The Perfect Bodyguard

The Perfect Bodyguard
20


__ADS_3

Ryan mulai terbangun dari tidurnya. Matahari sudah mulai terlihat jadi mungkin sekarang jam 5 pagi. Ia menyadari bahwa Ia sekarang sedang memeluk Jessie dari belakang. Bukannya melepaskan pelukannya, Ryan malah mengeratkannya. Yang tidak Ryan sadari adalah Jessie sudah terbangun sedari tadi. Bahkan sebelum dirinya bangun.l


Jessie yang merasa Ryan mengeratkan pelukannya itu langsung terdiam. Ia ingin berbalik badan namun tidak bisa. Badannya terlalu kaku. Akhirnya Ia memberanikan diri untuk membuka mulutnya.


"Ryan, apa yang kau lakukan?" Tanya Jessie. Ryan yang menyadari Jessie sudah terbangun langsung melepaskan pelukannya. "Maafkan aku." Ucap Ryan. Jessie yang mendengar itu langsung membalikkan badannya lalu memeluk Ryan. "Lepaskan." Ucap Ryan sambil berusaha melepaskan pelukan Jessie.


"Kau yang memelukku duluan." Ucap Jessie. Ryan langsung terdiam. Ucapan Jessie tidak salah. Ini salahnya yang malah mengeratkan pelukannya bukannya melepaskannya.


"Ryan, karena hari ini libur ayo kita pergi ke tempat balapan." Ucap Jessie. Ryan langsung menghela nafasnya. "Kau masih membahas ini?" Jessie yang mendengar itu langsung melepaskan pelukannya. Ia menatap ke arah Ryan lalu mengangguk. "Aku tidak tahu tempat balapan dimana." Ucap Ryan.


"Aku tidak peduli Ryan. Kau cari saja di internet. Aku ingin mandi terlebih dahulu. Setelah aku mandi, aku mau kau sudah menemukan tempat itu." Ucap Jessie sambil mengambil handuk dan baju di lemari. Ia pun langsung masuk ke kamar mandi.


Bunyi shower mulai terdengar yang artinya Jessie sudah memulai kegiatan mandinya. Ryan langsung membuka handphonenya lalu mencari tempat balapan yang diminta oleh Jessie. Setelah menemukannya, Ia langsung menyimpan alamat tempat itu.


Selesai mandi, Jessie langsung keluar dari kamar mandi dan langsung duduk di meja rias untuk mengeringkan rambutnya.


"Kau tidak mau mandi?" Tanya Jessie sambil mencolokan kabel hair dryer lalu menyalakannya. Ryan yang mendengar itu langsung pergi ke kamar mandi. Selesai mandi, Ryan keluar dari kamar mandi dan langsung ditarik oleh Jessie.

__ADS_1


"Kita mau ngapain?" Tanya Ryan. Jessie langsung menempelkan jari telunjuknya di bibirnya menyuruh Ryan untuk diam. "Kita akan pergi ke dapur untuk memasak sarapan." Jawab Jessie sambil berbisik. Ryan yang mengerti langsung terdiam dan mengikuti Jessie yang masih menariknya.


Sesampainya di dapur, Jessie langsung terdiam. Keterdiaman Jessie membuat Ryan bingung.


"Ada apa? Kenapa kau terdiam?" Tanya Ryan. "Aku tidak tahu kita harus masak apa untuk sarapan." Ucap Jessie.


"Kau mengajakku untuk membuat sarapan tapi kau tidak tahu apa yang ingin kau buat?" Tanya Ryan sambil menaikkan satu alisnya. Jessie langsung berdecak kesal lalu membuka pintu kulkas dengan kasar. Ia kemudian melihat semua bahan-bahan yang ada.


"Apa yang bisa kita buat dengan ayam?" Tanya Jessie. Ryan langsung berpikir sebentar. "Bagaimana dengan sup?" Tanya Ryan sambil memberikan pendapat.


"Baiklah. Kau mengeluarkan semua sayuran yang dibutuhkan lalu mencucinya dan memotongnya. Sementara aku akan menyiapkan bumbu yang diperlukan." Ucap Jessie. Ryan langsung mengangguk lalu mengambil sayuran yang dibutuhkan. Ia pun mencucinya lalu memotongnya.


"Sudah enak." Ucap Ryan.


"Tentu saja. Aku yang memasak." Ucap Jessie. Lalu Ia mengambil sesendok kuah sup itu lagi. Ryan yang mendengar itu hanya tersenyum.


"Baiklah, aku akan membangunkan Daddy sementara kau menyiapkan peralatan makan dan menyajikan sup itu." Ucap Jessie. Lalu Ia pun berjalan cepat menuju tangga lalu pergi ke kamar ayahnya. Sesampainya didepan kamarnya, Jessie langsung mengetuk pintu.

__ADS_1


"Daddy, apakah aku boleh masuk? Aku tahu Daddy sudah bangun." Ucap Jessie. "Masuklah." Jawab Alex. Jessie langsung membuka pintu kamar dan masuk. Ia langsung memeluk ayahnya yang baru saja selesai mandi lalu mencium pipi ayahnya.


"Good morning Daddy." Ucap Jessie.


"Morning honey." balas Alex.


"Daddy, aku dan Ryan sudah membuat sarapan. Ayo turun makan sarapan bersama. Ada juga yang ingin aku beritahu kepadamu." Ucap Jessie sambil keluar dari kamarnya. Alex yang mendengar itu langsung mengikuti putrinya.


Sesampainya di ruang makan, Ia mencium harum sup yang langsung membuatnya lapar. Ia juga melihat Ryan yang sudah duduk disana dengan meja makan yang tertata rapi.


"Good morning Uncle." Ucap Ryan saat melihat kedatangan Alex. "Good morning Ryan." Balas Alex.


"Kalian memasak sarapan hari ini?" Tanya Alex sambil duduk di tempat duduk yang biasa Ia duduki. Jessie dan Ryan yang mendengar pertanyaan Alex langsung mengangguk secara serempak.


"Kau bilang ada yang ingin dibicarakan Jessie." Ucap Alex sambil menatap ke arah Jessie."Kita sarapan dulu dad." Ucap Jessie. Mereka pun langsung memulai sarapan mereka. Selesai sarapan mereka, Jessie langsung membawa piring dan peralatan makan yang kotor untuk dicuci. Setelah dicuci, Jessie kembali ke meja itu lalu duduk.


"Jadi apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Alex. "Jessie ingin pergi ke tempat balapan bersama Ryan." Ucap Jessie. Alex yang mendengar itu langsung terdiam. Ia tidak salah menjodohkan putrinya diam-diam. Kepribadian putrinya yang tertutup perlahan mulai terbuka. Tapi Ia juga shock dengan perubahan putrinya itu.

__ADS_1


"Kau yakin? Daddy takut kau kenapa-napa." Ucap Alex dengan nada khawatirnya. Jessie yang mendengar itu langsung memasang ekspresi sedih. "Tapi ada Ryan dad. Ia bisa menjamin aku tidak akan kenapa-napa." Ucap Jessie sambil meyakinkan Alex. Alex hanya menghela nafas.


"Baiklah."


__ADS_2