The Journey Of Raa : The Lostland, Nusantara

The Journey Of Raa : The Lostland, Nusantara
Wanita Ular yang Berdesis


__ADS_3

Angin berdesir ketika Raa berlari mencari sesuatu, sebuah Mana jahat yang tidak enak dirasakan.


Menurutnya, mungkin ini adalah aura dari iblis dari tingkat yang lebih tinggi.


Selama latihannya dua tahun bersama Kagetora, dia belum pernah mendapati dirinya bertemu iblis yang kuat.


Tiga iblis menghalangi jalannya. Dengan kecepatan yang tidak terbayangkan, Raa melesat begitu saja dan menebas sampai putus kepala ketiga iblis itu hampir secara bersamaan.


"Dimana? Dimana dia? Seharusnya dia berada sekitar sini." Batinnya menggebu-gebu dan tidak sabaran.


Matanya larak-lirik dan tidak bisa menemukannya.


Mungkinkah dia bisa bergerak dengan cepat? Atau dia pandai menyembunyikan dirinya diantara bangunan-bangunan yang menjulang? Raa tidak bisa memastikan hal tersebut.


Tubuhnya terhenti secara spontan ketika ia mendengar jeritan dari seorang anak perempuan.


Lantas Raa merubah jalur larinya dan tak jauh dari sana, seorang anak perempuan kecil mengenakan gaun biru muda sedang diganggu oleh beberapa ular yang lapar.


Namanya anak kecil, saat dalam bahaya mereka hanya bisa berteriak ketakutan dan merengek.


Saat salah satu ular menerjang lompat ke arah anak tersebut, Raa dengan cepat menebasnya hingga darah bercucuran.


Begitupun dengan ular-ular lainnya yang mencoba mengganggu anak imut itu.


"Ular? Tapi sepertinya mereka bukan hanya sekedar iblis. Jangan-jangan, ini kekuatan sihir musuh? Sepertinya dia berada disini." Raa terus berpikir beberapa kemungkinan dan bisa saja ini tebakannya yang benar tentang keberadaan iblis.


Sementara anak itu masih ketakutan dan hanya duduk diam sembari menangis, benar-benar membuatnya trauma.


Seolah angin menusuk tulangnya, kini dia yakin bahwa iblis itu ada disini.


Posisinya siap siaga dan melihat ke sekitar. Raa menyadarinya tapi itu terlalu cepat hingga matanya terbelalak.


Sebuah uluran tangan dengan kuku-kuku yang tajam dan kotor seolah tidak pernah dirawat berada tepat diatas pundak Raa seakan ingin menyentuhnya.


"Hm, menarik! Kau bisa merasakan kehadiranku." Suaranya merambat melalui udara, dingin dan menusuk seakan membekukan kepala Raa.


Diiringi desis ular yang terdengar seperti angin berdesir diantara reruntuhan kuno dengan nada getaran yang menyeramkan dan mencekam.


Tanpa berpikir panjang, Raa memutar badannya seraya mengayunkan pedang.


Tubuh makhluk tersebut menjadi condong menjauh ke belakang dan melompat terbalik.


Gigi Raa geram melihat sosok iblis yang ia temui, berbeda dengan yang lainnya. Iblis itu terlihat seperti ratu para ular dengan tongkat sihir berbentuk kobra.


Dia sedikit tertawa dengan nada yang mengejek, "Hampir saja aku kena tebasan pedang usang itu."


Raa bergerak melindungi anak kecil yang semakin ketakutan itu.


"Siapa kau? Apa kau dalang dibalik semua ini?" Tangan Raa memegang erat pedangnya.


Iblis wanita itu tertawa cekikikan, "Aku adalah Medusa, salam kenal!" Dia memberi hormat.


"Aku kesini punya sedikit urusan dengan kota ini, dia terlalu berdiri kokoh jadi aku harus sedikit merekonstruksi ulang semua bangunan disini." Dia berkata sambil meluncur ke sana kemari seperti seekor ular yang bergerak.


Raa mengernyit, "Kalau begitu, kau juga berurusan denganku!"

__ADS_1


Medusa melihat Raa seakan itu membuatnya heran, "Jadi maksud kau? Aku harus melawanmu? Hey, hey, jangan terlalu membebani dirimu sendiri. Kau bahkan bukan seorang ningrat ataupun keluarga kerajaan, bisa apa kau melawanku? Aku tidak tertarik dengan orang lemah sepertimu."


Suaranya benar-benar seperti alam bawah sadar mengajak Raa bicara, bulu kuduknya terangkat.


Raa menyeringai seolah dia menantang Medusa, "Baiklah aku paham. Jadi sebenarnya kau takut kalah melawan orang lemah sepertiku bukan? Karena kalau kau kalah, itu akan menurunkan harga dirimu dikalangan para iblis."


Medusa terdiam diantara desis ular-ular di rambutnya. Urat kesalnya sedikit terlihat.


"Sombong sekali, terima ini! Serpent Magic : Serpents Reo!" Medusa mengangkat tangan kirinya lurus ke depan dan mengeluarkan beberapa ular yang panjangnya seakan tidak terbatas.


"Pergilah ke tempat aman, anak kecil! Disini berbahaya!" pinta Raa pada anak kecil yang hanya mengiakannya dan kemudian lari ke tempat aman dibalik bangunan.


Raa yang sudah siap mengalirkan Mana pada tubuh dan pedangnya, menciptakan cipratan petir.


Dia bergerak tanpa rasa takut dan menerjang serangan ular-ular milik Medusa.


Tangannya menggerakkan pedang katana seolah dia melukis beberapa huruf.


Raa melewati ular-ular tersebut dengan meninggalkan tebasan-tebasan yang membuat darah bercucuran. Hal itu membuat Medusa hanya ber-oh saja.


Pria itu melompat dengan baju hitam bermotifnya yang berkibar karena angin.


Menerjang Medusa dan mencoba membelah tubuhnya menjadi dua.


Tepat satu detik sebelum pedang Raa mengenai Medusa, iblis ular itu menghindar cepat seperti bayangan dengan cara memanfaatkan kemampuan ganti kulitnya.


Raa tercengang dan ia terdiam sejenak saat mendarat.


Tiba-tiba Medusa berada tepat di belakang Raa dengan tubuh tegak menjulang seperti ular yang siap memangsa.


Raa yang menyadarinya berlari terus-menerus untuk menghindari setiap serangan ular yang menerjang ke arahnya. Saking kuatnya, serangan Medusa mampu menghancurkan tanah.


Seolah tahu cara menghadapi Raa yang mengandalkan serangan jarak dekat, Medusa terus-terusan mengeluarkan lebih banyak ular di tangannya.


Raa mengalami sedikit kesulitan dan dirinya seakan benar-benar terkurung dalam sangkar ular.


Raa menarik napas dan lebih berkonsentrasi dalam mengalirkan Mana-nya agar lebih stabil.


Ketika beberapa ular Medusa kembali menyerang Raa, dia berhenti selama satu detik dan menerjang seraya melompat ke arah sang iblis.


Dengan Thunder Blade Dancing-nya, Raa mengayun dan bergerak layaknya sebuah tarian.


Memotong-motong jadi beberapa bagian tubuh ular-ular tersebut.


Hal itu membuat Medusa semakin cemas dengan tingkat kekuatan Raa yang terus berkembang.


Sekali lagi, satu detik sebelum Raa menebas Medusa. Dengan cara liciknya, dia menghindar dengan cara yang sama.


Karena tidak bisa menyeimbangkan posisinya di udara, saat mendarat Raa sedikit tersungkur. Namun dia bisa bangkit dengan cepat.


Kemampuan berganti kulitnya membuat Raa jengkel dan geram, ingin sekali dia mencincang seluruh bagian tubuh Medusa.


Raa menatap tajam Medusa yang kini sudah berada di atas atap salah satu bangunan.


"Hm, aku tidak tahu siapa kau dan dari mana asalmu. Mungkin aku sedikit keliru terhadapmu," ucapnya dengan tatapan yang membosankan.

__ADS_1


"Aku tidak mengatakan kalau kau kuat, tapi sepertinya ada sesuatu yang berbeda darimu meskipun kau adalah rakyat mengenaskan." Medusa memuji namun merendahkan diakhir kata.


"Sudah kuduga kau pasti akan ketakutan saat melihat kekuatanku, majulah! Akan aku layani kau!" Raa mencoba memancing emosi Medusa.


Sayangnya Medusa bersikap tenang dan tak terbawa emosi, "Kau tidak perlu bersikeras untuk membuatku marah, lagi pula kau akan tetap mati di tanganku."


"Serpent Magic : Verdant Gift!"


Medusa mengibaskan tongkat sihirnya berbentuk kobra yang seolah mencoba menelan bola kaca yang berada di mulutnya.


Sinar hijau memancar dan keluarlah beberapa serangan berbentuk cairan.


Serangannya lebih lambat daripada ular-ular yang keluar dari tangan Medusa.


Namun Raa tidak mau mengambil resiko, karena biasanya cairan berwarna hijau itu beracun menurut pikirannya.


Raa menghindari setiap cairan tersebut. Karena terlalu banyak, beberapa cairan menciprat sedikit ke bajunya.


Benar saja, bajunya pun seakan terbakar oleh cairan asam.


Tidak hanya itu, terlihat cairan di atas tanah mengeluarkan uap cairan asam. Dapat dipastikan kalau itu bisa berbahaya.


Medusa tertawa jahat, melihat wajah Raa yang takluk pada kekuatannya.


"Aku tidak mau lama-lama meladenimu, membuang-buang waktu! Serpent Magic : Guardian of Serpentium!" seru Medusa memanggil dua ular yang ukurannya sangat besar, bahkan melihatnya saja seekor gajah dewasa bisa terlilit seperti anak kucing.


Raa berdecih kesal, setiap kemampuannya sangat merepotkan.


Tidak ada cara lain bagi Raa selain melewati dua ekor ular raksasa itu terlebih dahulu untuk mencapai Medusa.


Kalaupun dia bisa melewatinya, Medusa pasti akan mengeluarkan ular-ular dari tangannya.


Belum lagi dengan sihir cairan beracunnya yang seperti asam, benar-benar akan kesulitan untuk mendekati Medusa.


Tanpa berpikir panjang, Raa langsung saja melangkah maju untuk menyerang ular-ular dihadapannya.


Namun sayangnya, baru saja satu langkah Raa bergerak tiba-tiba dia merasakan rasa sakit yang hebat pada paru-parunya seperti sesak napas.


Raa terdiam dan terjatuh dengan menopang pada pedang yang ia tancapkan ke tanah.


"Apa yang terjadi? Kenapa aku terasa sesak? Jangan-jangan...." benaknya sembari menahan rasa sakit.


Medusa tertawa keras, "Kau baru menyadarinya yah? Serpent Magic : Breath of Basilisk!"


Sihirnya ini dihasilkan dari napas kedua ular raksasa yang baru saja Medusa munculkan.


Napasnya mengotori udara di sekitar dengan racun dari setiap hembusan, membuat Raa kesulitan untuk bergerak.


"Kakak!" Anak kecil itu memanggil dan mencoba mendekat.


"Jangan keluar! Udara disini beracun!" serunya pada anak yang terus terbayang rasa takut.


Tiba-tiba Medusa berkata yang membuat Raa melirik ke arahnya, "Leluhur kami, para Gorgon, adalah seorang manusia berwajah sangat cantik yang bisa memikat hati para pria. Bahkan para dewa terpikat oleh paras cantiknya. Suatu hari, seorang dewa mencoba mendekatinya. Itu artinya dewa itu sudah melanggar sebuah perjanjian dimana para dewa tidak boleh lagi memiliki hubungan dengan manusia. Karena sudah ketahuan, lantas seorang dewi yang dikatakan Dewi Kebijaksanaan mengutuknya dan merubahnya menjadi manusia ular yang mengerikan. Kemudian, dia diasingkan ke tempat dimana Roh Kegelapan, Basilisk, berada dan harus merawatnya. Dari sanalah tercipta berbagai banyak ras Gorgon seperti diriku."


Raa tidak terlalu menyimak cerita panjang lebar dari Medusa karena bernapas saja sudah kesulitan baginya.

__ADS_1


"Sudahlah, lagi pula tidak ada yang peduli." Medusa berkata seolah pasrah, "kalau begitu, sebaiknya kau mati saja, bocah!"


__ADS_2