
Aku memasuki kamarku dengan penuh
amarah. Bisa kulihat semua pelayanku ketakutan saat berada disisiku sepertinya
hawa membunuhku keluar begitu saja dan tak bisa ku kendalikan.
“Nona, apa yang terjadi?” ucap Yui yang memberanikan dirinya untuk mendekatiku.walau
ku tau dia sedang gemetaran.
Aku menghela nafas, “Maaf Yui, aku
begitu kesal hari ini”. Yui pun hanya tersenyum melihatku
“Nona dia mengirimkan surat untukmu.” Yui pun menyodorkan amplop berlogokan bunga
Lily.
“Arthur?” iya membalasnya dengan senyuman.
Entah kenapa tiba tiba aku merasa
senang dan lupa akan amarahku sebelumnya. Secepat mungkin aku membuka amplop
tersebut.
*Dear my beauty
Lily
Clara apa kau
tidak merindukanku? Aku bosan tanpamu, Apakah kau mau datang ke tempat
biasanya? Aku ada kejutan untukmu kalau tidak mau datang, aku akan menghantuimu
di dalam mimpi.
Arthur Calisto*
Aku tersenyum membaca suratnya,
sungguh kekanakan sekali tapi entah mengapa aku sangat senang. Dan tentu saja
aku akan datang, aku juga rindu kamu Arthur.
“Yui siapkan semuanya, aku ada pertemuan rahasia.” Ucapku bersemangat
“Tentu saja Nona.”
Yui segera mengambil gaunku dan
meriasku secantik mungkin. Tak butuh waktu lama aku sudah siap meluncur ke
tempat pertemuan. Segera ku panggil phoenixku dan menaikinya.
“Terima kasih Yui.” Aku pun berangkat secepat mungkin
‘Sungguh aku tak sabar menantikannya’ batinku.
***
Seorang lelaki menatap tajam Clara,
walaupun ia menggunakan pelindung sihir namun, laki laki tersebut dapat
melihatnya.
“Sepertinya dia lebih penting dariku.”
Dia menghela nafas, “Irinya…”
Suara gemersik datang mendekati laki
laki itu.
“Lapor Tuan, semuanya telah disiapkan.”
“Jalankan dan lenyapkan tanpa tersisa dan satu hal lagi, jangan sampai ada goresan
padanya. Jika ada, aku akan membunuhmu. Mengerti.”
“Baik Tuan.” Seorang itu pergi menjauh.
“Sekarang apa yang bisa kau lakukan Clara.” Ucapnya sambil tertawa terbahak bahak.
***
Clara akhirnya sampai ke tempat
tujuan, hanya dengan mengkode menggunakan tangan, phoenix tersebut langsung
pergi meninggalkannya. Kini ia menunggu Arthur yang tengah sembunyi entah
kemana. Sambil memandangi hutan tersebut dengan kagumnya. Tak seperti hutan
lainnya, hutan ini seperti taman. Banyak bunga mawar dan bunga Jade yang akan
bersinar saat malam. Kebetulan sekali sebentar lagi malam tiba. Aku akan disini
sampai malam, tentu saja aku tidak akan khawatir. Ayahku pergi melakukan
hubungan politik dan kakakku sibuk dengan urusannya, sedangkan ketiga adikku
bersama ibu tiriku di pavilium lainnya.
Yah mereka sungguh beruntung
mempunyai ibu, entah kenapa aku merindukanmu. Padahal aku tak pernah melihat
wajahmu.
“Ah lagi lagi aku menangis, aku memang gadis
cengeng.” Ucapku lirih.
“
Iya kau gadis cengeng walaupun begitu, aku menyukaimu.” Ucap seseorang yang
merangkulku dari belakang.
“Arthur?” aku membalikan badan dan terkejut dengan apa yang ku lihat. Entah
kenapa, tiba tiba aku menepis tubuhnya dan menjaga jarak dengan cepat.
“Clara kenapa kau menjauh.”
__ADS_1
“Aku tidak tau, aku-“ aku tidak menyelesaikan ucapanku karena aku sadar yang di
depanku bukanlah Arthur.
“Siapa kau?” ucapku dingin dengan hawa membunuh.”
“Clara jangan begitu, aku ini Arthur, Arthur Calisto.”
“Kau kira aku percaya? Sejak kapan Arthur memanggilku Lily walaupun dia tau aku
suka bunga Lily dan satu hal lagi dia tak pernah mengucapkan kata aku menyukaimu!”
Sejenak sosok di depannya yang
menyerupai Arthur terdiam hingga kemudian ia tertawa.
“Menarik.” Ucapnya yang kemudian berubah wujudnya menjadi laki laki berambut hitam bermata
merah.
Aku pun bersiap dengan posisi kuda
kuda dikalau ia menyerang.
“Sepertinya kalian pasangan yang serasi, dan tidak mudah untuk ku bohongi,”
“Apa yang kau lakukan padanya Ganymade?!”
Ia tersenyum, “tidak ada, hanya
membunuhnya. Mungkin.”
“Jika kau macam macam terhadapnya, aku takkan mengampunimu.”
“Oh ya? Takutnya aku.” Aku menggertakan gigiku dan manatap taamnya namun, ia hanya
tersenyum bahagia.
“Sayang sekali, jika kau menginginkanya maka cobalah untuk menyelamatkannya sebelum ia
mati ditanganku.”ia pun langsung pergi, aku ingin mengejarnya tapi, terdapat
pasukan yang menghadangku. Jumlahnya tidak bisa ku prediksi karena terdapat
beberapa yang sembunyi.
‘Itu tidak penting berapa jumlahnya,
yang terpenting aku harus segera menyelamatkan Arthur’ gumamku
Segera aku keluarkan sihirku dan
memanggil beberapa hewan spirit untuk membantuku.
“Aku harus cepat”
***
Disis lain tepatnya di sebuah gua
terdapat sosok laki laki yang terikat kedua kaki dan tangannya dengan rantai.
Tubuhnyayang terlapisi baju yang sudah compang camping berlumuran darah. hingga
rambutnya yang awalnya perak kini berubah menjadi merah karena darah. sosok
juga disiksa.
“Apa kau sudah lama menungguku Arthur?”
“Berhenti menjadi peniru, aku muak melihatmu.”
Ganymade tertawa dan tersenyum
dengan sengiran iblisnya, “ Kenapa memang? Wujud ini adalah yang terbaik.
Apalagi di saat di taman Lilyku menemaniku dan kami berpelukan, bukankah itu
hal yang romantis?”
“Kau kira aku bisa tertipu dengan ceritamu dasar iblis.”
“Diam kau!” seketika cambuk melayang ke tubuh Arthur menyisakan goresan
kemerahan yang mengeluarkan darah segar.
“Kau masih kurang?” Arthur hanya tersenyum kecut.
“Tenang tidak usah khawatir, aku tak akan membunuhmu. Cukup menyiksamu saja
karena hari ini bukanlah kematianmu. Mungkin beberapa hari ini.” Ucapnya
tersenyum.
Ganymade kemudian mencambuk Arthur
berkali kali hingga bisa dibayangkan genangan darah menghiasi gua tersebut.
“Sepertinya sudah cukup. Bagaimana ya ekspresi kekasihmu saat melihatmu. Pasti itu tontonan
yang luar biasa. Nah kalau begitu sampai berjumpa lagi,” Ganymade pun
menghilang dan kini terlihat Clara menatap Arthur dengan lekat.
***
Aku begitu terkejut melihat ke dalam gua, begitu ingin diriku menangis melihat apa
yang ada di depanku sekarang. Aku segera melepaskan rantainya dan tubuh
lemahnya yang berlumuran darah jatuh ke pelukanku.
“Maaf aku terlambat. Maafkan aku.” Ucapku sambil menangis
memeluknya.
“ Tenanglah Clara, aku tidak apa apa.” Ucapnya yang kemudian
memuntahkan darah.
Aku segera menyandarkannya dan melakukan mantra penyembuhan. Kini
ku lihat wajahnya yang pucat seperti kehabisan darah. dirinya yang dulu berlari
lari dan ceria, kini yang kulihat seperti seonggok boneka yang lemah.Dengan
menangis aku menyembuhkannya, aku tidak bisa membayangkan rasa sakit dari luka
__ADS_1
lukanya itu
‘ Lagi lagi aku terlambat’ batinku.
***
Setelah aku menyembuhkan Arthur walau tidak menyembuhkannya secara
total, aku segera membawanya ke pondok dekat hutan tersebut. Dimana pondok
tersebut adalah rumah Arthur. Arthur tinggal sendiri sebatang kara, keluarganya
sudah lama meninggal dunia karena kecelakaan. Saat aku memasuki pondoknya entah
mengapa dadaku merasa sakit dan sesak. Tempat yang kecil dan terlihat kumuh
serta tak layak untuk dihuni bagaimana bisa disebut rumah, walau tak besar
bukankah sebaiknya bersih.
Aku segera menggunakan mantra untuk membersihkan tempat tersebut
dan kemudian aku menidurkan Arthur di kasurnya yang terbuat dari rotan. Karena
tidak ada pakaian yang terlihat bersih aku menggunakan sihir untuk membersihkan
dirinya dan mengganti pakaiannya.
Setelah semuanya selesai aku hanya bisa memandangnya terbaring
lemah. Aku memegang tangannya dengan lembut dan berusaha menahan tangisku
namun, aku tidak kuat menahan tangisan ini.
“Maaf Arthur, aku terlalu lemah, aku tidak bisa menjagamu. Maaf… maafkan aku.” Tiba tiba terdapat tangan yang membelai
rambutku.
“ Ini bukan salahmu Clara, akulah yang terlalu lemah sehingga selalu menyusahkanmu.”
Ucapnya tersenyum lemah.
“Arthur? Akhirnya kau sadar.” Aku pun memeluknya sambil menangis dan memarahinya.
“ Clara tenaglah aku tidak apa apa. Lihatlah aku.” Aku pun memandangnya, dia berbohong.
Bagaimana bisa dia bilang baik baik saja dengan banyaknya luka cambuk itu.
“ Dasar Pembohong! Kau terus saja berbohong padaku. Mengatakan baik baik saja tapi
sebenarnya kau terluka. Arthur pembohong. Aku membencimu!” Ucapku memukulnya
sambil menangis.
Dia hanya tersenyum menatapku membuatku salah tingkah.
“ Awas jika kau berbohong lagi, aku tak akan memaafkanmu.”
“ Iya tuan putri, oh ya bagaimana kau bisa tau aku di sekap?”
“ Kau mengirimku surat tepatnya Ganymade sih. Tapi tenang aku mengenalmu.”
“ Kau tau kalau itu bukan aku tapi masih saja datang,dasar gadis bodoh.”
“Aku marah nih.” Arthur hanya tertawa mendengar perkataanku.
Sejenak Arthur diam, kemudian ia berdiri dan mengarah ke sebuah
kotak
“Arthur kau masih terluka.”
“ Tenang, aku tidak apa apa.” Ucapnya dengan senyum yang bisa membuat semua wanita mungkin
tergila gila.
Ia mengambil sebuah kotak hitam yang tak ku tau apa isinya.
Kemudian dia menghampiriku dan menyodorkan kotak itu padaku.
“Ku mohon jaga kotak ini baik baik.”
“Beneran untukku,” dia menjawabnya dengan senyuman.
Aku kemudian mengambilnya dan membuka kotak tersebut, betapa
terkejutnya aku melihat isinya.
“Apa maksudmu Arthur?” ucapku sambil menangis.
“ Maaf sepertinya itulah jawabanku dari permasalahan kita.”
Aku yang begitu marah bercampur sedih tidak tau apalagi yang harus
aku katakan. Tapi, kenapa Arthur harus menjawab dengan ini, aku tidak pernah
mengharapkan jawaban ini.
“Arthur apa kau sungguh sungguh?” dia hanya mengangguk.
Aku yang tak bisa mengendalikan emosiku pun terbawa emosi.
“ Kenapa… kenapa? Aku tanya kenapa Arthur?! Bukankah kau sudah berjanji kenapa kau
mengingkarinya?”
Arthur hanya terdiam tak menjawab pertanyaanku, “Jawab Arthur!”
Aku lelah, aku tidak tau lagi. Aku terus menangis dan akhirnya aku
berlari meninggalkan Arthur. Entah kenapa hatiku terasa hancur, apalagi disaat
aku melihat bunga itu, bunga Lycoris Radiata.
***
Arthur menatap kepergian Clara dengan Phoenix merahnya, sebenarnya
hatinya merasakan sakit seperti ditusuk ribuan pedang namun, ia berpikir
semuanya demi Clara. Dia tak ingin gadis tercintanya mengalami hal yang
mengerikan.
“ Maafkan aku Clara, aku juga merasakan apa yang kau rasakan. Tapi, inilah yang harus ku
lakukan. “ Arthur menghentikan ucapannya kemudian ia tersenyum bahagia.
__ADS_1
“ Tenanglah Clara sebentar lagi Arthur Calisto akan menghilang untuk selamanya, maaf aku harus membuatmu tersiksa untuk saat itu.”