The Letter For Misaki

The Letter For Misaki
Bab 1 Part 4 : Semoga beruntung!


__ADS_3

"33...34...35...36..."


"Ayo terus lanjutkan, kak!"


Hari...jumat seperti biasa.


Saat ini aku sedang ada dihalaman belakang dojo Hiroi.


Kukira akan turun hujan karena sempat mendung, ternyata cuman halusinasi ku. Lagian sekarang masih musim panas.


Karena kebodohan yang Futaba lakukan kemarin, aku terpaksa harus berduel dengan ayahnya Chika.


Masalahnya adalah kami akan berduel karate dan aku sama sekali tidak tahu soal karate.


Sejak masih kecil, aku jarang berolahraga. Jadinya kekuatan fisikku ada di standar, atau mungkin di bawah standar.


Oleh karena itu, aku meminta bantuan bibi Chihiro untuk membantuku berlatih.


Kurasa itu mungkin bisa mengajariku suatu hal, tapi...


"Hei, kenapa aku harus membersihkan tempat ini?"


Halaman belakang dojo Hiroi cukup lebar dan berbatasan langsung dengan hutan. Dari sini aku bisa mendengar suara sungai.


Karena sekarang musim panas, ini adalah masa serangga untuk beraktivitas.


"Jangan banyak bicara! Cepat kerja!"


Futaba yang hari ini memakai gaun one-piece dengan tas selempang, berdiri disisi lain halaman selagi merasa seperti mandor berusaha mengatur.


Anak ini tidak lain adalah beban!


Kali ini, kami berusaha membersihkan halaman ini yang sudah lama tidak terawat. Iya, seharusnya kami.


Futaba beralasan bahwa dia alergi dengan daun kering, mengatakan bahwa itu membuatnya tidak nyaman. Itulah alasan dia tidak mau membantu.


"Oi, alergi soal daun itu bohongan, kan? Lagipula ini masih musim panas, dedaunan belum gugur. Kita hanya membersihkannya beberapa sampah dan merapikan rumput di sekitar"


Aku mengayunkan tongkat sapu dan mengarahkan itu pada Futaba.


"Lagipula ini salahmu dengan mengatakan untuk berduel dengannya, kan? Ini seharusnya duel antara kau dan ayahnya Chika"


Kemudian aku mengatakan itu.


Seperti biasa, Futaba yang dari tadi cuman berdiri disana hanya mengatakan alasan lain.


"Bilang aja kalau kau takut..."


"Sini kau!! Jangan lari!!"


Terhadap Futaba yang asal bicara, aku berusaha berlari mengejarnya.


"Hehehehehe, penakut"


"Kaulah yang penakut karena lari dariku!"


Melihat dia di kejar, Futaba berlari ke arah hutan.


Sebelum dia masuk lebih dalam, tiba-tiba suara terdengar dari arah dojo.


"Apa kalian sudah selesai?"


Itu Bibi Chihiro yang membawa baki berisikan cemilan dan minuman.


Melihat itu, tanpa sadar Futaba melewatiku dan berlari ke arah Bibi Chihiro dengan cepat.


"Ah, tunggu!"


Sial! Ini kelemahan dari orang yang malas berolahraga, mudah lelah saat melakukan hal berat meski hanya sementara.


Berlari tadi cukup menguras tenaga.


Dengan lelah, aku berjalan perlahan ke arah mereka berdua.


"Jadi bagaimana pekerjaannya?"


Bibi Chihiro bertanya pada Futaba.


"Selesai! Aku telah menyelesaikan pekerjaan nya bibi!"


"Aku yang mengerjakannya semua dari awal! Juga pekerjaannya belum selesai karena kau tidak membantu!"


"Iya iya iya, aku mengerti. Aku sengaja tidak kerja agar kau bisa lebih fokus berlatih"


Sial, aku tidak bisa berkata apa-apa!


Dasar ikan goreng! Apalah dah!


Aku baru tahu kalau ternyata kepribadian Futaba seperti ini. Apakah dia sering seperti ini dengan Mariko? Jangan bilang kalau Mariko meniru sifat Futaba yang ini!?


Tiba-tiba bibi Chihiro tertawa kecil melihat kelakuan kami berdua.


Selagi Futaba melahap salah satu cemilan, Bibi Chihiro meletakkan baki itu di rerumputan.


Futaba mengikuti baki itu dan ikut duduk di rerumputan. Kemudian Bibi Chihiro terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu selagi menunjuk ke arah pintu hutan.


Itu adalah pintu hutan dimana sebelumnya Futaba berlari ke arahnya.


"Dahulu kala ada legenda yang mengatakan bahwa disekitar sini ada kucing berekor dua. Kucing itu memiliki dua jiwa. Jiwa yang satu tenang dan pendiam. Sedangkan yang satunya lagi liar dan kacau"


Bibi Chihiro mengatakan itu dengan sedikit nostalgia yang terlihat jelas dari matanya.


"Beruntungnya, bibi sering bermain dengan kucing itu. Saat musim gugur dan dingin, bibi bermain dengan jiwa yang tenang. Saat musim panas dan semi, jiwa yang liar menemani bibi. Itu waktu masih kecil"


Dalam mata bibi Chihiro, terlihat sedikit kekecewaan dan kesedihan. Sepertinya terjadi sesuatu.


Kucing berekor dua...dua...


"Sekarang bibi tidak pernah lagi melihat kucing itu semejak 10 tahun lalu. Entah kenapa seperti itu"


"Apakah kucing itu di tangkap?"


Selagi mengunyah makanan, Futaba bertanya dengan polosnya mengangkat tangan.


"Haha...tidak. Bibi yakin tidak seperti itu. Pasti ada sesuatu yang terjadi"


Yah itu mungkin terjadi. Masuk akal ada yang menculik kucing langkah seperti itu.


"Apakah bibi sedih?"


Futaba bertanya lagi dengan polosnya.


"Ya, begitulah..."


Bibi Chihiro menjawab dengan tersenyum ringan.


"Baiklah, bibi kembali dulu ke dapur untuk membuat makan siang. Lanjutkan pekerjaannya, ya"


"Baik!"


"Jangan bicara selagi makan...baik bibi Chihiro"


Aku menegur Futaba yang tidak pernah berhenti mengunyah.


Bibi Chihiro tertawa kecil lalu kemudian berbalik dan pergi meninggalkan kami.


Disaat itu, aku memperhatikan pintu gerbang hutan yang di tunjuk Bibi Chihiro sebelumnya dan terdiam memandang tempat itu.


"Ah, kue nya habis"


Aku membuang tongkat sapu pada Futaba dan kembali melanjutkan pekerjaan.


"—Kerja~ Kerja~ Kerja~"


Hari apa ya...hari sabtu seperti biasa.


Dan seperti biasa, sekarang musim panas. Berapa kali aku mengatakan ini?


Yang pasti ini saat yang tepat untuk berlibur ke suatu tempat yang sejuk, seperti pantai atau kebun...maksudku kolam berenang.


"Kerja~ Kerja~ Kerja~"


"Berhenti menyanyikannya!"


"Tapi aku berusaha menyemangati lho"


Futaba seperti biasa duduk memperhatikanku disisi lain tempat selagi aku membersihkan dojo.


Tugas kali ini, atau mungki latihan kalau begitu adalah membersihkan dojo. Contohnya seperti menyapu dan mengepel lantai. Kalian mungkin lebih tahu.


"Tapi kenapa dojo ini sepi ya?"


Futaba membuka pintu dan duduk disana selagi mengatakan itu. Membiarkan cahaya masuk melewati pintu.


"Mana aku tahu. Sebelumnya sudah dikatakan waktu kita berkunjung hari kamis, kan?"


Waktu itu Bibi Chihiro mengatakan semua murid libur karena ada persiapan. Mungkin ini adalah kesempatan bagus untuk membersihkan tempat ini.


Tapi...

__ADS_1


"Ini bukan latihan sama sekali!"


Aku melempar kain pel ke lantai dan mengatakan itu dengan nyaring.


"Maksudku mana pukulan dan tinju, tendangan dan tebasan? Aku butuh mempelajari itu!"


Mengatakan itu, aku bergerak seolah-olah sedang meninju sesuatu.


Bagaimana caraku untuk berhadapan dengan ayahnya Chika jika seperti ini?


"Kau baru mengeluh sekarang? Kau sudah membersihkan semua tempat yang disuruh dan kau baru mengeluh sekarang?"


Futaba dari sisi lain membalas pertanyaanku.


"Bukan itu masalahnya sekarang! Masalahnya, bagaimana caraku mengalahkan ayahnya Chika! Aku sama sekali tidak pernah belajar karate sebelumnya. Bahkan bela diri manapun, belum pernah!"


Mendengar itu, Futaba mendekatiku dan kemudian menggapai pundakku.


Kemudian berkata sesuatu...


"Semoga kau selamat, kak"


"Diam! Aku tidak ingin mendengar itu dari orang yang berteriak mengadu domba orang untuk berduel!"


Sial! Jika saja anak ini tidak berisik waktu itu, mungkin sekarang aku akan tidur dirumah.


Lagipula ini bukan tugas dari surat itu, mungkin aku tidak perlu mengikuti tantangan berduelnya.


Bicara soal surat, aku belum membuka surat itu dari kemarin. Kalau tidak salah, itu masih terselip dalam saku celanaku.


Saat aku hendak mengambil mengambil surat itu dari saku, Bibi Chihiro datang dari arah lain ruangan.


"Bagaimana pekerjaan ya?"


Seperti biasa, Bibi Chihiro datang memastikan hasil kerja kami. Bukan hasil latihanku.


Oh iya, aku baru kepikiran hal ini.


"Bibi, Chika ada dimana? Dari kemarin aku belum pernah melihatnya"


Bahkan bisa dibilang, suasana di dojo sangat sunyi. Chika belum terlihat sejak saat terakhir kali aku bertemu dengannya.


Bibi Chihiro hanya tersenyum kecil.


"Entahlah, dia ada dimana"


Dan hanya mengatakan itu sebagai jawaban.


Seperti teringat akan suatu hal, dia menyatukan kedua tangan dan kemudian mulai mengatakan sesuatu.


"Dari pada itu, apa kamu bisa membantu bibi?"


Dari perkataan itu, dia mulai bersimpul tangan dan terlihat seperti masih ingin mengatakan sesuatu.


"Ada beberapa barang di gudang yang masih terpakai. Bisakah kamu mengambilnya dan membawanya kesini?"


—Itulah yang terjadi.


"Ini gudangnya?"


Futaba bertanya sesuatu padaku.


"Pakai nanya"


Aku membalas sebisaku.


Aku tidak ingat sekarang jam berapa, yang pasti ini masih siang.


Gudang yang ada di depan kami berada tidak jauh dari dojo. Bisa dibilang agak masuk ke dalam hutan.


Sedikit berdebu dan ditumbuhi beberapa tanaman rambat. Bahkan ada tumbuh kacang panjang!


Futaba berusaha mengingat pesan dari Bibi Chihiro.


"Hmm, kita disuruh untuk membawa semua kardus berisi umeboshi"


(Umeboshi adalah asinan kering yang dibuat dari buah ume).


Selagi mendengar itu, aku membuka pintu gudang dengan kunci yang diberikan.


"Kita? Berarti kau juga harus kerja"


"Ah...tidak, tiba-tiba tanganku sakit kak!"


"Woi, kau mau tanganmu sakit beneran?"


Saat pintu gudang itu terbuka, kami disambut oleh pemandangan barang yang tertumpuk berantakan.


"Pakai nanya lagi, ayo cepat kita cari umeboshi"


Futaba mencari disisi kanan, aku mencari disisi kiri. Cahaya dari pintu tidak cukup untuk menerangi tempat ini, jadi kami meraba untuk mencari.


"Wah, ada komik disini. Lihat, kak!"


"Woi kerja dengan serius...lagipula aku tidak bisa melihatnya, disini cukup gelap"


Beberapa kardus masih ada yang tertutup. Mau tidak mau kami harus membuka semuanya.


"Ah..."


"Hmm?"


Aku mendengar sesuatu dari arah luar.


"Kau mendengar sesuatu, Futaba?"


"Apa?"


Aku yakin, mendengar sesuatu dari arah luar.


"Mungkin itu kucing berekor dua?"


"Mana mungkin"


Kami kembali melanjutkan pencarian.


—Hingga sore hari, kami menemukan dua kardus berisi umeboshi dan membawanya pada Bibi Chihiro.


"Terima kasih, kalian berdua"


Setelah mengatakan itu, Bibi Chihiro kembali ke dapur.


Menemukan benda seperti ini, terlihat seperti mencari jarum ditumpukkan jerami.


Kami sampai membuka semua kardus yang tertutup dan menemukan benda yang tidak seharusnya kami temukan.


"Aku trauma..."


Kata Futaba selagi berusaha melupakan apa yang dia temukan.


"Aku tidak tahu apa yang kau temukan, tapi sepertinya kau begitu ketakutan. Memangnya apa itu?"


"Tidak! Aku tidak ingin mengingatnya lagi! Kumohon!"


Aku membiarkan Futaba sendirian dan kembali ke dojo untuk mengambil topiku.


Barangkali begitu dan aku melihat melihat bagaimana langit sore hari terbentuk.


Saat aku sedang menuju dojo, dari situ terlihat seseorang.


Itu adalah Chika! Apa yang dia lakukan?


Dia menggunakan seragam karate. Dia sedang duduk, terlihat sedang berbicara dengan seseorang.


Aku mendekat perlahan.


Seseorang yang Chika ajak bicara adalah pria yang aku ajak untuk berduel, tidak lain ayahnya sendiri.


Mereka terlihat sedang membicarakan sesuatu yang serius...terlihat wajah Chika kecewa.


Apa yang mereka bicarakan?


Sebelum aku bisa mendekat untuk menguping pembicaraan mereka, suara lain terdengar dari arah berlawanan.


"Kak! Kau dimana?"


Dengan respon, aku langsung pergi meninggalkan mereka berdua dalam diam.


Besok aja aku ambil topi deh.


"Kau dari mana?"


"Entahlah"


Lalu kemudian kami berjalan menuju kembali ke rumah.


—Selamat hari minggu!


Itulah yang ingin aku katakan, jika hari ini aku tidak berduel dengan pria yang ada didepanku.

__ADS_1


Aku baru ingat jika aku sama sekali belum mempersiapkan diri untuk ini!


Maksudku aku belum berlatih sama sekali! Yang kulakukan hanya membersihkan dan...membersihkan!


Jika kau berkata bahwa yang terpenting itu adalah mempersiapkan mental, aku ingin kau menggantikan ku sekarang.


"Kau pasti bisa, kak!"


Disisi lain dojo, Futaba yang seperti biasa memakai tas selempang berusaha memberikan semangat. Aku kurang yakin kalau itu bisa membantu.


Disebelah Futaba, ada Bibi Chihiro yang dengan tenang duduk. Bahkan aku melihat cemilan dan minuman disana, apakah ini adalah pertunjukan baginya!?


"Selamat hari minggu, anak muda"


Ayahnya Chika mengatakan itu.


Seperti yang diduga dari pemilik dojo, selalu tenang di berbagai situasi.


Berbanding terbalik denganku, aku bisa merasakan tanganku bergetar. Aku bahkan berkeringat sebelum bertanding.


Apakah karena sekarang musim panas atau karena ini pertama kalinya aku menggunakan seragam karate.


Atau mungkin hal lain.


Tepat pada siang hari ini jam dua belas, pertandingan akan dimulai. Selagi menunggu seseorang lagi.


"Anak itu lama juga"


Kata ayah Chika selagi melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 11:55. Lima menit sebelum aku mengajak pria ini adu pukul.


Chika dijadwalkan akan datang untuk menonton pertandingan kami, tapi sampai sekarang belum datang juga.


Jika seperti ini, mau dia ada atau tidak pertandingan akan dimulai.


Disaat aku berpikir seperti itu, menurutku akan lebih bagus jika dia tidak ada disini. Maksudku, aku tidak ingin dia melihat sisi lemahku.


Selagi aku berpikir seperti itu, aku mengangkat diriku dan berdiri.


"Kita mulai sekarang saja"


Dan dengan bodohnya mengatakan itu.


Ini sudah dimulai dari saat itu, mau tidak mau harus diselamatkan.


Jika aku menang, perjodohan itu akan batal. Aku tidak berniat menjadi pahlawan baginya. Tapi ini semua terjadi begitu saja, dan aku tidak bisa melawan arus itu.


Sama seperti surat itu.


"Baiklah, kalau itu keinginanmu, anak muda"


Ayah Chika berdiri dan mengencangkan sabuk. Dan mulai mengambil kuda-kuda.


Disaat yang sama, aku juga mempersiapkan diri dengan mengepalkan kedua tangan dan bersiap meninju.


"Majulah kapanpun kau siap, anak muda"


Tanpa jeda, aku melaju secepat mungkin dan melepaskan pukulan.


"!?"


Sial! Dia menghindar!


Dalam jarak itu, dia juga melepaskan pukulannya. Namun aku berhasil menghindar.


Bagus! Ternyata latihan membersihkan membuahkan hasil!


Dengan cepat, dia melepaskan pukulan sekali lagi dari sisi kiri yang tidak terjaga.


Aku berusaha menghindar, tapi pukulan ini berhasil mengenaiku tepat di perut sisi kiri.


"!?"


Sial! Pukulannya keras sekali!


Pukulan itu berhasil membuatku kesakitan.


"Apa aku langsung kalah..."


Dan perlahan membuatku kehilangan kesadaran...


"—Selamat, kak! Kau menang!"


Saat terbangun, Futaba mengatakan itu tepat didepanku.


Aku berusaha duduk dan menyadari kalau aku tidur di lantai.


"Apa yang terjadi?"


"Pakai nanya. Kau menang"


"Menang?"


Aku melihat sekeliling dan menemukan ayah Chika yang babak belur terkapar dilantai.


Aku menang? Bagaimana caranya?


"Selamat ya, nak Manabe"


Tepuk tangan kecil bibi Chihiro terdengar, menghiasi kemenanganku.


Meskipun begitu, apa yang terjadi saat aku pingsan?


Futaba terlihat senang dengan itu, selagi memegang pundakku di kedua sisi.


Aku melihat telapak tanganku dan tidak menemukan apa-apa disana.


"Bagaimana kalau kita merayakan kemenangan kecilmu?"


Kata bibi Chihiro selagi berdiri dan mempersiapkan diri menuju ke dapur.


Aku melihat baki yang dia bawa dan terlihat bahwa beberapa makanan tersisa.


Berarti tidak lama aku pingsan. Meskipun begitu, aku tetap tidak yakin.


Saat aku hendak berdiri mengikuti Futaba dan yang lain, aku melihat topi ku yang tersimpan rapi di rak.


Sebelumnya aku menaruhnya di dekat kursi. Seperti biasa, aku mengambilnya dan memakai di kepala.


"Yo"


Tiba-tiba suara itu muncul dari pintu belakangku.


Berbalik, aku melihat Chika berdiri selagi melipat tangannya.


Oh iya, dia dari mana?


Sebelum aku bisa bertanya seperti itu, dia mendahuluiku.


"Kau menang, ya"


Dan mengatakan sesuatu seperti itu.


Aku bingung bagaimana bilangnya.


"Aku tidak menyangka kalau kau ternyata sekuat itu"


Suaranya semakin lama semakin mengecil kemudian dia berbalik membelakangiku.


"Haaa"


Aku tidak tahu dia melakukan apa, tapi dia narik napas sebelum dia datang menghampiriku.


Kemudian...


"Hya!"


"Argh!"


Dia memukulku tepat di perut. Pukulan tidak sekeras ayahnya tapi ini masih sakit.


"Kenapa kau melakukan itu!"


Aku masih tidak mengerti ada apa dengan anak ini!?


Tapi sepertinya suasana hatinya sedang baik. Selagi seperti itu, dia terlihat ingin mengatakan sesuatu yang sangat ingin dia katakan.


Dalam momen seperti itu, dia tersenyum dengan tulus.


"Terima kasih"


Tanpa jeda, dia kembali melanjutkan.


"Selanjutnya aku pasti tidak akan kalah darimu!"


Kemudian dia langsung pergi tanpa menunggu respon dariku.


Tidak ada kalah? Maksudnya?


Sebelum itu, aku harus memikirkan yang lebih penting.

__ADS_1


Bagaimana caraku mengurus ayahnya Chika?


__ADS_2