
Ezra Cornellius Rafeld, ya itulah namaku. Semua orang akan tahu siapa keluargaku jika mendengar namaku. Meskipun aku memiliki marga Rafeld yang merupakan marga tertinggi di Sobraska, aku tidak pernah merasakan kebahagian karena namaku tersebut. Bahkan aku merasa semua beban ditumpukkan padaku ketika aku menggunakan nama tersebut. Saat ini aku berusia 16 tahun, dan tidak lama lagi aku akan keluar dari SMA. Aku tidak tinggal di Istana. Setelah orangtuaku bercerai, ibuku mendapatkan hak asuhku dan mengganti namaku menjadi Alexander Cornellius Anre. Tujuannya adalah agar orang-orang tidak mengenali siapa diriku yang sebenarnya. Meskipun begitu, aku sudah tahu tentang jati diriku sejak masih berumur 5 tahun.
Sejak kecil aku hidup normal, menjalani masa kecil seperti anak-anak pada umumnya, yang membedakan mungkin hanya dari keluarga ayahku saja. Aku tidak dapat selalu bersama dengan ayahku, aku hanya bertemunya dalam kurun waktu 2 hari seminggu dan itupun terjadi jika ayahku memiliki waktu luang untuk bersamaku. Hal ini merupakan kesepakatan antara ayah dan ibuku untuk membesarkanku secara bersama-sama setelah mereka bercerai. Meskipun pada kenyataannya, kebanyakan waktuku dihabiskan bersama dengan ibuku di sebuah rumah kecil.
Aku tidak tinggal di Istana seperti kebanyakan bangsawan lainnya. Mereka hanya memonitor kegiatanku dari kejauhan namun, keluarga kerajaan tetap menganggapku sebagai calon raja selanjutnya. Hal ini yang menyebabkan mereka selalu memperlakukanku selayaknya pangeran dan begitupun sebaliknya aku harus banyak belajar tentang protokol kerajaan yang begitu banyak untuk dipatuhi dan dijalankan agar dapat memenuhi ekspektasi semua orang. Aku memang bertugas untuk memenuhi ekspektasi semua orang, terutama keluarga kerajaan. Setiap hari libur, aku memiliki jadwal latihan protokol kerajaan bersama dengan seorang sekretaris rumah tangga istana senior yang bernama Starni Amil. Aku tidak tahu kenapa dia dinamakan dengan nama Starni, karena seharusnya bintang itu sangat indah dilihat di langit malam, namun star yang satu ini sangat berbeda. Ia begitu dingin, tegas, keras, dan masih banyak hal yang aku tidak sukai dari dia. Mr. Starni sudah bekerja sebagai Sekretaris Rumah Tangga Istana sejak 32 tahun yang lalu. Aku yakin ia sudah mengajari belasan anggota keluarga kerajaan, termasuk aku.
"Hallo Mr. Starni," seruku menirukan gaya bicara seorang pangeran yang ada di dalam video yang sedang aku tonton.
"Tuan, anda harusnya lebih memperhatikan posisi tubuhmu ketika berbicara, mata harus fokus melihat orang yang anda hadapi, bukannya malah melirik kesana-kemari!" Ucapannya begitu monohok dan terdengar mengolok-olok.
__ADS_1
"Ingat 'body language' yang ada dalam buku Manner chapter 12," tambahnya.
Aku menarik nafas yang panjang ketika menghadapi Mr. Starni ini. Baru saja 10 menit bersama dengannya, aku merasa belasan jam dengannya. Aku masih ingat dengan jelas omelan tadi, aku mendapatkannya ketika awal aku mendapatkan pelajaran Manner. Selama jadwal kunjunganku, aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk belajar 'Manner' dengan Mr. Starni dibandingkan bergaul sengan ayahku atau keluargaku yang lain.
Aku jarang sekali mengunjungi Istana, alih-alih istana aku justru lebih banyak menghabiskan waktuku di Villa Kerajaan ketika jadwal berkunjung, alasannya sangat sederhana 'demi keselamatanku', karena memang Villa Kerajaan jarang diketahui oleh orang-orang dibandingkan di Istana. Aku menjadi seorang pangeran hanya pada hari sabtu dan minggu saja. Selepas itu, aku menjalani kehidupan normalku sebagai seorang pelajar tanpa embel-embel pangeran. Sejak ibu dan ayahku berpisah pada tahun 2006, ibuku selalu membawaku berpindah-pindah kota. Hal ini bertujuan untuk menyamarkan keberadaanku, sehingga aku dapat menjalani kegiatan tanpa harus was-was sesuatu yang buruk akan terjadi. Hingga akhirnya pada tahun 2010, aku dan ibuku memutuskan untuk tinggal di sebuah kota bernama Tamarin, sebuah kota kecil di pinggiran ibukota Sobraska, Dekker City. Aku bersekolah di sekolah Tamarxal High School. Disana tidak ada satupun orang yang mengetahui jati diriku yang sebenarnya, bahkan teman terdekatku sendiri, Antoni Marsal. Ini merupakan sebuah protokol kerajaan yang harus aku lakukan agar dapat dengan tenang hidup sebagai Alexander bukan Ezra. Aku harus sepintar mungkin menempatkan kedua namaku itu sesuai tempatnya baik itu Alex ataupun Ezra.
"ALEX!" suara ibuku terdengar nyaring di telingaku.
"Alex bangun, Toni sudah menunggumu katanya kau mau latihan baseball bukan?"
__ADS_1
Seluruh sistem kesadaran tubuhku mendadak aktif. "Ya ampun ma, kenapa baru dikasih tahu!"
Aku tidak ingat, hari ini merupakan hari yang sangat penting. Hari ini sekolahku libur karena sedang merayakan hari jadi Kota Tamarin yang ke 123 tahun. Namun, meskipun hari ini libur, aku dan Antoni adalah anggota baru tim baseball dan hari ini akan mengadakan latihan rutin. Aku benar-benar ketakutan saat ini, mengingat siapa pelatih baseball-ku, aku yakin telat beberapa detik saja maka habislah aku. Aku segera beranjak dari tempat tidur untuk mencuci wajah, menggosok gigi dan mengganti pakaian. Hanya dalam waktu 10 menit aku bisa menyelesaikan itu semua. Aku menyambar semua peralatan yang akan aku gunakan sambil berlari menuju meja makan.
"Dah Mom, aku akan memberi kabar nanti ya," kataku sambil mengambil dan memakan sepotong roti yang sudah ada di meja makan.
"Baik, hati-hati di jalannya Sweet Heart dan jangan lupa untuk minum dan makan ya, love you."
"Love you too," jawabku sambil menutup pintu dan membenarkan kaus kakiku. Aku bergegas menemui Antoni yang sudah menunggu di depan rumah.
__ADS_1
"Lihatlah pertandingan akan dimulai dalam waktu 20 menit lagi, dan aku yakin kita akan sampai 15 menit lagi sedangkan kita harus ada di lapangan 10 menit lagi," omel Toni ketika melihatku keluar rumah sambil membenarkan sepatu dan mulut yang penuh dengan roti. Aku diam saja tidak mau menjawabnya karena jika aku berani menjawab, ia akan semakin marah. Aku hanya tersenyum saja melihat wajah Toni yang kusut sejak tadi.