The Journey Of Raa : The Lostland, Nusantara

The Journey Of Raa : The Lostland, Nusantara
Penyerangan


__ADS_3

Masih berada di Arena of Valor, Raa dan beberapa peserta sedang menunggu hasil keputusan para juri.


Semakin lama, orang-orang mulai merasakan hawa menusuk yang tidak enak seakan dia menembus kulit.


"Entah kenapa aku merasakan firasat aneh," ucap salah satu peserta disana.


"Iya itu benar, lihat saja awan di atas! Kenapa bisa tiba-tiba gelap yah? Tadi cuacanya cerah cerah aja," sambung seseorang disebelahnya.


Tidak lama kemudian, seorang prajurit istana berlari terbirit-birit mendatangi Julius Caesar yang juga menoleh sadar akan kehadirannya.


"Tuan Julius! Maaf mengganggu, ini sangat gawat!" Dia berteriak dan terhenti sejenak menghilangkan pengap larinya.


Julius risau, "Ada apa? Apa terjadi sesuatu?"


"Ibukota, ibukota akan diserang iblis yang jumlahnya tak terhitung!" sahutnya, bukan main paniknya hingga suaranya serak.


Orang-orang mendengar dari arena bawah, keadaan menjadi tidak kondusif.


Beberapa merasa ini kesempatan yang baik untuk menunjukkan kekuatan mereka.


Ada juga mereka yang ragu masih dalam bayang-bayang ketakutan terhadap iblis sungguhan, hati mereka meringkuk dalam kabut dingin hingga tubuhnya terdiam kaku.


Sementara itu, Raa tetap tenang karena memang sudah menyadari hal yang mengganjal ini.


Beberapa diantara mereka yang semangat dan berkata penuh gairah untuk ikut serta dalam membasmi iblis.


Sayangnya, Julius harus menolak karena terlalu berbahaya bagi mereka yang bukan pasukan dari Kesatria Sihir.


"Maafkan aku karena mengganggu semangat kalian saat ini. Tapi musuh yang akan kita hadapi adalah iblis sungguhan dan mungkin jumlahnya tak terbayangkan. Kami tidak ingin adanya korban dari para rakyat, jadi selama berada di tempat ini aku pastikan kalian aman dan tempat ini juga akan menjadi area evakuasi." Ucapannya penuh dengan kebijaksanaan dengan suaranya yang lantang.


Arena of Valor berdekatan dengan Istana Kerajaan, jadi wilayah itu akan aman bagi mereka untuk diam selagi keadaan diluar sedang kacau.


Ada rasa sedikit kecewa, namun ada benarnya juga bahwa mereka harus tetap aman.


Sayangnya, Raa menolak. Dia lari begitu saja dan mencoba pergi keluar arena.


Dia tidak bisa diam disaat orang-orang sedang membutuhkan bantuan.


"Hey, mau kemana kau?! Tetaplah diam disini!" seru Julius.


Orang-orang yang memandang Raa tampaknya tidak suka dan merasa dia hanya ingin pamer saja.


Mereka juga tidak peduli kalau Raa akan mati dilahap iblis, walaupun memang tindakannya egois dan sembrono.


Raa melompat dari tribun kemudian ke atap arena. Dia melihat seisi kota mulai hancur sebagian, ini penyerangan yang cukup besar untuk menghancurkan sebuah wilayah.


Angin menyapu wajah sampai rambutnya hingga berkibar, dia melihat dibawahnya orang-orang yang sedang berlarian menuju tempat evakuasi—Arena of Valor.


Dia mendengar jeritan dari beberapa pria pasukan kerajaan, sebuah iblis yang mencoba menyerangnya.


Tanpa berpikir panjang dia menerjunkan badannya ke bawah arena yang tingginya puluhan meter.


Seolah waktu melambat saat ia terjatuh diantara para pengungsi.


Dia mengeluarkan sejumlah Mana untuk memperkuat fisiknya, terutama bagian otot kaki.


Raa melesat dengan kecepatan beberapa meter per sekian detik, membuat orang-orang yang dilewatinya terkejut dan sedikit terdorong ke belakang.

__ADS_1


Saat hampir mendekati iblis yang mencoba melahap seorang prajurit.


Raa merubah laju lesatannya menjadi kaki yang berlari-lari, dia melompat sambil menghunus pedangnya dengan gaya sedikit berputar.


Pedang yang sudah terhunus itu dia gerakan menusuk sang iblis.


Sebuah gerakan yang diiringi kilatan cahaya tipis berwarna biru seolah menembus tubuh iblis tersebut dan mendarat beberapa meter dibelakangnya.


Luka goresan panjang tercipta bersamaan dengan keluarnya darah kotor sang iblis.


Lantas dia berteriak kesakitan. Satu detik sebelum dia menoleh ke arah Raa.


Anak petir itu sudah berada didekatnya dan menebas leher iblis seolah sambaran kilat.


Kepalanya putus dan tubuhnya sudah tak berdaya lagi untuk hidup.


Prajurit itu sedikit kaget, ingin berterima kasih tapi dia tahu siapa Raa karena orang ini adalah wasit pertandingan Arena of Valor.


Kata-katanya tertahan dan sulit untuk dikeluarkan, bingung bagaimana dia harus berekspresi juga.


"Kau sekarang sudah aman, carilah orang yang menggunakan sihir penyembuh atau setidaknya perbani luka ditangan kirimu itu." Raa memasukan kembali pedang tersebut ke sarungnya.


"Pedangnya itu, bukan seperti pedang yang biasa digunakan prajurit kerajaan. Apakah itu ... Katana?" gumamnya heran.


Sesuatu mengejutkan Raa, sebuah pintu secara ajaib berada tidak jauh dari hadapannya.


Benda itu terbuka dan memunculkan iblis-iblis yang datang dari tempat antah-berantah.


"Gawat! Apa ini sihir?" Raa terbelalak dan melompat mundur sambil membawa prajurit tadi.


Dalam jarak aman, Raa berkonsentrasi penuh dengan memejam matanya untuk mengambil ancang-ancang.


Kemudian ia dengan kecepatan layaknya meluncur, melukai dua iblis berikutnya.


Iblis berwujud kepala banteng akan menyeruduk Raa, sayangnya gagal karena pria itu sadar dan meloncat tinggi-tinggi.


Raa mendarat dan bergerak seperti sambaran. Saat bilah pedangnya lima sentimeter lagi menyentuh leher sang iblis banteng, dia mendorong cepat lengannya agar tebasan itu semakin tajam dan dengan mudahnya memutus kepala makhluk tersebut.


Beralih ke kedua iblis sebelumnya, mereka mencoba untuk menerkam secara bersamaan.


Namun Raa yang bisa membaca pergerakannya, melewati mereka berdua dengan tebasan yang tidak bisa diikuti mata.


Menyebabkan iblis tersebut seolah tersayat berkali-kali dan tumbang dengan banyaknya darah yang bercucuran.


Para iblis mulai menyerang serentak karena merasa bahwa Raa adalah ancaman berbahaya.


Aura biru keluar dari tubuh Raa dengan decitan-decitan petir yang merambat sedikit demi sedikit.


Dalam kondisi ini, Raa semakin meningkatkan fokus sihirnya pada seluruh bagian tubuh dan pedangnya agar semakin tajam.


"Lightning Magic : Thunder Blade Dancing!"


Raa bergerak melewati para iblis sembari mengayunkan pedangnya seolah-olah dia menari dengan pergerakan yang sempurna.


Para iblis berhenti dan luka sayatan muncul di seluruh tubuh mereka dan darah mereka menyembur kemana-mana.


Iblis lain yang tersisa malah ketakutan dan mencoba lari.

__ADS_1


Namun belum sempat satu langkah mereka bergerak, Raa menebas leher, tangan, kaki, atau bahkan perut para iblis hingga terputus.


Kini tanah disekitarnya telah tergenang oleh ribuan tetesan darah iblis yang kotor beserta mayat-mayat mereka.


Kesatria Sihir yang diselamatkan Raa pun tidak bisa berkata apa-apa, dia hanya menganga dengan matanya yang kaku.


Wajah Raa berubah seperti berbeda dari sifatnya yang ceria.


Dingin dan penuh rasa dendam yang teramat dalam, hal itupun yang memicu Raa tidak bisa menahan diri saat melawan iblis-iblis yang sudah terkapar mati ini.


"Apa kalian baik-baik saja?!" Seseorang berteriak dari kejauhan sambil berlari mendekat membawa senjata palu besar, Julius Caesar.


Langkahnya terhenti saat melihat para iblis yang sudah tumbang.


Sekelas Julius pun sulit untuk mempercayai akan hal ini, tapi dia teringat kalau Raa adalah murid dari Kagetora.


Seketika Raa merasakan aura yang lebih jahat daripada para iblis yang datang memberi kejutan dibalik pintu seperti orang yang mengunjungi ulang tahun temannya.


"Bapak Palu Raksasa, tolong kau jaga pria itu! Aku harus pergi ke suatu tempat," ujarnya memasukan kembali pedangnya.


Dia, Julius, bertanya dengan wajahnya yang kebingungan, "Hendak kemana kau? Apa ada sesuatu yang lebih buruk?"


Raa mengangguk dan sedikit berdeham, kemudian ia pergi meninggalkan yang lainnya di belakang.


Tentunya hal itu membuat Julius tidak bisa membiarkan dia pergi sendirian.


Lantas Julius pun mengejar Raa dan meminta kepada para penyembuh untuk mengobati "si wasit" yang terluka.


Namun sayangnya, sebuah pintu iblis yang sama tak jauh dihadapan Julius tiba-tiba saja muncul. Langkahnya terhenti.


Suara benturan langkah dari gerakan kaki yang anggun, pintu itu memunculkan seorang wanita bertanduk misterius.


Matanya merah pudar dengan bercak memanjang pada wajahnya seperti sebuah tangisan.


Dia berkata dengan suaranya yang terdengar elegan, "Aku tidak menyangka jika seorang manusia bisa membunuh siluman sebanyak ini hanya dengan seorang diri, kalau dia jadi iblis mungkin dia akan sangat berguna."


"Kau pasti iblis yang menjadi dalang kekacauan ini, kan? Siapa kau?" Mata Julius mengernyit.


Wanita iblis itu tertawa jahat dengan mulutnya yang tidak dibuka, "Aku? Aku adalah Elpis, iblis yang akan memangsa kalian hidup-hidup."


Nadanya meninggi seperti orang yang kegirangan.


"Door Magic : Bloodthirsty Guardian of Hell!"


Tiga pintu tercipta disekitarnya, motifnya berbeda daripada sebelumnya.


Saat terbuka, beberapa gumpalan hitam kemerah-merahan keluar dari pintu tersebut dan membentuk makhluk menggeliat yang tidak jelas bentukannya—kurang lebih bisa dikatakan mirip cacing raksasa.


"Semuanya mundur! Ini bahaya!" Julius memperingatkan para pasukan dibelakangnya.


Makhluk-makhluk yang mirip cacing itu seolah kelaparan, dia menggigit mayat para iblis yang sebelumnya dibunuh oleh Raa.


Betapa tercengangnya semua orang saat melihat para cacing itu menghisap habis hingga kering, menyisakan tulang-tulang iblis.


Elpis tertawa jahat, dia merasa bahwa para kesatria itu tidak akan selamat dari sihir miliknya.


Julius tidak bisa memastikan bagaimana cara dia melawannya, hanya satu hal yang pasti adalah jangan pernah menyentuh cacing menggeliat itu.

__ADS_1


Tidak hanya Mana, tapi juga benda tersebut menyerap kehidupan sampai kering.


__ADS_2