The Perfect Bodyguard

The Perfect Bodyguard
22


__ADS_3

"Daddy, bagaimana jika Ryan kenapa-napa? Aku gak mau Ryan pergi. He's my first friend." Ucap Jessie sambil menangis.


"Sudah ya. Ryan hanya tertembak di bahu. Daddy yakin Ia akan baik-baik saja." Ucap Alex sambil menenangkan putrinya itu.


"Bagaimana jika tangannya harus di amputasi atau menjadi lumpuh permanen?" Tanya Jessie. Alex yang mendengar itu hanya terkekeh dan mendapat pukulan pelan dari putrinya.


"Tidak separah itu kok. Itu hanya tembakan di bahu. Tenang ya." Ucap Alex. Jessie yang mendengar itu sedikit tenang.


"Sekarang ceritakan kepada Daddy apa yang terjadi saat penembakan itu." Ucap Alex. Jessie mulai menceritakan apa yang terjadi.


Flashback


Dor!!


Jessie yang mendengar suara tembakan refleks langsung menutupi kepalanya dengan kedua tangannya. Ia mendengar suara kaca mobil yang pecah. Namun anehnya tidak ada satupun peluru yang menembus tubuhnya. Jessie berpikir bahwa penembak itu meleset lagi.


Ia pun perlahan membuka matanya dan mengintip melalui celah tangannya. Ia melihat Ryan yang berada tepat didepannya. Ia pun langsung melihat ke Ryan yang terlihat seperti menahan rasa sakitnya.


"Ryan kau tidak apa-apa?" Tanya Jessie sambil meraba punggung Ryan. Ia pun merasakan sesuatu yang basah dibagian bahunya. Jessie pun melihat tangannya dan langsung kaget melihat tangannya yang penuh darah.


"Aku tidak apa-apa." Ucap Ryan yang melihat wajah panik Jessie. "Kau tertembak Ryan." Ucap Jessie. Nafasnya mulai terengah-engah.Ia panik. "Ryan kita harus turun sekarang kau tertembak. aku tidak mau kau kenapa-napa. Ayo turun Ryan. Aku tahu ada rumah sakit dekat sini." Lanjutnya.


"Jangan gila Jessie. Orang itu bisa saja menembak lagi. Kita keluar sampai anak buahku memberitahu bahwa situasi sudah aman. Sampai saat itu biarkan saja seperti ini untuk sementara." Ucap Ryan. Jessie menyadari muka mereka sangat dekat hingga Ia bisa sedikit merasakan nafas Ryan.


"Ryan tapi anak buahmu lama sekali. Aku yakin sudah tidak apa-apa. Ayo kita ke-" Ucap Jessie yang terpotong karena Ryan menciumnya. Ryan lalu melepaskan ciumannya. "Diam dan jangan membuat keributan." Ucap Ryan.


"Kenapa semua orang diam seperti tidak ada yang terjadi?" Tanya Jessie. Ryan pun melihat sekitar dan benar semua seperti tidak terjadi apa-apa. Ini benar-benar diluar nalar. Suara tembakan terdengar keras namun tidak ada satupun orang yang panik.


"Sepertinya ini direncanakan." Ucap Ryan. Jessie langsung terdiam. "Apa yang telah aku lakukan sampai diteror seperti ini? Dasar orang gila." Ucap Jessie.


"Sir, kita sudah mengamankan orang itu. Kita juga menemukan keanehan dengan kemacetan dan akan menahan beberapa orang yang ada. Kau bisa ke rumah sakit terlebih dahulu. Saya yang akan mengurus mobil nona." Ucap anak buah Ryan melalui telepon.


"Ayo kita turun." Ucap Ryan. Kemudian mereka turun dan Jessie berusaha membantu Ryan namun tampaknya Ryan tidak terlihat kesusahan walaupun bajunya sudah dipenuhi oleh darah.

__ADS_1


"Ryan, kau tidak akan mati kan?" Tanya Jessie. Ryan yang mendengar pertanyaan Jessie langsung tertawa.


"Tentu saja tidak. Kalau lukanya parah aku sudah akan mati dari tadi." Ucap Ryan sambil terkekeh. Sekarang Ia tahu kalau Jessie panik maka Ia tidak akan bisa berpikir jernih.


Mereka akhirnya sampai di rumah sakit. Ryan langsung dibawa dokter sementara Jessie menunggu dan menelepon ayahnya.


Flashback end


Jessie menyelesaikan ceritanya dan disaat yang bersamaan dokter sudah keluar dari ruang inap Ryan.


"Pasien sudah bisa ditemui. Jangan lupa untuk mengurus administrasi." Ucap sang dokter lalu pergi.


"Kamu temui Ryan dan Daddy akan pergi urus administrasi." Ucap Alex. Lalu Ia pergi meninggalkan Jessie.


Jessie langsung memasuki ruang inap Ryan dan melihat Ryan sedang terduduk di kasurnya sedang melihat ke jendela.


Mendengar suara pintu yang dibuka, Ryan langsung menoleh kearah pintu dan melihat Jessie disana.


Jessie yang melihat Ryan tidak apa-apa langsung berlari lalu memeluk Ryan. Ryan yang dipeluk langsung membalas pelukan Jessie.


"Kau berlebihan. Aku tidak apa-apa." Ucap Ryan. Ia merasa hubungan mereka sudah semakin dekat.


"Jessie." Panggil Ryan. Jessie yang terpanggil langsung menatap wajah Ryan.


"Ada apa? Kau merasa sakit? Biar ku panggil dokter. Tunggu sebentar." Ucap Jessie sambil melepaskan pelukannya. Jessie pun bersiap untuk pergi namun tangannya langsung di tahan oleh Ryan.


"Aku belum selesai bicara Jessie." Ucap Ryan. "Aku mau ngomong sesuatu." Lanjutnya. Jessie kembali duduk di kasur.


"Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Jessie. Ryan langsung menarik nafas dalam.


"Jujur aku sedikit ragu untuk membicarakan ini." Ucap Ryan. Jessie yang sudah penasaran langsung berdecak kesal. "Jangan buat aku penasaran Ryan."


"Aku menyukaimu." Ucap Ryan singkat. Namun perkataan singkat itu mampu membuat jantung Jessie berdetak sangat kencang. Jessie terdiam.

__ADS_1


"Maksudmu kau mau aku menjadi kekasihmu?" Tanya Jessie meyakinkan bahwa Ia tidak salah mengartikan ucapan Ryan. Ryan mengangguk yang berarti Jessie tidak salah dengar.


"Aku mau Ry." Ucap Jessie. Ryan yang mendengar itu langsung tersenyum. Jujur sebenarnya Ia sudah berpikir bahwa Ia akan ditolak namun kenyataannya tidak.


Ryan langsung menarik Jessie lalu menciumnya. Ciuman biasa namun lama kelamaan menjadi ******* panas. Jessie yang awalnya duduk sudah berada sepenuhnya diatas kasur.


"Jessie bagaimana keadaan Ry-" Tanya Alex yang langsung terhenti melihat kegiatan panas yang terjadi didepan matanya.


Jessie dan Ryan yang menyadari Alex sedang melihat mereka langsung menyudahi ciuman panas itu.


"Dad, aku bisa jelaskan." Ucap Jessie


"Tenang saja putriku. Aku tahu apa yang terjadi. Aku mendukung kalian sepenuhnya." Ucap Alex lalu mengedipkan 1 matanya ke Ryan. Ryan yang mengerti hanya bisa tersenyum.


"Sekarang Ryan harus istirahat. Semua sudah Daddy urus. Daddy pulang dulu karena masih ada kerjaan yang harus Daddy urus." Ucap Alex lalu pergi meninggalkan mereka berdua.


Setelah Alex pergi, Jessie langsung mencium kembali bibir Ryan secara singkat.


"Sekarang kau perlu tidur, sayangku." Ucap Jessie sambil tersenyum.


"Baiklah. Tapi aku lebih suka kau memanggil nama daripada panggilan sayang." Ucap Ryan. Lalu setelah itu Ryan langsung mengubah posisinya dari duduk menjadi tidur.


"Kau mau aku memelukmu?" Tanya Jessie. Ryan yang mendengar itu langsung bergeser memberi tempat untuk Jessie. Jessie yang melihat itu langsung melepas alas kakinya dan menaruh tasnya di meja kemudian naik ke atas ranjang. Setelah naik, Ryan langsung memeluknya dari belakang. Kemudian mereka tertidur dengan keadaan saling memeluk.


******************************************


Helios Ryan Rynville



Alexandra Jessie Hendrick


__ADS_1



Next update: 15 April 2021


__ADS_2