THE SHiLER

THE SHiLER
Prinsip Seorang Arisa


__ADS_3

Sikap keras kepala, teguh pendirian mungkin bisa menjadi gambaran dasar dari Arisa. Terlahir dikeluarga normal, ayahnya berprofesi sebagai koki di suatu restoran sementara ibunya adalah ibu rumah tangga.


Ciri khas darinya adalah fisik yang menyamai bahkan melebihi pria dewasa. Kebiasaan sejak kecil mungkin menjadi faktor utama keungulannya dalam kekuatan fisik.


Selain itu gaya bicaranya agak kasar dengan intonasi yang lumayan keras, menjadi penyempurna dari kekuatan fisiknya yang luar biasa.


In the morning...


Percakapan singkat dimeja makan diawali oleh sang Ayah yang tiba tiba menanyakan tentang prinsip Arisa untuk menyukai laki laki. Arisa menjawab dan menjelaskan, bahwa dia tidak akan menyukai laki laki yang lebih lemah darinya.


Ayahnya juga bertanya nama laki laki yang bisa mengalahkan kekuatan fisik Arisa. Sejenak Arisa termenung dan berfikir serta mengingat kembali, sekian banyak laki laki yang menyukainya. Hal itu wajar karena Arisa bisa dikatakan sebagai bunga indah berduri.


Setelah mengingat agak lama, dengan mudahnya Arisa berkata."Tidak... tidak pernah ada."


"Luar biasa... "terucap begitu saja oleh Sang Ayah.


"Apannya yang luar biasa. Huh (menghela nafas singkat) karena prinsip itu aku tidak menemukan laki laki yang cocok untuk ku."


"Aku kesepian Ayah..." Dengan manja Arisa mengungkapkan perasaanya, hal yang amat jarang terjadi.


Sontak kedua orang tuanya kaget dan terdiam agak lama sambil menatap Arisa. "Apa kau sakit?" tanya sang Ibu. "Aku baik, "jawab Arisa tapi seakan tak percaya bukan hanya pertanyaan Ibunya juga memeriksa kondisi Arisa dengan sangat teliti.


Beberapa saat kemudian,


"Aku berangkat, "ucap Arisa agak keras pada orang tuanya yang masih ada dimeja makan.


Setelah berpamit Arisa langsung bergegas menuju sekolah. Biasanya dia membutuhkan waktu 25menit untuk sampai ke sekolahnya, namun kali ini Arisa menantang dirinya sendiri untuk lebih cepat dan sampai ke sekolah dengan waktu 15menit.


Dikala berlari kencang kecepatan lari Arisa mulai disusul oleh laki laki teman sekelasnya. Dengan santai laki laki itu menyapa dan tersenyum ke arah Arisa.


"Bagaimana mungkin. Kau bisa... ."


"Tentu saja Arisa. Aku sudah bilang padamu, kalau aku adalah satu satunya orang yang bisa menyamaimu, "ucap Rihitho dengan penuh percaya diri.


Kaki terus berlari tapi mulut Rihitho tidak bisa diam, beberapa kali dia mencoba membuka percakapan tapi Arisa masih saja diam. Sampai Rihitho memuji Arisa dengan kata kata."Kau sangat kuat. Aku menyukai itu ... ."


Arisa berkata sekaligus memuji."Terima kasih, kau juga sangat kuat."


Percakapannya mereka berakhir ketika mereka sudah sampai disekolah, Arisa melihat jam ditangannya. Dia agak kaget dan terdiam sejenak karena waktu saat ini adalah 06.10 sedangkan dia berangkat tadi waktu baru menunjukkan pukul 06.00.


Bagaimana mungkin dia bisa secepat itu? Pertanyaan itu meninggalkan tanda tanya besar. Tapi Arisa tak mempedulikan keganjalan tersebut dia lebih mementingkan rekor kecepatan larinya.

__ADS_1


Waktu sekolah dapat dilalui Arisa,


kegiatan nya sepulang sekolah adalah berlatih di suatu hutan yang benar benar rimbun. Arisa selalu mendapat dukungan dari ibunya atas kegiatan berlatih yang rutin dia lakukan setiap harinya.


Arisa disambut oleh berbagai perangkap disekitaran tempat ia sering berlatih. Dia menduga ada yang sudah mengetahui tempat rahasia nya ini dan dia terpikir satu nama. "Aku terkesan. Kau bisa, menemukan tempat rahasia ku ini. Rihitho."


Muncul dari balik pepohonan dan berkata."Aku juga terkesan, kau bisa melewati semua yang kupasang rintangan." Memuji Arisa sembari menatap pepohonan disekitaran.


Tetapi Arisa menanggapi pujian itu dengan permintaan dilanjutkan satu pertanyaan."Jangan membuat ku tertawa, kau tidak berpikir rintangan kecil itu bisa mengalah kan ku kan?"


Suasana seketika menjadi hening.


Mereka berdua duduk berdampingan di bawah salah satu pohon raksasa di sana, Arisa menatap lama wajah laki laki di sampingnya.


Dia berfikir untuk mengungkapkan perasaan tersembunyi terhadap Rihitho, tetapi mengingat prinsip sendiri Arisa jadi mengurungkan niatnya tersebut.


“Dari pada diam saja. Ada baiknya kita mulai berlatih, ”saran Rihitho yang segera berdiri dan disusul Arisa dengan jawaban“Ya... benar juga.”


Kemudian...


Latihan yang mereka berdua lakukan pada awalnya adalah mengangkat dua batu besar dengan berat sekitar 20kilogram. Disana terlihat jelas betapa ringannya batu tersebut bagi mereka berdua. Latihan berlanjut oleh karena Arisa menantang Rihitho untuk berlomba memanjat sebuah pohon besar disana.


“Itulah pohon yang ku maksud.”Menunjuk ke arah pohon raksasa yang dipenuhi ranting kecil. .


“Apa kau takut, ”tanya Arisa dengan nada mengejek, tentunya Rihitho membantah hal itu dia berdalih hanya khawatir akan keselamatan mereka berdua, namun pada akhirnya ia menerima juga tantangan dari Arisa.


Mereka memulai pertandingan,


Arisa memulai dengan agak terburu-buru,


sementar temannya memulai dengan agak pelan mungkin karena dia mengetahui seberapa berbahaya nya pohon yang ia panjat.


Arisa sangat yakin bisa mencapai puncak pohon itu dan memenangkan pertandingan. Dia melihat sejenak ke arah bawah dan terlihat Rihitho yang mulai menyusul, sehingga Arisa memaksimalkan kecepatannya.


Sampai suatu ketidak beruntungan menghampiri Arisa, dikala dia meraih ranting yang ternyata rapuh dan langsung patah setelah coba diraih nya,sehingga dia jatuh dari ketinggian.


Rihitho yang melihat jatuhnya Arisa tak bisa berfikir panjang, dia langsung saja melakukan aksi heroik berupa penyelamatan, dengan cara menjadikan dirinya sendiri sebagai tempat mendarat yang meredam kejatuhan Arisa.


Beruntung mereka berdua tidak terlalu parah.


Seharusnya Rihitho mendapat luka parah karena meredam kejatuhan Arisa, namun kenyataannya dia maupun Arisa masih bisa bangun meski sejenak tak sadarkan diri.

__ADS_1


Disana pun Arisa menyadari sesuatu,


yakni kekuatan fisik Rihitho yang melebihi dirinya. “Apa kau kesakitan? ”tanya Arisa, dengan sedikit rintihan yang mungkin di akibatkan oleh rasa sakit, Rihitho menjawab.“Aku baik baik saja." Sambil berusaha membungkam suara rintihan kesakitan nya agar tak membuat Arisa khawatir.


“Maaf..., ”ucap pelan Arisa yang tertunduk bersalah dihadapan Rihitho.“Aku baik baik saja, ”jawab Rihitho sambil tersenyum.


Sepertinya Arisa masih sangat bersalah akan kejadian tadi, dia terus saja tertunduk dan diam di dalam perjalanan pulang mereka ke rumah masing-masing.


“Apa dia sangat merasa bersalah, ”gumam


Rihitho sambil melihat ke arah Arisa yang berjalan didepannya. “Kenapa aku seperti itu, "tanya Arisa kepada dirinya sendiri.


Waktu sore hari tiba,


Arisa kini sudah sampai di depan rumahnya tanda dia dan Rihitho harus berpisah. Sebelum masuk ke rumahnya, dengan pelan Arisa berucap. “Maaf untuk hari ini. Dan terima kasih, karena sudah menyelamatkan ku.” Bergegas masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Rihitho.


Di dalam rumahnya Arisa disambut dengan pertanyaan dari ibunya, yakni tentang siapa laki laki yang mengantar Arisa pulang serta tentang penyebab berbagai luka ditub jl uh Arisa.


Arisa tidak menjawab apa apa,


dia hanya berjalan pelan masuk kemudian mengunci pintu kamarnya. Ibunya bertanya tanya ada apa dengan wajah bersalah itu.


Dikala sudah larut malam Arisa terus saja memikirkan kondisi Rihitho dan kecerobohan yang ia lakukan. Karena terus memikirkan hal itu dia pun akhirnya tertidur dengan air mata yang terus mengalir tanda rasa khawatir dan bersalahnya.


Entah bagaimana setelah terbangun dia berada disuatu tempat yang berisikan dengan warna putih.Arisa langsung berdiri melihat sekelilingnya kemudian berteriak menanyakan keberadaan nya saat ini.


"Hei...!!! Ini dimana? "tanya Arisa dengan suara sangat keras, "Jangan berteriak, "jawab seseorang entah dari mana asal suaranya.


"Siapa itu? Kalau kau mau menakut nakuti dengan cara seperti ini, itu tidaklah mempan. "Lagipula ini sebenarnya dimana? "


"Sekarang kau berada diantara celah dunia mimpi dan dunia nyata, "jelas seseorang tadi dengan menunjukkan dirinya dihadapan Arisa.


Orang tersebut adalah Lorean Aiga yang mempercayai Arisa.


"Kau yang membawa ku kesini? "tanya Arisa menatap tajam, "Beraninya ... "Mengepalkan kedua tangan dan langsung berlari ke seseorang didepannya.


"Beraninya kau menggangu tidur ku, "ucap cepat Arisa sembari ingin memukul kepala seseorang didepannya. Namun entah bagaimana pergerakan Arisa terhenti sebelum tangannya berhasil melukai wajah Aiga.


"Kenapa aku tidak bisa bergerak. "Terus mencoba sekuat tenaga menggerakkan tubuhnya untuk menghajar Aiga.


"Ini adalah tempat diantara celah dunia nyata dan mimpi, dan aku adalah pengendalinya. Sehingga apapun yang ku inginkan bisa terjadi." Menjelaskan kepada Arisa.

__ADS_1


Pasrah akan keadaan emosi gadis itupun mereda dan pada akhirnya Lorean Aiga menyampaikan tujuan nya yang sebenarnya. Dia mengungkapkan bahwa telah melihat keistimewaan di diri Arisa yakni fisik yang luar biasa, tentu hal tersebut dibenarkan dan di tegaskan oleh Airsa sendiri.


Dari keistimewaan itulah Lorena Aiga yakin untuk mempercayai Arisa sebagai pemilik Jupiter Plazers. Dengan sedikit keraguan Arisa menerima Jupiter Plazers dan pada saat itulah diri Arisa yang tak kenal takut terlahir.


__ADS_2