
Suasana entah kenapa mulai memegangkan disekitar.
Terutama dari Mariko. Dia tampak begitu khawatir.
Apakah itu karena Fubata adalah teman baiknya ataukah karena kewajiban sebagai ketua kelompok, aku tidak tahu.
Tapi yang pasti aku juga mulai merasakan kekhawatiran itu darinya.
Singkat cerita, Futaba menghilang. Dia tidak ada diantara kami. Ya, menghilang.
Sekarang kami berkumpul untuk mendiskusikan ini.
"Apakah ada diantara kalian yang melihatnya terakhir kali?" Mariko sebagai ketua memulai diskusi.
Tampak kegelisahan muncul dari suaranya.
Salah seorang dari kami mencoba untuk mengatakan sesuatu. Itu adalah gadis kikuk, Sanae.
"Sebelumnya dia bilang akan membantu Ishikawa mencari lokasi yang tepat" Katanya dalam suara patah-patah.
Ishikawa membalas.
"Bukannya dia bilang akan membantumu merakit teleskop, Mariko?"
"Bukannya dia membantumu mengetes lensa, Sanae?"
"Tapi bukannya membantumu, Ishikawa?"
Mereka mulai membahas apa? Bahkan mereka belum mengambil semua peralatan yang ada di tasku.
"Bagaimana denganmu?" Aku berbalik melihat Ode untuk bertanya pendapatnya.
"Aku sempat melihatnya mengunjungi semua orang untuk bertanya, tapi kemudian dia pergi entah kenapa" Katanya selagi mencoba mengingat kembali beberapa hal.
"Oh iya, aku sempat melihatnya kearah hutan itu"
Mengikuti kearah tangannya menunjuk, aku melihat hutan yang cukup lebat disisi lain bukit.
Hutan itu tidak memiliki jalur masuk dan cukup lebat untuk sebuah hutan. Aku tidak yakin bagaimana.
Puncak bukit ini begitu luas dan datar, sehingga hutan itu tampak begitu menonjol.
Hutan itu membelakangi gunung yang ada sisi seberang.
Semua melihat kemana tangan Ode menunjuk. Aku bisa merasakan ada keresahan salah satu dari mereka.
"Baiklah, kita akan berpencar masing dua orang. Kelompok satu akan ke kiri dan kelompok kedua akan ke kanan. Yang satu lagi akan menjaga kemah ini dan untuk jaga-jaga jika ada sesuatu" Kata Mariko selagi berusaha tenang.
Jika kami memulai pencarian sekarang, rasanya mungkin akan sempat. Apalagi matahari belum benar-benar tenggelam.
Itulah menurutku. Tapi aku tidak yakin soal persiapan kami untuk melakukan pencarian seperti ini, seperti senter. Aku sangat yakin bahwa isi tasku tidak ada senter didalamnya.
"Hei, aku sebelumnya mengatakan ini tapi kita tidak memiliki senter untuk melakukan pencarian"
Aku mengatakan itu sebelum Ode mengangkat tangannya dengan yakin.
"Aku bawa senter"
—Aku datang kesini, seharusnya bukan untuk hal ini.
Kami mulai melakukan pencarian dengan menelusuri hutan.
Bagaimanapun ketika kami mulai masuk, matahari perlahan mulai benar-benar terbenam.
Aku harap cahaya bulan cukup untuk membantu menerangi. Dengan kata lain, aku berharap malam ini tidak berkabut.
"Hei, kau serius kalau dia masuk kesini?" Aku berbalik dan mencoba bertanya pada Ode, yang menjadi teman pencarianku kali ini.
Aku menuju ke kanan hutan bersama dengan Ode. Sedangkan Mariko dan Ishikawa ke sisi kiri hutan. Dan Sanae menjaga kemah.
Kami sudah berada di hutan cukup lama. Begitu perkiraanku.
"Iya, aku yakin seperti itu. Setelah dia berkeliling untuk bertanya pada kita semua, dia pergi kearah hutan. Aku melihatnya saat aku sedang berkeliling mengambil ranting"
Jika dia punya waktu untuk berkeliling seperti itu, seharusnya dia membantuku membangun kemah.
Dan sekarang dia malah menghilang. Apakah dia sering seperti ini?
"Hei, kau teman sekelas Futaba, kan? Seperti apa Futaba dikelas? Apakah dia sering seperti ini?"
Disaat aku mengarahkan senter pada berbagai arah, aku mencoba bertanya pada Ode yang ada dibelakangku.
Tampak beberapa saat terdiam, dia mulai bicara.
"Hmm, dia bodoh"
"Segitunya kau punya masalah dengan dia?"
"Tidak! Tidak, bukan maksudku seperti itu. Tapi faktanya dia memang bodoh dalam hal belajar"
"Serius, kau tidak punya masalah dengan dia?"
Kami sudah beberapa menit menelusuri hutan ini dengan terus mendorong beberapa ranting yang kami temukan sekaligus mengambil yang bisa dibawa untuk api unggun.
Sekarang mungkin sekitar jam enam atau tujuh langit mulai menunjukkan sedikit cahaya dan bulan mulai terlihat dari dalam hutan.
Aku berharap disini tidak ada hewan buas atau apapun itu...
*Krek*
Setelah aku mengatakan itu, terdengar suara sesuatu dari arah belakang.
"Hei, perhatikan jalanmu didepan. Aku jalan di depanmu seharusnya kau bisa melihat dengan jelas karena aku memegang senter"
"Aku tidak menginjak apapun. Jalan nya bersih setelah kau melewatinya"
Itu benar juga, aku yang membersihkannya selagi aku berjalan. Seharusnya dia tidak menginjak apapun sebelum aku.
"Kau tidak melakukan apapun, kan?"
"Tidak"
Aku terdiam dan mengarahkan senter kearah sumber suara. Suara itu muncul dari semak-semak yang cukup agak dekat dari kami.
Saat sinar senter mengenainya, semak-semak itu langsung bereaksi dengan bergerak dan menimbulkan suara.
"Kira-kira apa itu?" Tanya Ode dengan polos.
Entahlah, aku tidak tahu. Saat aku ingin mengatakan itu, tiba-tiba muncul sesuatu dari dalam semak...
"Itu ular!"
Ular kecil muncul dari dalam semak.
"Kau pikir kita harus apa?"
"Lari?"
"—Ha...ha...ha...capek..."
Aku mengatakan itu selagi mencoba mengatur napas setelah berlari dari ular itu.
Aku sama sekali tidak melihat kebelakang dan langsung lari sekuat tenaga.
"Kenapa ular bisa ada ditempat seperti ini?"
Mencoba mengerutu pada diri sendiri, aku mencoba menyalakan kembali senter.
Kemudian mengarahkan cahaya senter pada sekelilingku.
"Hmm?"
__ADS_1
Dan kemudian aku menyadari sesuatu.
"Tempat apa ini?"
Tampa sadar, aku berada di suatu danau yang luas di tengah-tengah hutan.
Danau luas itu memantulkan cahaya bulan, aku bisa melihatnya dengan jelas.
Dari pantulan yang sama aku bahkan bisa melihat bintang-bintang.
Beberapa dedaunan pohon terjatuh dan mengapung dalam tenang di genangan, seperti menyampaikan sapa untukku yang pertama kali dia lihat.
Sebuah danau yang terasingkan dalam hutan ini dan menjauhkan diri dari luar. Begitu kesan yang aku dapat.
"Hmm?"
Saat aku menikmati suasana tenang itu, sesuatu bayangan kecil muncul dari dalam kegelapan hutan dan semak.
Dia datang menghampiri ku.
Semakin bayangan itu mendekat, semakin dia nampak jelas. Hingga aku bisa mengenalnya.
"Kucing?"
Saat aku sadar itu, wujudnya mulai nampak jelas di mataku.
Tidak, tunggu dulu...
"Kucing itu memiliki dua ekor?"
Merasa bahwa aku bisa melihatnya, kucing itu mendekati danau untuk meminum airnya sehingga terjadi gelombang kecil yang merusak pantulan bulan dan bintang.
Disaat itu juga aku sadar, bahwa kucing itu terlihat seperti yang pernah diceritakan oleh bibi Chihiro sebelumnya.
Kucing yang memiliki dua ekor sekaligus dua jiwa...
Nampaknya yang dikatakan bibi Chihiro bukan hanya khayalan, sebelumnya aku sempat meragukan itu.
Meski begitu, yang aku ingat juga adalah bahwa kucing ini memiliki dua jiwa.
Saat dia meminum air, dia nampak seperti memiliki jiwa yang tenang.
Aku mendekati kucing itu saat sedang minum.
"Halo" aku menyapanya seperti yang biasa aku menyapa seseorang.
Aku mengulurkan tanganku pada kucing itu.
Kemudian...
"serrrrrrrr"
Dia mengamuk bahkan sebelum aku bisa menyentuhnya.
Kemudian dia menjauh dariku dan mengambil posisi bertahan, menganggapku seperti ancaman.
Kucing yang aneh...aku baru tahu kalau kucing bisa bersuara seperti ini.
Kalau dipikir-pikir, sekarang musim panas. Berarti jiwa yang ada di kucing itu adalah jiwa yang liar, jika berdasarkan perkataan bibi Chihiro.
Saat aku sedang berpikir sejenak, kucing itu berlari menjauh.
"Kemana dia pergi?"
Aku memperhatikan kemana kucing itu berlari dan pandanganku jatuh kearah sebuah pohon besar di seberang danau.
Pohon itu lebih besar dari pohon-pohon yang lain disekitarnya.
Kucing itu kemudian menghilang dari pandanganku saat ia berlari melalui pohon itu.
"Hmm?"
Atau mungkin lebih tepatnya, pohon itu seperti menarikku untuk mendekatinya.
Pohon itu memiliki aura tersendiri dari semua pohon yang ada. Seperti hanya dia sendiri yang berdiri di dekat danau ini.
"Eh? Kok mati?"
Tiba-tiba disaat seperti ini, senterku mati.
Apakah baterai nya habis?
Sial! Bagaimana ini?
Untunglah cahaya bulan cukup untuk menerangi jalan.
Aku berjalan perlahan mengitari danau menuju pohon yang ada di sebrang danau.
Kalau dipikir, beberapa bayangan ikan terkadang muncul dari dalam dasar ketika aku mencoba memandangi danau.
...
"Bulan begitu jelas terlihat. Airnya juga bersih dan tenang"
Membawaku pada lamunanku, dan melupakan hal penting.
Aku berjalan menuju Pohon Kesepian itu.
Angin seketika berembus dan mencoba menggugurkan beberapa daun, begitu juga dari pohon besar itu.
Dan ketika mulai dekat, aku mulai menyadari seberapa besar pohon itu. Itu membuatku sedikit merinding.
Aku merasa seperti berada di dunia lain. Pohon unik ini berdiri kokoh meski beberapa daun jatuh darinya.
Ditengah-tengah aku memandangi detail pohon itu, aku menyadari sesuatu.
Aku melihat seseorang duduk bersandar di pohon itu.
Dia nampak kurang jelas karena banyangan pohon, meski cahaya bulan semestinya bisa meneranginya.
Dari yang aku tahu, sosok itu adalah seorang wanita.
Sekali lagi angin bertiup di antara kami dan rambut wanita itu ikut terhempaskan, menunjukan bahwa dia berambut panjang.
"Halo" suara muncul dari sosok yang kurang nampak jelas itu. Dia mencoba menyapaku.
Dia duduk dengan tenang selagi mencoba mengelus sesuatu yang tidak bisa aku lihat karena bayangan pohon.
"Apa kau mengenal siapa aku?"
Muncul suara sekali lagi darinya. Dia mengatakan itu dengan nada ringan.
"Mungkin tidak, ya? Seharusnya kau memang tidak tahu. Kalau kau tahu siapa aku, pasti itu pertanda bahaya"
Dia membalas pertanyaan yang dia lontarkan sendiri dengan nada ringan seperti sebelumnya.
Aku bahkan belum mengatakan apapun.
Bagaimana aku bisa tahu kalau aku tidak bisa melihatnya.
Yang bisa aku lihat hanyalah sebagian rambutnya yang berkilau ketika menyentuh cahaya.
"Apa kau datang kesini untuk mencari kucing ini?"
Saat dia mengatakan, tiba-tiba saja sesuatu terlihat jelas dan itu adalah kucing berekor dua yang sebelumnya.
Dia sedang memakan sesuatu dan tengah dielus-elus oleh wanita itu.
Darimana kucing itu datang? Sebelumnya aku tidak melihatnya karena disekitar wanita itu tertutup bayangan pohon.
Saat itu juga, aku melihat tangan wanita itu menggunakan suatu gelang yang mengelus kucing berekor dua itu.
__ADS_1
Tunggu, gelang itu...dimana aku pernah melihat gelang itu sebelumnya? Dimana ya?
"Biasanya kucing ini memiliki jiwa yang liar saat musim panas. Tapi jika kau memberinya makanan yang dia suka, dia pasti akan menurutimu dan menjadi tenang"
Dia mengatakan sesuatu.
Tampak kucing itu dengan tenang memakan sesuatu di dekatnya.
Sesuai yang dia katakan, kucing itu menjadi tenang dan bahkan bisa untuk dielus-elus.
Jika aku memperhatikan dengan detail, salah satu ekor kucing itu ada yang selalu bergerak dan yang satu lagi tidak pernah bergerak sama sekali.
Sesekali tangan wanita itu meraih leher bawah kucing itu dan mencoba untuk menggaruknya. Kucing itu tampak senang dengan yang dilakukan wanita itu.
Setelah melakukan itu, wanita itu kemudian berdiri di posisi yang sama. Meski begitu bayangan pohon tetap menutup sebagian badannya.
"Tampaknya sudah waktunya aku untuk melakukan sesuatu"
Dia mengatakan itu dengan suara yang masih sama ringan seperti sebelumnya.
Maju selangkah, wanita itu bergerak dari tempatnya.
Sekali lagi, angin bertiup. Membuat daun gugur yang tersisa terjatuh.
Begitu juga dengan rambut wanita itu, yang ikutan tertiup. Rambutnya yang terkena sinar bulan, tampak berkilau.
"Tolong jaga Futaba, ya. Manabe"
Disaat itu juga, wanita mulai mengatakan sesuatu yang tidak bisa aku pahami.
Seketika juga pikiranku terasa berat dan badanku tidak bisa aku kendalikan. Rasanya seperti aku akan terjatuh.
Disaat terakhir, aku sekilas melihat bagaimana senyum wanita yang tampak jelas mulai menampakkan kegelisahan darinya.
Aku pingsan—
...----------------...
"Hei, bangun. Bangun kak, ini sudah pagi"
"Hmm..."
Sepertinya ada yang mengganggu tidurku saat ini. Aku seperti bermimpi berada di bencana gempa. Seluruh badanku merasakan itu.
"Hei bangun! Kalau kubilang bangun, ya bangun!"
Semakin lama, guncangan itu semakin menjadi. Membuatku mau tidak mau harus bangun.
"Hmm...Apa? Mariko?"
Dengan setengah sadar, aku mengucapkan itu dan mulai berusaha bangun.
Aku mencoba duduk dan dengan perlahan membuka mata untuk melihat seseorang yang membangunkanku.
"Mariko?"
Suara bingung datang darinya dan mulai mendekat.
"Hei, bangun. Aku bukan Mariko! Cepat sadar!"
Suara itu kembali menggema dalam pikiranku. Dia memegang kedua bahuku dan mengguncangku.
"Hmm? Apakah?"
Mengikuti perkataan itu, aku berusaha sadar sepenuhnya dan bayangan itu mulai semakin jelas. Hingga terlihat wujud wajahnya dengan jelas.
"Hmm!?"
Disaat yang sama aku terkejut, dia tersenyum lega dan mulai menyapa.
"Selamat pagi kak"
Seseorang yang membangunkanku adalah Futaba yang duduk di sampingku.
Aku melihat sekeliling, dan menyadari bahwa aku berada dalam sebuah kemah.
Disisi lain, ada seseorang yang tertidur disebelahku. Itu adalah Ode.
Meski begitu...
Aku merasa ada sesuatu yang aneh terjadi disini. Saat aku menyadari itu...
"Sekarang sudah pagi!?"
Seketika aku langsung berdiri dan menuju keluar untuk melihat keadaan.
Seperti yang aku duga, sekarang aku ada di daratan luas bukit. Aku melihat kemah yang aku tempati.
"Ada apa? Tiba-tiba keluar seperti itu dan berteriak"
Futaba bertanya.
"Kenapa sekarang tiba-tiba pagi? Bukankah tadi aku berada dihutan untuk mencarimu?"
Aku berusaha menjelaskan apa yang seharusnya terjadi pada Futaba. Tentang keanehan ini.
"Eh? Bukannya kau yang membawaku kembali kesini? Lagpula aku tidak tersesat, aku tahu jalan pulang. Aku sedang pergi mencari batu untuk api unggun dan tiba-tiba saja kau menarikku pulang tanpa mengatakan apapun"
"Aku? Yang membawamu kesini? Serius?"
Dia mengangguk-anggukkan kepalanya.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Sebelumnya juga pernah seperti ini. Saat aku berduet dengan ayahnya Chika. Aku pingsan dan saat sadar tiba-tiba saja dia kalah. Seperti ada yang mengendalikanku.
Akhir-akhir ini juga aku sering sekali pingsan.
"Oh iya, saat dalam perjalanan pulang kau sama tidak pernah bicara. Dan saat sampai kau langsung mendirikan kemah dan terus tidur tanpa bicara. Kau seperti orang lain. Ada apa? Semuanya khawar lho"
Seperti orang lain...
Saat aku mulai memikirkan apa yang terjadi, dari sisi lain datang seseorang dan menyapaku.
"Oh bang, selamat pagi. Kau sehat setelah tidur? Kau tidak pernah bicara kemarin, jadi aku khawatir"
Mariko datang bersama dengan Ishikawa dan Sanae.
Melihat bagaimana reaksi Sanae yang tampak serius, seperti memberi tahu bahwa memang ada yang salah.
Aku yakin bahwa orang yang membawa Futaba kembali, pasti bukan aku. Pasti orang lain. Aku yakin seperti itu.
Jika begitu, maka siapa orang itu?
Saat itu, angin berembus untuk sekian kali aku mengingat itu.
Wanita itu...
Apa dia masih disana?
"Tunggu sebentar, aku akan kembali!"
"Apa?"
Disaat angin berhenti berhembus, aku menapak kaki untuk berlari menuju hutan untuk mencari siapakah wanita itu.
Apakah dia masih ada disana? Apakah aku bisa menemukannya?
"Bang! Kau mau kemana!?"
Mengabaikan apa yang dikatakan Mariko, aku berlari memasuki hutan.
__ADS_1