The Silent King

The Silent King
Sekolah


__ADS_3

Aku pulang larut malam kemarin, sehingga saat ini aku merasa pusing sekali karena aku kurnag tidur. Aku mencoba untuk bersikap biasa-biasa saja di depan ibuku. Aku sudah terbiasa untuk berangkat pagi bersama dengan ibuku yang juga bekerja di sebuah rumah sakit. Hal ini tentunya membuat aku punya banyak waktu untuk mempersiapkan pembelajaran. Namun, saat ini yang kupikirkan hanyalah tidur. Kondisi sekolah masih sangat sepi hanya terlihat beberapa petugas sekolah yang berlalu-lalang untuk membersihkan seluruh bagian sekolah.


Aku berjalan menuju ruang kelasku yang ada di lantai 2. "Hallo, Mr. Alex," sapa Mr. All. Ia seorang petugas sekolah dan ia sudah bekerja di sekolah ini lebih dari 15 tahun. "Hai, morning Mr. All," jawabku. Orang-orang memanggilnya dengan Mr. All karena hampir semua pekerjaan dapat ia lakukan dengan mudah. Intinya Mr. All adalah orang yang multi talenta dan hampir semua orang di sekolah ini menyukainya. Aku bergegas menuju ruang kelas ku yang sudah terlihat dari kejauhan.


Sesampainya di ruang kelas, aku langsung menuju tempat dudukku yang ada sebelah kiri dan berada di urutan kedua dari belakang. Mataku sudah sangat berat, hingga akhirnya aku memutuskan untuk menutup mata dan mencoba untuk tidur. 


"ALEX!!" Sebuah suara memekakkan telinga, hingga membuatku langsung tersadar. Ternyata itu adalah suara Aurel.  "Oh my God, Aurel!! Aku mencoba untuk tidur!!" Jawabku geram dengan kelakuannya pagi ini. 


"Jika kau ingin tidur seharusnya kau tidak perlu ke sekolah, mungkin kau bisa ke hotel!" Aku melihat Aurel duduk di tempatnya disusul oleh Toni dan beberapa teman lainnya mulai memasuki kelas. Mataku langsung segar ketika teman-temanku datang, terutama setelah suara nyaring Aurel masuk ke dalam telingaku. 


"Kau terlihat kacau sekali, kau punya masalah?"


Tanya Toni, sambil menyimpan tas di kursinya. 


"Aku hanya kurang tidur saja,"


"Ya jelas itu sebuah masalah, memangnya apa yang kau lakukan semalaman hingga kau kurang tidur? Kau bukan anak yang suka bergadang, jam 9 saja kau sudah tidur," tanyanya sambil meledekku.


"Kenapa kau ingin tahu, lagi pula ini urusanku!"


"Baiklah aku memang tidak ingin berdebat denganmu, pagi hariku harus dipenuhi kecerian bukannya berdebat denganmu yang begitu suram," jawab Toni sambil tertawa meledekku. Teman-temanku memang terkenal usil dan suka menggangu orang lain termasuk aku.

__ADS_1


Suara bel masuk terdengar nyaring seluruh lingkungan sekolah. Para siswa mulai masuk ke ruangan kelas masing-masing, begitu juga para guru yang mulai keluar dari ruang guru lalu menyebar ke seluruh penjuru sekolah untuk mengajar. Hari ini pelajaran Fisika, Miss Angel yang akan mengajar. Ia memasukki ruangan kelas kita dan memulai pembelajaran. Semua orang terlihat tegang melihat kedatangan Miss Angel. Ia terkenal karena tegas dan tidak segan untuk menghukum anak yang menggangu pelajarannya. Aku tidak dapat konsentrasi saat itu, hingga membuatku tak dapat memahami apa yang sedang Miss Angel jelaskan. 


"Alex, kau mendengarkanku bukan?" Sontak seluruh mata beralih pandangannya untuk melihatku. "E-e-emm iya Miss," jawabku gugup. Baiklah kalau begitu, coba kau jawab pertanyaan berikut!" Perintahnya sambil menunjuk papan tulis. 


Matilda's POV


Pagi ini tidak berbeda jauh dengan pagi sebelumnya, aku berangkat bersama dengan Alex yang baru beberapa jam yang lalu pulang dari istana. Ia belum menceritakan apa yang terjadi, karena ketika ia pulang aku sedang tertidur. Pagi hari memang menjadi satu hal yang penting bagi keluargaku, terutama aku. Hal ini dikarenakan aku bekerja sebagai perawat di Tamarxal Hospital dan selalu kebagian shift pagi. Aku sudah bekerja disini selama lebih dari 8 tahun. Ketika aku bekerja disini tidak ada yang mengenaliku sebagai mantan istri dari Pangeran Thomas Rafeld, meskipun ketika pertama kali aku bekerja ada seorang perawat lainnya yang sedikit mencurigaiku, tetapi akhirnya ia pindah sehingga aku aman untuk saat ini. Sebenarnya aku sudah tidak memperdulikan dan membuang pemikiran tersebut agar aku dapat lebih fokus untuk bekerja, namun aku tidak dapat menghilangkan rasa was-was yang terus menghantui ketika aku memikirkan apa yang akan terjadi jika identitas kami berdua terungkap. Meskipun, aku tahu bahwa suatu saat nanti Alex akan menggunakan nama Ezra dan semuanya hal yang aku punya saat ini akan hilang begitu saja. Sebenarnya aku yakin seseorang mungkin akan mengenaliku jika dulu aku tidak melakukan operasi plastik, mengubah sebagian bentuk wajahku agar tidak mirip dengan wajah asliku. Sebenarnya ide operasi plastik ini datang dari istana, namun aku merasakan manfaatnya karena dengan operasi ini orang-orang lebih sulit untuk mengenaliku, ditambah lagi aku dan Alex yang berpindah-pindah tempat membuatku semakin tidak dapat terlacak oleh media.


"Kau keliatan lelah sekali nak, kau yakin akan sekolah? Jika kau memang tidak ingin berangkat sekolah, aku akan memberitahu wali kelasmu," saranku melihat kondisi Alex yang sepertinya kelelahan karena kurang tidur. Aku tidak tahu apa yang Alex lakukan semalam  hingga ia seperti ini. 


"Aku baik-baik saja mom," jawabnya dengan lemas.


"Baiklah, jika terjadi sesuatu kau dapat memberitahuku oke?"


Sesampainya di rumah sakit, aku merawat beberapa pasien, semuanya tampak normal pada awalnya hingga akhirnya aku mendapatkan telpon dari Mr. Starni.  "Hallo Mr. Starni, apakah terjadi sesuatu?"


"Hai Mrs. Matilda, aku hanya ingin memberi tahumu sebuah berita. Aku harap kau tidak memberitahukan ini kepada siapapun kecuali Ezra karena ini masalah yang sangat rahasia untuk saat ini,"


"Baiklah, aku berjanji tidak akan memberitahukan kepada siapapun,"


"Raja Thomas Rafeld II telah meninggal dunia,"

__ADS_1


Aku tidak dapat berkata apa-apa, aku benar-benar terkejut. Apakah ini yang menyebabkan Alex kemarin menghabiskan waktunya di Istana, bahkan hingga ia kurang tidur? Banyak pertanyaan yang muncul dari kepalaku, namun pikiran pertama yang muncul adalah Alex. Aku lebih khawatir dengan kondisi Alex.


"Apakah Alex mengetahui ini?"


"Belum, aku ingin kau yang memberi tahunya, jangan sampai Pangeran mendengar berita kematian Raja Thomas Rafeld II dari siapapun. Istana akan mengumumkan kematian Raja, setelah kau memberitahu Alex. Jadi aku ingin kau menghubungiku setelah kau memberitahu Alex," 


"E-emm baiklah, aku akan memberitahu Alex,"


"Baik terima kasih Mrs. Matilda." Mr. Starni langsung menutup telpon.


Aku terdiam beberapa saat, aku masih memikirkan apa yang sedang terjadi. Aku bergegas untuk menelpon Alex, namun Alex tidak menjawabnya. Aku sangat takut jika ia mendengar berita ini dari orang lain. Akhirnya aku memutuskan untuk menelpon sekolah, agar Alex dapat menerimanya.


Alex's POV


Aku agak sedikit kebingungan dan tidak dapat berkonsentrasi, meskipun sebenarnya soal yang diberikan Miss Angel tidak terlalu sulit dan aku juga dapat menjawabnya. Ketika aku mencoba untuk menjawabnya, terdengar sebuah pengumuman yang menggelegar di seluruh sekolah.


"Attention, kepada Alexander Cornellius Anre ditunggu oleh Mr. Gerard di ruang guru." Mendenga itu aku terdiam beberapa saat, mencerna apakah aku tidak salah dengar saat namaku dipanggil.


"Kau boleh menemui Mr. Gerard, namun kau tidak mengulangi hal tadi, kau paham kan?" Tanya Miss Angel padaku. Aku mengganguk, tanda mengerti. Aku segera menuju ruang guru. Disana sudah terlihat Mr. Gerard yang sedang berdiri.


"Ibumu menelpon Alex, kau harus sabar ya,". Mr. Gerard meninggalkanku dan menuju tempat duduknya. Aku masih heran dengan apa yang barusan ia bilang.

__ADS_1


"Hallo mom, apakah ada sesuatu yang terjadi? Kau baik-baik saja kan?"


"Ayahmu sudah meninggal, Nak." 


__ADS_2