
Waktu yang cukup lama untuk mengalahkan iblis bernama Medusa.
Sebelah mata Raa sedikit tertutup karena menahan rasa sakit.
Napasnya terengah-engah dengan tangan kirinya yang gemetaran sembari menggenggam lemah Katana miliknya.
Galda, Kivesn, dan Rasd juga merasa kelelahan setelah mengeluarkan banyak Mana di medan pertempuran.
Tidak lama dari mereka bertiga istirahat, perlahan berlari-lari kecil menghampiri Raa yang memasang wajah senyum.
”Kita berhasil!” Tangan Galda melambai-lambai ke atas sembari teriak, disusul dengan yang lainnya.
Tatapan Raa sedikit terkejut, sepertinya tidak semua orang-orang di Empyrean of Light itu munafik.
Senyum mereka, tawanya, dan juga tatapannya benar-benar tulus.
Raa berjalan terseok-seok mendekati mereka bertiga dengan tawa yang menutup luka.
Beberapa meter sebelum mereka berempat saling memberikan selamat, seketika keceriaan itu pecah.
Dari arah yang tidak terduga, empat ular yang menyerang masing-masing dari mereka mencoba melilit tubuh seperti tali.
Galda, Kivesn, dan Rasd sudah terperangkap oleh lilitan tersebut.
Sedangkan Raa yang sempat merasakan sedikit kehadiran ular tersebut bisa menghindar.
Walaupun pada akhirnya Raa terlilit juga karena tubuhnya yang sudah tidak seimbang bahkan sedikit terseret ke belakang, pedangnya pun terlepas dari genggaman.
Mereka berempat meronta-ronta untuk lepas dari ular-ular tersebut.
“Apa-apaan ini? Bukankah kita sudah mengalahkan iblis itu?” Kivesn bertanya-tanya dengan tangannya yang sibuk dengan ular tersebut.
Raa melihat ke arah mata ular itu yang bersinar kemerahan seperti tidak asing, dia baru menyadarinya.
“Semuanya! Jangan lihat matanya!” Raa memperingati mereka bertiga.
Namun sayangnya Raa terlambat. Galda, Kivesn, dan juga Rasd yang terlanjur melihat mata bercahaya ular-ular tersebut tiba-tiba saja berteriak.
Pada akhirnya mereka bertiga menjadi batu karena kutukan Eyes of Malefictio.
“Bagaimana bisa? Apa sejak awal setiap ularnya bisa menggunakan mata kutukan? Aku harus melakukan sesuatu pada ular ini,” gumam Raa yang selamat dari kutukan mata milik Medusa karena sempat menutup matanya.
Tangan kirinya meraba-raba, berusaha untuk mencekik ular tersebut.
Alih-alih tercekik, ular itu malah menggigit tangan Raa hingga dia berteriak.
Namun karena itu juga, Raa bisa tahu posisi kepala ular tersebut dan berhasil mencekiknya.
Tangan kanan Raa meraih Katana yang jatuh tidak jauh darinya, menggenggam dan menebas kepala ular tersebut.
Akhirnya Raa bisa melihat dengan matanya yang terbelalak, karena dihadapannya ada sosok berdiri tegak tanpa berkepala.
“Tidak mungkin!” ucapnya tergagap, “bagaimana Medusa masih bisa bertarung setelah aku penggal kepalanya?”
Badan Medusa berjalan pelan mendekati kepalanya yang putus dengan tangan yang masih menjulur ke depan.
Darah menggumpal keluar seperti cairan yang bergerak-gerak tidak karuan dari bagian tubuh yang tertebas Katana Raa.
__ADS_1
Cairan itu bergerak meraih kepala Medusa, mereka terhubung seperti diikatkan tali.
Kepala Medusa terangkat seraya tertawa mistis yang mengerikan, suara layaknya alam bawah sadar itu membuat Raa tak bisa berkata-kata dan hanya terdiam membatu.
Kepala Medusa terhubung dengan badannya pada posisi melihat ke belakang.
Medusa membanting kepalanya ke posisi yang benar dengan suara seperti tulang yang dipatahkan dan darah yang bercipratan.
Wajahnya menampakkan kesan menyeramkan seperti adegan horor yang mengerikan.
“Oh, lihat. Seseorang sepertinya ketakutan.” Medusa tertawa kecil dengan tatapannya puas melihat ketakutan Raa.
“Seharusnya kau sudah kehilangan banyak darah setelah aku tebas lehermu.” Ucapannya sedikit tertahan setelah melihat hal yang tidak bisa ia percayai.
Menurut pengalaman Raa, iblis bisa dikalahkan dengan cara apapun.
Tapi dengan menebas kepalanya, itu akan lebih cepat untuk melemahkan para iblis. Hanya saja pada kasus Medusa ini sedikit berbeda.
Medusa berdecih, “Kau pikir aku bisa disamakan dengan para iblis rendahan yang mudah dikalahkan itu? Asal kau tahu saja, leher bukan kelemahan terbesar lagi buat iblis yang berbeda jauh levelnya sepertiku.”
Raa mengernyit dan berkata dalam batinnya, “Berpikirlah! Kau harus memikirkan suatu cara, pasti ada kelemahannya.”
“Cukup sudah! Aku muak melihatmu, Serpents Reo!” Medusa mengeluarkan beberapa ular dari tangannya dan menyerang Raa secara bersamaan.
Raa yang sudah tidak ada harapan hanya bisa terdiam dengan ikatan ularnya, kali ini dia benar-benar buntu.
Satu detik sebelum ular-ular itu benar-benar menggigit Raa, sebuah keajaiban muncul menghalangi kematiannya.
Secara misterius ular-ular yang dikeluarkan Medusa tercabik-cabik seperti daging cincang.
Medusa sudah semakin kesal, “Astaga, apa lagi sekarang?!”
Terdengar langkah-langkah sepatu mendekati Raa dengan suara gesekan benda besi dan tanah, decitannya membuat ngilu.
”Aduh, aduh, tidak ada yang memberitahuku kalau ada pesta besar-besaran disini,” ucap seorang wanita, terdengar lidah yang menjilat bibir setelah ia berkata.
Medusa terdiam sejenak, “Sejak kapan dia berada di medan pertarungan? Apa ini ulahnya?”
“Aku tidak merasakan kehadirannya,” gumam Raa sedikit terkejut.
“Siapa kau?” tanya Medusa dengan nada yang sebal.
Wanita itu menyeringai, “Kau tidak perlu tahu namaku, kau cukup mengetahui bahwa aku adalah ‘malaikat maut’ bagimu saja.”
“Oh, kepercayaan dirimu sangat bagus, tapi sayangnya kau-” belum sempat Medusa menyelesaikan kalimat yang terucap dari bibir senyum sinisnya, sebuah pergerakan tiba-tiba mengagetkannya.
Seolah kabut halus yang tiba-tiba saja muncul, wanita berambut pirang itu menyerang Medusa dengan senjata bilah pedang unik berbentuk cakar besar pada tangan kirinya.
Lantas itu membuat Medusa secara spontan menghindar dengan sihir berganti kulitnya.
Walaupun telah menghindar, serangan itu melukai badan Medusa seperti cakaran hewan buas.
Medusa mundur ke belakang, wanita ini cukup cepat untuk dihindari.
Untunglah Medusa adalah seorang iblis, dia mampu beregenerasi cepat dari lukanya itu.
"Perlawanan yang bagus, tapi itu belum cukup untuk mengalahkanku!" Medusa memuji wanita itu.
__ADS_1
Senyum lebar wanita itu seakan menikmati musuh di depannya, "Oh, rupanya kau menantang monster sepertiku."
Kabut merah tiba-tiba keluar mengelilingi area sekitar hingga radius tertentu.
Tidak terlalu tebal sehingga penglihatan masih bisa jelas dilihat hingga jarak tertentu.
Bukan berarti ini pertanda baik, Medusa menyadari ada sesuatu dibalik kabut yang berwarna darah tersebut.
"Red Mist Magic : Beast of Dasmonia!" gumam wanita itu dengan seringai terukir di bibirnya.
Seperti sebuah siluet wajah monster mengerikan dibalik kabut, dia menerjang ke depan Medusa.
Tanpa adanya tanda, tiba-tiba Medusa dipenuhi dengan luka cakar yang bahkan membelah beberapa bagian tubuhnya.
"Apa yang terjadi? Bagaimana tubuhku jadi penuh luka? Jangan-jangan kekuatan wanita itu dan kabut ini...." Medusa bergumam dalam hatinya, entah kenapa dia merasakan sedikit ketakutan.
Raa masih bisa melihat sedikit samar kejadian itu ikut tercengang dan tidak berkata apapun.
Secara misterius juga, wanita tangguh itu tiba-tiba saja berada di belakang Raa.
"Aku ingat, dia, ada arena itu. Salah satu dari Jenderal Kerajaan, kekuatannya benar-benar berada jauh denganku." Raa berkata sembari menahan luka dan racun yang ia terima selama pertarungan.
"Jadi begitu, sihir kabut merah ini sudah pasti dari keluarga ningrat 'yang runtuh itu'," ucap Medusa dengan tubuh terkoyaknya yang seolah mengambang di udara, terlihat beberapa bagian tubuh dalamnya berdenyut-denyut.
"Ningrat yang runtuh?" gumam Raa penasaran.
Wanita yang membantu Raa ini bernama Agatha Dasmonia, salah satu Jenderal Kerajaan dan berasal dari keluarga Dasmonia.
Jenderal itu tidak menggubris ucapan Medusa dan hanya berdeham sembari mengangkat senjatanya seakan ingin memamerkan.
"Kalau begitu, kita bertemu lagi nanti." Medusa tertawa.
Medusa yang mengerti situasinya tidak diuntungkan, lantas memilih untuk kabur dari pertarungan dan menganggap misinya sudah selesai.
Tanah tiba-tiba saja berguncang disekitar Jenderal dan Raa seolah ada gempa.
Secara bersamaan dengan peristiwa tersebut, ular raksasa muncul dari bawah tanah yang ukurannya dibandingkan dengan manusia adalah sebesar bola matanya.
Ular itu melahap dan membawa kabur Medusa, bergerak menjauhi kota dengan mengabaikan semua bangunan yang dia lewati.
Agatha langsung mengejarnya tanpa berpikir panjang.
Raa yang masih ingin membunuh Medusa karena telah membuat teman-temannya menjadi batu, mencoba bergerak dan menyusul Agatha.
"Aku akan ikut-"
Namun belum juga melangkah, darah keluar dari beberapa bagian tubuh dan luka.
Kondisinya benar-benar sangat naas, bahkan telinganya mengalirkan darah.
Dia terjatuh diatas darah yang bersimbah keluar dari tubuhnya sambil memegang dadanya yang sesak akibat racun ular Medusa.
Agatha yang kaget tidak bisa meninggalkan Raa kesakitan karena itu sudah menjadi tugasnya untuk menjaga rakyat dan harus merelakan Medusa pergi.
Napasnya berat dan terengah-engah, matanya terbelalak seakan dicekik, bahkan tubuhnya menggeliat kesakitan di setiap saraf-sarafnya.
Setelah meronta, pada akhirnya Raa pingsan tak bergerak.
__ADS_1