The Letter For Misaki

The Letter For Misaki
Prolog


__ADS_3

Aku ingin tahu.


Kira-kira bisa enggak ya, kalau aku kembali ke masa lalu buat bertemu jodohku...


Aku terpikirkan hal itu saat menonton salah satu anime. Di anime itu menceritakan seorang gadis yang kembali ke masa lalu untuk bertemu dengan teman masa kecilnya yang mati tertabrak.


Intinya sih gitu, gadis itu bertemu kembali dengan teman masa kecilnya dan mengubah masa depan dimana mereka bersama. Tapi kenapa itu hanya terjadi di anime? Kenapa tidak di dunia nyata juga?


"Haaa" Aku menghela napas panjang.


Musim panas adalah sesuatu. Aku ingat seperti itu sehingga tidak ada yang ingin kulakukan saat ini


Barangkali begitu, tapi yang kulakukan saat ini adalah memandangi awan selagi berbaring di beranda rumah.


Hari lainnya seperti biasa, tidak ada kegiatan berarti. Karena sekarang libur, otomatis kegiatanku juga libur.


Tunggu sekarang hari apa, ya?


Aku berdiri sebelum menyadari sekarang adalah hari kamis. Tunggu benar juga, sekarang hari kamis.


Kalau sekarang hari kamis, berarti besok hari...jumat. Besoknya lagi hari minggu.


Tik-tok~


Terdengar suara ketukan dari arah pintu.


"Permisi" Dan suara lain mengikuti.


"..."


Aku terdiam di tempat dan membiarkan orang di luar bicara sendiri.


Setelah beberapa jeda...


"Maaf, saya pengantar surat. Saya membawa surat untuk...pak Kawamura"


"..." Aku tetap terdiam.


Masih ada yang mengirim surat di saat musim panas begini? Bagaimana kalau nanti surat itu meleleh coba? Apa yang mereka pikirkan?


Aku ingin mengatakan itu, tapi saat ini aku harus terdiam.


"Hmm, tidak ada orang kah? Kalau begitu tinggalkan saja di sini" Dia bicara sendiri, kemudian terdengar suara seperti ada yang membuka kotak suara.


"Baiklah, terima kasih" Sampai akhir dia bicara sendiri. Itu membuatku terkejut.


Aku membuat jeda beberapa detik setelah kurir surat itu bilang akan pergi. Setelah itu berdiri dan pergi menuju luar untuk mengambil surat.


Aku merasa bersalah membuat kurir itu menjadi orang gila. Tapi aku yakin dia telah melakukan pekerjaan ini, setiap mengantar surat saat tidak ada orang di rumah.


"Haa" Aku menggaruk kepalaku.


Kira-kira jam begini, suhu di luar akan sampai berapa derajat? Aku harus cepat sebelum surat di luar meleleh.


Aku mencapai ganggang pintu dan membuka pintu itu. Tepat selagi aku melakukan itu, ada sosok yang menunggu di luar setelah pintu terbuka.


"Woi" Seorang gadis rambut panjang hitam mengkilap, dan terbiarkan tanpa diikat. Dia mengenakan jaket dan rok pendek hingga lutut meskipun ini musim panas. Yang memberikan isyarat bahwa dia bebas dan mandiri. Dengan mata hijau menatap, aku tahu bahwa dia menunggu kedatanganku.


Dia berdiri di depanku selagi menaruh tangan di pinggang dan tangan satu memegang surat. Gadis dengan kriteria itu, kini menyapa ku dengan sapaan singkat.


Dalam momen seperti itu, yang kulakukan adalah—


Dengan cepat menutup pintu, sebelum dia dengan cepat menahanku melakukannya.


"Woi, tunggu dulu. Setidaknya dengarkan aku dulu!"


"Aku sudah mendengar semuanya tadi!"


Gadis satu ini entah bagaimana membuatku kelelahan. Dia dengan sekuat tenaga menahanku menutup pintu dan berhasil membuatku gagal menutup pintu. Sangat jelas bahwa dia kuat—


Setelah menyerah dengan pintu dan membiarkan dia bicara, gadis itu memberikan surat padaku.


"Ini" Kata gadis itu selagi memberikan surat dan menaruhnya di lantai.


Gadis ini tidak lain adalah tetangga dekat rumahku, Hiroi Chika. Dia bekerja paruh waktu sebagai tukang antar surat atau terkadang koran, aku kurang ingat.


"Tumben sekali kau sopan memanggilku pak...argh! Sakit..." Kataku terpotong setelah sebuah pukulan menghantam perutku. Aku tumbang dan berlutut di lantai.


"Hmph, cepat ambil suratmu! Aku tidak punya waktu untuk berurusan dengan pemalas sepertimu!"


"Menyebut pemalas agak..." Pintu tertutup sebelum aku menyelesaikan perkataanku.


Aku yakin dia belum jauh dari sini, tapi aku tidak akan memanggilnya kembali dan membiarkan dia pergi.


Hiroi Chika, adalah anak penerus dojo Hiroi. Jika kau bertanya di mana dojo itu, aku akan menjawab itu ada dekat rumahku.


Dia di paksa untuk menjadi penerus dojo, dan karena dia tidak mau itulah yang membuatnya memutuskan mandiri.


Kukira dia akan kabur dari rumah untuk menjadi mandiri, tapi sepertinya tidak...

__ADS_1


...


Ok, mana tadi suratnya?


Aku tidak mengira akan mendapat surat saat musim panas begini, kira-kira siapa yang mengirimnya?


Hmm, eh?


"Tidak ada alamat pengirim? Bagaimana ini bisa..."


Surat tanpa pengirim...Eh tunggu, ada nama pengirim...


"Misaki?"


Hanya itu? Tidak ada informasi lebih, seperti tanggal kirim atau alamat pengirim.


Hanya ada motif kaku dan prangko asing pada amplop suratnya.


"Untuk Manabe..."


Untukku kah?


Surat apa ini? Apakah ada aturan baru dalam menulis surat? Atau bagaimana?


Atau ada orang iseng...


Iya, ini pasti orang iseng. Ini pasti ulah Chika! Yah karena dialah yang paling mungkin untuk melakukannya.


Dahlah!


Dengan itu, aku membuang surat itu ke lantai—


...----------------...


—Hari ini, seperti biasa.


Aku ingin bertanya pada kalian.


Apakah aneh, jika sering jatuh tersandung? Maksudku, setiap hari. Apakah itu aneh?


Yah, maksudku itu mungkin kesialan kan?


Aku juga pikir seperti itu. Karena 6 hari ini aku mengalami kesialan selama berturut-turut. Aku terus tersandung paling tidak 4 kali dalam sehari.


Seperti saat membantu bibi mengambilkan barang, saat mengejar adik ku yang mencuri kue yang kusimpan, saat keluar dari kamar mandi, bahkan saat aku tidak melakukan apa-pun.


Apakah itu aneh?


Aku tidak tahu kesialan apa yang akan menunggu lagi hari ini.


Saat kusebutkan itu, aku ingat sekarang hari kamis. Di hitung dari hari pertama kali aku mengalami kesialan itu, kira-kira 6 hari, berarti di mulai sehari setelah aku menerima surat itu.


Aku mohon Tuhan! Semoga hari ini tidak ada lagi kesialan! Aku ingin mengerjakan game ku hari ini! Aku mohon!


Jika aku berhasil menyelesaikannya, aku berjanji tidak akan mengganggu adik ku lagi dan rajin membantu bibi mencuci piring. Sumpah!


Semoga doa ku terkabul—


"Selamat Siang"


"Tuhan, aku mohooooon!"


Suara datang dari arah pintu dan mengganggu doa ku.


Tidak, baru saja mulai dan ada kesialan!


Apaan sih, anak itu sekarang!?


Dengan geram, aku berjalan menuju ke arah pintu dengan menghentakkan kakiku.


Lalu meraih ganggang pintu dan membanting pintu hingga terbuka lebar.


"SEKARANG APA, CHIKA-SAMA!?"


Dengan nyaring, aku bertanya.


Tapi kemudian aku terdiam, melihat Chika dengan seragam karate berdiri selagi menunduk.


Aku baru pertama kali melihatnya seperti ini.


"Kau baru pulang dari dojo?"


Selagi menggunakan seragam karate, dia berdiri seperti orang yang menunggu kencan pertama.


"Iya, maaf menganggumu..."


Wajahnya agak sedikit memerah dan dia menunduk sedikit, berharap bahwa aku tidak menyadarinya.


Tumben dia sangat formal begitu, ada apa?

__ADS_1


"Kau kenapa? Tiba-tiba formal...ARGH! Di hulu hati lagi..." Aku terjatuh dan berlutut di depannya.


"Ini suratmu. Maaf aku sibuk sekarang. Duluan ya"


Melambai kecil, lalu meninggalkan surat itu di kotak surat kemudian pergi meninggalkanku.


Itu anak sebenarnya kenapa sih?


Lupakan itu, kali ini surat lagi?


Sekarang dari siapa?


Dengan pikiran seperti itu, aku berusaha berdiri dan meraih kotak surat dan mencari surat itu.


"Ini..."


Baiklah, kali ini siapa...!?


"Misaki!?"


Lagi, aku menerima surat aneh ini.


"Tunggu, alamatnya..."


Dan sama seperti sebelumnya, kali ini juga tidak ada alamat pengirim.


"Tidak ada juga" Masih sama seperti sebelumnya, surat kali ini juga tanpa alamat pengirim.


Amplop surat nya terlampir motif kaku dengan font aneh berwarna hitam.


Juga beserta prangko aneh di atas nama pengirim...


Surat apa ini?


"Untuk Manabe..."


Untuk ku?


"Untuk Manabe Kawamura..."


Untukku...


Apa isinya?


Kira-kira seperti itu, dengan niat itu, aku berniat membuka dan membaca isi surat ini.


Tunggu, bukanya ada surat seperti ini sebelumnya?


Aku menaruh surat itu di meja dan mencari surat yang satu lagi.


Dimana ya? Mungkin di rapikan bibi saat membersihkan. Nanti akan kutanyakan padanya. Oleh karena itu, sebaiknya aku membuka yang ini dulu kah...


Mari kita membuka suratnya.


"..."


...


'Kapanpun kamu membaca surat ini, aku ucapkan selamat. Berarti kamu telah membuang surat pertama dan tidak perlu khawatir, surat itu akan menghilang dengan sendirinya setelah tugas selesai.


Baiklah, langsung ke intinya. Kamu telah di pilih untuk menyelesaikan sebuah tugas penting dan harus menyelesaikannya sebelum tenggat waktu'


"Hah?" Aku bicara sendiri.


'Tugas akan dikirimkan setiap hari kamis melalui surat ini. Jika kamu gagal atau melanggar, atau bahkan tidak mengerjakannya, maka akan mendapat hukuman yang setimpal dengan tugas. Harap di perhatikan'


"Apa?" Aku bicara sendiri lagi.


'Seperti yang saya sebutkan, surat akan menghilang dengan sendiri setelah tenggat waktu berakhir. Jadi harap untuk tepat waktu. Sekian untuk penjelasan. Jadi tugas hari ini adalah menyapa Chika-san di rumahnya dan mendapat balasan sapaan darinya, batas waktu sampai besok. Sekian terima kasih, semoga berhasil'


"Hahhhhhhhh!?" Aku bicara sendiri lagi dan langsung berdiri.


Apa maksudnya ini? Aku tidak mengerti!


Aku kembali membaca paragraf terakhir.


"Hukuman: uang tabunganmu akan hilang 900 yen...kau bercanda, kan!?"


(Note: 100rb)


Membaca di akhir surat itu, tertulis nama pengirim tanpa di sertai tanggal maupun tanda tangan.


"Tertanda Misaki..."


Siapa sebenarnya dia? Surat ini apa sebenarnya?


Seketika banyak yang ingin aku tanyakan dalam benakku.


Namun yang paling penting...

__ADS_1


"Kenapa aku harus kehilangan 900 yen?"


__ADS_2