
Sore ini, seperti biasa.
Aku berbaring di teras, selagi memperhatikan wujud awan yang terus berubah.
Warna langit berubah merah, meninggalkan bayangan yang masih tersisa.
Setelah selesai bermain salah satu game, Return Past, aku mengira akan mempunyai kekuatan seperti tokoh utama game itu.
Sayangnya tidak, itu membuatku kecewa.
...
Apa yang di lakukan Chika sekarang?
Mengingat sebelumnya dia menggunakan seragam karate, berarti sekarang ada latihan wajib kah...
Sampai menyempatkan diri untuk mengantarkan surat ini, dia sangat kompeten dan bertanggung jawab akan pekerjaan nya.
Disisi lain, itu berbanding terbalik denganku.
Aku mengangkat surat itu ke atas pandanganku selagi berbaring, dan melihat nya menembus melalui cahaya matahari.
Teras, atau sebut saja beranda rumah, adalah tempat yang selalu terhubung dengan halaman rumah.
Jadinya mudah melihat langit dari sini.
"Tugas mu kali ini adalah...menyapa..." Aku mengeja kembali apa yang telah di sebutkan di sini.
Aku membaca ulang semua isi surat, dan meskipun begitu aku masih belum mengerti.
Kenapa aku harus menyapa Chika? Apa hubungannya dengan tugas ini? Dan bukan nya kami sering berbicara ya?
Yah, bukan berarti aku membenci Chika atau bagaimana. Hanya saja, aku tidak ingin menyapa dia. Kan, dia sering datang memberikan surat.
"Haaaa" Aku menghela napas panjang.
Sekarang aku membayangkan itu, bagaimana kalau ternyata yang menulis surat ini adalah Chika?
Agar tidak di ketahui, dia tidak mencantumkan alamat dan menaruh nama samaran. Karena dia tukang surat, dia bisa dengan bebas mengirimkan surat itu tanpa masalah...
...
Tunggu!
Aku seketika mengambil posisi duduk di lantai, dan mulai menyadari sesuatu.
Dia selalu cuek padaku sejak hari kamis 2 minggu lalu, ya meskipun dia selalu seperti itu. Tapi kali ini, dia seperti...
Aku harus menemuinya dan memastikan hal ini!
Dengan itu, aku meraih jaket...tunggu sekarang musim panas. Lupakan jaket, ambil topi.
Menyadari sesuatu, aku mengambil surat itu dan memasukkan ke dalam kantung celanaku setelah melipatnya.
Dan setelah meraih pintu dan keluar dari rumah, aku berdiri terdiam di halaman depan.
Benar juga sekarang musim panas. Suasana di sini betul-betul menggambarkan bagaimana panasnya musim ini.
Meskipun sore, ini masih panas di sini. Apakah karena pemanasan global ya?
Sangat sepi di sekitar rumah, semuanya mungkin menghabiskan waktu di rumah. Dan aku berencana membuang-buang waktu dengan pergi keluar.
Apakah aku harus pergi ya?
Terlanjur sudah di luar, sekalian saja sampai akhir melakukan ini—
...----------------...
"—Hiro! Hiro! Hiro!"
Siapa sih yang berteriak keras di saat musim panas begini? Tidakkah mereka merasa kepanasan?
Aku ingin mengatakan itu, tapi sayangnya aku tahu siapa dan dari mana suara itu berasal.
Rumah besar, di gerbang tertulis nama 'Hiroi'.
Aku yakin ini rumahnya, Dojo Hiroi.
Aku harap aku juga punya semangat seperti orang yang berteriak dari dalam sana sehingga bisa tidak merasakan panas.
Aku menekan bel rumah itu.
*Pin-pon*
Lalu suara itu mengikuti setelah aku menekan bel.
Apakah suara belnya kedengaran enggak ya?
"Baik tunggu sebentar"
Suara lain muncul dari dalam bel dan menyuruh ku untuk menunggu.
Apakah mereka tidak menanyakan siapa namaku? Atau siapa yang datang menekan bel?
Tidak lama, dari pintu muncul seorang wanita.
Mengunakan kimono dan rambut yang terikat panjang, dia muncul dari pintu dan bergegas menemuiku.
"Berapa yang harus ku bayar?"
Dan berkata seperti itu setelah sampai di gerbang selagi serius menatapku.
"Heh?"
Bayar? Bayar apa? Untuk?
"Permisi, maksudnya?"
"Kamu membawa barangnya, kan? Mana barangnya? Cepat!"
Dia mengabaikan pertanyaanku dan mulai mengambil ahli percakapan.
"Aku tidak sabar menggunakan itu untuk pesta nanti malam. Bahan yang halus itu adalah sesuatu yang berbeda dari yang lain. Apalagi saat cocok di pakai di manapun. Warna dan desain dari karya Utami-sensei seperti menunjukkan bahwa langit dam bumi itu bersatu. Apalagi itu khusus. Dan..."
Aku tidak mengerti, tapi sepertinya dia bicara sendiri. Dari awal dia sepertinya membahas soal pakaian.
Aku tidak mendengar sisanya dan dia terus bergumam sendiri selagi berputar dan menari di tempat. Dia tampak senang.
"Jadi, mana barangnya?"
"Iya?" Meski begitu, aku tetap tidak paham maksud dari percakapan ini. Ada apa sebenarnya?
"Mana? Aku tidak sabar!?"
Dia berusaha menaiki pintu pagar dan mendekati ku melaluinya. Wajah kami sedikit lagi berdekatan.
Dengan spontan, aku sedikit menjauh.
"Eh, aku tidak punya. Maaf" Sekaligus dengan spontan aku mengatakan itu.
Dia terkaku dan terdiam seketika.
"Ehhhhhhh!?"
Lalu kemudian menyerukan itu.
"Ehhhhhhh!? Kenapa!?"
Dia kemudian menguncang pintu pagar. Seperti anak kecil yang tidak di belikan es krim, dia mengamuk di hadapanku.
__ADS_1
Meski aku tidak tahu usianya, tapi dia nampak seperti wanita kuliahan. Setidaknya menurutku.
"Kenapa!? Padahal aku sudah memesannya! Dan hari ini barang itu di jadwalkan datang. Tapi kenapa malah..."
Yah, meskipun kau mengatakan itu, dari awal aku tidak mengerti kau membicarakan apa? Maksudku barang?
Dia belum benar-benar sepenuhnya menyelesaikan kalimatnya, dan tiba-tiba...
"Permisi, saya mengantar barang"
"Iya?"×2
Aku berbalik dan menemukan seseorang sedang membawa sesuatu terbungkus, menyapa kami berdua.
—Setelah wanita itu menandatangani sesuatu, kurir itu izin pamit untuk pulang pada kami.
"Maaf ya, membuatmu kerepotan...dan melihat yang tadi..."
"T-tidak apa-apa kok. Bukan masalah...setidaknya..." Aku memalingkan wajah.
Wanita itu memeluk sesuatu dan membungkuk meminta maaf padaku. Aku juga membungkukkan badan dan ikut meminta maaf.
Aku masih ingat bagaimana kejadian tadi setelah kurir itu datang.
Jadi, wanita ini memesan barang seminggu lalu dan rencananya akan datang hari ini. Di waktu yang sama, aku kebetulan datang ke sini. Jadi wanita ini mengira aku adalah kurir barang yang di maksud. Tapi melihatku tidak membawa apa-apa, membuatnya menangis.
"Sekali lagi aku minta maaf!"
Dan barang yang dia pesan adalah kimono baru dengan motif bunga. Meski terbungkus, aku masih bisa menebaknya karena itu menggunakan plastik transparan.
"Kau tidak perlu minta maaf, itu hanya salah paham, kan? Ya, salah paham" Aku berusaha mengangkat wanita itu sebelum dia menunduk lebih lama.
Yah, ini cuman salah paham...salah paham...
"Jadi, ada keperluan apa kesini?"
Setelah kesalahan pahaman itu hilang, dia menyadari bahwa aku datang dengan maksud berbeda.
Oh iya juga, tujuan kesini untuk mencari Chika.
"Maaf, saya mencari Chika. Ada yang saya ingin bicarakan dengan dia. Apakah ada dirumah?"
Jam sore begini, seharusnya dia sudah pulang kerja. Apalagi ini masih liburan musim panas.
Melirik sekilas, dia tersenyum sedikit dan matanya menunjukan cahaya senja.
"Hmm, mau bicara apa dengan anak saya?"
"Begini tante, anak anda tadi melakukan...tante?"
Tante? Wanita ini?
"Tante!?"
Entah kenapa hari ini penuh dengan kejutan, dan kali ini pun tidak berbeda.
"Hmm? Anak saya kenapa? Melakukan apa?"
"Tidak! Maksud saya itu..."
Sulit di percaya bahwa wanita ini adalah ibu nya Chika. Maksudku dia terlihat tidak seperti ibu sama sekali, maksudku dia masih muda...atau begitulah.
Aku tidak pernah melihatnya sebelumnya. Bahkan acara pertemuan orana tua anak, Chika hanya membawa beberapa orang yang terlihat kekar. Mungkin mereka murid di dojo.
"Permisi tante, apakah Chika ada di rumah?"
Sekaligus aku menjadi kaku, dan berusaha sopan di hadapannya.
"Waduh jangan begitu. Aku masih muda lho. Begini-begini, aku masih berumur 40 tahun lho"
"I-iya..."
Kira-kira begitu...
"Hmm, kalau kamu mencari Chika. Saat ini dia pergi bersama ayahnya. Dia akan pulang mungkin besok"
"Begitukah..."
Itu katanya, selagi tersenyum hangat padaku.
Senyuman itu mengingatkan ku akan seseorang...
Chika saat ini tidak ada dirumah, jadi bagaimana?
Yah, mau tidak mau aku akan pulang.
Tanpa sadar, aku memasukan tanganku kedalam kantung celana dan memegang surat di dalamnya.
"Oh iya, tante penasaran. Apakah kamu pacarnya Chika?"
"Maaf, bukan. Saya tidak punya pacar sama sekali"
Itu adalah pertanyaan klise. Aku tahu itu tidak salah, tapi aku malas menjawabnya.
"Oalah, sayang kalau begitu. Kasian, padahal kamu masih muda tapi tidak punya pacar..."
Mamanya Chika tertawa kecil.
Entah kenapa sakit mendengar itu. Jika bisa, aku mau punya pacar! Tapi itu tidak bisa, jadi sangat di sayangkan!
Aku mengambil posisi siap untuk berbalik dan sebelum aku memberikan salam untuk pulang, Mamanya Chika mengatakan sesuatu.
"Kamu sepertinya anak baik. Aku berharap kamu adalah pacarnya Chika, sehingga perjodohannya di batalkan"
"Perjodohan?"
"Iya" Mamanya Chika mulai menunjukkan wajah sedikit sedih.
Lalu dia menengok ke atas, dan mulai mengatakan sesuatu.
"Ayahnya menjodohkan dia dengan salah satu anak teman seperguruan dulu. Lelaki yang menjanjikan dengan pekerjaan bagus dan lulusan terbaik dari universitas. Dia juga cukup bagus dalam karate"
"Begitukah..."
Itu alasan yang bagus untuk mencari pasangan dan apalagi dia punya pekerjaan...
Pekerjaan? Universitas?
"Tunggu, dia sudah kerja?"
"Iya, umurnya sudah 24 tahun"
"Hah!?"
Aku terkejut dan tanpa sadar mundur selangkah saat mendengarnya.
"Itu adalah keputusan sepihak ayahnya. Chika tidak setuju dengan itu dan memutuskan untuk bekerja paruh waktu tanpa sepengetahuan ayahnya untuk menabung. Setelah lulus, dia berencana kabur dengan uang tabungan. Tapi kemarin ayahnya mengetahui itu dan langsung mengambil tindakan dengan menemui lelaki itu. Saat ini mereka perjalanan ke kota"
Jadi itu alasan kenapa Chika bekerja paruh waktu. Dari awal dia memang seperti memaksakan diri. Seperti itu menurutku.
"Tante tidak bisa melakukan apa-apa soal ini. Dari awal ayahnya keras kepala soal ini, dan tidak pernah mendengarkan Chika. Mereka sama-sama di besarkan dengan keras sebagai anak penerus dojo"
Kemudian Mamanya Chika mendongak ke langit dan beberapa saat terdiam, dia melihat ke arahku.
Dan melihat ke arahku dengan tetap terdiam, sampai akhirnya dia mulai mengatakan sesuatu.
"Yah, begitulah. Maaf membuatmu mendengarkan keluhan tante ya"
Dia mendorong membuka pintu pagar itu, dan masuk ke dalamnya.
__ADS_1
Aku melihatnya melakukan itu dan berpikir bahwa ini saatnya pulang.
Aku berbalik.
"Kalau begitu, saya permisi dulu"
Dan kemudian, mulai melangkah menuju rumah. Beberapa saat kemudian...
"Sampai jumpa lagi, nak Manabe"
"Hm?"
Aku berbalik dan menemukan dia hilang dari pandanganku.
"Dia tahu namaku?"
Darimana dia tahu?
Omong-omong, nama dia siapa?
...----------------...
"—Sial! Sial! Aku terlambat pulang!"
Saat hari sudah terbungkus gelap, aku sadar bahwa sekarang telah malam dan mulai berlari pulang karena panik.
Kenapa, kau tanya?
"Semoga aku tidak dikunci diluar lagi oleh anak dongo itu!"
Begitu aku tahu akan jadi begini, seharusnya aku tidak membuang waktu untuk hal sepele begini.
Mana sekarang jalan cukup gelap, aku sulit melihat jalannya. Lampu jalanan tidak mengerjakan tugasnya dengan baik dan menyinari jalan dengan redup.
Tugas pemerintah apa sih?
Tunggu, sekarang bukan waktunya membahas hal lain. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana caraku pulang.
Semoga saja si dongo itu tidak melakukan hal yang tidak perlu.
Perkiraanku sekarang adalah jam 7 malam. Sekilas aku melihatnya di dekat stasiun.
"Ha...ha...ha..."
Aku berhenti sejenak mengambil napas.
Begitu terpikirkan, banyak hal yang terjadi seharian ini. Maksudku hal di luar perkiraan.
Barangkali begitu, karena ini hari pertamaku keluar sejak liburan musim panas tahun ini.
Selagi berpikir, aku sadar bahwa aku berhenti di dekat taman. Tempat itu sunyi saat malam tapi begitu ramai saat siang.
Meski begitu, tempat itu sangat menenangkan dan tidak menakutkan karena cukup cahaya di sana.
"Tidak! Jangan berhenti, atau aku tidak akan bisa masuk ke rumah!"
Lekas setelah selesai menyesuaikan tempo napasku, aku kembali berlari di sunyinya malam.
...----------------...
"—Aku pulang..."
Tidak ada respon saat aku kembali.
Kemana mereka pergi?
Aneh, biasanya saat ini akan ada si dongo itu yang mulai mengganggu ku. Dan saat ini, seharusnya aku terkunci di luar karena ulahnya.
Aku cuman menduga tapi apakah dia menginap di rumah temannya?
Kalau begitu, seharusnya ada bibi. Tapi juga tidak ada?
"Aku pulang...hmm?"
Menelusuri dapur, aku menemukan selembar kertas tertempel di dinding dengan tidak wajar.
Tertulis, 'Kami pergi ke rumah kakek. Besok kami pulang. Ada makan malam di kulkas. Habisi ya'
Tertanda, Mamako...
Waduh, aku sendirian nih. Enaknya ngapain ya? Enaknya.
"Hahahahahahahahah!" Tanpa sadar, aku tertawa sendiri—
"Oh iya, tunggu sebentar..."
Selagi aku menyantap makan malamku sendiri, aku teringat sesuatu.
Ini soal perjodohan Chika. Aku tidak habis pikir.
Soal alasan kenapa dia kerja paruh waktu dan lainnya. Pada awalnya dia tidak terlalu bermasalah dengan karate. Hingga suatu saat aku bertemu dengan dia saat mengantar surat.
Itu adalah sesuatu.
"Tapi kalau di pikir sih..."
Dia di jodohkan dengan pria 23 tahun, apakah ayahnya masih sehat? Tidak ada yang tahu, apa yang akan di lakukan oleh pria itu pada Chika, kan? Apalagi mereka tidak saling kenal dan hanya kenalan ayahnya saja.
Benar apa? Iya, benar-benar gila.
"Tapi yah...
Kalau misal Chika setuju dan menikah dengan pria asing itu. Apa yang akan aku lakukan...
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!..."
Aku tersedak salah satu makanan dan hampir memuntahkannya kembali keluar.
Apa yang kupikirkan? Kenapa aku harus peduli padanya? Maksudku hubungan kami juga cuman taman doang, there is no spesial in we relationship...tunggu apa?
Pokoknya seperti itu. Lagian, kenapa aku harus capek-capek melakukan hal tidak jelas seperti menyapanya?
Aku bahkan membuang-buang waktuku untuk pergi ke rumahnya dan tidak membuahkan hasil.
Besok, aku akan bermalasan di rumah sepanjang hari. Lagian sekarang memang aku sendirian di rumah. Tidak siapa pun yang akan menghentikan ku!
"Hahahahahahaha" Aku tertawa sendiri lagi.
...
Surat...kalau aku gagal...
"Masa bodo! Itu cuman omong kosong. Aku yakin, bahkan jika aku gagal, tidak akan ada yang terjadi. Chika menulis surat itu untuk mempermainkanku terakhir kali sebelum kami benar-benar berpisah. Aku tahu itu!"
Itu tidak lain adalah surat biasa. Yah, surat terakhir yang biasa.
Kemudian aku bersandar pada kursi dan melihat langit-langit ruangan.
Surat pertama...sekaligus surat terakhir...
"Aku harap ada bintang jatuh malam ini"
...
...
"Tidur kah"
Tunggu, sepertinya aku melupakan sesuatu. Kira-kira apa itu ya?
__ADS_1