
Jalanan begitu ramai hari ini, mobil yang kutumpangi beberapa kali terhenti karena padatnya kendaran yang lalu kesana-kesini untuk mencapai tujuannya masing-masing. Aku terus melihat jam yang melingkar di tanganku, sudah lebih dari 30 menit kami berkendara, namun belum sampai istana juga. Sebenarnya waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke istana dari rumahku tanpa adanya kemacetan hanya membutuhkan waktu kurang dari 30 menit. Aku duduk bersandar pada sebuah bantal yang tidak pernah berubah sejak aku masih kecil dulu. Mr. Starni duduk di depan bersama supir. Aku dapat melihat Mr. Starni terkadang melirik kepadaku melalui cermin yang ada di depan. Ketika tertangkap basah sedang memperhatikanku, ia buru-buru mengalihkan pandangannya dari cermin tersebut.
Setelah 45 menit berkendara, dari kejauhan mulai terlihat pagar-pagar besi yang menjulang tinggi dan beberapa orang berseragam serta bersenjata lengkap sedang mengamati kondisi keamanaan sekitar. Semakin mendekati daerah Istana Berverus, semuanya mulai tenang. Tidak terlalu banyak kendaraan yang berlalu-lalang di depan Istana Beverus. Penjagaan juga begitu ketat sehingga hanya beberapa mobil saja yang dapat melintas memasuki kawasan istana. Istana ini memiliki 2 buah pagar, yang pertama pagar luar dan yang kedua adalah pagar dalam. Daerah pagar luar, terdapat beberapa gedung serbaguna yang sering digunakan ketika ada acara. Sedangkan, daerah pagar dalam digunakan sebagai perlindungan terhadap tempat tinggal Keluarga Raja. Istana Berverus merupakan salah satu Istana yang sudah ada sejak tahun 1470 M. Istana ini dibangun sebagai tempat tinggal bagi keluarga kerajaan dan merupakan tempat tinggal dari pendiri Sobraska. Istana Beverus terbagi menjadi empat bagian gedung. Berikut adalah bangunan yang berada di kompleks istana Beverus beserta dengan fungsinya:
Istana Neverus berada di bagian depan kompleks yang menghadap langsung ke arah utara, merupakan tempat tinggal bagi keluarga inti kerajaan (Raja, Ratu dan Putra/Putrinya).
Istana Alverus yang berada di sebelah barat istana Neverus, merupakan tempat tinggal bagi para tetua keluarga kerajaan (Ibu Suri, dan sebagainya).
Istana Silverus yang berada di sebelah timur istana Neverus dan merupakan istana dengan bangunan paling besar diantara semua bangunan yang ada di kompleks Beverus, merupakan tempat tinggal dari kerabat Raja (Saudara kandung Raja).
Istana Zarius yang berada di selatan Istana Neverus dan merupakan istana yang digunakan untuk melakukan berbagai kegiatan seperti pertemuan, perayaan, perjamuan, dan sebagainya.
__ADS_1
Semua istana tersebut saling membelakangi satu dengan yang lainnya, membentuk sebuah bangun datar berupa persegi yang di bagian tengahnya diisi oleh sebuah taman yang luas dan megah. Setiap istana memiliki pintu gerbang masing-masing. Oleh karena itu, setiap orang yang akan masuk ke lingkungan Istana Beverus harus masuk ke dalam gerbang yang sesuai dengan Istana yang dituju. Ini artinya aku bisa melalui gerbang Istana Neverus karena aku merupakan anggota keluarga inti kerajaan, namun selama ini setiap memasuki lingkungan Istana Beverus aku masuk lewat gerbang Istana Zarius. Aku paham, selama identitas asliku belum diumumkan maka selama itulah aku harus masuk lewat gerbang Istana Zarius. Terkadang aku sedikit bingung dengan peraturan yang mereka buat, demi menjagaku dari paparazzi di gerbang istana Neverus, mereka lebih suka untuk menarik semua pelayan dan orang-orang di Istana yang akan aku lewati nanti.
Langkah kaki menggema diseluruh istana Zarius. Istana yang luas ini terlihat kosong, sepi, tak terlihat suatu aktivitas yang berarti di dalamnya. Seperti yang aku katakan sebelumnya, ini merupakan salah satu protokol yang diterapkan oleh kerajaan ketika aku berkunjung ke Istana Beverus. Inilah yang aku tidak sukai dari keluarga kerajaan. Mereka lebih menyukai hal yang diluar nalar orang biasa. Meskipun, tujuan mereka sangat jelas yaitu untuk memperkecil resiko adanya informasi tentangku yang dapat keluar dan membahayakan penyamaran yang sudah aku lakukan selama lebih dari 15 tahun ini.
Aku bergegas menuju istana Neverus mengikuti langkah kaki Mr. Starni yang begitu cepat melesat. Aku yakin dia berjalan 2 langkah lebih cepat dibandingkan langkahku. Aku melewati Istana Zarius menuju Istana Alverus dan dilanjutkan menuju Istana Neverus. Perbatasan antara Istana Zarius dengan Alverus serta Alverus dan Neverus dipisahkan oleh sebuah pintu kayu besar yang berkilauan dan menandakan pintu tersebut ditaburi benda-benda berkilauan seperti permata. Pada bagian tengah pintu itu, terdapat simbol Kerajaan Sobraska yang terdiri dari sebuah pohon Cemara dan seekor lebah. Pintu itu terbuka ketika kami mendekatinya, setelah sampai di Istana Neverus kami melanjutkan perjalanan menuju lantai 3 menggunakan lift. Akhirnya kami berdua sampai di lantai 3, dan secara otomatis pintu lift terbuka, memperlihatkan ruangan yang dipenuhi barang-barang antik dan mewah. Mr. Starni melanjutkan langkahnya menuju sebuah ruangan yang berada di ujung koridor. Terlihat jelas ruang tersebut merupakan sebuah ruangan medis dan di luar ruangan tersebut terdapat beberapa orang yang sedang duduk sambil berbincang. Semakin mendekat, aku semakin melihat dengan jelas orang-orang yang sedang duduk disana dan aku mengenali mereka semua.
Terdapat 5 orang yang sedang duduk di sofa yang di depannya terdapat sebuah meja kecil dengan deretan kue-kue di atasnya. Princess Mona Rafeld beserta dengan suaminya, Prince Alberto Raul dan putra mereka Prince Expelo Raul. Selain itu, aku melihat ibu tiriku beserta dengan adik tiriku. Mereka berlima tampak sedang berbincang ketika aku menghampiri mereka. Bibiku langsung menghapiri dan memelukku, aku kebingungan dengan sikap bibiku saat itu. Perasaanku menjadi tidak enak melihat tatapan semua orang yang melihatku dengan tatapan yang sedih.
"Ya, ayahmu pingsan tadi pagi dan sekarang sedang dirawat," jawab bibiku sambil melepaskan pelukannya. Aku terkejut dengan jawaban bibiku, sontak aku bergegas menuju pintu dimana ayahku dirawat. Terlihat nenekku sedang berbicara dengan beberapa dokter dan perawat, setelah aku melihat sekeliling, akhirnya aku melihat ayahku sedang berbaring di ranjang perawatan. Melihat kedatanganku, ayah langsung menyuruhku untuk mendekat dan kami pun berpelukan. Melihat kedatanganku, para dokter dan perawat bergegas pergi meninggalkan aku, ayahku dan juga nenekku. Nenekku hanya bisa menyaksikan aktivitas antara anak dan ayahnya dari kejauhan. Ia kemudian duduk di kursi pojok ruangan.
"Aku baik-baik saja Nak, kau tidak perlu khawatir," ucapnya dengan suara yang terlampau lemah. Aku tidak dapat menjawabnya, aku tidak tahu apa yang harus aku katakan. Meskipun aku dan ayahku tidak terlalu dekat, namun aku menyayanginya seperti aku menyayangi ibuku. Bagaimanapun ia tetap ayahmu dan aku tidak tega melihat ayahku terbaring lemah di atas ranjang perawatan.
__ADS_1
"Kau sudah datang," suara Nenekku, Isabel Risel, memecah keheningan. Aku mencoba mencari arah dari suara tersebut dan ternyata nenekku sedang duduk di pojok ruang perawatan. "Kemarilah nak, aku ingin berbicara denganmu, biarkan ayahmu istirahat," aku melepaskan pelukanku dan berjalan mendekati nenekku. "Aku tahu kau pasti terkejut melihat kondisi ayahmu, kau harus kuat!" Sambil mengulurkan tangannya agar aku duduk di sampingnya. "Aku hanya sedih kenapa tidak ada yang memberitahuku bahwa ayah sakit,""Jika kami memberitahumu lebih dulu apa yang terjadi, aku yakin kau tidak akan tenang selama perjalananmu kesini."
"Ayah baik-baik saja kan nek?"
"Eemm, sebenarnya aku tidak ingin memberitahumu, namun sepertinya ini adalah waktu yang tepat untuk kau mengetahui yang sebenarnya," aku terdiam tidak tahu apa yang ingin nenekku sampaikan.
"Ayahmu mengidap penyakit kanker paru-paru stadium 4. Ia enggan memberitahumu karena ia tidak ingin menggangu aktivitasmu. Lalu, akhir-akhir ini kondisi ayahmu tidak stabil hingga harus dirawat. Publik saat ini belum mengetahui kondisi yang sebenarnya dari Raja." Suara nenekku terdengar lirih, menahan tangis ketika menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Aku begitu terkejut mendengar penjelasan nenekku, bagaimana mungkin aku tidak mengetahui hal sepeting ini. "What? Itu tidak benar kan?"
"Itu benar Sweet Heart. Aku tahu ini berat, tapi aku ingin kau mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk yang dapat terjadi,"
Aku hanya bisa terdiam, aku tidak dapat menangis karena aku tidak ingin membangunkan ayahku yang sedang beristirahat. Aku memegang tangan nenekku kemudian memeluknya. "Ayah pasti sehat kembali kan, aku yakin istana punya banyak dokter hebat yang dapat menolong ayahku."
Hanya itu jawaban yang muncul dari mulutku. Nenekku tidak menjawab, ia hanya mengelus rambutku. Setelah itu, nenekku kembali berkata, "Aku tahu ini memang tidak sopan, tapi aku ingin memintamu untuk bersiap jika sewaktu-waktu kami akan memperkenalkanmu sebagai Putera Mahkota." Aku langsung melepaskan pelukanku setelah mendengar itu.
__ADS_1
"Aku yakin kau terkejut mendengar perkataanku, aku hanya ingin kau bersiap karena setelah identitasmu terungkap, kehidupan lamamu tidak akan sama seperti saat ini. Ini demi kebaikan kau, ibumu, kehidupan kau yang sekarang dan juga untuk keluarga kerajaan." Aku tidak siap untuk menjawab apapun saat ini. Aku hanya bisa melihat ayahku dan tidak dapat membayangkan hal terburuk yang akan terjadi ke depannya. Aku tahu, sekuat apapun aku menolaknya, sejauh manapun aku menghindarinya, semuanya akan terjadi baik itu sekarang, besok, lusa, maupun beberapa tahun yang akan datang. Aku hanya perlu mempersiapkannya agar ketika itu terjadi, semuanya bisa aku lewati.