THE SHiLER

THE SHiLER
Perpisahan dan Penyatuan


__ADS_3

Satu hari mendekati ulang tahun Yusa


Hari istimewa yang tertanda dalam kalender yaitu tanggal 23 bulan September. Yusa menatap lama kalender itu, gambaran masa depan yang dikatakan Reykyu masih membuat nya khawatir.


Kakak Yusa tiba tiba muncul dan berkata."Adik ku yang cantik ini... kenapa murung? ayo cerita dengan kakakmu ini."


"Kak Hikan. Tidak ada..."ucap Yusa berbohong.


"Jangan bohong..."tanggap Hikan


Dengan menghembuskan nafas panjang, Yusa pun menceritakan masalah nya tentang gambaran tiga hal yang nantinya akan terjadi dihari istimewa (ulang tahun Yusa) tanpa menyebut nama Reykyu.


Selesai menerangkan wajah serius Hikan terukir jelas, otaknya berusaha mencerna dan berfikir keras tentang cerita Yusa.


Dengan lembut Reykyu berkata."Dengarkanlah Yusa. Tidak yang bisa menentukan ataupun memprakirakan masa depan. Alasannya... karena masa depan ditentukan hal yang dilakukan dimasa kini."


"Kata kata itu..." Teringat sesuatu.


Senyuman khas gadis itu terlihat kembali, sepertinya kakak nya berhasil menyakinkan dan membuat ceria kembali adiknya.


"Terima kasih untuk nasehat nya, "ucap Yusa


Hikan mengangguk pelan menanggapi ucapan adiknya diakhiri dengan dia meminta izin untuk kembali ke kantor tempat ia bekerja.


"Kalau kakak ke kantor. Aku tidak ada yang menemani." Tertunduk di hadapan kakaknya.


Menanggapi sikap manja adiknya dengan sikap lembut adalah solusi dan kunci agar Yusa tidak kecewa terhadap dirinya. Hal itu seringkali dilakukan Hikan dari Yusa kecil hinggalah sekarang.


Hikan tersenyum."Jangan sedih Yusa... kamu kan punya sahabat dekat."


Sehingga membuat Yusa teringat akan Reykyu. Wajah Reykyu tergambar dalam pikiran Yusa, sambil tersenyum tipis seakan sedang mengingat suatu hal yang menyenangkan.


Sampai suara keras dari dekat telinganya menyadarkan Yusa. Pelaku dari keisengan tersebut tidak lain adalah kakaknya sendiri.


"Apa yang kau pikirkan? "tanya langsung Hikan pada adiknya. Spekulasi yang tidak menentu muncul di dalam pikiran Hikan.


"Ti... dak. Aku tidak memikirkan apapun." Mencoba berbohong bukan hanya pada kakaknya namun juga pada dirinya sendiri. Percakapan diantara merekapun selesai.


Di sore harinya...


Yusa yang tadinya ceria kini kembali murung disebabkan tiga hal yang belum pasti akan terjadi. Dua kalimat sama yang diucapkan oleh mulut yang berbeda sepertinya tidak bisa mengubah ke khawatiran Yusa.


Dikarenakan kekhawatiran itu, langkah Yusa menjadi tak menentu dia membiarkan kakinya menentukan tempat yang di tuju.Yusa terhenti dan seketika tersadar ketika angin dingin berhembus kencang melewati dirinya.


"Dingin sekali, "ucap Yusa mengomentari kondisi sekitarnya.


Angin dingin yang terus berhembus membuat Yusa berfikir dua kali untuk melanjutkan perjalanan nya yang tak menentu. Dia merasakan dingin yang luar biasa, tidak seperti biasanya angin bisa menyebabkan hal itu.


Di perjalanan pulang tak sengaja Yusa melihat Reykyu yang tampak sedang berbincang dengan seseorang. Sepertinya mereka berdua membicarakan hal yang penting dapat dilihat dari wajah serius Reykyu dan lawan bicaranya.


Tanpa adanya kekhawatiran mengganggu percakapan sahabat nya dan lawan bicaranya, dengan polosnya Yusa menghampiri Reykyu dan menyapa singkat.


"Hai Reykyu, " sapa nya sambil tersenyum.


Menyadari kedatangan sahabatnya Reykyu pun menoleh ke arah Yusa, sementara lawan bicaranya pergi dengan ucapan.


"Ingatlah Reykyu masa depan yang sudah pasti telah menanti dirimu. Hanya tinggal waktu yang akan menunjuk kan masa depan itu."


"Hey. Apa aku mengganggu kalian? " tanya Yusa merasa bersalah.


"Ah... ti."


"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud, "ucap Yusa cepat memotong kata kata Reykyu.


"Percakapan kami sudah selesai."Memberi penjelasan yang menjawab pertanyaan Yusa.


Mereka berpindah tempat ke sebuah bangku dibawah sebuah pohon besar karena permintaan Reykyu. Dia beralasan ingin mengungkapkan sesuatu pada Yusa.


Keheningan tidak ada satu patah katapun keluar dari mulut Reykyu.


"Apa yang ingin kau katakan? "tanya Yusa yang tak sabar akan pengungkapan Reykyu. Pikir Yusa Reykyu akan menyatakan suatu perasaan pada dirinya.


Keadaan tidak berubah Reykyu hanya tertunduk sehingga keheninganpun terus berlanjut . Yusa menghela nafas panjang, dia berfikir Reykyu sangat canggung untuk menyatakan perasaannya.


"Kalau tidak ingin bicara. Yasudah..."Cemberut dan berjalan pergi dari Reykyu


"Tunggu..." Menahan Yusa agar tidak pergi.


"Huh. Apa lagi? "tanya Yusa yang sudah terlanjur kesal.


"Sebenarnya aku bukan manusia, "ucap Reykyu mengungkap rahasia tentang dirinya .


Bukannya bingung dan bertanya yang dilakukan Yusa malah tertawa kecil seolah menganggap hal yang dikatakan Reykyu tadi sebagai candaan.


Namun tatapan mata tajam Reykyu ketika menatap Yusa membuktikan kebenaran dari kata katanya itu, sehingga membuat tawa kecil Yusa terhenti dan menimbulkan satu tanda tanya besar.


"Apa kau serius?"


"Aku bukan manusia itu adalah kebenaran, "ungkap dan jelas Reykyu.


"Lalu kau ini apa? "tanya Yusa yang mulai bingung dan penasaran.


"Suatu wujud yang mendekati sempurna. Jiwa dan raga penuh dengan kebaikan, tidak memiliki dendam ataupun kebencian."

__ADS_1


"Itulah... diriku yang sebenarnya."


Selama mereka berteman, Reykyu dapat dianggap telah membohongi Yusa tentang dirinya.


"Di dunia ku. Aku dikenalkan sebagai Shiler Kyu. Kemampuan memprediksi masa depan membuat diriku diandalkan banyak orang."


"Lalu kenapa kau datang ke dunia ini? "tanya Yusa


"Aku memiliki misi mengawasi pergerakan pergerakan dari musuh kegelapan."


"Musuh kegelapan." Terucap begitu saja oleh Yusa.


Reykyu pun melanjutkan penjelasannya, setelah sejenak terhenti karena Yusa.


"Di era ini musuh kegelapan mulai bergerak di dimensi manusia. Makhluk cahaya yaitu Shiler bertekad untuk menghentikan makhluk kegelapan dari tujuan mereka."


"Apa tujuan mereka? "tanya Yusa


"Entahlah... "Berhenti sejenak dan berfikir jawabannya."mungkin masih sama seperti dulu. Mereka ingin menjadi satu satunya kategori makhluk di setiap garis waktu."


"Dengan artian yang lain mereka akan melenyapkan semua makhluk selain kategori mereka sendiri, "ucap Yusa menduga duga akan kemungkinan yang terburuk .


"Mungkin saja, "jawab Reykyu membuat Yusa sangat khawatir .


"Tapi jangan khawatir. Enam harapan akan muncul di era ini, dua diantaranya telah muncul."


Dia melanjutkan dengan mengungkapkan segala rahasia dibalik dirinya pada Yusa. Yusa hanya terdiam dan terfokus dengan penjelasan Reykyu.


Reykyu juga menceritakan perasaan bahagia dikala pertama dia bertemu dengan Yusa. Di dunianya dia hanya dipandang dari kemampuan nya memprediksi masa depan.


Terlepas dari kebahagiaan itu, sebelum Reykyu menjejakkan kakinya di dimensi manusia dia telah mengucapkan 3 janji.


Jika dituliskan maka isi perjanjian itu sebagai berikut.



Seorang Shiler yang memasuki dunia manusia


tidak boleh mengungkap jati dirinya.


Seorang Shiler yang memasuki dunia manusia


tidak boleh melukai manusia.


Seorang Shiler yang memasuki dunia manusia


tidak boleh mencintai seorang manusia.



Kini Yusa yang telah mengetahui segala rahasia tentang sahabatnya. Terungkapnya identitas Reykyu adalah satu tanda akan masa depan yang berbeda.


"Kau... sudah mengerti kan? "tanya Reykyu


Yusa menjawab."Aku mengerti... ."


"Kau akan tiada kan? "tanya nya dengan bertetesan air mata namun tanpa tangisan.


Reykyu terdiam tidak bisa menjawab karena pertanyaan itu sekaligus jawaban. Yusa menggelengkan kepalanya sambil mengulangi kata "tidak" tanda dirinya tidak terima pada hal yang


menimpa sahabatnya.


Rasa tidak terimanya memunculkan perilaku berbeda dari biasanya. Yusa bangkit dan berlari dari tempat ia duduk menuju kebawah pohon besar yang berada tak jauh.


"Kenapa? kenapa? kenapa? "Mengulangi kata tanya itu beberapa kali sampai tangisan menyertai ucapan nya.


Reykyu yang dari tadi terdiam kini telah bangkit dari duduknya.


Reykyu berkata."Karena aku telah melanggar dua janji maka... jiwa Shiler ku akan lenyap. Dalam artian lain aku akan tiada."


"Seharusnya. Kau tidak melanggar nya!"Membentak Reykyu dengan nada tinggi.


"Tetapi... (melirik ke arah Yusa) ada dua takdir yang bisa kupilih untuk diriku sendiri. Takdir yang pertama aku akan tiada. Sementara takdir yang ke dua memungkinkan jiwa dan ragaku menjadi wujud baru yaitu Shiler Venus."


Sedih Yusa langsung terobati karena dia mengetahui ada takdir yang memungkinkan sahabatnya untuk tetap hidup.


"Kalau begitu kau akan selamat kan?. Kau akan tetap hidup kan? "tanya Yusa ingin memastikan jawaban yang ada dipikirannya.


Sayang Reykyu tidak memilih jalan keselamatan itu dia tidak memilih keduanya, dia berdalih akan memilih masa depan yang ia percayai yaitu Yusa yang akan menjadi Venus.


Sehingga Yusa kecewa dan terlontarlah permintaan dari mulutnya agar Reykyu melupakan Yusa. Meski berat hati meminta itu, tetapi itulah satu satu cara agar Reykyu mengubah pilihan nya.


Karena tak sanggup menatap sahabatnya Reykyupun berbalik badan dan berkata."Aku tidak akan bisa melupakan mu."


Yusa membalas dengan kata kata."Masa depan apa yang kau maksudkan? Jangan pikirkan tentang diriku ... pikirkanlah masa depan mu sendiri ... ."


Disertai air mata Yusa berkata. "Aku mohon ... aku mohon ... tetaplah hidup."


Meski telah memohon seperti itu jawaban Reykyu tetap saja sama.


Yusa tertunduk dan berkata."Aku ... benci ... kau. Reykyu... !" Yusa mengulangi Kalimat itu sebanyak tiga kali sebelum dirinya memutuskan untuk pergi dan melupakan Reykyu.


"Mungkin ... kau tidak bisa melupakan ku. Tapi ... (tertahan kerena tangisnya di dalam hati) aku tidak ingin ... kau tiada. Jadi biar aku saja. Aku saja yang melupakan mu. Selamat tinggal Reykyu... "gumam Yusa didalam hati sembari berlari disertai air mata yang berjatuhan.

__ADS_1


Sementara Reykyu hanya terdiam ditempatnya. Angin dingin yang membawa dedaunan berhembus didepan Reykyu, dan memunculkan seorang laki laki.


Laki laki itu berkata silih bertanya."Masa depan yang kau yakini. Sepertinya tidak akan terjadi. Reykyu waktu mu tidak lama lagi ... apa keputusan mu? Tiada atau hidup dengan bentuk baru."


"Sudah kubilang ..."ucap Reykyu kemudian dengan nada keras Reykyu menegaskan."Aku menyakini masa depan yang kulihat!"


Laki laki lawan bicara Reykyu itu, berkata sekaligus bertanya. "Bukankah kau sendiri yang mengataka.Masa depan tidak pasti dan tidak bisa diprediksi. Apa kau sudah menyangkal hal itu?"


"Ka-ta-kan...!"pinta laki laki itu pada Reykyu.


Reykyu tersenyum tipis dan berkata."Aku ... juga menambahkan. Masa depan itu ... ditentukan oleh hal ... yang dilakukan di masa kini."


"Jadi kau sudah yakin?"tanya laki laki itu dibalas anggukan oleh Reykyu.


Dengan berat hati dia berkata sambil menatap Reykyu."Baiklah ... aku akan berusaha mewujudkan masa depan yang kau yakini itu."Menghilang setelah selesai berucap dan hanya meninggalkan jejak dedaunan yang berserakan.


Kembali kepada keadaan Yusa yang amat sedih dan kecewa. Tangis yang tak karuan serta langkah yang juga tak beraturan membuat gadis cantik itu jatuh tersungkur.


Seseorang mengulurkan tangannya dan berusaha membantu Yusa berdiri, tapi Yusa menolak bantuan itu, dengan ucapan."Pergilah ... lupakan aku."


"Aku ... bukan Reykyu, "ungkap orang yang berusaha menolong Yusa.


"Siapa kau? "tanya Yusa yang telah berdiri dan berhadapan dengan lawan bicaranya.


Setelah memperkenalkan diri, laki laki itupun menceritakan tentang kondisi Reykyu yang saat ini sudah setengah menghilang. Yusa berusaha menutupi air matanya dengan berpaling dari laki laki itu dan memendam suara tangisnya.


"Apa kau ingin harapan Reykyu tidak terwujud? Dia tidak menginginkan untuk kau menjadi Shiler Venus."


Mengetahui segalanya Yusa pun berlari kembali berharap dia tidak terlambat melihat sahabatnya untuk terakhir kalinya. Sambil mengingat kata kata laki laki tadi dengan air mata yang terus mengalir deras tak henti henti.


Kata kata itu ialah."Apa kau ingin harapan terakhir Reykyu tidak terwujud? Dia tidak menginginkan kau menjadi Shiler Venus. Dia hanya tidak ingin melupakanmu ... hanya itu saja, jadi aku mohon temui lah Reykyu sebelum terlambat."


Terketuk pintu hatinya, sehingga dia berfikir bagaimana bisa dia mengucapkan kata benci dari mulutnya dan di tujukkan kepada Reykyu.


Rasa bersalah dan penyesalan yang amat mendalam menyertai setiap kalinya melangkah. Tapi Yusa menyadari, saat ini dia penyesalan tidak ada gunanya.


Dan setelah sampai, benar saja Reykyu sudah hampir menghilang dia berdiri menatap keatas seakan sedang menunggu sesuatu.


Dengan meneriakkan nama sahabat nya,


Yusa berlari secepat yang ia bisa kearah Reykyu dan dengan erat dia memeluk Reykyu dari belakang. Reykyu tidak bereaksi apa-apa ketika di peluk Yusa, meski begitu Yusa tidak melepas pelukannya.


"Yusa. Yusa. Yusa, "ucap pelan Reykyu yang saat ini kesadarannya sudah hampir menghilang."Aku tidak akan melupakan dirimu."


"Tentu aku juga ... tidak akan melupakanmu."


Beberapa saat kemudian Reykyu tersenyum tubuh nya mulai berubah menjadi partikel cahaya, itulah tanda waktu ajalnya telah tiba.


Yusa menahan tangisnya ketika Reykyu mengucapkan kalimat perpisahan, pelukannya terlepas setelah Reykyu benar-benar menghilang. Sekumpulan partikel cahaya berterbangan menuju langit sore.


Berbeda dari sebelumnya,


Kini Yusa tersenyum walau hati menangis dia berkata."Terima kasih telah datang. Aku sangat mencintaimu, jadi aku berjanji akan selalu mengingat dirimu."


Dia pun pulang ke rumahnya, setelah momen sedih itu dilewatinya dengan ketabahan. Sesampainya dirimu Yusa sama sekali tidak menghiraukan keluarga nya, dia langsung menuju kamarnya dan mengunci pintu.


Percakapan singkat dimeja makan terjadi diantara Ibu, Ayah dan Kakak Yusa. Mereka membahas perilaku aneh Yusa yang baru mereka lihat.


"Hikan apa yang terjadi? "tanya sang Ibu


"Entahlah. Bu... aku juga tidak tahu."


"Aku agak khawatir. Pada anak kita... "ungkap sang Ayah


Di dalam kamar yang terkunci rapat, Yusa mengingat kembali memori kesedihan tadi sore, dia menangis tanpa suara sampai tertidur.


Ke esokan harinya...


Bangun tidur, mandi , mengenakan pakaian sederhana dan berjalan ke ruang tamu. Yusa tak menyadari banyak teman teman perempuan nya di sana, wajar saja karena hari ini adalah ulang tahun Yusa.


"Selamat Ulang Tahun Yusa... "teriak semua orang disana bersamaan dengan sebuah kue besar yang dibawa oleh Hikan.


Tetapi hari ini sudah tak bermakna lagi, bagi Yusa kehadiran sahabatnya adalah alasan dia bisa tersenyum. Yusa mengabaikan semuanya dan berlari cepat keluar dari sana. Dikala sang kakak ingin menyusul dilarang keras oleh Yusa sehingga Hikan pasrah dan membiarkan adiknya itu.


Ternyata Yusa menuju tempat terakhir dia melihat dan berpelukan dengan Reykyu. Disana air matanya menetes dan tak bisa ia kendalikan perasaan nya.


Sampai seorang laki laki yang dari awal terlibat dalam cerita Yusa dan Reykyu muncul,


dia mengatakan sekaligus menegaskan."Menangis saja tidak bisa mengubah masa depan."


"Kau benar. Tapi ... ."


"Aku masih tidak bisa menerima akan hal yang menimpa Reykyu. Dia tiada karena diriku." Merasa sangat bersalah sehingga Yusa mengucapkan hal itu.


Menanggapi rasa bersalah Yusa laki laki itu berkata."Dia pasti sangat kecewa ... jika kau menyalahkan dirimu sendiri."


Setelah merasa Yusa sudah agak tenang, laki laki itu pun mengungkap tujuan sebenarnya dia menemui Yusa. Dia ingin mewujudkan masa depan yang dipercaya Reykyu, sehingga dia memberi dua jalan bagi Yusa.


Yang pertama adalah jalan normal seperti biasanya. Sementara yang kedua adalah jalan harapan yang di lihat Reykyu dimimpinya. Dan dengan penuh keyakinan Yusa memilih untuk menjadi harapan yang diimpikan Reykyu.


Dikala itu pula jiwa Reykyu menyatu pada Batu Permata Venus Plazers yang kini juga telah menyatu pada jiwa dan raga Yusa. Bisa dikatakan Reykyu dan Yusa telah menyatu, jiwa Reykyu hidup di dalam diri Yusa.


Sehingga mereka berdua tidak akan terpisahkan, melainkan akan selalu bersama.

__ADS_1


__ADS_2