The Lost Harmony

The Lost Harmony
Chapter 1


__ADS_3

Aku kembali ke kamarku dengan mata


bengkakku. Tentu saja Yui akan memarahiku, bahkan dia terus berteriak akan


mengeksekusi Arthur karena telah membuatku menangis. Karena aku malas mendengar


teriakkan Yui aku pun berbaring di tempat tidur yang empuk. Namun, aku tidak


bisa tenang, aku harus menyelamatkan Arthur. Aku tidak mau kehilangannya untuk


yang kedua kali.


Kalau dipikir-pikir saat dewasa


Arthur dikenal dengan musisi yang hebat, bahkan ia memiliki banyak fans. Dan


bakatnya itulah ia pernah diundang ke kerajaan Canpel untuk mengisi acara ulang


tahunku. Tapi karena hal itulah semunya terbongkar. Saat itu aku bertemu


dengannya di taman bunga dan kami berbincang banyak hal namun, aku tak


menyadari kalau Ayah ada disana. Dan akhirnya Ayah membenci Arthur, bahkan tak


segan ia menghancurkan karir Arthur. Dan bodohnya saat itu aku hanya bisa diam,


padahal aku kesatria yang pernah memenangkan perang saat usiaku masih muda.


Namun, itu tidak akan terulang kembali. Aku akan menjadi kesatria yang paling


kuat dan aku akan menjaga Arthur dan jika bisa aku akan membunuh Pangeran


Ganymade Ranzen de Priton, karena dia adalah orang yang dipercaya ayahku dan


calon tunanganku.


“Yui, tolong ambilkan aku kertas dan tinta!”


    “Baik Nona” segeralah Yui pergi keluar untuk mengambil benda yang ku perintahkan. Hanya perlu beberapa menit saja, ia sudah membawa benda tersebut dan menyerahkannya kepadaku.


“Apa yang ingin anda lakukan?”


    “Menulis surat yag rahasia. Oh ya, bisakah tolong ambilkan beberapa cemilan? Aku lapar”


    “Baik Nona. Oh ya Nona, ada kabar dari Tuan katanya beliau akan makan malam dengan


Anda nanti”


    “Baiklah, nanti aku akan bersiap siap.”


Setelah Yui menyiapkan cemilan, aku


pun memintanya untuk keluar dan mengerjakan pekerjaan lainnya. Sementara itu aku disibukkan dengan merangakai semua peristiwa yang terjadi. Sebenarnya aku


bingung kenapa aku bisa kembali ke masa lalu, apa yang sebenarnya terjadi? Apa


Tuhan mengabulkan doaku dan memberikan kesempatan kedua? Entahlah, aku juga


tidak faham. Yang penting sekarang tujuan utamaku, menyelamatkan Arthur.


Sekarang umurku 10 tahun, 8 tahun sebelum kejadian itu. Dan aku akan berpisah dengan Arthur karena aku


diperintahkan menjadi jendral dan memimpin perang melawan Exzebrn, negera di


sebelah barat saat umurku 15 tahun dan hal tersebut adalah sejarahku sebagai


jendral termuda dalam perang. Maka urutannya seperti ini.


Umur 10 tahun adalah 3 tahun aku mengenal Arthur, menjelang umur 11 terjadi beberapa peristiwa yang tak ingin


kubahas karena itu berkaitan dengan perang antar wanita yang tidak ada gunanya.


Saat aku berumur 12 tahun, Arthur sudah mencapai ke populerannya sebagai


seorang musisi dan aku juga menjadi seorang kesatria perempuan yang telah


memiliki pasukan sendiri.


Saat ulang tahunku yang ke 14 Ayahku mengadakan pesta


besar besaran dan mengundang Arthur untuk menjadi pengisi acara dan disaat


inilah semuanya terbongkar. Satu tahun kedepannya adalah hari kehancuran karir


Arthur, semua itu adalah ulah Ayahku. Namun, Arthur tak pernah menyalahkanku


ataupun membenciku dan itu membuat hatiku teriris karena tidak bisa


membantunya. Akhirnya di umurku yang ke-15, Ayah mengirimku ke medan perang


selama tiga tahun aku berpisah dengan Arthur. Di tahun kedua sejak mulainnya


perang aku sudah tau bahwa Ayah mengusir Arthur. Dan saat aku kembali aku


mendapatkan surat dari Arthur, aku kira aku akan bertemunya dan pergi melarikan

__ADS_1


diri agar tidak diganggu oleh siapapun. Namun, nyatanya semuanya tak seperti


kemauanku.


‘Sepertinya ini akan sangat rumit


dan sebenarnya siapa Pangeran Ganymade itu?’ batinku


***


Saat ini tepat jam makan malam.


Tentu saja aku harus berdandan rapi karena Ayahku akan makan bersamaku, setelah


sekian lama beliau pergi karena urusan politik dan kini akhirnya kembali.


“Bagaimana


keadaanmu selama aku pergi?”


“Semuany baik baik saja tidak ada yang spesial. Sama seperti biasa.” Ucapku


datar. Ia pun menghela nafas,” Baiklah


kalau begitu.”


“Lalu bagaimana dengan kerjasamanya?”


“Semuanya


berjalan lancar, Kerajaan Lancer menerimanya dan semua ini berkat Pangeran


Priton.”


“Oh begitu.”


“Clara, aku ada kabar baik untukmua.” Aku hanya menatap Ayahku penasaran.


“Apa itu?”


“Pangeran Ganymade berencana melamarmu dan tiga bulan kedepan kau akan menjadi tunangannya.”


Hampir saja aku tersedak karena


mendengar pernyataan itu. Ini di luar prediksiku! Kenapa alurnya berubah.


“Bagaimana? kau senang bukan? Pangeran Ganymadenadalah orang yang cerdas, bijaksana dan


juga sangan ramah. Dan beliaulah raja selanjutnya. Apa-“


“Sepertinya makan malamnya sampai disini, aku lelah Ayah. Aku akan kembali ke


kamar.” Tanpa mendengarkan izinnya aku segera pergi meninggalkan ruang makan.


Sebenarnya aku begitu terkejut,


bagaimana semuanya bisa berubah secepat ini. Baru saja aku kembali dari


kematian, bertemu Arthur dan kini tiba-tiba saja dia melamarku.


“Ganymade  Ranzen de Priton, aku sangat membencimu.”


Ucapku


Segera aku masuk kamarku dan


menguncinya.


***


Di luar rumahnya tepatnya di atas


pohon yang besar terdapat seseorang yang mengamati Clara.


“Sepertinya kau sangat menarik.”


“Aku tak sabar memilikimu, tuan putriku.” Ucapnya yang kemudian menghilang dari


kegelapan.


***


Keesokan harinya adalah hari yang


membosankan untukku. Berlatih pedang membuatku amarahku semakin membara dan


semua orang menjadi sasaran amukanku.


“Akh kepalaku pusing!” ucapku sambil menggerutu.


”Apa kau ingin jalan jalan untuk menenangkan pikiran.” Aku menoleh asal suara


tersebut. Ku lihat seorang laki laki berabut hitam dengan iris mata merah


sepekat darah.

__ADS_1


“Siapa kau” ucapku yang langsung berdiri.


Ia tersenyum, “Tenanglah, aku bukan


orang jahat dan panggil saja aku Ganymade”


Seketika aku terkejut, dan itu


hampir membuatku menyodorkan pedang terhadapnya.


“Maafkan atas ketidak sopananku pangeran. Salam untuk pangeran Sang Matahari” ucapku


sambil memberi salam.


“Tidak perlu formal begitu padaku.”


Aku hanya tersenyum, “ Bagaimana


bisa saya selancang itu.”


“Baiklah, apa kau mau jalan jalan bersamaku?”


“Sungguh kehormatan untuk saya.”


Aku pun menerima ajakannya walaupun


terpaksa, mana mau aku bersama pembunuh kekasihku.


Kami pun akhirnya pergi ke taman dan


melihat banyak bunga mawar yang bermekaran dan merasakan hembusan angin yang


sejuk dengan kicauan burung yang saling bersautan. Namun, sudah beberama menit


kami berjalan , suasananya masih sangat canggung. Lagi pun aku tidak mau


berbicara panjang lebar dengannya.


“Bunga mawarnya indah bukan?” ucanya berusaha memecah kecanggungan antara kami berdua.


“Iya” balasku singkat


“Cantik sama sepertimu.” Sambungnya.


Rasanya aku ingin muntah mendengar


ucapannya itu.


“Terima Kasih, saya memang cantik dan juga sangat berbahaya.” Ucapku yang


langsung mendahului langkahnya.


“Kau marah?”


“Hanya orang bodoh yang marah karena dipuji seorang pangeran yang tampan.”


Sepertinya aku harus mengutuk ucapanku ini. Ia kemudian mendekatiku dan menarik


pergelangan tanganku dengan lembut, membuatku masuk ke dalam pelukan hangatnya.


Tentu saja aku bisa mencium bau tubuhnya.


“Apa yang Pangeran lakukan?!” ucapku sambil memberonta dari pelukannya. Tapi,


semakin aku berusaha untuk lepas, semakin erat juga pelukannya.


“Kenapa? Apa kau tidak suka? Bukankah sebentar lagi kau akan menjadi milikku.”


Dengan berusaha sekuat tenaga


akhirnya aku lepas dari pelukannya itu.


“Dengarkan ini Pangeran, aku masih menghargaimu namun, ingat satu hal. Wanita bukanlah barang yang bisa dimiliki begitu saja, mereka punya perasaan. Mereka juga bukan sebuah boneka yang hanya memuaskan nafsu pria.” Ucapku yang langsung pergi


meninggalkannya.


Namun, ia mencegahku. Pergelangan


tanganku di pegangnya erat dan terasa sangat sakit.


“Lepaskan aku!”


“Kau hanya wanita lemah, bisa apa dirimu? Sebentar lagi kau akan menjadi milikku dan


kau tidak bisa lepas dari takdir itu.”


Tatapan matanya begitu menegrikan,


seperti seorang yang haus akan darah.


“Dengarkan! Aku tidak akan mencintaimu, seorang yang hanya bisa kasar terhadap


wanita.” Aku langsung menepis tangannya dan pergi menjauh.


“Sikapmu tak seperti umurmu.” Ucapnya yang masih bisa ku dengar.

__ADS_1


__ADS_2