The Journey Of Raa : The Lostland, Nusantara

The Journey Of Raa : The Lostland, Nusantara
Perjuangan yang Sesak


__ADS_3

Masih dalam keadaan yang terperangkap udara pengap penuh racun.


Raa mencoba berdiri dengan kaki gemetarnya, mengatur napasnya dengan baik meskipun itu berat.


Medusa terkenal dengan kekejamannya dalam membunuh di kalangan para iblis.


Senyum seringainya adalah sebuah tanda untuk para ular raksanya menyerang Raa.


Satu ular meluncur ke depan dan mencoba menyeruduk Raa.


Raa yang sudah mengatur napasnya dengan bersusah payah menghalau serangan kejutan tersebut dengan pedangnya yang agak dimiringkan ke kanan.


Seolah pertarungan dua pedang yang menghasilkan percikan, kulit ular tersebut seakan keras seperti baja dan mungkin juga berlapis-lapis.


Lelaki itu berhasil menahan sang ular walaupun terdorong beberapa meter ke belakang, bahkan pijakan menjadi hancur karena berusaha menghentikan serangan tersebut.


Raa terus berdecih kesulitan, pertama kalinya ia berada di situasi tidak menguntungkan ini.


"Oh, dia masih punya kekuatan sekuat ini meski sudah menghirup racun? Kekuatan fisiknya bukan main. Kalau begitu bagaimana dengan ini." Medusa berkata dengan senyum licik terukir di wajahnya.


Medusa memerintahkan ular satunya lagi untuk bergerak dan tujuannya adalah anak yang selama ini bersembunyi.


Tentunya itu membuat takut sang anak malang itu.


Raa terus mengoceh sial pada hatinya, terus berucap lebih kuat, lebih kuat, lebih kuat lagi, seolah itu adalah mantra ajaib yang dapat membuatnya kuat.


Secara naluri, manusia mempunyai perasaan untuk melindungi sesama mereka.


Entah itu mereka akan melakukannya secara sadar ataupun alami pergerakan dari hati terdalam.


Dalam kondisi terpuruk, manusia mempunyai kemampuan untuk menambah kekuatan mereka akibat adanya pemicu yang membangkitkannya.


Termasuk yang dialami oleh Raa saat ini, manusia bisa melampaui setiap batasan mereka.


Bersamaan dengan teriakan, Raa membanting ular yang menahannya hingga terpental beberapa meter ke sebelah kirinya.


Hal itu membuat Medusa terbelalak dan sedikit keheranan.


Raa berlari secepat kilat menyambar tanah, dia melompat dan cahaya-cahaya petir bermunculan dari pedangnya.


Seperti ingin menancapkan pedang ke tanah, Raa menusuk dari atas ular tersebut bersamaan dengan pecahan kilat yang menyambar dari langit.


Serangan itu bergemuruh dan sang ular terbanting cukup kuat hingga tanah pun menjadi hancur.


"Cepatlah pergi dan tutup hidungmu! Disini berbahaya! Larilah, aku yang akan menghalangi ular-ular ini!" Raa tahu dia hanya anak yang hanya bisa ketakutan, tapi saat ini juga Raa kesulitan untuk menyelamatkannya.


Sang anak kecil itu mengangguk pelan dan berlari jauh dari medan pertempuran itu seperti yang diperintahkan Raa.


Medusa memasang wajah kebingungan dan heran, "Hm, anak itu. Seharusnya racun sudah menyebar dan terhirup olehnya, apa dia kebal terhadap racun? Mana mungkin. Ya sudah, kalau racun tak mempan aku pun cukup memakannya saja."


Tangannya diacungkan ke depan seolah memerintahkan ular tersebut memangsa sang gadis kecil.


Anak itu terkejut dan terjatuh hingga ia beku dalam ketakutan.


Namun dengan kecepatan yang tak terbayangkan, Raa melesat ke arah ular tersebut dengan teriakannya yang semakin kencang—hanya tidak ingin memikirkan rasa sakit.


Sekelebat Raa sudah berada di hadapan mata sang ular dan menusuk matanya hingga meronta-ronta kesakitan.

__ADS_1


Ular itu menghempaskan Raa, namun pria itu berhasil berdiri dan melindungi gadis kecil yang belum diketahui namanya itu.


Raa berlari sambil menggendong anak tersebut keluar dari area beracun, walaupun dia tidak tahu pasti sampai mana penyebarannya.


"Larilah! Aku akan menjagamu dari belakang, kalau kau pergi kesana akan ada banyak prajurit istana," ucap Raa lembut dengan badan yang menahan gemetar.


Gadis kecil itu mengucapkan terima kasih dan di sisi lain dia pun khawatir, kemudian ia pergi ke tempat yang lebih aman.


Sekarang, tinggal mengurus ular-ular menjijikkan ini.


"Sepenting itukah gadis kecil yang menurutku membebanimu itu? Padahal kalau aku makan, kita bisa bertarung dengan leluasa," ucap Medusa enteng.


Kata-katanya membuat Raa marah dan tatapannya tajam kepada Medusa.


"Woy!" Raa memanggil Medusa hingga ia menatap rendah dirinya, "apa kau tidak punya perasaan terhadap kehidupan orang lain? Apa kau tidak merasa bersalah sampai mengatakan hal seperti itu? Sudah berapa banyak orang yang telah kau ambil nyawanya?!"


"Kenapa, yah? Ya tentu saja tidak bersalah, lagian kau ini bodoh atau tidak punya otak? Kau menanyakan pertanyaan yang tidak-tidak pada iblis?" Ekspresinya datar, lagipula apa yang dikatakan Medusa memang benar.


Jawabannya membuat Raa dan dia berpikir itu juga tidak ada salahnya, namun tetap saja hal tersebut sangat kejam.


Medusa pun kesal karena terlalu lama membuang waktu, kali ini dia benar-benar akan serius untuk melahap Raa.


"Sudahlah, lupakan! Bunuh dia wahai ular-ular yang cantik!" pinta Medusa pada kedua ularnya untuk menerkam Raa.


Raa menjadi gila akan kata-kata Medusa dan dia pun berniat untuk membunuhnya.


Tiba-tiba kilatan cahaya menyebar disekitarnya, Raa berada dalam kuda-kuda menyerang.


Keluar seperti beberapa anak petir yang menyambar tanah dan kekuatannya meremukkan pijakan sekitarnya.


Raa melesat maju ke arah dua ular yang menerjangnya.


Dia melompat secara spontan ke udara dengan lutut yang dirapatkan dan posisi yang seperti meringkuk.


Seakan petir yang berbelok, Raa menendang udara sekuat-kuatnya sehingga terciptanya pergerakan seakan bebas di angkasa


Pedangnya menebas panjang dari kepala salah satu ular hingga ke badannya, bergerak seakan dia meluncur.


Mengakhiri serangan tersebut dengan sedikit berputar dan mengangkat pedangnya seakan memberi kesan tarian yang indah.


Ular itu menjerit kesakitan, tapi Raa tidak peduli akan hal tersebut.


Kemudian Raa berlari di atas badan sang ular seakan itu adalah jalurnya untuk bisa melompat ke udara.


Tak henti-hentinya Medusa jadi merasa cemas dan satu hal yang disadari olehnya adalah bahwa Raa melompat ke udara untuk mengambil napas.


Ular satunya mendongak dan membuka mulutnya untuk melahap Raa saat dia akan mendarat.


Sayangnya, Raa sudah tahu itu. Dengan kecepatan yang tak bisa diikuti oleh hewan raksasa tersebut, Raa menebas mulut sang ular hingga robek dan merasakan sakit yang menderita.


Tidak sampai situ, tebasan zig-zag menghujam sang ular hingga tubuhnya penuh dengan luka yang memancarkan darah kemana-mana.


Kembali ia melompat ke udara, kali ini Medusa—yang kini masih berada di atap—beraksi untuk menghentikan Raa dengan sihir ular-ularnya yang keluar dari tangan.


Memfokuskan kembali Mana di kakinya, semakin kuat dan terus bertambah.


Kecepatan luar biasa dengan pergerakan seni berpedang yang ahli, dia memutar badannya seraya mengayunkan Katana.

__ADS_1


Seperti sebuah kincir yang berputar maju dengan ujung-ujung yang tajam, memotong ular-ular tersebut menjadi daging cincang.


Sekelebat Raa berada dihadapan Medusa dengan matanya yang sedikit membeku.


Pedangnya sudah siap menebas leher Medusa.


"Cepat sekali, selain itu, apa pedangnya semakin tajam? Apa karena pengendalian fokus Mana-nya pedang itu semakin tajam? Bahaya." Diantara semua pikirannya hanya menghindarlah satu-satunya cara selamat dari tebasan pedang Raa.


Dia menggunakan sihir ganti kulitnya yang menjengkelkan itu untuk lepas dari serangan Raa.


Selain dari kecepatan dan kelincahan, peningkatan terjadi pada insting manusia ini.


Sesaat sebelum Medusa mencoba menyerang, Raa berhenti sejenak dan kemudian melesat kembali dengan lompatan yang membuat posisi kaki dan kepalanya terbalik.


Raa mengharuskan gaya ini di udara supaya dia bisa menyeimbangkan antara posisi leher Medusa dan juga ketinggian dia melompat.


Medusa merasa dirinya sial, bertemu seorang maniak leher yang suka memenggal iblis tanpa ampun.


Sekali lagi, teknik merepotkan itu menggagalkan Raa untuk memenggal Medusa untuk kesekian kalinya.


Saat Medusa kembali mendarat di atas atap lagi, tiba-tiba lehernya mengeluarkan darah dan ada sedikit bekas tebasan pedang Raa.


Kemampuan Raa terus bertambah dan kini Medusa mulai terpojok, wajahnya benar-benar kesal.


Raa terengah-engah dan sedikit kelelahan karena sudah menggunakan banyak Mana terutama untuk peningkatan tubuh.


Ini menjadi kesempatan Medusa untuk menyerang balik.


Secepat pergerakan ular yang lincah, dia menghampiri Raa seperti sebuah terkaman dengan membawa aura mencekam.


Raa tidak fokus dan sedikit terkejut, posisinya sudah tak beraturan.


Kuku Medusa yang tajam mampu mencakar tubuh Raa hingga berbekas dan mengeluarkan darah.


Belum sempat ia bergerak, Medusa melilit tubuh Raa kuat-kuat dengan badan ularnya.


Mata mereka saling bertatapan dan Raa meronta untuk mencoba lepas.


"Awalnya aku berpikir kau adalah manusia biasa, tapi ternyata aku meremehkanmu," ucapnya menatap rendah Raa yang terasa sesak.


Medusa tertawa yang tidak enak di dengar, "Kau tahu? Diantara semua para Gorgon yang ada, aku adalah Gorgon yang istimewa. Kau tahu kenapa?"


Raa berpikir sejenak dan menjawab dengan datar, "Karena kau wanita?"


"Semua Gorgon adalah wanita, bodoh!" Jawaban Raa membuat kesal Medusa, "maksudku, kau pasti tahu kan soal mataku ini?"


Raa tercengang dan teringat sesuatu yang dikatakan oleh Kagetora.


Kekuatan mata yang diberikan khusus dari para dewa atau bahkan iblis, Eyes of Heaven


Apa yang dilihat sekarang, mata Medusa mengingatkan pada bentuk salah satu dari banyak kekuatan Eyes of Heaven.


Cahaya lambat laun memancar dari mata merah Medusa, suaranya seolah mengganggu jiwa.


Raa langsung menutup matanya disaat Medusa berucap, "Eyes of Malefictio!"


Eyes of Malefictio, siapapun yang menatap cahaya dari mata ini akan berubah menjadi batu dan Raa mengetahuinya.

__ADS_1


"Sepertinya kau tahu kekuatan mataku..." Tawanya mencurigakan, "tapi kekuatan mataku terhubung dengan tangan kiri ku, jadi dengan menyentuhmu saja itu sudah cukup."


__ADS_2