The Perfect Bodyguard

The Perfect Bodyguard
19


__ADS_3

Jessie terbangun di tengah malam. Ia mencari keberadaan Ryan di sekelilingnya namun Ryan tidak ada dikamarnya. Ia pergi ke kamar mandi namun Ryan tetap tidak ada disana. Jessie langsung keluar dari kamarnya lalu melihat Ryan sedang dihalaman belakang. Ryan duduk di bangku taman sambil melihat ke arah langit. Jessie langsung mendatangi Ryan secara diam-diam dengan rencana ingin mengejutkannya.


"Ayo tidur lagi." Ucap Ryan yang menyadari kedatangan Jessie. Ia lalu bangkit dan mendatangi Jessie. Jessie langsung berdecak kesal karena usahanya mengagetkan Ryan gagal.


"Setidaknya biarkan aku mengagetkanmu." Ucap Jessie.


"Ayo tidur lagi."


"Besok libur ada rapat dosen. Jadi aku ingin menemani mu disini. Tunggu sebentar." Ucap Jessie. Lalu Ia langsung berlari masuk kembali ke dalam rumah. Ia kekamarnya lalu mengambil selimutnya. Ia kembali ke halaman belakang lalu memberikan selimut itu kepada Ryan.


"Baiklah, ayo kita duduk lagi dan melihat bintang." Ucap Jessie. Ryan hanya menuruti ucapan Jessie lalu mereka berdua duduk di bangku itu. Jessie langsung menyelimuti dirinya dan juga Ryan. Setelah selesai Ia langsung duduk dan menyender pada Ryan.


"Kau bisa cerita apapun kepadaku." Ucap Jessie. Ryan yang mendengar itu menghela nafas.


"Kau yakin? Ini akan sangat panjang." Ucap Ryan. Jessie langsung mengangguk lalu mencari posisi nyamannya.


"Aku siap." Ucap Jessie. Ryan langsung menarik nafas dan memulai cerita itu. "Uncle Bryan bukanlah ayah kandungku." Ucap Ryan. Jessie yang mendengar itu langsung membulatkan matanya.


"Kau tahu berbohong bukan perbuatan yang baik bukan?" Tanya Jessie. Ryan yang mendengar itu hanya terkekeh pelan. "Jadi begini ceritanya."


flashback

__ADS_1


"Ryan, kau sembunyi dimana?" Ucap seorang wanita sambil mencoba untuk mencari anaknya. Wanita itu merupakan ibu kandung Ryan yang bernama Beatrice. Ia pun melihat ada sepasang kaki dibalik tirai.


"Sepertinya ada seseorang dibalik tirai." Ucap Beatrice sambil mendekati ke arah tirai. Lalu Ia langsung menyibak tirai itu dan terlihatlah Ryan. Ryan yang ketahuan langsung berlari sambil tertawa sementara Beatrice berusaha mengejarnya. Ryan yang masih berusia 4 tahun saat itu pun lelah lalu berhenti. Tentu saja Ia langsung tertangkap oleh ibunya. Beatrice langsung menggendong Ryan dan membawanya ke dapur.


"Ryan, kau bantu Mommy masak ya. Sebentar lagi daddymu pulang." Ucap Beatrice. Ryan mengangguk lalu Beatrice meminta Ryan untuk mengambil bahan-bahan yang diperlukan. Dengan langkah kecilnya, Ryan berjalan menuju kulkas untuk mengambil semua bahan. Setelah mengambil dan memberikan bahan-bahannya, Ryan duduk di kursi dan melihat ibunya yang sedang memasak makan malam.


Ditengah acara memasak itu, pintu depan terbuka yang menandakan Ethan, ayah Ryan sudah pulang. Ryan langsung turun dari kursinya lalu berlari ke arah pintu depan. Namun saat Ia melihat kearah pintu itu, mukanya langsung pucat dan Ia langsung berteriak.


"MOMMYYY." Teriak Ryan. Beatrice yang mendengar itu langsung buru-buru mendatangi Ryan. Sesampainya di sana, Ia langsung shock dan jatuh hingga terduduk. Ia melihat suaminya bersimbah darah di lantai dan dikelilingi oleh orang-orang yang tidak Ia kenali.


"BAYAR HUTANGMU KALAU KAU TIDAK INGIN BERNASIB SAMA SEPERTI SUAMIMU." Bentak salah satu dari mereka. "Ralat, Almarhum suami." Lanjut mereka. Beatrice yang mendengar itu langsung menangis histeris. Ia memeluk Ryan dan berusaha membuat anaknya tidak melihat apa yang ada didepannya walaupun itu semua sudah telat. Ryan tidak menangis namun tubuhnya bergetar sangat hebat saat itu.


"KITA TIDAK MAU TAU. POKOKNYA HUTANG SUAMIMU HARUS DIBAYAR."


"Ryan, kamu kaburlah lewat pintu belakang. Mommy akan berusaha menahan mereka. Mommy loves you." Ucap Beatrice. Ryan yang tidak sempat membalas ibunya langsung berlari menuju pintu belakang yang terdapat di dapur. Saat Ia membuka pintu dapur, Ryan mendengar bunyi pistol yang ditembakkan beberapa kali. Ia langsung mempercepat larinya hingga sampai ke jalanan. Ryan yang melihat mobil lewat langsung berlari ke tengah untuk menghentikan mobil itu. Mobil itu langsung rem mendadak dan untungnya tidak menabrak Ryan.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya pengemudi itu. Ia melihat tubuh Ryan yang gemetar langsung berusaha menyelimuti tubuh mungil Ryan.


"Bawa aku pergi. Disini berbahaya. Ada orang-orang jahat." Ucap Ryan. Pengemudi itu langsung membawa Ryan masuk lalu kembali menyetir mobil itu. Setelah dirasa cukup jauh. Ia kembali menghentikan mobilnya.


"Siapa namamu? Namaku Bryan." Ucap Bryan.

__ADS_1


"Ryan. Helios Ryan Lewis." Ucap Ryan. Kemudian Ia menceritakan semuanya kepada Bryan.


"Sepertinya sekarang kau harus membawaku ke panti asuhan." Ucap Ryan tanpa emosi.


"Tenanglah aku akan mengadopsimu. Sudah lama aku menginginkan anak. Jadi mulai sekarang namamu Helios Ryan Rynville." Ucap Bryan. Ryan yang mendengar itu hanya mengangguk.


flashback end


"Dan sejak saat itu sikapku berubah drastis." Ucap Ryan mengakhiri ceritanya. Ia sedikit lega bisa menceritakan hal itu kepada Jessie. Ryan juga baru menyadari bahwa Jessie sedang memeluk erat dirinya sambil menahan tangisnya.


"Sudahlah, tidak apa-apa. Aku sudah berdamai dengan itu." Ucap Ryan sambil mengelus kepala Jessie dan berusaha membuatnya berhenti menangis.


"Aku hanya mewakili perasaanmu." Ucap Jessie. Ryan terkekeh pelan mendengar jawaban Jessie. "Sudah-sudah ayo kembali ke kamar." Ucap Ryan.


Jessie mengangguk lalu mereka masuk kedalam rumah dan pergi ke kamar Jessie. Jessie langsung tiduran di kasurnya sementara Ryan duduk di sebelahnya.


"Tidurlah disampingku Ry atau aku tidak akan tidur." Ucap Jessie sambil menepuk kasurnya. Ryan langsung bangkit kemudian tidur di sebelah Jessie. Jessie yang melihat Ryan sudah tiduran langsung meletakkan kepalaku di atas dada Ryan.


"Good night Ryan." Ucap Jessie.


"Good night." Balas Ryan.

__ADS_1


__ADS_2