah jadi patung batu.
"Sepertinya dia dalam kesulitan, kita harus bagaimana, Galda?" Pria yang membawa pedang itu adalah Galda yang disebutkan oleh temannya yang bermata coklat berambut hitam, Kivesn.
"Iblis itu, berbeda dari yang kita lawan sebelumnya. Sepertinya dia adalah ketuanya," ucap orang ketiga, dia bernama Rasd yang memiliki rambut ikal berwarna pirang dan mata hitam.
Sebuah ide muncul menggetuk otak Kivesn, "Aku punya rencana, entah ini berhasil atau tidak."
Singkat cerita mereka berdua, Galda dan Rasd, mendengarkan secara saksama rencana Kivesn.
Mereka memulai aksinya dengan Galda yang bertindak duluan.
"Sepertinya mereka merencanakan sesuatu." Medusa menyadarinya, pasti hal tersebut berkaitan dengan penyelamatan Raa.
Medusa melilit lebih kuat badan Raa hingga tercekik, dalam benak Raa berpikir bahwa wanita ini sudah gila.
Galda yang sudah berlari maju mengayunkan pedangnya beberapa kali dengan sangat cepat.
"Slash Magic : Successive Slashes!"
Tebasan bertubi-tubi menyerang Medusa, dia bisa menghindarinya walaupun ada satu serangan yang sedikit mengenai rambut ularnya.
Raa pun mengakui kecepatan serangannya berada di level yang berbeda, bisa disandingkan dengan elemen petir miliknya.
Galda melompat sambil melakukan gerakan yang tadi. Mau tak mau Medusa menghindar dan harus terjun dari atap bangunan.
Inilah yang diincar mereka, sesuai dengan rencana Kivesn.
"Bagus, ini saatnya! Oil Magic : Slippery Oil Playground!" Kivesn mengeluarkan sihir minyak dari tangannya, landasan Medusa kini dilumuri oleh minyak yang sangat banyak.
"Sialan!"
Medusa tergelincir saat ia bergerak, inilah yang menjadi kesempatan bagi Galda untuk menyerang karena wanita iblis itu akan kesulitan menghindar.
Serangan yang sama dari Galda menyerang kembali Medusa, kali ini setiap tebasan mengenai tubuh sang iblis yang melilit Raa.
"Pergi dari situ, sekarang!" teriak Galda memperingatkan Raa.
Raa yang paham setelah melihat seseorang yang berelemen api—Rasd—mengeluarkan sihirnya seakan ingin melempar sebuah bola api ke atas minyak yang banyak ini.
"Woy! Tunggu dulu kenapa dah!" Raa panik dan dengan bantuan tubuh Medusa yang tidak terkena minyak dia melompat tinggi ke arah mereka bertiga.
Saat berada di udara, bola api itu sudah dilempar dan saat mengenai minyak tersebut sebuah ledakan dahsyat tercipta.
Medusa meronta kepanasan diantara deruan api yang besar sedangkan Raa terpental akibat ledakan tersebut dan sedikit membakar pakaiannya.
Karena tidak memikirkan dampaknya, tiga orang prajurit tadi juga ikut terdorong jauh beberapa meter ke belakang.
"Cara tadi memang gila, tapi aku berterima kasih karena sudah menyelamatkanku," ucapnya perlahan bangun dengan wajah sedikit masam.
"Setidaknya yang tulus woy terima kasihnya," oceh Galda.
"Iya, iya, dah." Raa sedikit memonyongkan bibirnya.
Galda jengkel, ingin sekali dia mengacak-acak wajah Raa yang menyebalkan.
__ADS_1
Saat kegaduhan mereka berlangsung, suasana itu menjadi pecah saat mendengar suara diantara kobaran api.
"Berani-beraninya kalian melakukan ini padaku!" Matanya merah dan penuh amarah serta kebencian terhadap mereka berempat.
Raa mengernyit, ternyata memang tidak semudah itu mengalahkan iblis kelas atas seperti Medusa.
"Mulai sekarang, aku akan serius memakan kalian semuanya! Serpent Magic : Guardian of Serpentium!" Medusa tidak hanya memanggil ular besar seperti sebelumnya yang hanya berjumlah dua, kini mereka ada lima.
Ular-ular itu muncul di dalam tanah seakan datang sembari menghilangkan api-api disekitar Medusa, sebenarnya karena sihir api dan minyaknya akan kehabisan waktu juga.
Galda, Kivesn, Rasd, sedikit mundur ketakutan, wajah mereka bahkan menunjukkan kecemasan.
"Cih, dua saja sudah merepotkan apalagi ada lima." Raa mengernyit dan berkata untuk memperingati mereka bertiga, "jangan dekat-dekat dengan ular itu! Setiap napasnya adalah Racun."
Medusa tertawa kencang dan keras dengan tubuhnya yang tegak tinggi, "Aku akan memakan kalian, terutama kau bocah petir yang gila! Kau adalah santapan dengan nutrisi terbaik disini, kalau aku bisa memakanmu maka aku akan menjadi lebih kuat!"
"Beberapa iblis bisa melakukan regenerasi terutama tingkat atas, kemampuan regenerasinya pasti jauh lebih cepat. Tapi selama mereka tidak diberi kesempatan untuk beregenerasi seperti api yang terus membakarnya, aku bisa memanfaatkan momen itu untuk memenggalnya." Dalam benak Raa dia berpikir beberapa saat.
"Woy, kau disana!" panggil Raa dan disahut dengan anggukan Galda, "aku punya rencana, aku tidak tahu apa kalian mau membantu rakyat jelata sepertiku atau tidak. Tapi aku ingin meminta kerjasama kalian."
Mereka saling menatap, dalam pikir Raa sepertinya mereka sedikit ragu. Namun ternyata itu kekeliruan Raa.
Galda menyeringai, "Tenang saja! Aku tahu kau dari arena, kau rakyat jelata tapi bisa mengalahkan ningrat. Aku tahu kota ini penuh dengan diskriminasi, tapi percayalah tidak semua seperti itu. Kami adalah salah satunya."
Mereka bertiga tersenyum pada Raa, seolah percaya apa yang akan menjadi tindakannya kali ini.
Singkat cerita, mereka sudah siap dengan rencananya.
Raa berdiri dihadapan para ular, mengatur kuda-kuda kemudian mengusap halus bilah pedangnya dan berhenti di ujungnya.
Raa menutup mata untuk mengambil konsentrasi tinggi. Tidak lama kemudian dia membuka mata dan peti mulai menyebar di seluruh tubuhnya.
Seolah angin menolak mendekati dan dia dikelilingi energi biru yang seakan memecah udara disekitarnya. Galda, Kivesn, dan Rasd tercengang.
Raa bergerak maju, sementara itu Medusa mengangkat tongkatnya seraya memerintahkan ular-ularnya menyerang.
"Ayo, kita cari posisi yang menguntungkan! Ikuti aku!" seru Galda.
Raa melesat dengan kecepatan penuh melebih kuda yang berlari sembari menarik napas dalam-dalam, kemudian dia melompat tinggi disaat satu ular mencoba menerkamnya.
Ayunan pedangnya menghempaskan ular tersebut hingga mendongak, sedangkan Raa masih mengudara.
Sesaat ular tadi sedikit kesakitan dan saat pada posisi normalnya, dia tidak sadar Raa meluncur ke arahnya dan menggores sisik hitamnya dari kepala.
Namun tetap saja, ular tersebut merasakan sakit.
Saat kaki Raa mendarat, dia langsung lari di atas tubuh ular pertama.
Saat itu juga, ular kedua mencoba memakan Raa. Tidak peduli posisi mereka akan tumpang-tindih.
Raa melihat celah untuk melompat ke atas kepala ular kedua.
Disaat yang bersamaan saat ular tersebut ingin melempar Raa, dia menekukkan kakinya dan lompatannya lebih tinggi.
Kesempatan inilah yang diincar agar bisa mengambil napas kembali.
Karena Raa tahu sisik ular itu sangat keras, dia terus menyalurkan Mana ke pedangnya agar lebih tajam lagi dan tubuhnya supaya kecepatan bertambah.
Saat ular itu melihat ke atas, mulutnya mangap seakan Raa ingin membiarkan dirinya dimakan.
Sayangnya ular itu salah. Dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti mata, pedang Raa merobek mulutnya hingga darah bercucuran kemana-mana.
Pedang itu seolah baru saja diasah oleh puluhan penempa dalam waktu sekejap.
Tidak sampai situ, Raa mendorong udara dan bisa bergerak ke arah ular tadi dengan mudah.
Lantas Raa dengan Thunder Blade Dancing-nya memenggal ular itu hingga tumbang, darah mengalir seperti sebuah air mancur.
Tidak peduli Raa akan dikotori oleh darah iblis, dia tetap fokus untuk menyerang.
Hal itulah yang membuat Medusa semakin kesal melihat Raa semakin bertambah kuat dalam waktu singkat.
Belum sempat Raa mendarat, ular pertama yang tadi sudah membuka mulut dan pria petir itu termakan.
Tapi ini belum selesai, belum sempat Raa ditelan ia juga sudah sadar akan kehadiran ular tersebut.
Beberapa tebasan cepat seakan menembus kepala ular tersebut, Raa menghancurkan berkeping-keping dari dalam mulutnya.
Kemudian melompat kembali untuk mengambil napas.
"Apa yang kalian lakukan, ular-ular bodoh! Cepat habisi dia!" Medusa seakan kesurupan melihat Raa yang masih hidup, lantas ia menyuruh ular-ular menyerang tanpa ampun.
Para ular mengeluarkan Breath of Basilisk, kali ini wujudnya lebih terlihat seperti kabut, saat Raa mulai sedikit mendarat.
__ADS_1
Karena melalui semburan, asap itu menutup rapat tubuh Raa dan tidak membiarkannya menarik napas dengan leluasa.
Tidak hanya dibiarkan bernapas, asap itu bisa membakar kulit.
"Bocah!" teriak Rasd.
"Fokus saja pada rencana, kita harus percaya padanya." Kivesn berkata dan Rasd hanya mengangguk kecil untuk mengiakan meskipun perasaannya sedikit cemas.
Bahkan beberapa bagian kulit Raa terbakar cairan asam, untunglah tubuhnya dilapisi Mana sehingga dampaknya tidak terlalu besar.
Raa memasukkan kembali pedang tersebut ke sarungnya, dengan kondisi yang terpaksa dia harus mengambil napas dalam walaupun itu menyakitkan.
Tangannya mengepal ke depan, petir terbentuk memanjang dengan bentuknya yang melengkung sedikit.
Seolah seperti memegang busur, Raa menarik tangannya dan muncul sebuah anak panah yang seluruhnya terbuat dari aliran petir.
Kabut disekitarnya terhempas karena angin yang berderu disekitar kekuatan Raa.
Semakin fokus Raa mengendalikan Mana, maka kekuatannya menjadi lebih tajam.
"Akan aku gunakan ini, Lightning Magic : Spirit of Nimbus!" Petir melebar dari ujung pisau anak panah petir tersebut.
Raa melepas serangan tersebut dan anak panahnya melesat cepat menembus asap hitam yang mengerikan.
Ular-ular yang ditembus oleh anak panah itu menjadi hancur dan sedikit lagi serangan itu bisa mengenai Medusa yang memasang wajah tercengang.
"Apa-apaan serangan itu?" Medusa bergumam dalam hatinya.
Menyadari sesuatu bergerak ke arahnya, Raa tiba-tiba berada di depan Medusa dan mencoba menebas tubuhnya.
Medusa yang terkejut buru-buru mengganti kulitnya untuk menghindar.
Sayangnya dia terlambat sedikit sehingga pinggangnya sedikit terluka.
Kini posisi Medusa lebih rendah, pada kesempatan ini ia mengeluarkan Serpents Reo untuk menyerang Raa yang di udara.
Beberapa ular yang muncul di tangan Medusa menghampiri Raa.
Dia lupa bahwa Raa bisa bergerak di udara dengan memanfaatkan kekuatan otot kakinya.
Layaknya sebuah petir, pergerakan zig-zag memotong setiap ular-ular yang dipanggil dan Raa bergerak mendekati Medusa.
Satu inci menuju pemenggalan, lagi-lagi Medusa mengganti kulitnya sembari menggeliat menjauh dari Raa dan menegakkan tubuhnya.
"Manusia, sialan! Terima ini!" Medusa berteriak seakan pasrah.
Ular-ular yang dikeluarkan kini lebih banyak, tidak bisa dihitung oleh jari-jari manusia.
Hal itu tak membuat Raa takut sedikitpun. Dia mendarat sejenak dan mengambil dalam lebih dalam lagi walaupun risikonya adalah menghisap racun.
Raa meluncur layaknya peluru meriam yang cepat, dia berputar, bergerak zig-zag, ke atas, kiri, kanan, seperti sebuah coretan pada kertas namun tetap terlihat indah seperti tarian pedang sang ahli.
Ular itu layaknya potongan daging yang dicincang, mengeluarkan darah dimana-mana.
Saat itu juga Raa sekalian membelah dua tangan kirinya, sebuah sobekan panjang diantara jari tengah dan manis.
Memanjang hingga ke lengannya, terlihat daging, tulang, dan darah yang bercucuran, walaupun tangannya tidak putus setidaknya itu bisa memakan waktu bagi Medusa untuk beregenerasi.
Medusa sejenak menjauh dan telah menyiapkan jebakan ular raksasa yang akan melahapnya.
Pada momen inilah, Galda, Kivesn, dan juga Rasd melakukan serangan kombinasi.
Pedang Galda dilapisi oleh minyak dari Kivesn yang menjulang ke atas seakan menambah panjang bilahnya.
Sedangkan Rasd melapisi minyak tersebut dengan api sehingga serangannya semakin membara.
Galda menarik napasnya dan dengan bersamaan mereka berkata "Fusion Magic : Fiery Slash!"
Tebasan itu bukan main cepatnya, Medusa yang menganggap mereka bertiga seolah tidak ada di Medan pertempuran jadi semakin panik.
Tebasan itu menembus ular yang telah disiapkan Medusa hingga terbelah.
Bahkan Medusa itu sendiri ikut tertebas dan semua yang dilewati oleh tebasan tersebut, dia menjerit kepanasan dan kesakitan disaat yang bersamaan.
Tidak hanya luka yang diterima tapi api juga yang menjalar dari tebasan itu, diperkuat dengan sihir minyak.
Kesempatan ini membuat regenerasi Medusa lambat dan saat itu juga Raa bergerak secepat-cepatnya.
Mengayunkan pedangnya dan setelah pertarungan yang panjang, akhirnya ia bisa menebas leher Medusa, Sang Iblis Wanita Ular.
Kepala jatuh dan tergeletak di tanah, badannya perlahan terbanting.
Raa mendarat dengan gaya dan merayakan kemenangan dengan hembusan napas yang lega.
__ADS_1