
Aku kembali ke pavilium bersama Yui menaiki griffin miliknya. Aku yang bingung dan
tak tau harus melakukan apa, hanya terdiam menurut padanya. Tubuhku kali ini
serasa tak bernyawa, terombang ambing begitu saja di lautan tanpa arah bahkan
tujuan. Walaupun terdapat lentera yang ingin menerangi langkahku namun,
terdapat ribuan kegelapan yang menutupinya.
*Bulan bersinar terang, ku lihat cahya yang indah
Ku lihat wajahmu tergambar
Kau tersenyum, membawaku pergi dari kegelapan
Membawaku melintasi dunia
Memberikan ku harapan
Kau ciptakan harmony baru saat yang lama hilang
Dan ku terus bernyanyi bersamamu
Menyaksikan kejamnya dunia
Namun aku bahagia dapat bersamamu
Nada yang dulunya tak pernah tersusun, menghilang bagai puzzel
Kini satu persatu kembali tersusun membentuk harmony yang indah
Bersamamu semuanya terjadi
Bersamamu………..
Aku akan terus mencintaimu*
Dalam hati aku menyanyikan lagunya, lagu yang ia tinggalkan khusus untukku. Namun, hal yang menyesakkan bagiku adalah aku
harus menyaksikan kejamnya dunia sendirian tanpamu, dan jika aku bahagia tapi
bahagia tanpamu. Saat nada itu telah tersusun kembali kau malah menghilang,
kini harmony itu tidak lengkap kembali. Kenapa?
“Kenapa kau selalu meninggalkanku
duluan?” gumamku pelan.
Aku lelah menangis hingga membuatku tertidur lelap dan aku kembali menikmati mimpi yang penuh dengan kehampaan.
\*\*\*
Pagi hari datang begitu cepat, serasa baru beberapa menit aku tidur. Aku kembali
menatap langit lewat jendela kamar. Terlihat hampara bunga yang berwarna warni
seperti tersenyum menyambut mentari, kicauan burung pun bersautan layaknya
sedang bernyanyi.
Kali ini aku hanya bisa menghela nafas, semuanya hancur begitu saja padahal baru
saja dimulai. Kadang aku membenciNYA yang selalu membuatku menangis merasakan
kehilangan orang yang kusayangi walaupun begitu, aku masih sadar aku tidak bisa
menentang. Karena semua ini memanglah takdirku. Takdir dimana aku harus
kehilangan orang yang kusayangi untuk kedua kalinya. Tapi aku tetap berterima
kasih karena diberikan kesempatan untuk yang kedua kalinya.
Kini waktuku untuk menerima kematiannya dan mencari siapa dalang dari semuanya. Awalnya aku marah terhadap ayahku, karena ku pikir dialah pelakunya namun, aku sadar
bukan dia karena saat ini dia belum tau siapa Arthur. Dan untuk Ganymade, entahlah aku masih bingung tentang dirinya. Mungkin saja dialah dalangnya.
“Nona, sudah waktunya.” Ucap Yui
memasuki kamarku sambil membawa gaun hitamku.
“Tentu Yui.”
Hari ini adalah hari kematian kekasihku, walau hanya aku yang datang kepemakamannya aku ingin tampil cantik untuk membuatnya tak melirik orang lain.
“Nona, apa kau baik baik saja?”
aku segera menghapus air mataku yang tiba tiba saja keluar.
“ Tenanglah aku baik baik saja,
tolong dandani aku secantik mungkin.”
“tentu saja nona.”
Setelah Yui selesai mendandaniku, aku menyuruhnya menunggu di luar dan segera mengambil kotak yang diberikan Arthur. Kotak yang berisi bunga Lycoris Radiata namun, aku menyebutnya Red Spider Lily. Bunga itu kini menghiasi rambutku. Aku menatap cermin melihat sosok perempuan dengan gaun hitam dan rambut pirang yang
disanggul dengan bunga Lily itu. ‘Aku memang menyukai bunga Lily tapi bukan
yang ini.’ Batinku
“Sepertinya kau tidak cocok dengan
warna rambut ini, sangat jelek. Apalagi matamu yang menjijikkan, biru laut yang
sangat terang.” Ucapku menatap tubuhku didepan cermin.
Aku menggumamkan beberapa mantra dan dalam sekejap aku melihat sosok baru terpantul di cermin. Seorang perempuan berambut hitam dengan iris mata berwarna merah darah, yang memiliki tatapan mata sangat tajam.
“Ini cocok untukku” aku memanggil
Yui dan menyuruhnya menyiapkan semuanya untuk keberangkatanku.
Aku tau ia terkejut melihat perubahanku namun, inilah aku yang sekarang. Yang dulu
biarlah terkubur rapat bersama dengannya.
***
3 tahun kemudian…
Sekarang aku berumur 13 tahun dengan menyandang gelar Duke, gelar urutan ketiga setelah Emperor dan King. Memiliki pasukan sendiri yang memiliki julukan Autoria dengan
lambang pasukan dua pedang bersilang yang dihiasi bunga lily yang melilitnya dan ditengah pedang tersebut terlihat seekor rubah ekor sembilan. Lambang yang mengingatkanku akan keberadaannya yang telah menghilang.
Semuanya berjalan begitu cepat, setelah semuanya terjadi begitu saja. Ternyata benar,
aku tidak bisa melupakan keberadaanya namun, aku juga tidak bisa menggapainya.
Mungkin hanya bisa menatapnya saat malam tepat di bulan purnama.
“Tapi.. terima kasih Arthur, kau
akan selalu ada bersamaku dan pasukanku.” Gumamku.
“ Maaf mengganggu anda Duke, sir.
Worn dan sir. Castel menunggu anda di tenda.”
“Baiklah aku akan kesana nanti.”
Perajurit itu pun meninggalkanku.
Aku segera pergi ke tenda komandan dan tepat setelah aku masuk, terdapat Worn dan
Castel yang tengah menungguku.
“Lama sekali, apakah kau mulai
menjadi lambat sama seperti perempuan lainnya?” ucap Worn begitu santai. Worn
adalah jendral pasukan 1 dan ia memiliki kepribadian yang sangat buruk begitu
pun dengan ucapannya yang tidak bisa difilter namun, ia memiliki sisi lembut
dan orang yang sangat setia.
“Worn kau selalu kurang ajar pada
Clara.” Balas Castel. Castel adalah jendral pasukan 3 dan ia seorang yang
sangat lembut namun, akan berbeda saat di medan perang. Ia akan berubah seperti
orang yang haus darah, sangat dingin dan memiliki mata yang tajam yang selalu
mengetahui semua gerak gerik musuhnya.
Yah…mereka berdua adalah sahabatku. Setelah Arthur pergi aku mulai mengubah diriku dimulai dari penampilanku. Aku pun mulai melatih kemampuan dan mengikuti
beberapa perang saat itu. Hingga kaisar Hogwar, ayah Ganymade pun memberikanku
gelar ini.
Aku hanya menanggapi mereka dengan tersenyum saja.
“Sekarang ada perlu apa kalian
menggangguku?”
“Tentu saja ada kabar yang buruk,
mungkin sangat buruk atau yang terburuk.” Ucap Worn.
“Apa itu?”
__ADS_1
“ Kaisar memerintahkan kita untuk
secepatnya melenyapkan para pemberontak tersebut dalam 5 hari. Sebenarnya ini
tidak masalah tapi-“ ucap Castel mdenggantung.
“Katakan saja.”
Ia pun menghela nafas, “Setelah itu kita diperintahkan untuk menyerang Uzber bersama pasukan Lainton.”
Aku pun menghembuskan nafas dengan kasar, “ Lakukan saja”
“Baiklah.”
“Lalu kapan kita menyiapkan
strategi untuk melenyapkan mereka?” tanya Worn.
“Untuk apa berunding lagi, mereka
sudah lenyap malam ini.” Ucapku dengan seringai iblis.
“Yah sepertinya kau menggunakan
cara itu.” Ucap Worn dengan tertawa.
“ Kalau begitu, apa kau tidak mau
menyaksikan tontonan menarik malam ini?
“Tentu saja Worn, mari kita
menyaksikannya.”
“Benar benar deh, kalian ini sama
saja dengan iblis.” Ucap Castel
“Memang kau tidak?” ucap aku dan
Worn serentak. Castel pun menanggapinya dengan senyum malu malu.
\*\*\*
Tepat tengah malam kami mengendap endap ke sebuah tebing dekat perbatasan sambil
menggunakan sihir meringankan tubuh dan sihir tidak terlihat. Setelah sampai
disana kami segera duduk santai dan melihat pertunjukan malam itu.
Tak butuh waktu lama, terlihat cahaya kemerahan dari ufuk barat dimana tempat
markas mereka berada. Dalam hati aku mengucapkan selamat tinggal, siapa suruh
berurusan dengan kekaisaran Negeri Lansen.
Setelah menyaksikan pertunjukan itu kami segera mengecek keadaan disana. Tentu saja
memastikan semuanya telah lenyap. Tapi kami masih punya hati, masyarakat yang
tinggal disana telah kami amankan dan yang tersisa hanyalah para pemberontak
itu. Maka dari itu kami bebas membakarnya.
“ Apa kalian sudah mengecek
semuanya?”
“ Siap! Semua sampah telah
dibinasakan.” Jawab Worn.
“ Baiklah ar-“ suaraku berhenti
seketika mendengar suara seseorang yang tak jauh dari posisi kami saat ini.
“Kau mendengarnya Clara?”
“ Tentu saja, mari kita lihat
suara siapa itu.”
Kami segera bergegas mengikuti suara itu. Suara yang serak seperti suara laki laki
membawa kami mengarah ke sebuah pintu rahasia tepat di dekat menara lonceng.
Sebenarnya aku sedikit ragu memasukinya, bagaimana tidak? Bisa saja ini
jebakkan.
“ biar aku saja.” Ucapku.
Mereka pun mengangguk dan kemudian menjaga pintu utama menara. Aku segera mengucapkan mantra api untuk membuat ruangan ini terang. Perlahan lahan terlihat tangga menurun yang sepertinya mengarah ke ruangan bawah tanah. Perlahan lahan aku
menuruni tangga dan lama kelamaan suasananya semakin sunyi dan hanya terdengar gema dari langkah kakiku. Semakin ke dalam aku mencium bau amis yang sangat
Aku pun berhenti ketika aku menyadari jalan ini tidak memiliki ujung. Bagaimana
bisa suara minta tolong itu bisa terdengar dengan jarak sejauh ini? Sebenarnya
aneh, tapi entah kenapa aku semakin penasaran.
“ tolong! Siapapun tolong aku.” Suara itu terdengar lagi.
Tap!.......
Tap!......
“ apa ada orang? Kumohon tolong
aku.”
Aku masih tetap melangkah diselingi teriakan orang itu yang sangat gembira.
Akhirnya tak lama kemudian aku menemukan ujungnya yang tertutup sebuah pintu
kayu yang sudah lapuk dan sepanjang 1 meter dari pintu tersebut berjajar mayat
yang tampak gosong terbakar api. Terlihat wajah mereka sudah meleleh seperti
lilin dan terlihat daging berwarna merah menyala dengan tulangnya yang tampak
jelas. Aku segera mengucapkan mantra untuk memadamkan api dan membuka pintu
kayu itu. Dari jarakku saat ini aku mencium bau amis yang membuatku benar benar
mau muntah. Dengan sihir juga aku memberanikan diriku masuk ke dalamnya.
Saat kakiku melangkah masuk aku merasakan cairan dingin yang kental. Dengan jentikan tangan ruangan itu menjadi terang. Satu hal yang membuatku terkejut. Ruangan
yang ku masuki ini seperti kolam darah dan mayat. Dimana di setiap penjuru
berjajar potongan tubuh manusia yang telah dimutilasi dan sebagiannya lagi
digantung tepat di atasku.
“ Dimana kau?” ucapku.
Seketika sunyi tidak ada jawaban, apa dia sudah mati?
“ Di dalam peti kayu!”
Aku segera mencari benda yang dia bilang. Yah aku menemukan peti itu tepat
ditumpukkan 5 mayat yang sudah tak terdefinisikan lagi rupanya. Kemudian aku
menarik petinya dan menghancurkan gemboknya. Saat peti itu terbuka aku melihat
lelaki berambut perak dengan baju compang camping tertidur memeluk kedua
kakinya.
“ Bangunlah! Apa kau takut?”
Ia kemudian mengubah posisinya, dengan masih terduduk di peti ia menatap lekat
mataku. Aku melihat matanya berwarna merah darah yang tertutup dengan rambunya.
Sekilas ia mengingatkanku dengan seseorang.
“ apa kau baik baik saja? Kenapa
kau disini.” Ia tak menjawab pertanyaanku. Malahan ia kelihatan mencari
sesuatu. Saat ku tanya kembali ia malah berlari ke sebuah tempat.
“ hei mau kemana?!” aku pun
mengikutinya, ia menuju ke sebuah pintu dibalik tumpukan mayat yang menggunung.
Ia berusaha membuka pintu itu namun ia tak memiliki tenaga untuk melakukannya.
Mantra segera kuucapkan dan membuat pintu itu terbuka, laki laki itu dengan cepat
memasuki ruangan itu. Saat aku mencoba masuk, terlihat dia berlutut sambil
menangis di hadapan seorang anak perempuan berpakaian putih yang penuh dengan noda darah yang tengah tergantung. Sepertinya itu adalah keluarganya. Aku
memotong tali gantungnya dan menangkap mayat gadis kecil itu.
“ apa kau tak ingin
menguburkannya? Ikutlah denganku, aku bukan kelompok dari mereka.”
Laki laki itu hanya mengangguk dan menuruti perkataanku.
__ADS_1
“ Apa tidak ada lagi ?” ia
menggelengkan kepala.
Kami pun segera keluar dari tempat tersebut namun sayangnya dia tidak kuat lagi
berjalan dan akhirnya pingsan.
\*\*\*
Mentari kembali menampakkan diri menyambut pagi yang indah, aku terbangun tepat disamping laki laki itu. Saat aku melihatnya ternyata ia masih tertidur atau
tepatnya dia pura pura tidur.
“ Aku tau kau sudah bangun.” Dia
pun terkejut dan reflex membuatnya terduduk.
“ Akh..”
“ Hati hati lukamu masih parah.”
“ dimana Hai?” Sepertinya ia
menanyakan gadis kecil itu.
“ dia ada di sebuah tempat.
Pemakamannya akan dilakukan hari ini juga, tenang kau bisa melihat dia.”
“ Aku mau sekarang!”
“ tenanglah kau makan dulu setelah
itu akan aku antarkan.”
Dia terdiam, “ hanya beberapa suap saja, apa kau ingin pingsan di pemakamannya
nanti karena tidak makan.”
Aku pun menyuapinya dan dia makan dengan lahapnya, sangat imut seperti anak kecil.
Tapi sayang dia adalah pria dewasa, hah sebal.
Setelah ia selesai makan aku menyuruhnya mandi dan menggantikannya pakaian, tentu saja pelayan yang melakukannya. Setelah ia selesai aku mengantarkannya ke ruangan
tempat gadis bernama Hai itu berada.
Aku segera membuka petinya dan memperlihatkan gadis kecil yang imut tengah tertidur seperti malaikat kecil. Rambutnya berwarna merah mudah dihiasi bunga mawar dan ia menggunakan gaun putih yang indah. Saat itu juga aku melihat laki laki itu
menangis. Dia terus mengatakan maaf dan maaf karena tidak bisa menjaganya.
Entah kenapa hal ini mengingatkanku saat kejadian itu dimana aku tidak mampu
untuk melindungi Arthur.
“ aku tau apa yang kamu rasakan
namun, cobalah untuk menerimanya walau itu berat untukmu.” Ucapku sambil
memeluknya.
Pemakaman Hai berjalan dengan lancer, tepat digunung Ransen di kota Gabryel kami
memakamkannya.
Tepat saat malam setelah pemakaman dia tak kunjung keluar dari kamarnya dan ia juga
belum makan dari tadi.
“ Clara sepertinya kau punya anak
asuh baru, ku kira hanya dia sekarang malah ada lagi.” Goda Worn.
“ bisakah kau diam untuk hari ini,
aku tidak mau meladeni ucapanmu yang menjengkelkan itu.”
Dia tertawa, “ sepertinya kau akan tua karena stress.”
“ Worn, bisakah kau diam.”
“ apa aku tak salah dengar?
Ternyata sekarang menjadi es yang mencair.” Dia kembali tertawa.
Aku geram dengan tingkahnya, jika aku mau akan ku jahit mulutnya itu dan
menggantungnya di kolam segerombolan hydra. Segera aku pergi dari tenda dan
mengambil beberapa jatah makanan untuknya.
“mau kemana? Kau ngambek ya? Yah
memang si wanitakan selalu baperan.”
Aku menggumamkan mantra dan membuatnya tidak bisa mengeluarkan suara atau pun
bergerak selama yang ku mau.
“ selamat menikmatinya patung
Worn.” Aku segera meninggalkannya dengan perasaan puas. Walaupun aku tau dia
menyumpahiku dalam hati.
\*\*\*
Aku memasuki kamarnya dan ku lihat ia tengah duduk dengan tatapan kosong, aku
mendekatinya dan duduk disamping kasur.
“ kau lihat apa?” tanyaku yang
membuatnya terkejut. Ia menatapku tanpa berkata apa apa. Aku merasa sedang
berhadapan dengan sebuah batu.
“ ayolah makan, kau belum makan
sama sekali.”
“ tidak mau”
“ makan gak.” Ucapku
memerintahnya.
“ aku suapin nih.” Dia langsung
mengambil mangkuknya dariku.
“ aku bisa makan sendiri, aku
bukan anak kecil lagi.”
Yah semua orang selalu mengatakan seperti itu, tapi kadang mereka juga sama seperti
anak kecil yang ingin diperhatikan.
“ oh ya, siapa namamu? Aku selalu
lupa menanyakannya.”
“ untuk apa kau menanyakannya?”
“ lalu? Aku harus memanggilmu
apa?. Apa kau senang nanti ku panggi laki laki es-“
“ Calisto, Calisto Pernz.” Aku
tersenyum mendengar namanya.
“ nama yang indah.”
Aku pun menunggunya menghabiskan makanannya hingga aku tak sadar tertidur beberapa
menit.
“ hei, kau tertidur.” Aku
terbangun oleh suara seseorang yang ku tau itu adalah Calisto.
“ ah, maaf.” Aku segera
membenarkan posisi. Aku pun melihat bahwa dia sudah menyelesaikan makannya.
“ siapa namamu?”
Aku menatapnya dan tersenyum, “Clara”
“ terima kasih telah
menyelamatkanku.”
“ tidak perlu berterima kasih,
seharusnya akulah yang berterima kasih padamu.”
“ maksudnya?”
“ bukan apa apa, aku hanya menemukan suatu rahasia disana.” Ia mengangguk walau dari raut wajahnya terlihat ia kebingungan.
“ apa kau bisa menceritakan apa
__ADS_1
yang terjadi di sana?”
“ tentu saja.”