
Kami bertiga berjalan beberapa blok untuk sampai ke cafe yang sering aku dan Toni datangi. Awalnya kami hanya akan berdua saja ke cafe ini, namun karena saat itu ada Tara maka kami mengajaknya dan Tara langsung menyetujuinya. Setibanya kami ditempat tujuan, Cafe Sunbar, aku segera memotret gambar depan cafe itu dan mengirimkannya kepada ibuku.
"Kau tahu, Alex adalah anak manja," celetuk Toni kepada Tara. Pandanganku langsung mengarah kepada Toni, hal ini membuat Toni tertawa dan segera memasuki cafe, disusul oleh Tara dan terakhir aku sendiri. Cafe ini sudah berdiri sejak tahun 2000an, dan telah mengalami beberapa kali renovasi. Sejak aku di Tamarin, aku dan Toni selalu berkunjung ke Cafe ini. Hingga akhirnya pemilik cafe sudah hapal betul siapa kami berdua.
"Hallo, Mr. Alex dan Mr. Antoni," sapa Mr. Bernard, pemilik cafe Sunbar, yang sedang berdiri dekat pintu masuk. Mr. Bernard memiliki perawakan yang tinggi dengan wajahnya yang bulat serta memiliki janggut yang khas. Mr. Bernard adalah seorang imigran asal Mexico yang sudah lama tinggal di Sobraska.
"Look at you, kau membawa teman baru kah?"
"Ah, perkenalkan namanya Tara Ansel, ia teman baru kita di klub baseball," jawab spontan Toni.
"Ah, welcome Mr. Tara. My name is Bernardo Castalino, you can call me Mr. Bernard. Nice to see you," Mr. Bernard mengangkat tangannya kedepan Tara dan secara refleks Tara segera membalas salam tersebut. "Hello Mr. Bernard, nice to see you too,".
"Kalian pesan apapun ya, saya ada perlu sebentar," Mr. Bernard sambil berlalu pergi keluar cafe. Mr. Bernard sangat baik, terutama karena aku dan Toni adalah teman dari putrinya, sehingga tidak jarang Mr. Bernard mentraktir kita berdua.
Setelah itu, kami bertiga memutuskan untuk duduk di sebuah kursi panjang yang berada di pojok cafe. Kami memesan beberapa makanan dan selagi menunggu pesanan datang, munculah seorang wanita dari dapur cafe. Wajahnya tirus, rambut berwarna hitam tergerai dan beberapa keringat menghiasi wajahnya. Ia buru-buru mengelap keringat tersebut dengan celemek yang ia gunakan ketika mendekati kita bertiga.
"OMG, kenapa kalian tidak memberi tahuku bahwa kau akan kemari?" Tanya wanita tersebut.
"Memangnya kalo kita memberitahumu apa yang akan kau lakukan? Menampilkan tarian selamat datang untuk menghormati kedatangan kita?" Jawab Toni dengan nada meledek. "Ya kalo perlu begitu, why not?" Jawab wanita tadi sambil duduk di sebuah kursi yang ada di samping meja yang kita duduki.
"Kau Tara kan?" Sambil mendekatkan wajahnya kepada wajah Tara dan mencoba untuk memeriksa setiap detail wajahnya. "Ya, aku Tara," jawab Tara sedikit gugup karena tidak merasa nyaman dengan wajah wanita tersebut yang seolah-olah sedang melakukan scan terhadap wajahnya.
"Hai, kenalin aku Aurelia Bernard. Aku temannya anak yang dua ini. Kuharap kita bisa berteman,".
__ADS_1
"Oh hai, senang berkenalan denganmu, aku Tara Ansel," jawab Tara dengan sedikit senyum di bibirnya.
Kami berempat berbincang-bincang sampai tidak kusadari smartphone-ku berbunyi. Aku beranjak dari tempat dudukku untuk menerima telpon tersebut, dan kulihat dengan jelas nomor ibuku terpampang di layar smartphone.
"Hallo mom, apakah semuanya baik-baik saja?" Tanyaku cemas, hal ini karena ibuku tidak pernah menelponku kecuali aku lupa memberi tahu keberadaanku, sedangkan sejak tadi aku selalu memberi tahu keberadaanku.
"Mr. Starni menelpon, katanya dia akan menjemputmu. Jadi sebaiknya kamu cepat pulang dan bersiap-siap sampai Mr. Starni menjemputmu,"
"Mr. Starni? Ini bukan jadwalku berkunjung, kan?" Aku merasa heran karena tidak biasanya Mr. Starni menelpon diluar jadwal rutin kunjunganku.
"Ya, mungkin ada sesuatu yang sangat penting untukmu," bujuk Ibuku.
"Ya baiklah aku akan segera pulang," jawabku.
"Everything ok?" Tanya Aurel.
"OKE!" Jawabku sambil memberikan tanda jempol dan berjalan keluar cafe.
Aku bergegas pulang menaiki angkutan umum menuju rumahku yang jaraknya kurang lebih 2 KM dari Cafe Sunbar. Ketika mobil yang aku tumpangi mendekati rumahku, terlihat sebuah mobil yang sedang parkir di depan rumahku. Sudah pasti itu mobil yang akan menjemputku, aku tahu dan hapal bentuk mobilnya. Setiap jadwal kunjunganku untuk bertemu atau sekedar berlatih protokol istana, Mr. Starni selalu menjemputku dengan mobil itu, memang ini mobil biasa saja, bukan mobil yang sering dipakai oleh keluarga raja lainnya. Hal ini tentu saja agar tidak menyebabkan kecurigaan dari orang yang melihatnya. Mungkin jika aku menggunakan mobil seperti yang digunakan oleh keluarga raja, maka satu kota ini akan heboh. Selain itu, terlihat Mr. Starni sedang berdiri di depan pintu pagar sedang memperhatikan situasi di sekitarnya dan menunggu kedatanganku.
"Hallo tuan muda," sapa Mr. Starni ketika aku mendekati pintu pagar rumah.
"Hai, Mr. Starni. Everything ok? Kenapa aku harus ikut denganmu diluar jadwal kunjunganku?"
__ADS_1
"Ibu Suri memerintahkanku untuk membawamu ke Istana sekarang juga,"
"Istana? Aku pikir kau mengajakku ke Villa Kerajaan," aku sedikit bingung dengan pernyataan Mr. Starni, karena sebagian besar jadwal kunjunganku dihabiskan di Villa Kerajaan bukan Istana.
"Ya, istana tuan muda," jawab Mr. Starni sambil memberi petunjuk agar aku masuk ke dalam mobil.
"Baiklah, kau ingin aku menaiki mobil dan pergi ke istana tanpa mengganti pakaianku kah?
"Baiklah, aku memberi anda waktu 10 menit untuk mengganti pakaian,"
Aku bergegas untuk masuk dan mengganti pakaian kotorku. Aku bergegas untuk mencari ibuku.
"Mom, kau disini?" Tanyaku sambil mencarinya di seluruh ruangan lantai 1. Namun, terdengar suara di gudang dan aku yakin ibuku disana.
"Oh, ya mom ada di gudang, wait," terdengar suara samar-samar ibuku ketika aku mendekati ruang gudang itu. Ibuku bergegas keluar dari ruangan berdebu itu dengan sedikit terbatuk-batuk.
"Hey honey, akhirnya kau datang juga, Mr. Starni sejak tadi menunggumu disana,"
"Kau tahu alasan kenapa Mr. Starni harus datang di luar jadwal kunjunganku?" Tanyaku.
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Mungkin nenekmu ingin bertemu denganmu."
"Baiklah, aku harus mengganti pakaianku sebelum Mr. Starni menyemprotku dengan perkataan-perkataannya." Aku sedikit berlari menuju kamarku di lantai 2.
__ADS_1