The Perfect Bodyguard

The Perfect Bodyguard
16


__ADS_3

Hari mulai sore dan orang itu baru saja terbangun. Ia pun mulai berontak dan berteriak. Kebetulan Jessie lagi lewat disana dan langsung membuka pintu gudang itu. Ia melihat orang itu pun langsung tersenyum.


"LEPASKAN AKU!" Teriak orang itu. Jessie hanya menjulurkan lidahnya lalu kembali keluar meninggalkan orang itu sendirian. "DASAR SIALAN." Teriak orang itu. Jessie yang mendengar itu dari luar pun hanya bisa tersenyum remeh.


'Kau belum tau saja siapa aku.' Ucap Jessie membatin. Ia pun berjalan ke kamar Alexa.


"Orang itu sudah bangun." Ucap Jessie. Alexa pun langsung keluar kamar karena penasaran. Jessie langsung mengikuti Alexa dan tentunya bersama dengan Ryan.


Alexa yang penasaran pun berjalan cepat meninggalkan Jessie dan Ryan. Ia sampai di gudang itu terlebih dahulu dan langsung membuka pintunya.


"Hai orang aneh. Siapa namamu?" Ucap Alexa. "Ingatlah baik-baik. Namaku Will." Ucap Will. Ia masih mencoba untuk melepaskan ikatan tangan dan kakinya. "Kau mau lepas? Tidak akan bisa. Bahkan Jessie yang mengikatnya pun tidak tahu bagaimana cara membukanya. Lagipula tali itu sangat tebal." Ucap Alexa lalu mengejek Will.


"Siapa yang kau incar? Jessie atau Alexa?" Ucap Ryan saat melihat Will. Will langsung tersenyum. "Tentu saja gadis cantik di sebelahmu." Ucap Will sambil melihat ke arah Jessie. Ia pun langsung mengedipkan satu matanya. Jessie yang melihat itu langsung berjalan dan bersiap untuk menghajarnya namun ditahan oleh Ryan.

__ADS_1


"Kau bekerja sendiri?" Tanya Ryan lagi. "Tentu saja. Tapi jangan harap aku akan memberitahu tuanku." Ucap Will. Will pun langsung mengunyah sesuatu dari mulutnya dan langsung meninggal seketika dengan busa keluar dari mulutnya.


"Cih, giliran sudah terpojok langsung bunuh diri. Benar-benar setia." Ucap Alexa. Ia pun langsung memanggil pelayan untuk mengurus mayat Will.


"Aku beruntung untuk yang ketiga kalinya." Ucap Jessie. Ryan hanya diam dan Alexa langsung penasaran. "Coba ceritakan." Ucap Alexa dengan semangat. "Baiklah. Yang pertama di kafe, yang kedua aku hampir saja ditembak di mobil dan yang ketiga adalah sekarang." Ucap Jessie dengan tenang. Alexa hanya menganga tidak percaya. "Keren. Aku jadi ingin mencobanya." Ucap Alexa.


"Nona... Tuan Xavier sudah pulang." Ucap salah satu pelayan. "Baiklah... Bawa mayat tadi kehadapan daddy." Pelayan itu langsung mengangguk ketika mendengar ucapan nonanya. Ia pun langsung keluar untuk mengurus mayat itu.


"Kau bisa jelaskan kepada Daddy?" Tanya Xavier ketika melihat anaknya masuk. "Orang itu ingin menculik Jessie. Lalu kita menghajarnya sampai pingsan. Ketika Ia terbangun kita interogasi tapi Ia lebih memilih untuk mengakhiri hidupnya." Ucap Alexa santai. Jessie pun mengangguk mengiyakan apa yang diucapkan oleh Alexa. "Baiklah, sekarang apa yang harus kita lakukan?" Tanya Xavier. "Bakar saja dad." Jawab Alexa dengan nada santai. Xavier mengangguk lalu memanggil pelayannya lagi untuk membawa mayat itu pergi dan membakarnya.


"Maafkan aku atas kejadian ini Jessie. Sepertinya pengamanan rumah ini kurang ketat." Ucap Xavier sambil menatap ke arah Jessie. "Tidak apa-apa. Lagian seru juga menghajar orang gila seperti itu." Ucap Jessie. Ryan langsung memperingati Jessie untuk tidak mengatakan hal yang aneh-aneh. Xavier dan Alexa hanya terkekeh mendengar jawaban Jessie.


"Baiklah... Kalian mandi terlebih dahulu lalu kembali untuk makan malam." Ucap Xavier. Lalu Ia pun bangkit dan pergi ke kamarnya. Mereka pun langsung pergi ke kamar Alexa.

__ADS_1


"Siapa yang mau mandi duluan?" Tanya Alexa. "Kau saja terlebih dahulu." Ucap Jessie. Alexa pun langsung masuk ke kamar mandi dan memulai kegiatan mandinya karena tidak ingin membuat Jessie menunggu. Setelah selesai, Alexa langsung keluar dan Jessie masuk ke kamar mandi.


"Kau juga harus mandi Ry..." Ucap Alexa. Ia pun langsung membuka koper dan melihat bahwa Ryan tidak membawa handuk. Ia pun langsung mengambil handuk miliknya di lemari dan baju Ryan di koper. Lalu Ia memberikannya kepada Ryan. Beberapa saat kemudian, Jessie selesai mandi.


"Aku mandi sebentar." Ucap Ryan. Jessie dan Alexa mengangguk. Jessie pun berjalan ke arah kopernya lalu menyiapkan baju tidurnya. Namun anehnya Ia tidak bisa menemukan baju itu.


"Dimana bajuku? Kau melihatnya?" Tanya Jessie kepada Alexa. "Baju yang mana?" Tanya Alexa. Ia mulai merasa tidak enak. "Bajunya dan celananya berwarna hitam." Ucap Jessie. Alexa sekarang sadar bahwa Ia sudah salah memberikan baju kepada Ryan. Dan ternyata benar, Ryan yang sudah selesai mandi langsung protes kepada Alexa karena memberinya baju yang salah. Alexa langsung terpikirkan ide jahil lagi dan lagi. Ia pun langsung membisikkan rencananya kepada Jessie. Tentu saja Jessie langsung mengiyakan rencananya.


"Aku tidak tahu bajumu yang mana. Kau keluar saja dan mengambilnya sendiri." Ucap Alexa. "Aku hanya memakai handuk." Balas Ryan. "Sudahlah Ry... Demi baju." Sahut Jessie. Ryan pun langsung tau bahwa ini adalah ide jahil Alexa lagi. Ia pun langsung mengeringkan badannya dan melilitkan handuk itu di sekitar pinggangnya lalu keluar dari kamar mandi.


"RYAN?!?!? NGAPAIN KAU KELUAR?" Teriak Jessie. Alexa pun tidak percaya kalau Ryan akan benar-benar keluar dari kamar mandi. "Jessie jangan teriak. Bukankah kalian yang menyuruhku?" Tanya Ryan. Jessie dan Alexa hanya terdiam. Ryan pun langsung berjalan ke arah koper dan mengambil bajunya.


"Kau tidak mau menikmati pemandangan ini?" Tanya Alexa kepada Jessie. Jessie langsung menggeleng dan teringat akan kejadian yang dulu. Mukanya langsung merah dan hal itu disadari oleh Alexa. "Kalian sudah melakukan yang tidak-tidak ya?" Tanya Alexa. Jessie dan Ryan langsung menggeleng. Ryan pun kembali ke kamar mandi dan memakai bajunya. Setelah selesai mereka pun langsung pergi ke ruang makan untuk makan malam bersama Xavier.

__ADS_1


__ADS_2