
Semua orang memandangiku ketika aku keluar dari ruang kelasku. Aku yakin mereka bertanya-tanya bagaimana mungkin seorang sepertiku merupakan keluarga kerajaan, atau pantaskah aku menjadi anggota keluarga kerajaan. Namun, aku mencoba untuk menghiraukan tatapan-tatapan itu semua. Selain itu, Berita begitu cepat menyebar dan tak dapat dibendung lagi. Orang-orang mulai membicarakan hal yang baru saja terjadi, meskipun Istana belum mengeluarkan pemyataan apapun.
Aku meninggalkan sekolah dalam keadaan yang menimbulkan banyak pertanyaan. Pertanyaan tersebut terus berkembang menjadi gosip-gosip berbahaya dan dapat mengarah menjadi sebuah berita bohong. Meskipun, aku yakin istana akan segera menyelesaikan masalah ini. Rombongan tentara yang membawaku melaju kencang menuju Istana Beverus, sehingga hanya dalam waktu yang cepat, kami akhirnya sampai di Istana yang ditandai dengan terlihat samar-samarnya pagar Istana Beverus yang menjulang tinggi dari dalam mobil militer.
Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan keluarga kerajaan, aku yakin mereka memiliki alasan yang tepat tentang apa yang sedang terjadi saat ini. Mobil yang aku tumpangi mulai memasuki lingkungan Istana Beverus. Dari kejauhan terlihat Mr. Starni sedang berdiri depan pintu masuk Istana Zarius. Mr. Starni segera menghampiri rombongan mobil militer yang masuk ke lingkungan Istana Zarius. Aku bersama Mr. Starni bergegas menuju ruang perundingan yang terdapat di Istana Alverus. Aku berjalan selama beberapa menit hingga berakhir di depan sebuah pintu besar yang terbuat dari kayu jati. Ketika pintu besar tersebut terbuka, aku melihat semua anggota keluarga kerajaan sedang saling berdebat di dalam ruangan. Seketika semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut berhenti berdebat dan mulai melihat ke arahku.
"Selamat datang Putra Mahkota," ucap bibiku. Mendengar itu, sontak membuatku terkejut. Aku tidak mengharapkan sapaan ini muncul pertama kali disaat aku masih bingung apa yang sedang terjadi.
"Wait, aku tidak paham apa yang sebenarnya terjadi disini! Apakah aku salah bahwa 15 hari yang lalu ayahku meninggal dan saat ini masih masa berkabung? Apakah aku salah?" Tanyaku tegas terhadap semua orang yang ada di ruangan ini. Mereka semua terdiam. Sejak awal aku masuk ruangan, nenek terus memperhatikanku begitu juga ketika aku marah.
"Ikutlah denganku, kau jelas harus berbicara denganku, Nak," ucap nenekku sembari masuk ke sebuah ruangan lainnya. Spontan aku pun mengikutinya.
"Aku paham kau marah padaku, pada semua anggota keluarga kerajaan." Seseorang menutup pintu ruangan ini. Sekarang hanya aku dan nenekku di ruangan ini. Aku mencoba sebisa mungkin untuk tidak marah saat ini.
"Why?" Tanyaku lirih.
"Percayalah, aku tidak menginginkan ini terjadi hari ini, namun keadaan memaksaku untuk segera mengubahnya,"
"Aku tidak paham,"
__ADS_1
"Parlemen akan segera mengaktifkan Intervention Rule untuk mengatasi permasalah tahta istana. Mereka menganggap istana tidak dapat memberikan kepastian tentang pewaris tahta selanjutnya. Kau pasti tahu bahwa adikmu tidak memiliki umur yang cukup untuk menjadi pewaris tahta, bukan?"
"Kenapa adikku?"
"Mereka tidak mengetahui keberadaanmu, mereka menganggap hanya adikmu yang memiliki hak untuk menjadi pewaris tahta," ucap nenekku sembari mencoba duduk di sebuah kursi yang ada.
"Aku tahu kau marah padaku karena membuat keadaan menjadi tidak terkendali, namun ini aku lakukan semata-mata agar kau menjadi penerus tahta selanjutnya. Aku tidak ingin parlemen ikut campur dalam urusan istana,"
"Lalu, Nenek melakukan ini untuk mengatasinya?"
"Jika ada cara lain yang lebih baik dari ini maka nenek siap mengambil resiko apapun," jawab nenekku sambil mencoba memegang tanganku. Aku memejamkan mata dan mencoba untuk tetap tenang.
"Jadilah dirimu sendiri, kami sudah merancang acara perkenalanmu pukul 14.00. Aku ingin kau mempersiapkannya. Kau tidak perlu khawatir dengan ibumu, karena sekarang ia berada di lokasi yang aman,"
Aku mencoba untuk tetap tenang dan mengikuti arahan nenekku. Aku mempercayai nenekku sepenuhnya, aku tahu ia melakukan ini karena ia tidak memiliki solusi alternatif lainnya sebelum parlemen bertindak. Setelah berbicara dengan nenekku aku menjadi lebih tenang dibandingkan sebelunya.
Intervention Rule, mungkin ini merupakan salah satu Undang-Undang pencetus revolusi Kerajaan Sobraska. Keberadaannya dapat mengubah sistem kerajaan. Hal inilah yang memicu kejadian hari ini. Aku telah melihat kegelisahan keluarga kerajaan. Mereka tidak ingin melepaskan apapun yang sedang mereka pegang saat ini. Posisiku saat ini memang tidak menguntungkan. Di satu sisi aku tidak menyukai ini, namun di satu sisi lagi sekuat apapun aku menolak, aku tetap tidak dapat memilih untuk dilahirkan di keluarga mana. Aku sudah ditakdirkan untuk menjadi bagian keluarga kerajaan dan aku punya tanggung jawab untuk melindunginya.
Kejadian menghebohkan yang terjadi di Tamarxal High School dan juga Tamarxal Medical Center, tempat ibuku bekerja, membuat semua media sosial memberitakan hal tersebut. Ribuan komentar secara bersamaan memenuhi laman-laman website yang berhubungan dengan istana. Tidak hanya itu, akun pribadi milikku juga tidak luput dari serangan komentar ini. Bermacam-macam jenis komentar muncul, mulai dari komentar yang mempertanyakan apa yang sedang terjadi, komentar jahat dan masih banyak lagi. Aku bahkan tidak dapat menggunakan smartphone-ku saat ini. Media sosial, SMS, aplikasi chating, telpon, semuanya penuh dengan pesan-pesan baru. Saking penuhnya, membuatku terpaksa untuk mematikannya.
__ADS_1
Ruang Conference Pers Istana...
"Istana berjanji akan menjawab pertanyaan kalian beberapa jam ke depan," jawab juru bicara istana ketika ia ditodong berbagai macam pertanyaan dari para reporter yang sudah menunggu sejak tadi. Suasana ruangan press conference sangat riuh dengan banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang terus keluar dari para wartawan. Sang juru bicara segera meninggalkan ruangan, tampak wajahnya sangat kusut sekali.
"Oh my God, aku tidak tahan sekali!" Teriak wanita itu saat memasuki ruangan juru bicara.
"Kau berhasil mengatasinya bukan?" Tanya seorang lelaki paruh baya sembari meniup kopi yang baru ia buat, "Aku mendengar mereka seperti sedang demo," tambahnya sambil meneguk sedikit kopinya.
"Diamlah, bagaimana hasilnya? Apa Istana sudah menetapkan jadwalnya?" Tanya juru bicara wanita tadi yang sekarang telah duduk di kursinya dan mencoba untuk mengabaikan lelaki yang sedang meminum kopi tersebut.
"Entahlah, tidak ada yang pasti saat ini." Jawab wanita berpakaian formal berwarna coklat yang sedari tadi melihat ke arah laptopnya. Namun, ketika ia melihat kembali ke monitor, ia langsung teriak, "Sudah keluar! Mereka akan melakukan conference pers pukul 14.00." Mendengar itu, sontak semua orang di ruangan itu melihat jam dan sekarang menunjukkan pukul 13.50.
Mr. Starni mengarahkanku untuk menuju ruang Conference Pers yang ada di Istana Zarius sesuai arahan Ibu Suri. Terlihat dari kejauhan bahwa ruangan tersebut begitu sesak dan gaduh, terlihat juga puluhan reporter dan kameramen yang bersiap untuk mencecar orang yang akan berbicara di depan. Waktu menunjukkan pukul 13.53, aku segera bersiap menuju ruangan Pers Conference. Ini adalah pertama kalinya aku tampil dihadapan publik, semua orang akan melihatku dan menilaiku. Sekretariat Istana memberiku secarik kertas yang inti dari isinya adalah memperkenalkan diriku sendiri sebagai anak raja.
Aku sudah mengganti pakaian sekolahku dengan pakaian formal khas Kerajaan. Aku memakai sebuah kemeja berwarna coklat yang pada bagian belakangnya terdapat sulaman lambang Kerajaan Sobraska. Begitu juga dengan celana ku yang berwarna coklat polos, menyesuaikan dengan baju yang aku kenakan. Aku bergegas memasuki ruangan Pres Conference.
Aku berjalan melewati ruangan Juru Bicara. Mereka memberi salam penghormatan untukku, namun aku melihat beberapa orang tampak bingung ketika melihatku. Aku mencoba untuk menghiraukannya dan fokus pada tugas yang akan aku lakukan. Semua mata dan lensa kamera akhirnya mengarah kepadaku ketika aku memasuki ruangan tersebut. Ruangan ini memang lebih besar dibandingkan dengan ruangan lainnya. Sebelum aku menuju podium, aku memberi salam terlebih dahulu kepada semua orang dengan membungkukkan tubuhku.
"Hallo semuanya, mungkin kalian tidak mengenalku. Ini adalah pertama kalinya aku muncul di publik." Setelah aku berbicara, ruangan menjadi begitu sunyi, tidak ada satupun orang yang mengeluarkan suaranya.
__ADS_1
"Izinkan aku memperkenalkan diri, aku adalah Ezra Cornellius Rafeld. Putra pertama dari Raja Thomas Rafeld II dan aku merupakan Putra Mahkota." Sontak ruangan menjadi gaduh lagi setelah itu.