The Lost Harmony

The Lost Harmony
Chapter 4


__ADS_3

Aku kembali ke pavilium bersama Yui menaiki griffin miliknya. Aku yang bingung dan


tak tau harus melakukan apa, hanya terdiam menurut padanya. Tubuhku kali ini


serasa tak bernyawa, terombang ambing begitu saja di lautan tanpa arah bahkan


tujuan. Walaupun terdapat lentera yang ingin menerangi langkahku namun,


terdapat ribuan kegelapan yang menutupinya.


*Bulan bersinar terang, ku lihat cahya yang indah


Ku lihat wajahmu tergambar


Kau tersenyum, membawaku pergi  dari kegelapan


Membawaku melintasi dunia


Memberikan ku harapan


Kau ciptakan harmony baru saat yang lama hilang


Dan ku terus bernyanyi bersamamu


Menyaksikan kejamnya dunia


Namun aku bahagia dapat bersamamu


Nada yang dulunya tak pernah tersusun, menghilang bagai puzzel


Kini satu persatu kembali tersusun membentuk harmony yang indah


Bersamamu semuanya terjadi


Bersamamu………..


Aku akan terus mencintaimu*


 Dalam hati aku menyanyikan lagunya, lagu yang ia tinggalkan khusus untukku. Namun, hal yang menyesakkan bagiku adalah aku


harus menyaksikan kejamnya dunia sendirian tanpamu, dan jika aku bahagia tapi


bahagia tanpamu. Saat nada itu telah tersusun kembali kau malah menghilang,


kini harmony itu tidak lengkap kembali. Kenapa?


              “Kenapa kau selalu meninggalkanku


duluan?” gumamku pelan.


Aku lelah menangis hingga membuatku tertidur lelap dan aku kembali menikmati mimpi yang penuh dengan kehampaan.


\*\*\*


Pagi hari datang begitu cepat, serasa baru beberapa menit aku tidur. Aku kembali


menatap langit lewat jendela kamar. Terlihat hampara bunga yang berwarna warni


seperti tersenyum menyambut mentari, kicauan burung pun bersautan layaknya


sedang bernyanyi.


Kali ini aku hanya bisa menghela nafas, semuanya hancur begitu saja padahal baru


saja dimulai. Kadang aku membenciNYA yang selalu membuatku menangis merasakan


kehilangan orang yang kusayangi walaupun begitu, aku masih sadar aku tidak bisa


menentang. Karena semua ini memanglah takdirku. Takdir dimana aku harus


kehilangan orang yang kusayangi untuk kedua kalinya. Tapi aku tetap berterima


kasih karena diberikan kesempatan untuk yang kedua kalinya.


Kini waktuku untuk menerima kematiannya dan mencari siapa dalang dari semuanya. Awalnya aku marah terhadap ayahku, karena ku pikir dialah pelakunya namun, aku sadar


bukan dia karena saat ini dia belum tau siapa Arthur. Dan untuk Ganymade, entahlah aku masih bingung tentang dirinya. Mungkin saja dialah dalangnya.


              “Nona, sudah waktunya.” Ucap Yui


memasuki kamarku sambil membawa gaun hitamku.


              “Tentu Yui.”


Hari ini adalah hari kematian kekasihku, walau hanya aku yang datang kepemakamannya aku ingin tampil cantik untuk membuatnya tak melirik orang lain.


              “Nona, apa kau baik baik saja?”


aku segera menghapus air mataku yang tiba tiba saja keluar.


              “ Tenanglah aku baik baik saja,


tolong dandani aku secantik mungkin.”


              “tentu saja nona.”


Setelah Yui selesai mendandaniku, aku menyuruhnya menunggu di luar dan segera mengambil kotak yang diberikan Arthur. Kotak yang berisi bunga Lycoris Radiata namun, aku menyebutnya Red Spider Lily. Bunga itu kini menghiasi rambutku. Aku menatap cermin melihat sosok perempuan dengan gaun hitam dan rambut pirang yang


disanggul dengan bunga Lily itu. ‘Aku memang menyukai bunga Lily tapi bukan


yang ini.’ Batinku


              “Sepertinya kau tidak cocok dengan


warna rambut ini, sangat jelek. Apalagi matamu yang menjijikkan, biru laut yang


sangat terang.” Ucapku menatap tubuhku didepan cermin.


Aku menggumamkan beberapa mantra dan dalam sekejap aku melihat sosok baru terpantul di cermin. Seorang perempuan berambut hitam dengan iris mata berwarna merah darah, yang memiliki tatapan mata sangat tajam.


              “Ini cocok untukku” aku memanggil


Yui dan menyuruhnya menyiapkan semuanya untuk keberangkatanku.


Aku tau ia terkejut melihat perubahanku namun, inilah aku yang sekarang. Yang dulu


biarlah terkubur rapat bersama dengannya.


***


3 tahun kemudian…


Sekarang aku berumur 13 tahun dengan menyandang gelar Duke, gelar urutan ketiga setelah Emperor dan King. Memiliki pasukan sendiri yang memiliki julukan Autoria dengan


lambang pasukan dua pedang bersilang yang dihiasi bunga lily yang melilitnya dan ditengah pedang tersebut terlihat seekor rubah ekor sembilan. Lambang yang mengingatkanku akan keberadaannya yang telah menghilang.


Semuanya berjalan begitu cepat, setelah semuanya terjadi begitu saja. Ternyata benar,


aku tidak bisa melupakan keberadaanya namun, aku juga tidak bisa menggapainya.


Mungkin hanya bisa menatapnya saat malam tepat di bulan purnama.


              “Tapi.. terima kasih Arthur, kau


akan selalu ada bersamaku dan pasukanku.” Gumamku.


              “ Maaf mengganggu anda Duke, sir.


Worn dan sir. Castel menunggu anda di tenda.”


              “Baiklah aku akan kesana nanti.”


Perajurit itu pun meninggalkanku.


Aku segera pergi ke tenda komandan dan tepat setelah aku masuk, terdapat Worn dan


Castel yang tengah menungguku.


              “Lama sekali, apakah kau mulai


menjadi lambat sama seperti perempuan lainnya?” ucap Worn begitu santai. Worn


adalah jendral pasukan 1 dan ia memiliki kepribadian yang sangat buruk begitu


pun dengan ucapannya yang tidak bisa difilter namun, ia memiliki sisi lembut


dan orang yang sangat setia.


              “Worn kau selalu kurang ajar pada


Clara.” Balas Castel. Castel adalah jendral pasukan 3 dan ia seorang yang


sangat lembut namun, akan berbeda saat di medan perang. Ia akan berubah seperti


orang yang haus darah, sangat dingin dan memiliki mata yang tajam yang selalu


mengetahui semua gerak gerik musuhnya.


Yah…mereka berdua adalah sahabatku. Setelah Arthur pergi aku mulai mengubah diriku dimulai dari penampilanku. Aku pun mulai melatih kemampuan dan mengikuti


beberapa perang saat itu. Hingga kaisar Hogwar, ayah Ganymade pun memberikanku


gelar ini.


Aku hanya menanggapi mereka dengan tersenyum saja.


              “Sekarang ada perlu apa kalian


menggangguku?”


              “Tentu saja ada kabar yang buruk,


mungkin sangat buruk atau yang terburuk.” Ucap Worn.


              “Apa itu?”

__ADS_1


              “ Kaisar memerintahkan kita untuk


secepatnya melenyapkan para pemberontak tersebut dalam 5 hari. Sebenarnya ini


tidak masalah tapi-“ ucap Castel mdenggantung.


              “Katakan saja.”


Ia pun menghela nafas, “Setelah itu kita diperintahkan untuk menyerang  Uzber bersama pasukan Lainton.”


Aku pun menghembuskan nafas dengan kasar, “ Lakukan saja”


              “Baiklah.”


              “Lalu kapan kita menyiapkan


strategi untuk melenyapkan mereka?” tanya Worn.


              “Untuk apa berunding lagi, mereka


sudah lenyap malam ini.” Ucapku dengan seringai iblis.


              “Yah sepertinya kau menggunakan


cara itu.” Ucap Worn dengan tertawa.


              “ Kalau begitu, apa kau tidak mau


menyaksikan tontonan menarik malam ini?


              “Tentu saja Worn, mari kita


menyaksikannya.”


              “Benar benar deh, kalian ini sama


saja dengan iblis.” Ucap Castel


              “Memang kau tidak?” ucap aku dan


Worn serentak. Castel pun menanggapinya dengan senyum malu malu.


\*\*\*


Tepat tengah malam kami mengendap endap ke sebuah tebing dekat perbatasan sambil


menggunakan sihir meringankan tubuh dan sihir tidak terlihat. Setelah sampai


disana kami segera duduk santai dan melihat pertunjukan malam itu.


Tak butuh waktu lama, terlihat cahaya kemerahan dari ufuk barat dimana tempat


markas mereka berada. Dalam hati aku mengucapkan selamat tinggal, siapa suruh


berurusan dengan kekaisaran Negeri Lansen.


Setelah menyaksikan pertunjukan itu kami segera mengecek keadaan disana. Tentu saja


memastikan semuanya telah lenyap. Tapi kami masih punya hati, masyarakat yang


tinggal disana telah kami amankan dan yang tersisa hanyalah para pemberontak


itu. Maka dari itu kami bebas membakarnya.


              “ Apa kalian sudah mengecek


semuanya?”


              “ Siap! Semua sampah telah


dibinasakan.” Jawab Worn.


              “ Baiklah ar-“ suaraku berhenti


seketika mendengar suara seseorang yang tak jauh dari posisi kami saat ini.


              “Kau mendengarnya Clara?”


              “ Tentu saja, mari kita lihat


suara siapa itu.”


Kami segera bergegas mengikuti suara itu. Suara yang serak seperti suara laki laki


membawa kami mengarah ke sebuah pintu rahasia tepat di dekat menara lonceng.


Sebenarnya aku sedikit ragu memasukinya, bagaimana tidak? Bisa saja ini


jebakkan.


              “ biar aku saja.” Ucapku.


Mereka pun mengangguk dan kemudian menjaga pintu utama menara. Aku segera mengucapkan mantra api untuk membuat ruangan ini terang. Perlahan lahan terlihat tangga menurun yang sepertinya mengarah ke ruangan bawah tanah. Perlahan lahan aku


menuruni tangga dan lama kelamaan suasananya semakin sunyi dan hanya terdengar gema dari langkah kakiku. Semakin ke dalam aku mencium bau amis yang sangat


Aku pun berhenti ketika aku menyadari jalan ini tidak memiliki ujung. Bagaimana


bisa suara minta tolong itu bisa terdengar dengan jarak sejauh ini? Sebenarnya


aneh, tapi entah kenapa aku semakin penasaran.


              “ tolong! Siapapun tolong aku.” Suara itu terdengar lagi.


Tap!.......


Tap!......


              “ apa ada orang? Kumohon tolong


aku.”


Aku masih tetap melangkah diselingi teriakan orang itu yang sangat gembira.


Akhirnya tak lama kemudian aku menemukan ujungnya yang tertutup sebuah pintu


kayu yang sudah lapuk dan sepanjang 1 meter dari pintu tersebut berjajar mayat


yang tampak gosong terbakar api. Terlihat wajah mereka sudah meleleh seperti


lilin dan terlihat daging berwarna merah menyala dengan tulangnya yang tampak


jelas. Aku segera mengucapkan mantra untuk memadamkan api dan membuka pintu


kayu itu. Dari jarakku saat ini aku mencium bau amis yang membuatku benar benar


mau muntah. Dengan sihir juga aku memberanikan diriku masuk ke dalamnya.


Saat kakiku melangkah masuk aku merasakan cairan dingin yang kental. Dengan jentikan tangan ruangan itu menjadi terang. Satu hal yang membuatku terkejut. Ruangan


yang ku masuki ini seperti kolam darah dan mayat. Dimana di setiap penjuru


berjajar potongan tubuh manusia yang telah dimutilasi dan sebagiannya lagi


digantung tepat di atasku.


              “ Dimana kau?” ucapku.


Seketika sunyi tidak ada jawaban, apa dia sudah mati?


              “ Di dalam peti kayu!”


Aku segera mencari benda yang dia bilang. Yah aku menemukan peti itu tepat


ditumpukkan 5 mayat yang sudah tak terdefinisikan lagi rupanya. Kemudian aku


menarik petinya dan menghancurkan gemboknya. Saat peti itu terbuka aku melihat


lelaki berambut perak dengan baju compang camping tertidur memeluk kedua


kakinya.


              “ Bangunlah! Apa kau takut?”


Ia kemudian mengubah posisinya, dengan masih terduduk di peti ia menatap lekat


mataku. Aku melihat matanya berwarna merah darah yang tertutup dengan rambunya.


Sekilas ia mengingatkanku dengan seseorang.


              “ apa kau baik baik saja? Kenapa


kau disini.” Ia tak menjawab pertanyaanku. Malahan ia kelihatan mencari


sesuatu. Saat ku tanya kembali ia malah berlari ke sebuah tempat.


              “ hei mau kemana?!” aku pun


mengikutinya, ia menuju ke sebuah pintu dibalik tumpukan mayat yang menggunung.


Ia berusaha membuka pintu itu namun ia tak memiliki tenaga untuk melakukannya.


Mantra segera kuucapkan dan membuat pintu itu terbuka, laki laki itu dengan cepat


memasuki ruangan itu. Saat aku mencoba masuk, terlihat dia berlutut sambil


menangis di hadapan seorang anak perempuan berpakaian putih yang penuh dengan noda darah yang tengah tergantung. Sepertinya itu adalah keluarganya. Aku


memotong tali gantungnya dan menangkap mayat gadis kecil itu.


              “ apa kau tak ingin


menguburkannya? Ikutlah denganku, aku bukan kelompok dari mereka.”


Laki laki itu hanya mengangguk dan menuruti perkataanku.

__ADS_1


              “ Apa tidak ada lagi ?” ia


menggelengkan kepala.


Kami pun segera keluar dari tempat tersebut namun sayangnya dia tidak kuat lagi


berjalan dan akhirnya pingsan.


\*\*\*


Mentari kembali menampakkan diri menyambut pagi yang indah, aku terbangun tepat disamping laki laki itu. Saat aku melihatnya ternyata ia masih tertidur atau


tepatnya dia pura pura tidur.


              “ Aku tau kau sudah bangun.” Dia


pun terkejut dan reflex membuatnya terduduk.


              “ Akh..”


              “ Hati hati lukamu masih parah.”


              “ dimana Hai?” Sepertinya ia


menanyakan gadis kecil itu.


              “ dia ada di sebuah tempat.


Pemakamannya akan dilakukan hari ini juga, tenang kau bisa melihat dia.”


              “ Aku mau sekarang!”


              “ tenanglah kau makan dulu setelah


itu akan aku antarkan.”


Dia terdiam, “ hanya beberapa suap saja, apa kau ingin pingsan di pemakamannya


nanti karena tidak makan.”


Aku pun menyuapinya dan dia makan dengan lahapnya, sangat imut seperti anak kecil.


Tapi sayang dia adalah pria dewasa, hah sebal.


Setelah ia selesai makan aku menyuruhnya mandi dan menggantikannya pakaian, tentu saja pelayan yang melakukannya. Setelah ia selesai aku mengantarkannya ke ruangan


tempat gadis bernama Hai itu berada.


Aku segera membuka petinya dan memperlihatkan gadis kecil yang imut tengah tertidur seperti malaikat kecil. Rambutnya berwarna merah mudah dihiasi bunga mawar dan ia menggunakan gaun putih yang indah. Saat itu juga aku melihat laki laki itu


menangis. Dia terus mengatakan maaf dan maaf karena tidak bisa menjaganya.


Entah kenapa hal ini mengingatkanku saat kejadian itu dimana aku tidak mampu


untuk melindungi Arthur.


              “ aku tau apa yang kamu rasakan


namun, cobalah untuk menerimanya walau itu berat untukmu.” Ucapku sambil


memeluknya.


Pemakaman Hai berjalan dengan lancer, tepat digunung Ransen di kota Gabryel kami


memakamkannya.


Tepat saat malam setelah pemakaman dia tak kunjung keluar dari kamarnya dan ia juga


belum makan dari tadi.


              “ Clara sepertinya kau punya anak


asuh baru, ku kira hanya dia sekarang malah ada lagi.” Goda Worn.


              “ bisakah kau diam untuk hari ini,


aku tidak mau meladeni ucapanmu yang menjengkelkan itu.”


Dia tertawa, “ sepertinya kau akan tua karena stress.”


              “ Worn, bisakah kau diam.”


              “ apa aku tak salah dengar?


Ternyata sekarang menjadi es yang mencair.” Dia kembali tertawa.


Aku geram dengan tingkahnya, jika aku mau akan ku jahit mulutnya itu dan


menggantungnya di kolam segerombolan hydra. Segera aku pergi dari tenda dan


mengambil beberapa jatah makanan untuknya.


              “mau kemana? Kau ngambek ya? Yah


memang si wanitakan selalu baperan.”


Aku menggumamkan mantra dan membuatnya tidak bisa mengeluarkan suara atau pun


bergerak selama yang ku mau.


              “ selamat menikmatinya patung


Worn.” Aku segera meninggalkannya dengan perasaan puas. Walaupun aku tau dia


menyumpahiku dalam hati.


\*\*\*


Aku memasuki kamarnya dan ku lihat ia tengah duduk dengan tatapan kosong, aku


mendekatinya dan duduk disamping kasur.


              “ kau lihat apa?” tanyaku yang


membuatnya terkejut. Ia menatapku tanpa berkata apa apa. Aku merasa sedang


berhadapan dengan sebuah batu.


              “ ayolah makan, kau belum makan


sama sekali.”


              “ tidak mau”


              “ makan gak.” Ucapku


memerintahnya.


              “ aku suapin nih.” Dia langsung


mengambil mangkuknya dariku.


              “ aku bisa makan sendiri, aku


bukan anak kecil lagi.”


Yah semua orang selalu mengatakan seperti itu, tapi kadang mereka juga sama seperti


anak kecil yang ingin diperhatikan.


              “ oh ya, siapa namamu? Aku selalu


lupa menanyakannya.”


              “ untuk apa kau menanyakannya?”


              “ lalu? Aku harus memanggilmu


apa?. Apa kau senang nanti ku panggi laki laki es-“


              “ Calisto, Calisto Pernz.” Aku


tersenyum mendengar namanya.


              “ nama yang indah.”


Aku pun menunggunya menghabiskan makanannya hingga aku tak sadar tertidur beberapa


menit.


              “ hei, kau tertidur.” Aku


terbangun oleh suara seseorang yang ku tau itu adalah Calisto.


              “ ah, maaf.” Aku segera


membenarkan posisi. Aku pun melihat bahwa dia sudah menyelesaikan makannya.


              “ siapa namamu?”


Aku menatapnya dan tersenyum, “Clara”


              “ terima kasih telah


menyelamatkanku.”


              “ tidak perlu berterima kasih,


seharusnya akulah yang berterima kasih padamu.”


              “ maksudnya?”


              “ bukan apa apa, aku hanya menemukan suatu rahasia disana.” Ia mengangguk walau dari raut wajahnya terlihat ia kebingungan.


              “ apa kau bisa menceritakan apa

__ADS_1


yang terjadi di sana?”


              “ tentu saja.”


__ADS_2