The Journey Of Raa : The Lostland, Nusantara

The Journey Of Raa : The Lostland, Nusantara
Empyrean of Light


__ADS_3

Orang-orang dari luar wilayah ibukota mengatakan tempat ini sebagai “Kota yang Tidak Pernah Tidur”, Empyrean of Light.


Bahkan saat hari menjelang subuh sekalipun, jalanannya dipenuhi para pekerja atau pedagang yang ke sana kemari.


Raa menaruh tas punggung yang membuat pundaknya terasa tegang sepanjang perjalanan.


Tujuannya memang langsung mencari penginapan setelah beberapa saat lalu baru saja sampai di ibukota.


Pertama kalinya setelah dua tahun tidur tanpa alas yang empuk, Raa membuat dirinya menempel terus pada kasur putih beraroma bunga Amorreno layaknya dua magnet berbeda kutub yang bersentuhan.


Amorreno sendiri adalah jenis bunga dengan kelopak mungil dan anggun berwarna lembayung yang semakin memutih saat mendekati mahkota bunga.


Pada bagian mahkota inilah yang mengeluarkan aroma menggoda bagi manusia dan tidak disukai iblis karena sangat menyengat.


Selain itu, bunga ini sering dijuluki “Lembayung Fajar dan Senja” karena hanya tumbuh saat fajar hari dan bertahan hidup sampai senja berakhir.


Tiba-tiba terdengar suara yang terlarut dalam kegembiraan di lantai bawah, memecah kenyamanan Raa.


Memang tidak perlu dipermasalahkan karena sebenarnya tempat ini menyatu dengan bar.


Saat itu Raa hanya berpikir ingin cepat-cepat beristirahat.


Dia mendorong pintu kayu kamarnya dan berjalan keluar penginapan melewati orang-orang yang berpesta kecil-kecilan.


Saat diluar, kembali ia melihat sebuah papan kecil yang menggelantung. Tertulis “Cattoline”, masih terasa lucu ketika pertama kali membaca papan itu saat baru sampai di penginapan ini, seperti nama untuk kucing.


“Kota ini cukup besar untuk aku jelajahi, sama seperti di Abisend City,” keluh Raa sambil berjalan dengan tangan yang menyilang santai di belakang kepalanya.


Tiba-tiba saja Raa teringat sesuatu, “Oh iya, sensei pernah membawa makanan dari ibukota. Apa yah?”


Raa mencoba mengingat, makanan yang terbuat dari kentang yang dihancurkan dan dicampur dengan telur.


Setelah diberi bumbu, adonan itu dibentuk bulat dengan ukuran sedang dan kemudian digoreng hingga garing.


“Per-, per-, ah iya, perkedel!” Jarinya dipetik seolah senang bisa menjawab kebingungannya sendiri.


Raa celingak-celinguk mencari kemungkinan dimana penjual perkedel itu berada.


Orang-orang disini terlalu banyak sehingga bagi Raa terasa menghalangi pandangannya.


“Gedebug!”


Suara benturan dua bahu antara Raa dan seseorang, mengagetkan mereka berdua.


Pria asing itu mengerutkan kedua alisnya seperti kesal.


“Apa kau tidak bisa minggir? Kau menghalangi jalanku!” ketusnya dengan nada tinggi.


Raa membalas dengan polos, “Bukannya kau yang menabrakku? Aku bahkan hanya berdiam diri.”


Memang murni ketidaktahuannya, Raa tidak tahu siapa orang yang sedang ia ajak bicara di depannya ini.


“Apa! Beraninya kau bicara seperti itu padaku, rakyat biasa! Apa kau tidak tahu siapa aku? Aku adalah Morgen Arcseon, sekarang kau harus meminta maaf padaku!” ucapnya angkuh.


Arcseon adalah salah satu dari keluarga ningrat di Empyrean of Light.


“Untuk apa? Kau kan yang salah.” Muka Raa terlalu datar dan polosnya cara dia berbicara.

__ADS_1


Terlihat urat kekesalan pada wajah sang ningrat, membuat dirinya ingin sekali merobek mulut Raa.


Dia berencana menghukum Raa dengan sihirnya. Namun dia menyadari orang-orang disekitar yang menatap mereka, itu bisa menjadi poin kehilangan kehormatan Arcseon muda sebagai seorang manusia “berkasta tinggi”.


“Hah, lupakan! Berurusan denganmu tidak akan membuatku tenang seumur hidup.” Seringai ejeknya mengakhiri pertemuan singkat mereka.


Raa tidak ingin terlarut dalam hal bodoh seperti itu, jadi lebih baik ia melanjutkan misi terpentingnya.


Puluhan langkah telah dilalui, bukan main senangnya. Wajah ceria dan sumringah terukir jelas seperti cerahnya hari ini, berjalan dengan tangan kiri yang memeluk sebungkus olahan kentang.


Mulutnya yang penuh dengan perkedel tak hentinya mengunyah hingga pipinya mengembang.


“Akhirnya setelah sekian lama, bisa merasakan perkedel lagi.” Matanya tersenyum imut dan bahagia seperti anak kecil yang baru saja diberi jajanan.


Saat menikmati dan hendak menyantap suapan terakhirnya, tiba-tiba seorang wanita yang berlari ketakutan di belakangnya menabrak Raa.


Lantas perkedel terakhir yang berada pada cubitannya tadi terjatuh dan menggelinding jauh.


Perkedel yang malang itu sudah tidak bisa diselamatkan, berbaur dengan debu jalanan dan bahkan terinjak oleh orang-orang yang mengejar wanita tersebut.


Hati Raa terasa seperti ditusuk jarum-jarum jahit, begitu sakit dan menyedihkan.


Kenapa harus terjatuh disaat kenikmatan terakhir? Ini menyebalkan.


Mulutnya menganga dan ekspresinya sedikit mendramatisir.


Terlepas dari ia mengikhlaskan perkedel terakhirnya. Sepertinya Raa penasaran apa yang membuat wanita itu dikejar.


Lantas apa yang akan dilakukan Raa? Dilihat dari penampilannya, dua orang pria yang mengejarnya pasti preman kota ini dan Raa harus menolong wanita itu.


Beralih pada wanita tadi, saat dikejar sepertinya ia salah belok dan malah menjebak dirinya diantara bangunan-bangunan bertembok batu yang menciptakan impitan lorong sepi.


“Kumohon, menjauhlah dariku! Apa yang kalian inginkan dariku?” ucapnya putus asa, bibirnya bergetar ketakutan dan matanya melebar beku.


“Kami hanya ingin bermain-main dengan gadis ningrat seperti dirimu. Ayolah kita bermain sebentar, manis!” Kata-katanya manis tapi membahayakan, ajakan yang diucap salah satu dari pria berengsek itu.


Saat hendak mendekati wanita itu. Tanpa disadari kedua orang tersebut, Raa menendang pinggang preman kerempeng hingga terpental bersamaan dengan temannya yang gempal dan menghantam beberapa barang rongsok.


“Woy, beraninya kalian mengganggu seorang gadis cantik ini.” Tatapan Raa tajam dan dingin, ucapannya sangat jantan di telinga gadis itu.


Dia berpaling ke arah perempuan bergaun merah muda yang menawan tersebut, “Kau juga, harusnya kau mengganti perkedel terakhirku. Belikan aku sebungkus!”


Wanita itu sedikit terkejut, tapi apa boleh buat hanya Raa lah yang saat ini bisa menolongnya.


“Baiklah, akan aku belikan. Tapi tolong aku dulu dari orang-orang suram itu, kumohon!” pintanya dan beringsut ke belakang Raa.


Kedua pria tadi bangun perlahan dan menepuk-nepuk pakaiannya yang terkena debu rongsok.


“Kurang ajar, beraninya kau! Menyerang kami secara tiba-tiba itu tindakan pengecut.” Preman kerempeng itu berdalih yang tidak-tidak, suaranya parau dan menggelikan untuk didengar.


“Kalau begitu bagaimana kalau kita bertarung saja. Sejujurnya, harusnya kalian berkaca dan sadar diri karena telah mengganggu seorang perempuan.” Raa membalas ucapannya.


Laki-laki yang tidak diketahui namanya itu berdecak, “Apa peduli kami, dia itu salah satu ningrat arogan-”


Sebelum ucapannya selesai, Raa melesat seperti peluru ke arah samping dan meninju wajah pria menggemaskan itu sampai terjungkir-jungkir jauh.


Temannya yang tidak terima karena si kerempeng dipukul, dia menghantamkan tinju.

__ADS_1


Sayangnya, bagi Raa serangan itu terlalu lambat jadi mudah ditahan.


Raa memukul beberapa kali perutnya dan berpindah menghantam kepalanya seperti pergerakan seni bela diri.


Dia terpental dan badannya terpantul akibat benturan dengan tembok keras.


Lagi-lagi preman kerempeng menyerang. Semua serangan mereka tak berkesan bagi Raa.


Dua tiga pukulan terus menghujam mereka hingga babak belur.


Lama-lama mereka mulai menyerah dan pergi kabur. Berjanji akan membalaskan dendam mereka, seolah itu akan terjadi saja.


Raa bisa menghela napas dengan tenang, hembusannya begitu lega.


“Terima kasih sudah membantuku,” ucapnya kikuk, wajahnya merah tersipu.


Raa tersenyum kecil, “Tidak apa-apa. Nah sekarang, aku mau sebungkus perkedel.”


“Ayo, aku belikan!” ucapnya,


“ngomong-ngomong kamu berasal dari ningrat mana?” tanyanya penuh penasaran, berharap Raa berasal dari keluarga terkemuka.


Dengan santainya Raa menjawab, “Aku tidak berasal dari ningrat mana-mana atau keluarga kerajaan, aku cuman rakyat biasa.”


Mendengar hal itu, wanita tersebut terkejut karena ekspektasinya yang buyar.


“Apa!? Jadi kau bukan ningrat? Cih, aku pergi saja. Tak sudi aku ditolong rakyat biasa seperti kau!” Suaranya kesal, kemudian pergi begitu saja seolah menarik kembali ucapan terima kasihnya.


Raa terdiam sejenak dengan mulut menganga, “Woy, kau belum gantiin perkedel terakhirku! Kenikmatan suapan terakhir itu lebih berharga dari harta ningratmu!”


“Idih, pantas saja rakyat biasa benci para ningrat. Arogannya terlihat jelas sekali. Ya apa boleh buat, kau punya uang maka kau berkuasa.” Pada akhirnya Raa merelakan perkedel terakhirnya.


Baru saja melangkah, Raa melupakan sesuatu. Lebih penting daripada sebuah adonan kentang dan telur yang digoreng. Arena of Valor yang akan diadakan sebentar lagi.


“Astaga aku harus segera ke, apa itu namanya? Velor? Atau apalah itu.” Secepat mungkin ia berlari ke penginapan untuk mengambil surat izin.


Untung saja surat itu tidak dibawa saat mencari perkedel, mungkin benda itu sudah hilang diantara rongsokan tadi.


***


Terkadang Raa bisa bersikap toledor dan lupa akan waktu. Mungkin saja tadi ada sebuah roh gaib yang menggetok ingatannya, syukurlah.


Acara sebentar lagi dimulai tapi masih ada beberapa peserta yang masih berbaris.


Benar-benar dipersulit bagi rakyat biasa, berbeda dengan para ningrat dan keluarga kerajaan yang diperbolehkan masuk ke arena tanpa berbaris.


Tidak mau berlama-lama, Raa berbaris di bagian paling belakang. Kini baginya untuk diperiksa surat izin yang telah diterima oleh Kagetora. Penjaga yang melihat surat izin milik Raa tercengang.


“Lihat ini! Dia berasal dari desa pinggiran, itu artinya dia bukan hanya rakyat biasa tapi juga rakyat jelata yang melarat.” Mereka tertawa keras dan berkata dengan nada yang angkuh.


Satu hal yang disadari oleh Raa, pada tingkatan sosial paling rendah (rakyat jelata).


Tidak hanya arogansi dan enggan berterima kasih, tapi juga merendahkan rakyat jelata.


Diskriminasi ini sudah sangat parah, namun Raa tetap bersikap biasa saja karena tidak mau terbawa emosi.


Pria penjaga satunya berkata pada Raa, “Ayolah, kawan! Kami bercanda, masuk aja ke arena.”

__ADS_1


“Tidak usah berusaha terlalu keras, kau tidak akan bisa menang meski melawan rakyat biasa apalagi ningrat dan keluarga kerajaan.” Ucapan mereka terus menghina dengan sarkas yang menusuk hati, jika bukan Raa yang mendengarnya.


__ADS_2