The Letter For Misaki

The Letter For Misaki
Bab 2 Part 1: Halaman satu adalah merangkai


__ADS_3

"Bang, kau sedang nganggur kan?"


Ada yang sedang menendang kakiku. Ketika terbangun dari tidur, aku menyadari bahwa ada seseorang yang sedang membawa buku.


Mendengar suara itu, aku langsung sadar siapa dia.


Dia berdiri tepat dihadapan ku dan menghalangi cahaya masuk dari jendela.


"Sekarang sudah mau hampir siang. Apa kau mau menghabiskan liburan musim panas dengan hanya tertidur...dan kenapa kau tidur dilantai?"


Aku tahu sekarang masih musim panas, tapi justru karena ini liburan aku tidak melakukan apa-apa.


Meski kemarin aku malah berduel dengan seseorang.


Dan lagi-lagi aku tidur dilantai, apa yang sudah aku lakukan? Apa yang terjadi?


Aku mengambil posisi duduk dari tempat yang sama dan mulai mengatakan sesuatu.


"Jadi, kau mau apa, Mariko?"


Aku berusaha menebak kali ini, dan ternyata benar. Seorang gadis dengan rambut panjang yang hitamnya sama dengan rambutku.


Menggunakan daster polosan putih, berusaha berdiri dengan tegak di tengah ruangan ini.


Satu-satunya adikku, Mariko Kawamura, tidak lain tidak bukan.


Selagi membawa buku dan pena disisi lain tangannya, datang tanpa aku tahu tujuannya kemari.


Aku berdiri dan kembali duduk di kasur, sebelum aku menyadari kasurku telah bersih seperti tidak pernah digunakan sebelumnya.


Apa dia yang membersihkannya?


"Bang, apa kau bisa membantuku mengerjakan pr?"


Tiba-tiba dia mengatakan itu selagi menunjukkan buku itu padaku.


"Apa kau anak SD yang tidak bisa mengerjakan pr sendiri? Mana kulihat, apa kah menggambar kegiatan selama musim panas?"


"Tidak. Apakah kau mengejek? Jika begitu, aku tidak akan segan untuk menghabiskan puding di kulkas"


Apa dia mengancam?


"Puding? Maksudmu yang warna hijau itu? Oh, aku sudah memakan semua, bahkan yang ada stroberi nya juga"


"Apa!?"


Tanpa peringatan apapun, dia langsung berlari keluar dengan cepat.


Dia kenapa?


Sebelumnya dia mengancam dengan makanan, tapi malah dia sendiri yang panik.


Ok, sekarang apa masalahnya? Pr musim panas?


Beberapa minggu lagi sebelum musim panas berakhir, kan? Aku tidak ingat pasti.


Aku membuka buku yang aku terima dari Mariko sebelum dia berlari entah kemana.


Dan mulai membaca beberapa bagian hingga sampai pada lembar yang terakhir dia tulis.


"Hmmm...penelitian luar angkasa dan pengamatan galaksi"


Itu tertulis sebagai judul, dengan font agak besar dan ditambah warna...dia anak SD?


Tapi, penelitian luar angkasa dan pengamatan galaksi?


Aku tidak menyangka mereka akan kepikiran untuk melakukan sesuatu yang seperti ini.


Tapi tetap saja, maksudnya apa ini?


Lalu aku kembali membaca judul pr itu dengan suara nyaring.


"Penelitian luar angkasa dan pengamatan galaksi"


Meskipun begitu, aku tetap tidak menemukan makna dan tujuan dari melakukan pr ini.


Apa ini bermanfaat? Lagian, bagaimana mereka melakukannya?


Yah, aku ingin protes ke Mariko. Tapi aku kembali mengingat isi surat kemarin.


Kalau tidak salah, 'Karena kamu gagal, hukumanmu adalah membantu adikmu untuk menyelesaikan pr musim panas sampai selesai'


Mau tidak mau, aku harus membantunya mengerjakan proyek penelitiannya.


Jadi, ini hukumanku karena berhasil membantu Chika lepas dari perjodohan itu?


Agak bagaimana, ya?


Oh iya, dimana surat itu? Kemarin aku jelas menaruhnya di meja ini.


Jangan bilang kalau itu menghilang karena kita telah menerima tugas, tapi yang kemarin itu hukuman. Itu sama saja, menghilang lagi.


Entah kenapa aku malah tidak panik.


Dan aku harus membantu Mariko sampai musim panas selesai?


Yang benar saja. Ini semakin menyebalkan.


Hmm?


Aku menyadari sesuatu pada keterangan proyek penelitian ini.


"Nama kelompok berisi...Mariko Kawamura...Ishikawa Dira...Tomoe Sanae...Futaba Hideo...Narukawa Obe"


Jadi, Futaba ikut campur juga disini?


Disaat itu, suara langkah kaki yang cepat semakin terdengar jelas bersamaan dengan suara lain.


"Bang! Kau pembohong! Puding itu masih ada dikulkas..."


"Woi, kenapa ada Futaba disini?"


"A-apa?"


Aku memotong pembicaraan dan mengalihkannya dengan pertanyaan lain.


Dia langsung tampak bingung selagi memiringkan kepalanya.


"Yah...karena dia temanku, itu sudah jelas. Lagian itu pembagian dari guru, jadi aku tidak bisa apa-apa"


"Oalah"


Yah, itu masuk akal. Kenapa aku bertanya, ya?


"Lagian, apa hubunganmu dengan Futaba?"


"Temanmu adalah temanku, itu saja"


Aku melempar buku itu pada Mariko dan langsung berdiri dari kasur.


"Jadi, apa yang harus kita lakukan untuk pr mu itu?"


Dan kemudian mengatakan itu dengan percaya diri.


Aku tidak tahu kenapa aku mengatakan itu dengan percaya diri.


Sebagai respon yang baik, Mariko mengangguk kepala dengan memegang pinggang.


"Eh!?"


"Apa?"


Mariko terkejut, wajahnya tampak begitu menggambarkan betapa terkejutnya dia.


"Dari awal aku sempat bingung, kenapa kau tidak menolak saat aku bertanya untuk membantuku. Apa karena kemarin kau berduel membuat kepalamu sakit. Lagipula, kau menantang karate itu mustahil. Sejak kapan kakakku yang nolep ini menjadi berani?"


"Aku tidak tahu maksudmu itu menghina atau bagaimana, tapi jika kau terus seperti itu, jangan tanya kenapa tugas mu mendapat nilai merah"


"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi! Jika itu terjadi, maka makan malammu adalah ikan gosong beserta sayur daun pepaya!"


Dan begitulah bagaimana aku mulai setuju untuk membantunya.


Meskipun begitu...


—Halaman rumah. Siang hari. Hari...


"Hari apa sekarang?"


"Hmm? Sekarang hari senin"


Hari senin seperti biasa saat musim panas. Dihari yang sama Mariko meminta bantuanku.

__ADS_1


Aku tidak tahu apa yang aku lakukan disini, tapi disekelilingku berkumpul empat orang anak SMP yang sibuk melakukan sesuatu.


"Bagaimana persiapan kamera?"


"Siap"


"Kalau lensa?"


"Aku membawa 2, tidak masalah kan?"


"Kalau aku membawa makanan"


Mereka sibuk melakukan persiapan untuk mengamati bintang.


Aku memperhatikan itu dan terlihat beberapa barang tersebar di permukaan rumput.


Ada beberapa lensa, teleskop, kamera, dua buku catatan dan kotak bekal makanan.


Aku tidak terlalu mengerti soal ini, tapi yang aku tahu adalah jika kita ingin melihat bintang, waktu yang tepat adalah malam hari.


"Hei, bukankah ini terlalu cepat untuk melihat bintang? Maksudku ini masih terlalu siang"


Aku menunjuk ke langit, seolah untuk menjelaskan bagaimana keadaan langit saat ini.


Salah seorang dari mereka berempat mengatakan sesuatu.


"Yah, kami tahu itu...kami cuman mengecek peralatan"


Gadis berkacamata yang terlihat seperti ketua ini, dengan tenang mengatakan itu padaku.


Dari tadi aku melihat dia dengan serius mengecek semua peralatan, seperti yang dia bilang tadi.


Kemudian gadis yang ada disebelah ketua itu, mengatakan sesuatu seraya menunjuk lokasi yang tampaknya cukup jauh.


"Kak, kau tahu tempat itu?"


"Tidak, kenapa?"


"Sama, aku juga tidak tahu"


"Bagaimana sih?"


Gadis ini aneh. Saking anehnya, membuatku tidak tenang terus berada disini.


Disisi lain dari mereka berdua, ada Mariko dan Futaba.


Mariko terlihat sibuk dengan teropong selagi beberapa kali melihat ke buku catatan.


Dia sedang merakit teropong. Aku baru tahu kalau teropong itu di rakit, biasanya aku kira itu langsung jadi dengan tripod.


"Apa?"


Mariko menggerutu ketika aku memperhatikan dia.


Aku mengalihkan pandanganku dari Mariko yang sibuk untuk sejenak melihat keadaan anak yang satu lagi.


"Telur...Nasi...Ikan..."


"Kau..."


Futaba berbalik dan secara aneh tiba-tiba menunjuk dirinya sendiri.


"Kau memanggilku?"


"Memang siapa lagi? Apa yang kau lakukan?"


Futaba sedang, anggap saja sibuk menjadi koki disini. Dia memperhatikan kondisi makanan yang ada.


"Eh? Aku sedang memperhatikan kondisi makanan, apakah lengkap...maksudku apakah hangat agar tidak menggangu nantinya. Aku khawatir jika ada salah satu diantara kita yang akan sakit perut"


"Bilang saja seperti itu. Bukankah isi bekal itu baru di masak sebelumnya? Juga, itu akan tambah mudah dingin jika kau terus membuka bekal itu. Lagian kau sudah makan siang, jangan berpikir untuk makan lagi"


Aku mengambil tutup bekal dan berniat menutup salah satu bekal yang ada di tangan Futaba.


Dengan hebat, dia menghindar.


"Aku koki disini, jangan ikut campur"


"Koki? Bukankah itu bekal dari mereka berdua?"


"Iya?"


"Kalau begitu, sini"


Futaba mengambil tutup bekal itu dan menutup bekal yang dia pegang.


Setelah itu, dia kembali menaruhnya ke dalam tas.


"Oh iya, kau sendiri apa yang kau lakukan disini?"


Dia bertanya padaku sesuatu.


Aku juga ingin tahu soal itu. Dari awal aku hanya datang disini tanpa tahu apa-apa.


Mereka semua melakukan pengecekkan peralatan yang akan digunakan.


"Hei, apa kerjaku"


Dari awal aku tidak mengerti, kenapa aku harus membantu pr Mariko? Apa yang perlu aku bantu?


Seperti seorang pekerja yang baru ditempatkan di kantor barunya, aku bertanya pada Mariko yang mengetes tripod teleskop.


"Oh iya bang, aku senang kau berkata seperti itu. Aku ingin kau melakukan sesuatu untukku"


"Apa?"


"—Ayo! Kau pasti bisa kak!"


"Sedikit lagi, pasti bisa"


"..."


"Masa begini saja kau tidak bisa, bang?"


Aku tidak menyangka kalau ternyata menaiki gunung itu akan sesulit ini.


Itu akan terjadi jika kau harus memikul beban hampir sekitar 5kg sekaligus menaiki gunung di tengah musim panas!


Hampir tidak ada tanda bahwa akan mendung sedikit pun!


"Ayo kak!"


"Berisik!"


Futaba mengoceh didepanku.


Persis seperti yang aku sebutkan, aku memikul beban yang berisi semua perlengkapan untuk pengamatan.


Itu sudah termasuk dengan teleskop dan lensa.


"Hati-hati kak, kau sedang membawa benda berharga. Kita tidak akan makan malam jika itu rusak"


Bahkan bekal makanan, tentu.


"Bahkan jika kita terburu-buru, masih banyak waktu yang tersisa. Jadi kita hanya perlu berjalan santai menuju ke puncak"


Kami berencana melakukan pengamatan dipuncak bukit.


Jarak bukit tidak terlalu jauh dari rumahku, itu bukan masalah.


"Puncak ya..." aku bergumam sendiri.


"Bukannya kita akan ke gunung?" kata gadis yang sebelumnya menunjuk gunung selagi menunjuk gunung yang sama ke arah kiri.


"Kau pikir, kita akan mendaki gunung di musim panas begini, Sanae?"


"Aku berpikir begitu" Jawabku bersamaan dengan gadis yang sebelumnya bertanya, Sanae.


Seperti aku keliru bahwa ketua kelompok ini adalah Mariko. Meski yang cocok seperti itu adalah gadis kacamata itu.


Aku sudah melihat gadis kacamata itu mengatur beberapa hal persiapan, selagi Mariko hanya mencoba merakit teleskop.


Futaba menjelaskan itu padaku selagi kami mulai bersiap berangkat sebelumnya.


Gadis yang satu bernama Sanae, kan?


Berarti gadis kacamata ini...


"Kamu Ishikawa, kan?"


Tepat dibelakang ku masih ada seorang lagi yang dari tadi terdiam. Aku mencoba mengajaknya bicara.

__ADS_1


"Iya, ada apa?" Jawabnya dengan tenang.


Tebakanku benar. Sayangnya aku ingin berbalik, tapi sulit karena tas ini berat.


"Kau temannya Mariko, kan?"


"Bukannya sudah jelas?" Jawabnya dengan tenang lagi.


Sekali lagi aku bertanya, "Bagaimana Mariko ketika disekolah?"


Aku sempat ragu untuk menanyakan ini karena aku merasa ini sedikit bersifat privasi. Tapi pada akhirnya tetap menanyakan ini.


Bahkan tidak ada respon dari Mariko yang berada di paling depan barisan ini.


"Yah..." Ishikawa memberi jeda beberapa detik, tampak mengingat sesuatu.


"Mariko baik-baik saja disekolah. Nilainya juga lumayan bagus. Dan dia juga anggota OSIS"


"OSIS?"


Lanjut Ishikawa, "Mungkin kau tidak percaya, tapi dia itu salah satu siswa teladan disekolah"


"Aku tidak percaya"


Aku langsung memberi komentar.


"Aku tidak percaya"


Sekali lagi, aku mengatakan itu hingga jelas dia dengar.


Seperti mendengar sesuatu yang seru, Futaba yang berada tepat di depanku merespon pernyataanku.


"Heee, apakah benar kau tidak percaya soal hantu bukit ini kak?"


Dan dia mulai mengatakan hal berbeda.


"Berbeda dengan Mariko, Futaba sedikit bodoh dan selalu tertidur dikelas. Paling buruk adalah dia tidak pernah mengerjakan piketnya disekolah. Ketika aku menyuruhnya untuk membuang sampah, dia malah membuangnya bersama dengan tong sampah itu. Dia suka menyontek ketika ujian dan selalu menyalin tugasku"


Ishikawa menjelaskan bagaimana Futaba itu ketika disekolah.


Nampaknya Ishikawa memiliki masalah dengan Futaba.


"Apa maksudmu bodoh? Dari awal kalian membicarakan apa?"


"Kami tidak membicarakan apapun. Hanya seseorang yang belum mengembalikan buku catatanku dari semester satu"


"Jangan menuduh seseorang tanpa bukti. Aku sudah mengembalikan buku itu saat kau datang berkunjung kerumahku saat aku sakit"


"Justru karena itulah aku berkunjung ke rumahmu"


"Hei, aku ada disini, bisa kalian berhenti?"


Aku mencoba merelaikan pertengkaran diantara mereka.


—Daratan lepas berada dipuncak bukit.


"Kita sampai!"


Meskipun begitu, sekarang sudah sore dan hampir sedikit malam.


Kami telat berangkat sepertinya.


Tapi ada hal yang membuatku kebingungan sesampainya disini.


"Kalian telat datang ya. Aku sudah menunggu disini dari tadi pagi"


"Benarkah?"


Ada laki-laki yang tidak diundang disini.


"Siapa dia?"


Aku menunjuk orang itu dan bertanya pada Ishikawa yang berada paling dekat denganku.


"Dia salah satu anggota kelompok ini, Narukawa Obe. Dia ditugaskan untuk mempersiapkan kemah"


"Lalu untuk apa aku membawa kemah juga?"


Hadeh, capek rasanya setelah sampai disini.


Aku meletakkan tas berat itu disisi pohon yang agak jauh dari kemah yang sudah di dirikan.


Kemudian duduk bersama dengan tas berat itu selagi bersandar bersama di pohon.


Aku menutup mataku.


Kemudian menarik napas yang dalam. Merasakan sejuk udara bukit dan hempasan angin dari segala arah.


"Ini belum saatnya untuk istirahat, lho"


Suara itu membangunkanku, dan disana terdapat Mariko yang tampaknya sedikit lelah dari mendaki.


"Kau belum memasang kemahnya lho"


"Kemah? Lah, terus yang itu? Apa itu? Kandang?"


"Kemah untuk kalian berdua"


Berdua?


Mariko menunjuk kearah anak laki-laki yang dari jauh tampak sibuk mengumpulkan ranting ke satu titik.


Dia satu-satunya laki-laki disini selain aku.


"Kemah untuk kalian berdua. Kau pikir Obe akan tidur dengan anak perempuan lainnya?"


Lalu kenapa kau mengundangnya kesini?


Apa alasanku kesini adalah untuk menjaga tingkah anak yang bernama Obe itu? Ataukah mereka takut karena hanya ada satu laki-laki?


Aku tidak tahu bagaimana ini akan terjadi nantinya.


Aku membuka ransel selagi masih bersandar dengan pohon. Sementara itu, Mariko pergi dari pandanganku.


Bersamaan dengan terbenamnya matahari, bersamaan dengan datangnya malam.


Aku agak kesulitan melihat isi tas dengan baik dengan konsisi penerangan yang buruk.


Tapi sebelum itu, dimana aku memasang kemah ini? Apakah berdampingan dengan kemah mereka? Ataukah sedikit jauh?


"Ada yang bisa aku bantu"


Suara dari sesuatu mendekatiku dan perkataan itu muncul setelahnya. Seseorang muncul menghalangi matahari sore selagi aku sibuk mengeluarkan isi tas.


"Siapa kau?"


"Aku Narukawa Ode. Senang bertemu denganmu"


Dia mengulurkan tangan, berharap bersalaman denganku.


Sebaliknya aku memberinya palu kecil dan berkata.


"Senang berkerja denganmu, Ode-kun"


"...Baik..."


Sepertinya aku sudah menemukan semua yang dibutuhkan. Tinggal menentukan tempat untuk memasang kemah.


Seperti bisa membaca pikiranku, Ode kemudian menunjuk lokasi kosong yang agak jauh tapi tidak terlalu jauh juga.


"Bagaimana kalau disana?"


"Sepertinya begitu"


Aku menyeret tas berat mendahului Ode menuju tempat itu. Ode menyusul dengan pelan.


"Aku kira hanya aku satu-satunya laki-laki disini sebelum kau akhirnya datang kesini" Ode bertanya untuk mengisi kekosongan dialog.


"Aku juga berpikir seperti itu" Aku tersenyum masam sendiri.


Lucu untuk membayangkan bahwa adik perempuanmu meminta bantuan untuk mengerjakan pr kelompok mereka yang isinya perempuan semua saat mereka semua sudah SMP.


Selagi aku berpikir tentang itu, dari sisi lain datang Mariko dengan berlari.


"Apa lagi? Aku mau pasang kemah ini"


Wajahnya tampak sedikit cemas dan khawatir.


Dengan napas yang tidak tenang, dia mulai mengatakan sesuatu.


"Futaba menghilang!"

__ADS_1


__ADS_2