The Letter For Misaki

The Letter For Misaki
Bab 1 Part 3: Minggu ini kita bertemu!


__ADS_3

"Selamat malam, Manabe"


Dan dia tersenyum di bawah matahari yang membuat sebagian silau dirambutnya.


Jarak kami dipisahkan oleh pintu pagar ini. Seperti batas antara langit dan bumi, seperti kejujuran dan berbohong.


Apa yang akan terjadi jika dia menikah dengan orang itu...


Apakah dia tidak akan mengantar surat lagi? Lalu siapa yang akan menggantinya?


Lalu...apa yang akan kulakukan?


Aku kembali ingat, sejak awal alasan kenapa Chika bekerja adalah karena dia tidak setuju dengan rencana perjodohan ayahnya.


Kenapa Chika tidak setuju dengan perjodohan itu, pasti ada alasannya.


Sebaiknya aku tidak ikut campur lebih dari ini.


"Kalau begitu, aku pulang dulu"


"Eh? Kau kemari datang kemari hanya untuk mengatakan itu?"


"Iya...argh! Kau memukulku dua kali!..."


Dia memukulku di sekitar bahu. Dia punya refleks yang jauh lebih cepat, sehingga aku tidak bisa menghindar.


Walaupun sekarang terik, tapi awan dimusim panas terlihat lebih cerah. Sangat indah.


Apalagi dojo Hiroi terletak didekat hutan, suasana disini terlihat begitu menyatu dengan pemandangannya.


Suara serangga dan angin, bertemu disini. Sangat tenang.


"Yah sudah, aku pulang dulu...kalau kau butuh bantuan, panggil aku saja"


Entah kenapa aku mengatakan itu padanya, spontan keluar dari mulutku.


Seperti ada firasat seperti itu, kurang lebih.


"Tunggu!"


Tepat saat aku berniat pulang dan berbalik darinya, dia menahanku.


Ya, aku merasakan firasat ini akan terjadi. Entah kenapa begitu.


"Sebenarnya, aku butuh bantuan...jika kau tidak keberatan...paling tidak dengarkan saja aku"


Berbeda dari sebelumnya, kali ini dia tampak begitu gelisah. Di menggosokan kedua tangannya.


Aku baru pertama kali melihat Chika yang seperti ini. Meminta tolong dengan tulus. Bahkan sejak kami sekelas, dia selalu meminta bantuanku dengan pukulan.


"Iya? Kalau kau butuh samsak tinju, maaf aku tidak bisa membantu..hampir saja!" Tiba-tiba Chika memukul.


"Bukan itu! Lagipula aku tidak suka memukul! Jadi aku tidak butuh itu!"


Aku ingin mengatakan kalau ada beberapa bagian tubuhku yang sakit karena diserang oleh orang tidak dikenal.


Barangkali begitu, dan dia punya pukulan kuat dan cepat. Aku ragu apakah dia ini atlet tinju atau atlet karate.


Aku berbalik.


"Sudah selesai, kan? Kalau begitu, sampai jumpa"


"Ah..."


Aku merasa mendengar keraguan dalam suara itu.


Meskipun begitu, aku tidak berhenti dan terus berjalan. Meninggalkan Chika yang berdiri dari balik pagar itu.


"—Makan malam sudah siap!"


Terdengar suara dari arah dapur. Mendengar itu, aku tidak lekas pergi dan tetap duduk dimeja belajar.


Apa yang kulakukan adalah cuman menghayalkan apa yang terjadi sebelumnya.


Aku tahu kalau mengurus urusan orang itu tidak baik, tapi hanya saja itu selalu terbayang dalam benak.


Soal perjodohan Chika.


Aku hanya membayangkan, apakah akan ada yang berubah jika dia menyetujui ayahnya.


Jika dia menikah dengan orang yang dia tidak sukai. Apakah dia akan bahagia?


Siapa orang yang dijodohkan dengan dia?


Apa yang akan berubah...


"Suratku...oh iya, dah hilang"


Maksudku kadaluarsa? Atau mungkin yang coock itu masa pakai berakhir?


Intinya sama. Yang pasti aku harus menunggu hari kamis lagi untuk surat baru.


Tapi lama juga, sekarang hari...


Aku melihat kalender...hari apa ya? Oh iya, hari jumat.


Berarti 6 hari lagi untuk itu. Dan liburan musim panas masih ada 2 minggu.


"Apa saja yang sudah kulakukan selama liburan ini..."


Dan tanpa sadar aku mulai tertidur dimeja belajar...


...----------------...


"—Selamat pagi, kak"


"Hmm?"


Sudah pagi?


Hmm, aku tertidur dilantai lagi? Apa yang sudah kulakukan semalam ya?


"Ah, aku lupa makan malam..."


Meski menyadari itu, aku tidak merasa lapar sama sekali. Walaupun begitu, bukan berarti aku tidak akan sarapan.


Yang lebih penting...


"Kenapa kau datang lagi, Futaba?"


Futaba datang dengan pakaian kasual beserta tas selempang seperti biasa. Rambutnya juga pendek seperti biasa.


Tapi kenapa dia datang lagi?


"Lagi?" Kata Futaba selagi bingung.


"Ini hari kamis lho. Seperti janjiku, aku akan datang setiap hari kamis. Kau lupa?" Lanjut Futaba selagi menaruh tasnya di meja.


"Apa?"


Hari kamis? Tunggu, perasaan kemarin baru hari jumat. Padahal kemarin dia juga datang.


Ketika aku melihat kalender, aku terkejut di sana menandakan sekarang hari kamis.


Apa yang terjadi?


"Futaba, kemarin kau datang kan?"


"Hah? Untuk apa aku datang kemarin? Waktu itu aku sudah bilang, hari kamis aku datang. Sesuai dengan yang kukatakan"


Apa yang terjadi sekarang? Aku tidak mengerti lagi. Ada yang aneh.


Aku ingat kalau sehari setelah menerima surat itu, Futaba datang kesini. Yang artinya, kemarin hari jumat. Seharusnya sekarang hari sabtu.


Waktu itu...entah tanggal berapa...tapi yang pasti dia datang.


"Kau kenapa lagi, kak? Waktu itu juga kau tiba-tiba terkejut sendiri saat kehilangan 900 yen. Apakah ada hukuman lain yang kau dapat?...juga kau senang tidur dilantai ya?"


"Tidak, cuman..."


Aku tidak bisa menjelaskannya pada Futaba. Aku juga tidak mengerti apa yang salah.


Seperti ada hari yang terlewatkan. Aku juga kurang yakin. Atau cuman firasat?


"Oh iya kak, kau sudah dapat surat baru?"

__ADS_1


Mengingat sekarang hari kamis, jadi seharusnya aku mendapat surat baru.


Hmm, benar juga.


"...Tunggu, aku ambil dulu diluar"


"Hmm? Aku tadi sudah memeriksa kotak surat dan isinya kosong. Aku kira kau sudah mengambilnya tadi"


"Aku baru bangun, kau tahu"


Tidak mungkin, Mariko dan bibi mengambil surat yang jelas ada nama penerima disana. Bahkan jika surat itu tanpa alamat.


Jika benar demikian, seharunya mereka memberikannya padaku.


Apakah Chika terlambat mengantar surat? Tidak mungkin, selama ini dia tepat waktu.


Mungkin kah...


"Futaba, tunggu aku disini sebentar. Aku akan kembali"


"Ah, kau mau kemana kak? Tunggu, aku ikut!"


Aku mengambil jaket...maksudku topi dan menutup pintu setelah Futaba keluar.


"Kita mau kemana?" Memakai sepatunya, Futaba bertanya.


"Mengambil surat itu langsung dari orangnya"


"Eh? Kau kenal Misaki!? Siapa dia? Dimana dia tinggal?"


"Kita pergi!"


"Tunggu! Aku belum selesai!"


...----------------...


Pagi hari, dojo Hiroi.


Akhir-akhir ini aku sering datang kemari. Ini ketiga kalinya aku kemari.


Tanpa menunggu, aku langsung menekan bel yang ada disamping pintu pagar.


"Tunggu sebentar..."


Seperti pertama kali aku kemari, terdengar suara dari bel itu. Menyuruh untuk menunggu.


Kemudian ada yang menarik lengan bajuku.


"Apa ini rumah Misaki? Dan apakah tadi itu suaranya Misaki? Dia kenalanmu?"


Itu adalah Futaba yang mengikuti ku dari rumah.


Aku juga penasaran bagaimana dan dimana rumah Misaki, tapi sekarang...


"Ah! Ternyata nak Manabe. Apa kabar. Kemarin juga kau datang. Ayo silahkan masuk"


Kemarin? Perasaan aku bertemu dengan Chika. Apakah dia memberi tahu mamanya kalau aku datang?


Tiba-tiba Futaba maju kedepan dan menunduk pada mamanya Chika.


"Selamat pagi, bu Misaki"


"Ah!"


"Eh?"


Aku terkejut, mamanya Chika juga terkejut.


"—Maafkan aku. Bibi Chihiro. Aku terbawa suasana"


Futaba menunduk selagi meminta maaf pada bibi Chihiro, atau sebut saja mamanya Chika.


Seperti yang baru aku tahu, nama asli mamanya Chika adalah Chihiro Hiroi.


Seorang wanita 40 tahun, ibu rumah tangga. Saat ini dia memakai kimono.


"Anda sering menggunakan kimono yah... omong-omong kimono itu...?"


Kimono yang digunakan bibi Chihiro tidak asing...


Mengingat itu, aku ingat waktu dia menerima kimono baru dari kurir. Juga saat dia menggoyangkan pagar rumah.


Meskipun begitu, sekarang musim panas lho.


Menurutku kimono tidak cocok untuk musim panas, karena memiliki bahan yang tebal.


Aku tengah berada dalam ruang tamu. Futaba yang sedang serius memperhatikan sekeliling duduk disebelahku. Dia seperti anak yang tengah berkunjung kedalam museum.


Entah kenapa seperti ada yang kurang, tidak seperti biasa.


"Apakah semua orang libur? Aku tidak mendengar lagi suara ribut seperti biasanya, 'Hiro! Hiro! Hiro!' Begitu..."


Iya, ada yang kurang. Di waktu seperti ini, biasanya ada suara ribut dari dalam ruang latihan. Suara dari orang yang berlatih.


Meskipun sekarang masih pagi, seharusnya mereka mulai latihan lebih awal. Seharusnya begitu.


"Oh...sekarang semuanya sedang persiapan...jadi semuanya sedang libur"


Persiapan?


"Kalau boleh tahu, persiapan apa itu?"


Aku mencoba bertanya pada bibi Chihiro.


Tiba-tiba...


"Persiapan untuk pernikahan Chika"


Dari pintu sisi lain ruangan muncul suara berat yang kemudian disusul oleh wujud pria besar.


Selagi melipat tangannya dia menghampiri kami yang sedang duduk.


"Siapa kalian?"


Dan kemudian bertanya pada kami. Mungkin lebih tepatnya padaku. Aku bisa melihat matanya dengan fokus melihat kearahku.


Dia tinggi hampir setara hampir dua meter dan dia juga besar. Hakama yang dia gunakan menimbulkan garis otot-ototnya. Sungguh keterlaluan!


(Note: Hakama adalah pakaian yang sering digunakan dalam judo atau kendo)


Meskipun begitu, apakah ini dojo judo atau karate? Aku bingung karena dia tidak menunjukkan ciri-ciri seperti itu.


"Mereka berdua ini adalah temannya Chika. Dia Manabe pacarnya Chika dan Futaba teman adiknya"


"Tunggu!"


Bibi Chihiro memperkenalkan kami pada pria besar ini.


Setidaknya pilihlah salah satunya! Teman atau Pacar!


Dan kenapa Futaba dapat peran yang aman?


Bukan itu yang penting sekarang!


Aku berbalik melirik kearah pria besar itu.


"Pacar?"


Pria besar itu bergumam dan terus memandangi ku dari tadi.


"Biarku perkenalkan, dia adalah suamiku. Ginga Hiroi. Pemilik dojo sekaligus ayahnya Chika. Semoga kalian akrab, ya. Dadah"


Setelah mengatakan itu, bibi Chihiro pergi meninggalkan kami dan menuju ke dapur.


Tunggu! Jangan tinggalkan kami disini sendirian bersama pria menyeramkan ini!


Saat itu juga, pria besar itu duduk dikursi berhadapan dengan kami.


Futaba terus memperhatikan sekeliling selagi merasa kagum dengan interior rumah, seperti tidak merasa apa yang terjadi.


Ataukah dia sedang mengalihkan pandangannya?


Mungkin itulah alasan kenapa dia sedang melihatku sekarang.


"Jadi kau pacarnya Chika?"

__ADS_1


Dia mulai dengan pertanyaan yang sulit.


Bagaimana aku harus memulainya?


"Sebenarnya..."


"Jadi benar ya"


Aku belum mengatakan apapun!


Dia mengambil teko dan menuangkannya pada cangkir yang ada dimeja. Setelah itu mengambil cangkir miliknya dan meneguk dari cangkir itu.


Setelah itu, dia meletakkan cangkir itu kembali ke meja itu.


Kemudian mengatakan sesuatu.


"Aku dengar dari Chika kalau dia punya pacar. Aku bertanya padanya apakah dia punya pacar dan dia menjawab, "mungkin". Jadi kaulah orangnya"


Sialan kau Chika! Kau membuatku dalam masalah!


Setelah menuangkan air pada cangkir itu, dia mengambil cangkir miliknya dan meneguknya lagi.


Setelah meneguk, dia kembali meletakkan cangkir itu di meja. Dan kembali menaruhnya di meja sekali lagi.


Dia kembali melanjutkan.


"Tapi meskipun kau ada disini, itu tidak bisa mengubah keputusan yang telah dibuat. Chika akan menikah dengan anak sahabatku. Segalanya telah diputuskan"


Dia mengambil lagi cangkir itu dan kembali meneguk air dari dalamnya.


"Tapi Chika tidak setuju dengan keputusan itu. Chika harus menikah dengan orang yang dia sukai"


Aku mengatakan pendapatku dan setelah itu aku mengambil cangkir milikku dan meneguk dari cangkir itu.


"Meski dia tidak setuju, mau bagaimana lagi. Ini adalah tradisi lama dojo kami. Jika penerus dojo adalah perempuan, maka dia harus menikah dengan penerus dojo lain yang memungkinkan"


Dia sekali lagi mengambil cangkir itu dan kembali meneguknya.


Futaba mengambil cangkir miliknya kemudian meneguk air dari cangkir itu sebelum meletakkan kembali cangkir itu dan kembali sibuk memperhatikan sekitar.


Dia betul-betul tidak ingin terlihat dengan pria ini.


"Lagipula kau hanya pacarnya, kan? Apa yang bisa kau beri? Apa kau bisa menjamin masa depannya cerah? Yang lebih penting apa pekerjaanmu?"


Sebelum itu aku ingin mengatakan, bahwa aku tidak bisa menjamin bahwa aku adalah pacarnya. Sejak awal aku bukan pacarnya.


Dia mengambil cangkir dan kembali meneguknya sebelum kembali meletakkannya ke meja.


Dari awal aku bisa mengatakan apa? Aku hanya siswa SMA biasa. Tidak punya cita-cita pasti dan masa depan.


Bahkan aku bukan siapa-siapa nya Chika. Hanya kenalan yang sering bertemu saat menerima surat atau juga disekolah.


Aku mengambil cangkir milikku dan berusaha meneguknya agak lama dari biasanya.


Saat meneguk, aku melihat Futaba berdiri dari kursi dan terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu.


"Kedatangan Manabe kesini adalah untuk menantangmu berdue!l"


Aku langsung menyemburkan semua isi air dari mulutku.


"Uhuk! Uhuk! Uhuk!...Apa!?"


Apa yang anak ini katakan!?


"Berduel?"


Pria besar itu memegang dagunya selagi tampak memikirkan tawaran yang dikatakan Futaba.


Selagi itu terjadi, aku menarik Futaba duduk dan membisikkan sesuatu padanya.


"Apa yang kau katakan!? Kau membuatnya salah paham!"


"Bukannya itu tujuanmu kesini?"


"Bukan! Lagian dari tadi kau hanya diam, lebih baik kau diam sampai akhir!"


Pria besar itu mengambil cangkir itu dan kembali meneguk air sebelum meletakkan kembali cangkir itu ke meja.


"Hmm, menarik. Baiklah aku terima tawaran itu. Kita bertanding hari minggu ini. Syarat bertanding adalah menggunakan seragam karate dan tepat waktu. Jika kau menang aku akan membatalkan perjodohan itu"


Kali ini dia mengambil cangkir itu dan membiarkannya berada di tangannya.


"Jika kau kalah, kau harus menjadi anggota dojo Hiroi"


"Setuju!"


"Woi!"


Futaba langsung berdiri dan mengatakan itu sebelum aku bisa menghentikannya.


Kemudian pria itu berdiri selagi membawa cangkir itu bersamanya.


"Baiklah, sampai jumpa hari minggu. Anak muda"


Dan kemudian dia pergi menuju tempat dimana dia pertama kali muncul.


Saat kehadirannya hilang, seketika hawa tegang itu hilang bersamaan dengan suasana tenang yang muncul.


"Mereka cuman menyajikan kita air putih"


Futaba yang sebelumnya bersemangat mengajukan ide duel, kini malah protes soal minuman selagi duduk.


Aku menyesal membawa ke sini! Dia tidak membantu sama sekali!


"Woi beban, kita pulang!"


"Hei, itu kasar!"


Sebelum kami berdiri, dari sisi pintu dapur datang seorang lagi.


"Tunggu sebentar!"


Bibi Chihiro berlari kecil menghampiri kami yang berniat pulang.


Suara itu mengingatkan aku dengan bel didekat pagar.


"Eh, mana Ginga?"


Ginga? Oh, ayahnya Chika.


"Dia barusan pergi tadi"


Aku menunjuk arah kemana pria itu pergi


"Begitukah...tunggu ya"


Mengatakan itu, bibi Chihiro memberikan sesuatu padaku.


"Tujuan kalian kesini untuk ini, kan?"


Itu adalah surat.


Benar, itu adalah surat dari Misaki.


"Tante tadi menemukan ini tempat sampah. Disana ada banyak tumpukan surat lain. Ketika tante mencoba membereskannya, ada surat untuk Manabe...anak itu, membuat surat seenaknya saja. Bagaimana kalau ada yang penting dan tidak terkirim pada orangnya...?"


Aku mengambil surat itu dari bibi Chihiro.


"Terima kasih, bibi"


Dan kemudian melipat surat itu sebelum memasukkannya kedalam saku.


Sekarang adalah hari kamis, tinggal 2 hari lagi sebelum hari minggu. Aku tidak yakin itu cukup atau tidak tapi...


"Bibi, bisakah aku meminta bantuan?"


"Eh? Boleh kok. Apa yang perlu tante bantu?"


Bahkan Futaba mungkin bisa membantu meski dia beban.


Tapi setidaknya...


"Bibi, bantu aku belajar karate dari awal!"


Mengatakan itu, aku menunduk dalam pada bibi Chihiro.

__ADS_1


__ADS_2