The Letter For Misaki

The Letter For Misaki
Bab 1 Part 2: Tugas susah, tugas mudah


__ADS_3

"Hei, bangun. Bangun kak, ini sudah pagi"


"Hmm..."


Sepertinya ada yang mengganggu tidurku saat ini. Aku seperti bermimpi berada di bencana gempa.


"Hei bangun!"


Semakin lama, guncangan itu semakin menjadi.


Perasaan mereka akan datang sore deh? Kenapa sekarang malah...


"Hmm...Apa? Mariko?"


Dengan setengah sadar, aku mengucapkan itu dan mulai berusaha bangun.


Aku duduk dan melihat bayangan seseorang yang membangunkanku.


"Mariko?" Suara bingung datang dari bayangan itu dan mulai mendekat.


"Hei, bangun. Aku bukan Mariko! Cepat sadar!"


Suara itu kembali mengguncang ku.


"Hmm?"


Mengikuti perkataan itu, aku berusaha sadar sepenuhnya dan bayangan itu mulai semakin jelas. Hingga terlihat wujud wajahnya.


"Hmm!?"


Saat yang sama aku terkejut, dia tersenyum lega dan menyapa.


"Selamat pagi kak"


...


"Ahhhhhh, maling!? Tolong ada pencuri! Tolong selamatkan aku!"


"INI AKU! FUTABA!"


—Ternyata sudah pagi ya? Tidak di sangka.


Aku tidak sadar hingga akhirnya tertidur. Omong-omong semalaman aku melakukan apa yah? Tidak ada yang aneh, kan? Kalian melihatnya?


Saat aku telah sepenuhnya terbangun, aku menyadari sesorang berseragam di hadapanku dan kini terlihat kesal. Aku tahu alasannya.


"Begini kak..."


"Aku minta maaf" Sebelum dia melanjutkan mengatakan sesuatu, aku langsung menunduk menghadap dia dan memintaa maaf setulus mungkin.


"Hadeh..." Dia mengeluh melihat tingkah ku di pagi hari ini.


"Lupakan soal itu. Sekarang aku tanya, apa yang kau lakukan semalaman, hingga membiarkan tempat ini berantakan? Dan kau tertidur di lantai...serius ngapain?"


Gadis ini melipat tangan dan memasang wajah tegas, menunggu jawaban jujurku atas apa yang terjadi.


Setelah terbangun, aku sadar bahwa sekarang ruang tamu berantakan.


Sebelum itu, aku akan memperkenalkan dia. Hideo Futaba, teman lama adik perempuanku. Bahkan sampai sekarang pun juga demikian. Usianya 15 tahun, anak SMP. Sekarang mari kembali ke topik.


Melihat dia memakai seragam, berarti dia berencana pergi ke sekolah dan mampir buat menjemput adikku bersama. Tapi adikku saat ini entah di mana bersama bibi di rumah kakek dan akan kembali sore ini, mungkin.


Tapi dari mana dia bisa masuk?


"Aku ingin bertanya, bagaimana kau bisa masuk..."


"Kau tidak mengunci pintunya"


"Ah"


Dia menunjuk kebelakang nya menggunakan jempol kanan.


Ah, waduh.


Bilamana mungkin...


"Jangan mengalihkan topik, jawab pertanyaan ku. Kenapa ruangan ini berantakan?"


Ruang tamu, sekarang seperti yang Futaba maksud, berantakan.


Sampah, pakaian, botol air minum bertebaran di sekitar ruang tamu. Jujur semalam aku melakukan apa sih? Perasaan aku cuman main game konsol doang.


"Yah, meskipun kau berkata seperti itu. Aku akan jujur bahwa aku tidak tahu apa yang terjadi...setidaknya"


"Hadeh..."


Mengatakan itu, Futaba mulai beranjak pergi dan membersihkan sampah yang dia lihat.


Melihatku duduk memperhatikan dia yang sedang membersihkan, Futaba menegurku.


"Jangan malah diam, bantu aku"


"Ah, baiklah"


Dan begitulah, aku mulai ikut membersihkan—


Hingga selesaipun itu bersih, aku merasa ada yang aneh.


"Kenapa bisa jadi berantakan begini ya?"


"Pakai nanya, kau lah yang membuatnya berantakan. Kenapa kau tidak bisa jujur?"


"Yah..." Aku menggaruk kepala selagi memikirkannya.


Mendengar Futaba mengatakan itu, aku merasa seperti seorang direktur yang tidak mau mengakui kesalahannya.


Apakah kejadian ini bisa di katakan misteri dunia?


"Misteri ruang tamu yang tiba-tiba tanpa di ketahui, kotor...cerita yang bagus"


"Kau bicara dengan siapa?"


Futaba menyangkalku.


"Oh iya, ada apa kau kesini? Kalau soal Mariko, dia tidak ada di sini. Dia pergi ke rumah kakek bersama bibi. Jadi sebaiknya kau cepat berangkat ke sekolah. Nanti terlambat"


Setelah lelah membersihkan, aku duduk di kursi dan memberikan saran pada Futaba yang selesai mengikat kantung berisi sampah.


"Sekolah? Ini masih liburan musim panas lho. Aku masih libur"


"Ah" Aku terkaku dan menunjukan senyum masam.


Oh iya benar juga...kenapa aku lupa?


"Kau bodoh ya? Apakah karena musim panas membuat otakmu meleleh atau karena kau belum sepenuhnya bangun? Aku tahu kau nolep, tapi sampai melupakan hari apa sekarang itu luar binasa"


"Aku bukan nolep! Setidaknya, aku rajin pergi sekolah. Kau sendiri, meskipun ini hari libur kenapa membawa tas selempang? Dan kenapa kau memakai seragam?"


Futaba duduk di kursi yang bersebelahan dengan ku dan meletakkan tasnya di lantai.


Setelah duduk di kursi, dia merengkangkan badannya hingga batas dan mulai mengoyangkan kakinya.


"Ada tempat yang ingin kukunjungi. Tapi sebelum itu aku ke sini dulu untuk bertemu dengan mu, kak"


"Denganku?"


Mengatakan itu, dia mulai memeriksa tas selempang yang dia bawa dan mengeluarkan sesuatu darinya.


Benda itu tidak asing...


"Kau tahu ini, Kak Manabe?"


"Itu!?"


Benda yang dia tunjukkan adalah sebuah surat. Surat dengan motif yang sama dengan surat dari Misaki sebelumnya.


Seketika aku mengambil itu darinya, dan melihat sampul surat itu. Tepat seperti yang aku kira.


"Tidak ada alamatnya..."

__ADS_1


Berapakali pun aku mencoba membolak-balik surat itu, tidak dapat aku temukan sama sekali di mana alamat pengirimnya. Di sana hanya ada nama pengirim dengan prangko dan motif aneh kaku.


"Masih tertutup rapat..."


Saat aku hendak membuka surat itu, Futaba dengan cekatan mengambil kembali surat itu dariku sebelum aku membuka lebih lanjut.


"Ah!"


"Tidak sopan membuka barang orang lain tanpa izin lho"


"Aku bahkan belum membukanya..."


Memeriksa apakah surat itu ada kerusakan, Fubata membolak-balik surat itu seperti yang aku lakukan sebelumnya.


Kemudian dengan santai, memasukkannya kembali ke dalam tas selempang itu.


"Kenapa kau juga memiliki surat itu, Futaba?"


"..." Futaba terdiam.


"Aku berencana bertanya padamu, Kak. Tapi sepertinya kau juga tidak tahu. Alasan aku datang kesini sebenarnya adalah, tugas. Aku mendapat tugas dari surat bahwa aku harus membantumu. Aku juga tidak tahu harus membantu apa tapi yang pasti seperti itu"


"Membantuku?"


"Iya"


Dia lanjut bercerita selagi menengkok ke jendela di belakangnya.


"Aku menerima 2 surat sekaligus. Yang 1 aku sudah baca. Yang 1 lagi adalah yang aku bawa saat ini dan tidak membukanya"


"Kenapa?" Aku bertanya.


"Yah, itulah isi surat pertama. Katanya, 'jangan buka surat kedua sampai saatnya, jika melanggar akan dapat hukuman' dan aku tidak tahu kapan itu"


Tidak asing. Tunggu, ada yang membuatku penasaran...


"Kapan kau menerima surat itu?"


"Hmm? Kalau tidak salah, hari kamis"


Sudah kuduga! Semuanya terhubung! Surat yang aku terima juga demikian.


Tugas yang diberikan harus di laksanakan tapi kalau melanggar atau tidak mengerjakan nya, maka akan dapat hukuman.


Surat kedua yang Futaba terima tidak akan hilang, karena itu memiliki tugas penting. Meskipun begitu, kalau di buka akan menerima hukuman.


Aku penasaran, jika aku yang membuka surat itu, apakah aku yang akan mendapat hukuman itu atau Futaba?


Oh iya, suratku...


Seketika tanpa sadar, aku menggenggam kantung celanaku.


"Hmm? Enggak ada?"


"Apa?"


Tunggu, kok enggak ada? Surat dari Misaki kemarin mana?


Aku langsung merunduk dan mencarinya di sela-sela kursi dan sudut.


"Lah? Hilang? Di mana?"


"Kau mencari apa?"


"Surat. Sama seperti itu. Aku menerimanya kemarin. Tapi sekarang hilang..."


Aku mulai menelusuri tempat sampah dan kantung sampah yang sudah di ikat Futaba.


"Oi, apa yang kau lakukan! Aku sudah membersihkan semua sampahnya!"


Tidak ada di sini juga...tunggu...


Sebelum juga seperti ini, saat pertama kali aku menerima surat Misaki. Saat aku mencarinya, surat itu menghilang.


Memikirkan itu, aku mulai ingat sebelumnya saat aku membaca surat kedua yang aku terima kemarin. Kalau tidak salah ada tertulis, 'surat akan menghilang dengan sendiri setelah tenggat waktu berakhir'


"!?"


Dengan bergegas aku menuju ke dalam kamarku, dan memeriksa isi tabunganku.


"10...20...30...kurang 900 yen! TIDAK!! AHHHHHHH!"


(Note: 900 yen setara kurang atau lebih 100.000 rupiah).


"Ada apa sih? Berlarian enggak jelas begitu dan tiba-tiba berteriak?"


Sesuai dugaanku. Dengan begini dapat di simpulkan bahwa surat pertama hilang karena batas waktu telah habis.


Lalu karena aku mengabaikan tugas entah apa itu di dalamnya dan membiarkannya gagal, aku mendapat hukuman. Aku ingat bahwa setelah itu aku mengalami kesialan beruntun, tersandung hingga terjatuh.


Dan kini karena batas waktu telah habis dan aku gagal lagi menjalankan tugas, surat kedua hilang dan aku mendapat hukuman yakni kehilangan 900 yen secara misterius.


Berarti bisa disimpulkan juga bahwa Futaba...


"Futaba, apakah setelah membacanya, surat pertama itu hilang?"


Aku bertanya untuk melengkapi kesimpulanku.


"Eh? Yah kalau kau bertanya seperti itu, aku rasa seperti itu. Setelah membacanya, surat itu hilang begitu saja. Aku mencarinya kemanapun, tapi tetap tidak mendapatkannya. Kenapa kau tahu?"


Dugaanku semakin jelas. Berkat kesaksian Futaba, aku mulai mengerti dengan misteri ini.


Aku mulai menjelaskan kesimpulan yang aku pahami pada Futaba.


"—Ah! Sekarang aku mengerti! Kalau tidak salah, dalam surat yang aku terima juga mengatakan itu!"


Kami berpindah ke ruang tamu lagi, dan aku menjelaskan sebentar padanya tentang semua yang aku tahu.


Sepertinya Futaba mendapatkan dua surat sekaligus dan telah membaca surat yang pertama.


Isi surat pertama berisi tugas untuk membantuku, disitu juga tertulis larangan membuka surat kedua sampai waktu yang tepat tiba. Meskipun begitu, waktu yang tepat itu maksudnya bagaimana?


"Kau sudah membaca surat pertama, kan? Lalu apa hukuman jika kau tidak melaksanakan tugas itu?"


Jika dia tidak membantuku, apa yang akan terjadi? Apa hukuman yang dia dapat?


Lagipula maksudnya membantu itu apa? Membantuku dari apa?


Tapi ketika kutanya demikian, Futaba malah berbalik dan memalingkan wajah dariku.


Hmm?


"T-tidak ada..."


"Hmm?"


Maksudnya?


"Maksudnya? Tidak ada? Kau tidak dapat hukuman apapun?"


Dia mengangguk ke arah lain selagi memalingkan wajahnya.


...


Oi, apaan itu...


"Futaba..."


"Iya?"


Aku berdiri dan berjalan menghampiri Futaba yang berbalik wajah.


"Kita gantian surat yuk"


"Ogah!"


Begitulah yang terjadi.


—Siang hari, dirumahku.

__ADS_1


Sampai akhir, aku tidak tahu apa maksud Futaba akan membantuku.


Aku lupa menanyakan itu dan tanpa sadar sekarang sudah waktu makan siang. Menyadari itu, Futaba langsung bergegas untuk pergi ke suatu tempat.


Tidak lama Futaba berada dirumahku.


Sebelum dia pulang, dia berpesan akan datang lagi saat hari kamis. Hari saat aku menerima surat baru lagi dari Misaki.


Dia juga berpesan padaku untuk menyelesaikan tugas terakhir yang belum kuselesaikan. Meskipun begitu, dia seharusnya tahu kalau tugas itu telah berakhir dan aku mendapatkan hukuman dari itu.


Meskipun dia menyebutnya tugas, tapi bagiku itu sudah berakhir dan aku tidak punya tugas setidaknya saat ini.


Saat Futaba menutup pintu, hawa sunyi langsung memenuhi seluruh ruangan dan meninggalkanku bersama bayanganku seorang.


Futaba kira-kira ingin pergi kemana dengan seragam sekolah dimusim panas? Apakah dia akan bersenang-senang? Mungkin ke kolam berenang? Pantai? Laut?


Merasa lelah berurusan dengan Futaba, aku membuang diriku ke kursi dan bersadar pada dinding.


...


"Menyapa..."


Aku tahu bahwa aku gagal sebelumnya, tapi apakah aku masih bisa melakukannya? Meskipun terlambat sekalipun?


Maksudku aku tidak punya kewajiban apapun lagi dan juga aku tidak punya tugas untuk dikerjakan. Lagipula aku terlambat mengerjakan tugas itu dan masa waktunya berakhir, ditambah aku dapat hukuman besar. 900 yen hilang.


Sebelumnya Chika tidak ada dirumah. Tapi sepertinya hari ini dia sudah kembali dari kota bersama ayahnya.


Barangkali begitu, tapi aku tidak punya niat untuk bertemu ayahnya. Sama sekali tidak punya niat. Maksudku, ayahnya Chika itu adalah kepala dojo.


Siapa yang tahu, mungkin dia punya pukulan yang lebih keras dari Chika.


Tapi...bagaimanapun juga...


Aku mendorong dinding sehingga aku bisa kembali tegak dan mulai berdiri di posisi.


"Kenapa aku harus menyapa dia?"


Dan mulai menggapai tuas pintu hingga pintu itu terbuka.


"Aku berangkat"


Dan mulai berjalan menuju rumah Chika selagi meninggalkan rumah tanpa siapapun.


"Tunggu, aku lupa topiku"


...----------------...


"—Hiro! Hiro! Hiro!"


Siang hari, depan gerbang dojo Hiroi. Seperti biasa.


Seperti kataku, terdengar suara nyaring dari dalam dojo. Seperti biasa.


Membutuhkan sekitar 2 menit berjalan kaki untuk sampai disini. Lagipula itu tidak terlalu jauh, maksudku rumahnya dekat dari rumahku.


Dojo Hiroi masih sedikit jauh dari pemukiman dan letaknya di dekat hutan. Tempat yang tenang, bukan? Bukan?


Seperti biasa, aku menekan tombol bel dan memastikan bahwa itu terdengar.


Aku juga ingin memastikan, alasan kenapa aku datang kesini. Aku juga tidak tahu kenapa.


Bukannya aku peduli dengan perjodohan atau tentang apa yang terjadi padanya. Bukan seperti itu.


Hanya saja...


...


Aku terdiam memikirkan apa yang aku lakukan ketika bertemu dengan Chika.


Lagipula, kau tidak perlu tugas untuk menyapa orang lain, kan?


Aku melakukan ini, terlepas dari kewajiban apa-pun, hanya keegoisanku semata.


Juga...


"Sesekali tidak masalah, kan?" Aku bicara sendiri.


Kemudian aku memasukkan tanganku kedalam saku karena merasa gugup.


Tepat pada saat yang sama, pintu terbuka dan muncul seseorang dari dalamnya.


"Eh?"


Wajahnya langsung cemberut seketika melihatku adalah yang ternyata menekan bel.


Tetap dengan wajah seperti itu, dia mendekatiku secara perlahan.


Oh iya, tidak ada suara manusia dari dalam bel tadi, berbeda saat bertemu dengan mamanya Chika. Kukira bel ini akan mengeluarkan suara, 'tunggu sebenar' seperti sebelumnya.


"Jadi, ada apa? Tumben...tunggu, ini pertama kalinya kau kerumahku...jadi ada apa?"


Dia menerangkan itu dua kali. Sepertinya suasana hatinya sedang buruk. Aku tidak tahu alasan dia cemberut, tapi aku datang disaat tidak tepat.


"Begini..."


Oh iya juga, apa alasanku datang kesini? Datang jalan kaki dari rumahku, hanya untuk menyapanya. 'Apa kau bodoh ya?' dia akan berkata seperti itu.


Aku mengeluarkan tangan kiriku dari saku dan menggaruk kepalaku. Aku gugup sekaligus bingung.


Untuk mengumpulkan keberanian, aku menarik napas dan menahannya sejenak hingga batas.


Setelah itu...


"Selamat malam, Chika"


"Eh?


"Ah"


Sial, aku salah ngomong! Aku ngapain sih!


"Selamat malam?" Chika memiringkan kepalanya.


Aku tidak sengaja mengatakan itu. Karena gugup, aku salah bicara dan mengatakan itu.


Disaat itu...


"Hahahahahahahaha"


"Ah"


Chika tertawa dengan terbahak.


"Kau kenapa? Apa karena panas membuat otakmu meleleh? Ah...tunggu, kau memang bodoh"


"Diam! A-aku cuman salah ngomong doang. Tidak sengaja!"


Sial! Aku menyesal datang kesini! Aku hanya buang-buang waktu!


Setelah puas membuat dirinya tertawa, dia menenangkan dirinya selagi menarik nafas.


"Haa, sekarang aku merasa lega...kemarin ada masalah dengan pekerjaanku, makanya aku kurang semangat hari ini. Tapi terima kasih"


Dia tersenyum padaku. Dari senyuman itu, aku mengerti apa yang terjadi.


Iya, senyuman itu adalah untuk menutupi apa yang sebenarnya terjadi. Soal perjodohan dan pekerjaan itu.


Dia berbohong padaku. Aku tidak tahu alasan kenapa dia berbohong padaku.


Tapi yang pasti...


"Argh! Kenapa kau memukulku tiba-tiba...!"


Di saat itu, aku pertama kali melihat Chika tersenyum dengan tulus.


"Selamat malam, Manabe"


Dan menyapaku selagi cahaya matahari menutupi sebagian kilau rambutnya di musim panas ini.

__ADS_1


__ADS_2