The Journey Of Raa : The Lostland, Nusantara

The Journey Of Raa : The Lostland, Nusantara
Arena of Valor


__ADS_3

Arena of Valor adalah tempat para pengguna sihir dari wilayah Negara Emperian berkumpul untuk menunjukkan bakat mereka.


Diadakan setiap setahun sekali untuk memperingati hari Pahlawan dan berdirinya arena ini.


Ditonton oleh ratusan masyarakat dari berbagai kalangan di penjuru negeri ini.


Kini Arena of Valor penuh dengan sorak sorai penonton yang terlarut dalam keramaian dan kebahagiaan.


Di tengah arena sudah berkumpul para peserta yang sudah hadir dan siap menerima pertarungan antar pengguna sihir.


Teriakan penonton menggila dan para peserta semakin antusias saat melihat Lima Jenderal Kerajaan.


Raa merasa bingung, apakah harus sampai memiliki ekspresi berkaca-kaca karena melihat lima orang yang berada di tempat khusus? Dia hanya tidak tahu apa-apa soal dunia luar.


Tapi hal yang dirasakan oleh Raa adalah sebuah fakta bahwa mereka ber-lima memiliki aura dan kekuatan yang besar.


Terlepas dari itu, entah kenapa Raa melihat masam salah satu jenderal berambut pirang panjang yang membawa boneka perempuan bahkan dipeluk seakan bayi yang belum lama lahir.


Tawanya tertahan ditenggorokan, namun ekspresinya berubah saat pria itu seolah-olah menatap tajam pada Raa.


“Baiklah, sebelum memulai arena ini. Aku, Julius Caesar, ingin memberikan ucapan selamat bagi kalian yang telah ikut serta dalam acara ini. Bertarung dengan serius dan tunjukkan pada kami bahwa kalian memang pantas berada disini!” Suaranya yang gagah terdengar bijaksana layaknya motivator yang penuh wibawa, penuh semangat dan gairah.


Semua peserta dipersilahkan untuk menepi dan bersiap-siap untuk melakukan tantangan ini.


Terlihat jelas muka Raa yang kebingungan, dalam benaknya dia terus berpikir siapa yang akan menjadi lawannya.


Suara langkah dari benturan sepatu dan pijakan terdengar mendekati Raa, hal itu membuatnya teralihkan.


“Oh, tak aku sangka kau juga ikut dalam pertandingan arena ini?” Suara sengaunya terasa tidak asing di telinga Raa.


“Eh, kau kan, orang yang menabrakku tadi?” duganya meyakinkan.


Dia—Morgen Arcseon—berdecih dengan nadanya yang sebal, “Menabrakmu? Sadari posisimu. Oh iya, aku dengar kau berasal dari Desa Zagal, itu artinya kau seorang rakyat jelata yang lemah.”


Suaranya lantang bersamaan dengan tawa hinanya hingga terdengar ke semua orang.


Mereka saling berbisik, menggosipkan Raa. Sedangkan pria bermata biru toska tua itu bersikap santai saja dengan tatapan datar.


“Ayolah, biasa aja! Bagaimana kalau aku beri kehormatan untuk bertanding denganku di arena ini, kau mau? Ini sebuah kesempatan langka dari seorang ningrat sepertiku mengajakmu bertarung,” ucapnya seolah semuanya akan mudah.


Tentu saja, Raa yang percaya diri dengan mata berkaca-kaca menjawab, “Benarkah? Kalau begitu ayo kita bertarung!”


Singkat cerita, sang wasit sudah mengetahui nama-nama peserta yang akan unjuk kekuatan di pertandingan pertama ini.


Bahkan kedua peserta sudah siap di tengah arena.


“Baiklah untuk pertarungan pertama dari sisi kiri, Morgen Arcseon!” Saat juri memanggil nama tersebut, semua penonton bersorak karena tahu siapa seseorang yang memiliki nama Arcseon.


Lanjutnya sang wasit berkata, “Disebelah kanan yang akan menjadi lawannya, Raa dari Desa Zagal.”

__ADS_1


Nama itu menarik perhatian Julius Caesar yang sedang duduk manis di kursi khusus para jenderal. Sebaliknya, para penonton terutama mereka yang berasal dari keluarga ningrat dan kerajaan tercengang sekaligus aneh melihat seseorang dari desa “termiskin” di Empyrean of Light dengan percaya dirinya berada di arena ini.


Terlebih lagi dia berhadapan dengan seorang ningrat, ini akan menjadi kemenangan telak pikir mereka.


Raa tidak menghiraukan sama sekali bisikan mereka yang sampai terdengar mengudara disekitar arena ini.


“Kalau begitu, pertandingan pertama, dimulai!”


Morgen tertawa keras, “Jangan ragu-ragu, rakyat jelata! Kau boleh mengeluarkan seluruh kemampuanmu untuk melawanku!”


Raa hanya terdiam dan tidak ingin menggubris ocehan pria angkuh itu.


“Baiklah, akan aku tunjukkan sihirku! Armor Magic : Absolute Amulet Armor!” Dia mengucapkan sihirnya, mengeluarkan zirah baja perak yang dipadatkan dan dibentuk sedemikian rupa, serta memiliki ketahanan yang cukup kuat.


“Kenapa kau diam saja? Apa kau takut? Aku tidak tahu jenis sihir apa yang kau gunakan, setidaknya tunjukkan padaku!” ucapnya dengan tawa yang menjengkelkan.


Raa terdiam bukan karena dia takut. Tapi bagi dirinya, entah kenapa sihir yang dimiliki oleh ningrat ini tidak terlihat sekuat zirah baja peraknya.


“Kalau begitu, pukulan saja sudah cukup,” gumam Raa mengambil posisi menyerang.


Cahaya biru memancar dan membentuk kilatan petir, secara perlahan keluar semakin banyak.


Otot-otot kakinya diperkuat, satu detik kemudian dia melesat cepat sampai menghancurkan pijakannya.


Tiba-tiba saja Raa berada di depan Morgen dengan posisi lebih rendah darinya beberapa senti dan tangan yang mengepal.


“Lightning Magic : Martial Destructive, Belly Punch!” Pukulan keras mengenai perut Morgen.


Tidak hanya terpental jauh ke tembok arena, zirah yang tercipta dari sihirnya pun ikut hancur.


Tentu saja, ini menjadi kemenangan telak satu pukulan untuk Raa.


Sedang Morgen, mungkin akan menerima rasa malu dan turunnya harga diri seorang ningrat karena telah dikalahkan dengan mudahnya oleh rakyat jelata yang ia remehkan.


Orang-orang hanya terdiam kebingungan, benar-benar tidak ada dukungan sama sekali.


Malah kalau didengar-dengar, mereka memfitnah adanya kecurangan karena menganggap rakyat jelata selalu merencanakan apapun demi bisa melampaui para ningrat.


Di sisi lain, Jenderal Julius terkesan dengan sihir elemen petir Raa yang digunakan untuk memperkuat serangan.


Raa menarik napas lega dengan tatapan orang yang tertuju padanya, “Akhirnya sedikit tenang, aku bisa bersantai dulu.”


Waktu demi waktu telah dilalui hingga hari sudah benar-benar terik.


Pertarungan itu usai dilaksanakan. Peserta yang tersisa berkumpul di arena untuk mendapatkan pengumuman siapa saja yang akan direkrut untuk menjadi pasukan Kesatria Sihir Kerajaan.


Pada suasana ini, para penonton sudah meninggalkan arena.


“Selamat atas keberhasilan kalian yang telah lulus dalam tahap ujian pertarungan!” Suaranya begitu lantang, tidak lain adalah Julius.

__ADS_1


“Kami akan segera memberitahukan hasil dari pertandingan ini, jadi tunggulah dan beristirahatlah!” Sambungnya oleh seorang wanita yang mengenakan jubah putih dengan motif berwarna emas, salah satu dari 5 Jenderal Kerajaan.


Sejujurnya, Raa tidak terlalu peduli akan hasil pertandingan ini.


Hanya saja, melihat awan hitam dari sebelah timur yang datang tiba-tiba membuat Raa sedikit khawatir.


Firasatnya mengatakan akan ada sesuatu yang buruk.


Jenderal Julius berbisik pada rekan-rekan seperjuangannya. Menurut Raa, sepertinya mereka memiliki pemikiran yang sama. Setelah diberi arahan, empat jenderal lainnya mulai berpencar dan menjaga kota.


Orang-orang disana yang melihatnya bertanya-tanya, kemana mereka pergi?


Julius yang menjadi seorang panutan bagi seluruh Kesatria Sihir di Empyrean of Light, mencoba mengendalikan keadaan.


Sementara itu, berjarak sekitar ratusan meter. Sesuatu bergerak lihai dan menggeliat maju seperti hewan melata.


Bentuknya memang seperti ular berdominan hitam kemerahan, namun ukurannya sebesar badan manusia dewasa atau bahkan lebih.


Setiap gerakan zigzag-nya, rerumputan disekitarnya seolah terkontaminasi oleh penyakit dan hitam layu.


Dia berhenti dibebatuan yang tertancam di tanah. Dia memiliki badan seorang wanita yang mengenakan baju baja seksi, hanya menutupi sedikit dada dan punggungnya.


Tersambung dengan kain merah darah bermotif sepanjang lengan hingga pergelangan.


Ujung lengan bajunya compang-camping semrawutan.


Hal yang menambah kesan mengerikan tidak hanya wajah buruk rupanya.


Setiap helaian rambutnya adalah ular-ular yang mendesis dan matanya merah seperti ular.


Seseorang sebenarnya sudah berada di atas bebatuan tersebut dengan kaki menyilang, tanda ia menunggu wanita ular ini.


“Empyrean of Light, kota ‘perjanjian’ yang harus kita hancurkan.” Kata-katanya terdengar seperti bisikan dari alam bawah sadar, suara getaran seraknya seolah memberikan kesan mistis dan mencekam, “Ayo, kita lakukan, Elpis!”


“Baik, aku mengerti, Medusa,” sahutnya. “Door Magic : Infinite Devil Door!”


Puluhan pintu setinggi gerbang rumah ningrat secara acak bermunculan dimana-mana, bahkan ada yang melayang.


Decit pintu terdengar perlahan untuk menambah kesan mistis.


Dari balik pintu-pintu itu, terlihat mata-mata merah yang terpejam seakan ingin menikam.


Kemudian keluar pasukan iblis buruk rupa tingkat rendah yang biasa dijadikan bidak perang melawan manusia, berlarian ke arah kota.


Bentuk mereka bermacam-macam, ada yang terlihat seperti singa, kambing, burung, bahkan bergerak layaknya manusia.


Entah itu puluhan atau bahkan ratusan, tidak ada yang bisa memastikan.


Namun yang jelas, jumlahnya cukup untuk membuat malapetaka di Empyrean of Light.

__ADS_1


__ADS_2