
Ryan terbangun dari tidurnya dan hal pertama yang Ia lihat adalah wajah cantik dan damai Jessie yang sedang tertidur dalam pelukannya. Ryan pun mengeratkan pelukannya lalu mencium kening Jessie. Jessie yang dicium pun terganggu. Ia perlahan membuka matanya dan menyadari bahwa wajahnya dan wajah Ryan begitu dekat. Jessie pun langsung refleks memundurkan kepalanya dan langsung membentur pembatas ranjang.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Ryan. Ia pun memegang bagian belakang kepala Jessie yang terbentur lalu mengusapnya pelan.
"Sepertinya tidak apa-apa. Tapi sakit." Ucap Jessie. Ryan yang mendengar ucapan Jessie langsung tertawa pelan.
"Jangan ketawa. Kau mau coba dibenturkan? Aku dengan senang hati membenturkan kepalamu." Ucap Jessie dengan kesal. "Kau tega melakukan itu pada kekasihmu?" Tanya Ryan sambil mendekatkan wajahnya kembali. "Tentu saja." Jawab Jessie. Tangannya sudah bersiap untuk mendorong Ryan.
"Mau melanjutkan yang tadi?" Tanya Ryan. Jessie yang mendengar itu langsung memukul dada Ryan.
"Sejak kapan kau semesum itu?" Tanya Jessie. Lalu Ia pun langsung berusaha untuk bangkit namun ditahan oleh Ryan.
"Dengan kekasihku ini." Ucap Ryan. Lalu Ia pun bangkit dan menimpa Jessie.
"Aku siap untuk jadi orang tua Jessie." Ucap Ryan sambil berbisik sensual di telinga Jessie.
Jessie langsung terbangun dari tidurnya dengan nafas yang terengah-engah. Ia pun melihat Ryan masih tertidur dengan membelakangi dirinya. Jessie langsung bergegas turun dari ranjang. Ia merutuki mimpinya tadi. Mereka masih pacaran. Itu juga baru beberapa jam dan Jessie sudah memimpikan hal yang tidak-tidak.
Jessie pun langsung pergi keluar untuk ke toilet. Namun saat Ia membuka pintu, Ryan terbangun.
"Jessie, kau mau kemana?" Tanya Ryan dengan suara serak khas orang baru bangun tidur. Bukannya menjawab pertanyaan Ryan, Jessie memilih untuk langsung pergi. Mimpi itu terus menerus muncul di kepalanya.
Ryan yang melihat Jessie pergi pun kebingungan. Ia pun berpikir mungkin Jessie mempunyai urusan sebentar sehingga harus meninggalkannya.
Selesai urusannya dari toilet, Jessie langsung membasahi wajahnya dengan air wastafel. Berharap dinginnya air bisa membuatnya segar dan melupakan mimpi yang memalukan itu. Setelah selesai dari toilet, Ia pun kembali ke kamar tempat Ryan dirawat.
__ADS_1
Sesampainya disana, Jessie melihat Ryan sedang berbicara dengan seorang dokter. Selesai berbicara, dokter itupun keluar dan Jessie langsung masuk.
"Apa yang kalian bicarakan?" Tanya Jessie yang penasaran.
"Aku bisa pulang nanti sore. Sekitar jam 5 atau 6." Ucap Ryan. Jessie yang senang langsung memeluk Ryan dengan erat.
"Tunggu aku belum selesai." Ucap Ryan. Jessie pun melepaskan pelukannya lalu menatap kearah Ryan membiarkan pria itu menyelesaikan kalimatnya.
"Tapi aku tidak boleh bekerja terlalu keras. Yang artinya aku akan mengambil cuti sementara dan akan ada anak buahku yang akan menjagamu." Ucap Ryan yang langsung dibalas dengangan decakan Jessie."Kita kekasih bukan. Jadi biarkan aku yang merawatmu. Urusan kuliah nanti saja." Ucap Jessie.
"Jessie, jangan pikirkan aku. Aku hanya akan istirahat selama beberapa hari." Ucap Ryan.
"Ryan jangan menolak atau aku akan berbuat nekat." Ancam Jessie.
"Nekat seperti apa?" Tanya Ryan. Jessie langsung tersenyum.
"Jangan coba-coba." Ucap Ryan.
"Kalau gitu dengarkan perkataan ku." Ucap Jessie. Ryan pun menghela nafasnya. Lebih baik Ia mendengarkan perkataan Jessie daripada perempuan itu berbuat nekat.
🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️
Jam 5 sore, Ryan sudah diperbolehkan untuk pulang. Ia bersama Jessie berjalan kearah parkiran mencari mobil yang diparkir oleh anak buah Ryan. Setelah menemukan mobilnya, Jessie langsung masuk kebagian supir.
"Kau duduk saja di sebelahku dan biarkan aku yang menyetir." Ucap Jessie. Ryan pun menuruti perkataan Jessie. Tangannya juga masih sedikit sakit untuk mengemudi.
__ADS_1
"Aku sudah meminta ijin Daddy untuk menginap di apartemenmu beberapa hari kedepan." Ucap Jessie. "Daddy sudah menyuruh orang untuk mengantarkan pakaianku ke apartemenmu." Lanjutnya.
"Kau tahu dimana apartemenku?" Tanya Ryan. Jessie pun menggelengkan kepalanya"Tidak." Jawab Jessie. Ryan pun memberitahu jalan kepada Jessie.
Setelah sampai di gedung apartemen itu, mereka langsung naik lift dan pergi ke lantai 65. Pintu lift pun terbuka saat mereka sudah sampai dan mereka langsung keluar dan pergi ke apartemen Ryan. Saat sudah sampai didepan pintu, Ryan langsung memasukkan sandi dan pintu pun terbuka.
"Apartemenmu sangat rapi." Ucap Jessie yang terpana. Ryan tersenyum mendengar pujian Jessie. "Kau kira aku bocah yang tidak bisa menjaga kerapihan dan kebersihan?" Tanya Ryan. Jessie hanya terkekeh sebagai jawaban.
"Kau istirahat di kamar dulu sedangkan aku akan memasak makan malam untuk kita." Ucap Jessie. Ryan pun mengangguk lalu Ia masuk kedalam kamarnya untuk berganti baju dan bersantai. Walaupun sesekali Ia mengecek emailnya ataupun kerjaan yang diberikan oleh daddynya.
Tidak terasa 30 menit berlalu. Jessie berjalan kearah kamar Ryan memberitahukan bahwa makan malam sudah siap.
"Sepertinya sudah kubilang kau harusnya beristirahat saja." Ucap Jessie saat Ia melihat Ryan membuka laptopnya. Menyadari kedatangan Jessie, Ryan langsung bangkit lalu berjalan kearah Jessie.
"Maafkan aku. Ayo kita makan malam. Sudah selesai kan?" Tanya Ryan yang dijawab dengan anggukan Jessie. Mereka pun berjalan kearah ruang makan lalu makan malam bersama.
******************************************
Helios Ryan Rynville
Alexandra Jessie Hendrick
__ADS_1
Next update: 17 April 2021