The Silent King

The Silent King
Kenyataan


__ADS_3

"Ibu tidak bercanda bukan? Ini tidak lucu!"


"Ibu tidak bercanda, Mr. Starni menelpon ibu dan memberitahukan berita ini kepada ibu," jawab ibuku, aku mendengar suara ibuku seperti menahan tangis. Aku terdiam sejenak, merenungi apa yang sedang terjadi. Aku tahu kabar ini akan datang kepadaku, namun ini terlalu cepat, hingga aku tidak tahu apa yang aku lakukan. Aku segera menutup telponnya dan berlari menuju toilet. Aku merasa sangat hancur, aku bahkan hanya tahu kondisi kesehatan ayahku sehari sebelum ia meninggal. Aku menyayangkan kenapa semua orang menutupi masalah sepenting ini dariku, kenapa tidak ada yang memberitahuku bahwa ayahku sedang sakit. Semua rasa penyesalan dan kesedihan bercampur aduk dalam satu jiwa. Hatiku begitu hancur, kini aku memikirkan apa yang akan terjadi kepadaku. Aku sangat frustasi saat ini.


Hari ini aku memutuskan untuk pulang lebih dulu. Ibuku menjemputku dan segera membawaku ke Istana. Aku yakin dalam waktu beberapa jam kedepan, semua saluran televisi, semua berita, tranding topic adalah tentang kematian raja dan aku harus dapat beraktivitas sebagaimana mestinya, seolah-olah tidak terjadi sesuatu. Orang-orang mungkin menganggap ayahku meninggal bersamaan dengan kematian Raja, sehingga aku masih bisa beraktivitas seperti biasanya. Aku bergegas mengunjungi istana untuk memberikan penghormatan terakhir kepada ayahku. Meskipun, upacara tersebut harus digelar tertutup dan hanya keluarga saja yang turut hadir. Setelah itu aku tinggal di Istana untuk beristirahat, begitu juga dengan ibuku.


Satu jam setelah kepulanganku, semua orang mulai mengetahui berita kematian raja. Terlebih lagi, setelah istana mengonfimasi berita tersebut maka semua kegiatan di berbagai sektor kecuali sektor ekonomi dan kesehatan, dipulangkan lebih awal sebagai tanda masa berkabung dimulai. Sesuai dengan tradisi turun-temurun, setelah Raja dikonfirmasi meninggal dunia maka akan ada masa yang disebut dengan masa berkabung selama 1 bulan penuh. Masa berkabung ini berarti semua bendera di seluruh negeri dikibarkan setengah tiang, jam kerja dipotong menjadi setengah hari begitu juga dengan jadwal pembelajaran, semua jalanan akan dipenuhi dengan bendera berwarna putih dan beberapa aturan lainnya yang harus dipatuhi selama masa berkabung. Selama masa berkabung, kekuasaan akan sepenuhnya dilakukan oleh tetua keluarga kerajaan. Barulah setelah masa berkabung selesai,  pemimpin baru akan melakukan beberapa upacara penobatan hingga menjadi seorang Raja atau Ratu yang baru. Hingga saat ini Istana belum mengumumkan siapa yang akan menjadi pewaris tahta Kerajaan Sobraska. Hal ini memicu rumor-rumor yang terus bermunculan dan akan berbahaya jika terus dibiarkan. Satu-satunya jalan yang dapat digunakan adalah memperkenalkanku sebagai pewaris tahta Kerajaan Sobraska atau menjadikan orang lain penerusnya. Aku hanya bisa menunggu apapun keputusan yang dikeluarkan oleh Istana terutama oleh Ibu Suri.


15 Hari Kemudian…


Suasana berkabung jelas terlihat, meskipun jasad raja sudah dimakamkan 14 hari yang lalu, masih banyak orang-orang yang frustasi dan meratapi kematian Raja di depan Istana Beverus. Mereka tidak menyangka Raja Thomas Rafeld II meninggal di usia yang masih terbilang muda.


Aku menjalani kehidupan seperti biasanya. Aku mencoba tegar dan mulai mempersiapkan diri  untuk berbagai hal yang akan terjadi kedepannya. Seperti halnya denga sekolah, aku berangkat sekolah seperti biasanya. "Mom, hari ini aku ada perkumpulan klub baseball jadi pulangnya akan sedikit telat jika dibandingkan dengan hari sebelumnya,"


"Baiklah, hati-hati pulangnya ya, dah Sweet Heart," sambil mengecup keningku. Saat ini ibuku adalah orang yang paling mengkhawatirkanku, ia tahu aku belum siap untuk menghadapi apa yang akan terjadi. Namun, ia selalu bilang bahwa ia akan berada di sampingku jika waktunya tiba. 


Bel masuk telah berbunyi nyaring di seantero sekolah. Aku mulai melupakan apa yang terjadi dan hidup normal kembali bersama dengan teman-temanku. Mereka semua terkejut mendengar ayahku meninggal, bahkan Toni dan Aurel sampai harus memberikan sebuah hadiah dan menemaniku beberapa hari setelah kematian ayahku. Aku sangat terhibur dengan keberadaan teman-temanku tersebut. 


Semua orang sedang memperhatikan dan mendengarkan Mr. Theo yang sedang mengajarkan bahasa Spanyol. Ia sangat fasih dalam melafalkannya. Namun, kondisi tersebut tidak berlangsung lama. Terdengar keributan dari arah luar sekolah, aku tidak tahu pasti apa yang terjadi. Namun, hatiku berkata sesuatu sedang terjadi dan itu tidak baik untukku. Semua anak buru-buru berlarian ke arah jendela yang arahnya langsung tertuju ke gerbang depan sekolah. Suara mesin-mesin berderu semakin banyak memenuhi sekolah dan aku memberikan kesimpulan bahwa itu adalah mobil militer. Aku tidak yakin apa tujuan dari mobil militer yang masuk ke area sekolah.


Matilda's POV 


Pagi ini ada begitu banyak pasien yang masuk ruang IGD. Hal ini karena terjadi kecelakaan bus yang membuat banyak korban berjatuhan. Sebagai seorang perawat aku berusaha sekuat tenaga untuk menolong mereka semua. Suara sirine ambulans yang sejak tadi terus berdatangan kini teredam oleh suara mesin-mesin mobil yang berderu dan berbeda dengan suara sirine ambulans. Aku tidak yakin apa yang sedang terjadi di luar sana. Namun, beberapa orang perawat lainnya berlarian masuk ke dalam ruang IGD. Para perawat itu masuk ke dalam IGD untuk mencari seseorang. Seseorang itu adalah aku sendiri.


Alex's POV

__ADS_1


Aku mencoba untuk setenang mungkin menghadapi ini. Aku bahkan tidak berani melihatnya melalui jendela. Saat ini justru aku sedang mengumpulkan semua yang aku perlukan, aku bersiap menghadapi kenyataan apapun yang akan terjadi. Meskipun, aku tidak tahu apa yang sedang terjadi.


"Apakah ini invasi?" Ucap salah satu siswa di kelasku. "Kau sudah gila ya, kau tahu mereka adalah tentara negara ini, untuk apa tentara negara sendiri melakukan invasi?" Celetuk seorang siswi membalas pertanyaan siswa tadi. "Oke, semuanya duduklah kembali dengan tenang pada kursi kalian masing-masing. Aku akan mencari tahu apa yang sedang terjadi." Mr. Theo meninggalkan ruangan kelas menuju keluar sekolah. Namun, sebelum keluar sekolah Mr. Theo sepertinya tertahan oleh seseorang.


Aku terus mengecek smartphone-ku berharap seseorang dapat memberitahuku apa yang sedang terjadi dan apa yang harus aku lakukan. Terdengar keributan di luar ruangan kelasku, sepertinya seorang tentara mencoba masuk dan dihalangi oleh Mr. Theo. Terdengar suara mereka berdebat di lorong sekolah.


"Kenapa kalian menerobos sekolah kami?" Teriak Mr. Theo. Mr. Theo adalah salah satu petinggi sekolah ini dan aku yakin dia sedamg menjalankam tugasnya untuk mengamankan sekolah ini. 


"Baiklah Mister…"


"Theo,"


"Baiklah Mr. Theo, kami menjalankan sesuai perintah. Lagipula, ini bukanlah pembobolan atau penerobosan. Kami mendapat perintah dari Istana untuk menjalankan protokol keamanan,"


"Keamanan? Apa maksudmu keamanan? Memangnya disini ada seseorang yang dapat membahayakan para siswa?"


"Siapa seseorang yang istimewa ini? Memangnya disini ada anak yang istimewa? Semuanya sama saja!" Jawab Mr. Theo dengan tegas.


"No, kami yang akan masuk ke dalam kelas dan menanyakannya langsung,"


Mr. Theo tidak dapat menghalangi tentara tersebut, hingga akhirnya tentara tersebut masuk ke dalam ruangan kelas, sontak semua siswa yang tadi menguping di depan jendela yang mengarah ke koridor, langsung berlarian untuk duduk di tempat yang masih kosong. Aku yang sejak tadi hanya duduk diam di kursiku tidak dapat berbuat apa-apa.


"Baikla-" tentara tersebut memotong perkataan Mr. Theo. Mr. Theo terlihat begitu sebal dengan tentara tersebut.  "Oke aku percepat saja ya, aku yakin kalian.  sudah mendengar percakapan tadi. Aku kesini karena mendapatkan perintah dari istana untuk menerapkan protokol keamanan terhadap seseorang di kelas ini. Nama anak tersebut Prince Ezra Cornellius Refald,"


"Wait, bukankah itu nama keluarga kerajaan?"

__ADS_1


"Ya, benar dia adalah putra Raja Thomas Refald II dari pernikahan pertamanya, makanya aku bilang bahwa seseorang ini istimewa bukan?" Jawab tentara tersebut sambil memandangi wajah Mr. Theo.


"Ezra? Tidak ada yang namanya Ezra disini!" Mr. Theo sedikit kebingungan. Begitu juga dengan para siswa yang mulai berbincang dengan teman-temannya untuk bertanya tentang Ezra ini. Namun, keadaan menjadi sangat sunyi saat aku mengangkat tanganku.


"Kau mencariku?" 


Semua orang yang berada di dalam ruangan termasuk beberapa guru yang ikut masuk ke dalam ruang kelas dan juga Mr. Theo sontak mengarahkan pandangannya menuju padaku. Termasuk Antoni yang duduk di sebelahku.  "Ini bukan saat yang tepat untuk bercanda Alex!" Bisik Toni dengan tatapan melotot padaku dan mencoba untuk membujukku agar diam.


"Alexander! Jangan bercanda! Ini bukan saat yang tepat untuk bercanda!" Bentak Mr. Theo begitu juga dengan para guru dan siswa lain yang mulai menyerangku karena menganggapku bercanda di saat yang tidak tepat.


"Aku tidak bercanda Mr. Theo, mungkin semua orang mengetahui namaku adalah Alexander dan aku mengakui itu, namun, sebenarnya aku memiliki 2 nama, yang pertama Alexander Cornellius Anre, Anre adalah marga ibuku. Yang kedua Ezra Cornellius Refald, Refald adalah marga ayahku." Semua orang sontak tertawa mendengar penjelasanku.


"Ini tidak lucu Alexander!" Seru Kepala Sekolah, yang entah sejak kapan berdiri di depan bersama guru yang lain.  Aku menarik napas dan mencoba untuk tetap tenang. "Ya, mungkin kalian tahu 15 hari yang lalu ayahku meninggal dunia, aku bahkan pulang lebih awal agar dapat melihat ayahku untuk terakhir kalinya. Bukannya aneh jika Raja juga meninggal pada hari yang sama?" Semuanya terdiam. Hingga salah seorang siswa berbicara, "Mungkin itu suatu kebetulan, ayahmu dan Raja meninggal di hari yang sama!"


"Baiklah aku perlu mengakhiri perdebatan konyol ini, biar aku yang menanganinya." Seru tentara tersebut. Ia mendekati tempat dudukku. Lalu membisikkan suatu pertanyaan di telingaku. 


"Setiap anggota keluarga kerajaan memiliki nama panggilan dalam militer dan hanya anggota keluarga kerajaan yang tahu nama tersebut, jika memang kau keluarga kerajaan aku yakin kau mengetahui tentang masalah ini bukan?"


"Ya, kode ku Dragon 11k," jawabku dengan berbisik juga. Sontak tentara tersebut segera berdiri dan memberi hormat kepadaku. Semua orang masih kebingungan dengan apa yang mereka lihat.


"Ibu suri agung meminta anda pangeran untuk menghadiri acara penobatan anda menjadi putera mahkota."


"Benarkah? Aku kira mereka akan mengumumkannya 2 minggu lagi."


"Mungkin anda bisa mendapatkan penjelasan lebih lanjut di Istana,"

__ADS_1


"Aku ingin kalian semua memberi hormat kepada Prince Ezra Cornellius Refald, pewaris tahta kerajaaan Sobraska."


__ADS_2