The Lost Harmony

The Lost Harmony
Chapter 3


__ADS_3

Malam hari terasa dingin dan sangat gelap, tidak ada bulan bahkan


bintang. Langit yang biru tua kini terlihat kosong dan hampa. Seperti diriku


malam ini yang tidak tau harus melakukan apa. Semuanya begitu membingungkan,


bagaimana tidak? Semua alur di masa lalu kacau berantakan begitu saja. Semua


peristiwa yang harusnya terjadi tidak terjadi dan sebaliknya peristiwa yang


seharusnya tak terjadi malah terjadi. Apa yang sebenarnya kau inginkan Tuhan?


Apa rencanamu kali ini.


Aku hanya bisa pasrah. Entahlah aku juga bingung apa yang terjadi,


terlebih lagi saat aku melihat bunga Lycoris Radiata, membuat hatiku terasa


sesak. Aku tidak bisa berpikir jernih lagi. Apa Arthur membenciku? Apa dia


bosan denganku? Pertanyaan itulah yang tergambar setiap aku melihat bunga pemberiannya.


Jika kau pernah mengerti makna dari bunga ini maka aku yakin, kau


takkan berharap mendapat bunga ini dari kekasihmu. ‘Bunga yang cukup malang’


batinku.


Aku pun mengistirahatkan tubuhku. Entah mengapa hari ini terasa


melelahkan, aku pun tak bisa melupakan kejadian tadi. Itu terasa menyakitkan


tapi, aku tau Arthur memiliki alasan tersendiri.


***


Di alam bawah sadarku, aku melihat diriku menggunakan gaun putih


yang sangat sederhana, tidak ada hiasan ataupun renda yang menghiasannya. Gaun


ini terlihat simple dan sangat sedehana. Aku pun terus berjalan tanpa arah dan


tujuan, aku lihat semua penjuru, tidak ada kehidupan, semuanya gelap dan penuh


dengan warna hitam begitu aneh jika aku bisa berjalan tanpa tersandung benda


apapun.


Aku berjalan terus, tempat ini begitu sunyi hanya terdengar suara


tetesan air yang menggema dan suara langkah kakiku. Hingga akhirnya terlihat


cahaya yang begitu terang dari ujung ruangan gelap ini. Kagetnya, aku melihat


ada seseorang yang menunggu di ujungnya. Kulihat orang itu adalah Arthur. Ia


tersenyum hangat kearahku. Saat aku ingin lari memeluknya aku terkejut melihat wanita


yang persis denganku merangkulnya. Ekspresi keduanya pun sangat bahagia.


Aku ingin berteriak memanggilnya dan mengatakan bahwa itu bukanlah


diriku. Namun, suaraku menghilang. Dan tiba tiba saja ruangan yang gelap itu


berubah berwarna merah perpaduan hitam dan oren. Tiba tiba saja aku merasakan


sesuatu yang dingin di bawah kakiku. Aku merasakan terdapat cairan kental


dibawah dan saat menciumnya, baunya sangat amis. Seperti bau darah segar. Aku


mencoba melihatnya dan tentunya terlihat cairan merah kental dan itu memang


benar darah. Anehnya cairan itu lama lama naik hingga ke lutut, aku pun


berusaha mencari tempat tinggi namun, sekali lagi aku terkejut saat mendengar


teriakan seseorang, suaranya seperti Arthur.


              “Dasar kau wanita pengkhianat, kejamnya dirimu membohongiku!” terlihat tepat di depanku Arthur yang bersimpa darah dengan pedang yang menancap tepat dijantungnya dan orang


yang menancapkan pedang itu adalah aku!.


Seseorang yang mirip aku tertawa terbahak bahak dengan senyum yang


menggambarkan ia puas melakukannya, “ Kau bodoh Arthur, taukah kau? Sebenarnya


aku tidak mencintaimu, aku hanya memanfaatkanmu. Dan sungguh kau terlalu bodoh


hingga percaya padaku.”


              “ Tidak! Tidak Arthur! Jangan percaya ucapannya, itu tidak benar. Aku mencintaimu,” ucapku berteriak sekuat mungkin, berharap Arthur dapat mendengarkannya. Tapi


kenyataannya dia tidak bisa mendengar apa yang ku katakan.


Arthur tersenyum, “ Sungguh aku memang bodoh hingga percaya dengan


Lily beracun sepertimu.”


              “ Kau itu memang bodoh dan lagi pun sudah terlambat untukmu menyadarinya. Kau tidak bisa melakukan apapun.”

__ADS_1


              “ Memang sih, tapi aku bisa membunuhmu jugakan?” segeralah Arthur menancapkan belati ke perut


Clara.


              “ Tidak! Dasar kau, mati saja kau!” teriak Clara.


Seseorang berhasil memnggal kepala Arthur setelah ia menancapkan belati tersebut. Kepalanya pun menggelinding tepat di depan kakiku. Aku tak melihat lagi genangan darah itu namun, kini yang ku lihat lebih buruk dari itu.


Aku terduduk menatap sendu kepala Arthur, ku lihat wajahnya penuh


amarah, aku hanya bisa menangis.


              “Clara..” ucap Arthur lirih


              “ Arthur apa itu kau?” aku melihat kepala itu melayang di depanku, terlihat mata Arthur melotot


kearahku.


Aku mundur karena ketakutan dan ia mendekat terus.


              “Kau harus mati bersamaku Clara, akan ku bawa kau ke neraka.” Ucap Arthur tersenyum.


              “ Tidak… Tidak! Jangan Arthur!”


Tiba tiba saja semuanya gelap, aku tidak bisa melihat apapun


tubuhku rasanya tidak bisa digerakan sama sekali. Dan saat terdapat setitik


cahaya yang kemudian menerangiku aku melihat diriku kini tengan terikat di


sebatang kayu dengan kedua tanganku diikat di depan dan tubuhku diikat ke


batang kayu yang berdiri tegak. Aku menatap ke depan dan terlihat Arthur tengah


tersenyum membawa obor dengan api yang menyala nyala.


              “Kau adalah Lily yang sangat beracun dan juga licik, memanfaatkanku hanya untuk pria lain. Kau berkhianat padaku hanya karena pria bernama Ganymade!”


              “Tidak Arthur i-tu tidak benar!”


              “ Saat nyawamu diunjuk tombak saja kau mengakuiku. Sungguh bodoh, mati saja kau. Aku membencimu! Selamat tinggal Clara, kau pantas mendapatkan in-“ tiba tiba saja


Arthur memuntahkan darah dari mulutnya dan terlihat pedang menembus jantungnya,


perlahan ia jatuh dan tubuhnya terbakar oleh api yang ia bawa sendiri.


              “Aku datang menyelamatkanmu Clara. Kemarilah sayang.” Ucap Ganymade tersenyum lembut.


              “Tidak..! Arthur!.”


***


oleh keringat dingin. Kenapa semuanya terlihat nyata? Aku pun menghela nafas


dan merasa lega karena semua itu hanyalah mimpi.


 Kwau..kwau… suara burung


terdengar menggema di ruangan, aku melihat terdapat seekor phoenix berbulu


merah membara seperti api, di paruhnya terdapat surat dengan amplo putih.


Aku beranjak dari ranjangku dan mendekati burung tersebut, aku


ambil suratnya dan membacanya dengan perlahan. Saat aku membukanya, aku tidak


bisa mengontrol raut wajahku lagi. Surat yang tertulis dengan tinta merah


dengan bercak merah yang menghiasinya membuatku merinding.


*Untuk Clara


Maaf atas apa yang ku lakukan, dan aku tau perkataanku telah


melukai perasaanmu. Aku tidak tau harus mengatakan apa lagi tapi, aku hanya


ingin bilang maafkan aku, maafkan aku yang tidak bisa menjagamu, maafkan aku


yang sekedar pria lemah ini, maafkan aku yang selalu menyusahkanmu.


Bolehkahkah aku meminta sesuatu darimu dan ini akan menjadi


permintaan terakhirku, aku harap kau mau mewujudkannya. Tolong lupakan aku,


jangan pernah mencintaiku lagi dan hapuslah keberadaanku dalam ingatanmu. Hanya


itu…


Maaf aku tidak bisa bersamamu lebih lama seperti janji kita. Tolong


jaga bunga itu. Selamat tinggal Clara, ku harap kita tak bertemu kembali.


Arthur Calisto*


Aku terduduk lemas setelah membaca surat itu, hanya bisa menangis


dalam diam. Rasanya tujuanku untuk hidup telah tiada. Tapi, aku tidak ingin


hanya diam disini. Aku harus memastikannya. Segera ku ganti bajuku dan melapisinya

__ADS_1


dengan jubah hitam yang dilapisi sihir penyamaran, tak lupa aku membawa kotak


itu bersamaku dan pergi dengan burung phoenix.


Dari atas langit terlihat cahaya merah yang menyala nyala dari arah


hutan, dan terlihat gumpalan asap hitam memenuhi kawasan itu. Akuu perintahkan


burungku untuk menambahkan kecepatan dan setelah sampai aku segera turun dan


merapalkan mantra.


Το νερό είναι ζωή, η φωτιά είναι θυμός. Έσβησε, η οργή του θυμού


του. Δώσε το φως σου! Τότε σήκω και έσβησε τον καμένα θυμό του.


(air adalah kehidupan, api adalah amarah. padamkan nyalanya, redamkan amarahnya.


berikanlah cahayamu! maka bangkitlah dan padamkan amarahnya yang membara)


Lingkaran sihir berwarna biru terbentuk dengan bentuk lingkaran dan di tengahnya terdapat


bunga lily yang mekar dengan perpaduan bentuk bintang dan symbol tulisan.


Tak hanya itu saja, aku memanggil beberapa hewan spirit untuk membantu memadamkan


api ini, karena yang aku rasakan ini bukanlah api biasa. Tapi api dari ras alam


bawah yaitu iblis.


Setelah apinya padam maka hewan spirit akan lenyap dan kembali dengan sendirinya. Aku pun yang melihat api sudah lenyap segera memasuki hutan dan menuju ke tempat Arthur. Tepat didepanku terlihat rumahnya yang sudah terbakar dan menyisakan puing puing kayu dan menyedihkannya aku harus melihat jasad seseorang yang tergantung tepat di depanku sekarang.


Aku memeriksa mayat itu dan aku menemukan plakat dari logam yang berukiran bunga lily dan seekor rubah. Dan saat itulah aku sadar Arthur telah pergi meninggalkanku untuk kedua kalinya.


Aku hanya bisa terduduk dan memandang ke bawah melihat semuanya dengan tatapan


kosong. Aku bertanya tanya untuk apa aku hidup, tujuanku untuk kembali ke masa


lalu sudah sirna, lalu untuk apalagi aku ada di dunia ini?


Aku segera menarik belati yang selalu tersembunyi dijubahku dan bersiap


menancapkannya di jantungku untuk yang kedua kalinya. Namun, sesuatu yang


terang menghalangiku. Aku bisa melihat sinar merahnya yang begitu terang dan


aku melihat wajah Arthur di dalamnya.


              “Kau lupa janjimu?” tanyanya.


              “Jawablah!” ia kembali berteriak padaku.


              “ Dengarkanlah Clara, kau harus tetap hidup walaupun aku telah tiada. Apa kau lupa itu? Apa kau ingin melihatku


menangis karena gadis yang ku cintai harus pergi bersamaku?” ia kembali


bertanya padaku.


Aku terdiam sejenak dan tersenyum kembali padanya,” maaf aku tidak akan


mendengarkan ucapanmu kali ini Arthur.”


Aku pun menghancurkan wajahnya dan terlihat cermin sihir itu retak dan berubah


kembali menjadi bunga Lycoris Radiata.


              “ Sekarang tidak ada lagi.” Ucapku


bersiap menancapkan belatiku.


              “Nona hentikan!” Yui memeluku dari


belakang dan melempar belati yang tengah ku pegang.


              “ Nona hentikan, apa yang anda


pikirkan? “ aku hanya terpaku, terdiam. Kurasakan kehangatan pelukan Yui yang


entah mengapa membuatku meneteskan air mata.


              “Yui! Dia meninggalkanku, dia


jahat padaku!” ucapku menangis di pelukannya.


              “Iya dia memang jahat Nona, jika


begitu bukankah kau harus memberikan pelajaran padanya?” aku menatapnya lekat


dan dia hanya tersenyum dan kembali memelukku dengan membelai rambutku.


              “ Maka dari itu, tetaplah hidup


Nona. Buatlah dia menyesal telah pergi meninggalkanmu.” Tangisanku kebali


pecah, hingga membuatku sesak karena hal itu namun, Yui selalu memelukku dan


menenangkanku.


Sepertinya inilah takdirnya, aku tidak bisa mengubahnya. Jika memang yang terbaik bagiku harus kehilanganmu, Arthur. Maka, aku akan tetap menerimanya walau itu

__ADS_1


sangatlah berat untukku.


__ADS_2