
Pagi hari Huang Chen bangun dari meditasi, tubuhnya basah kuyub dan terlihat kelelahan. Namun, jika diperhatikan, ada siluet rune-rune yang berputar disekitarnya yang tampak menakjubkan.
Semalaman dia berlatih untuk mendalami metode yang sangat penting bagi dirinya. Untungnya teknik itu berhasil dipraktekkan dan menyatu sempurna dalam tubuh, teknik itu adalah metode pengamatan enam indera yang mampu melebihi indera biasa Praktisi, teknik ini bernama — Enam Deva Indrawi.
Teknik ini selalu menjadi perhatian khusus bagi Huang Chen, pasalnya teknik metode pengamatan miliknya menentang surga yang memiliki kelebihan unggul, setiap babak dalam hidupnya terus menyempurnakan teknik ini dengan upaya besar karena kelebihan yang sangat berguna.
Sama seperti namanya teknik itu terdiri dari enam panca indra; itu terdiri kemampuan melihat, mendengar, mencium, mengecap, meraba dan merasakan yang melebihi batas abnormal. Setiap Indra juga memiliki nama tersendiri seperti Mata Tuhan, Telinga Langit, Hidung Surga, Lidah Neraka, Kulit Hawa dan Hati Besi.
Sesuai dengan fungsinya juga; jika setiap kultivasi meningkat, maka efek setiap indra akan berkali-kali lipat. Dalam kasus tertentu, Mata Tuhan bisa melihat jutaan mil bahkan bisa menembus antar planet jika sering diasah dan kultivasi-nya memadai.
Bagi para praktisi, memiliki teknik indra pengamatan adalah hal biasa yang sering dijumpai. Ada banyak jumlah tak terhitung metode-metode pengamatan di seluruh semesta yang memiliki ciri khas dan kelebihannya masing-masing.
Itu sangat penting, karena biasanya saat menjelajah, mereka akan menghadapi berbagai tantangan yang sulit dipecahkan, maka dari itu; metode pengamatan adalah hal yang perlu dimiliki oleh setiap pembudidaya. Bahkan mungkin dalam dunia kultivator, tidak memiliki metode pengamatan sama saja dengan buta, karena seperti kata pepatah: mereka tidak akan bisa melihat apel busuk yang ternyata adalah apel emas.
Mereka akan kesusahan karena tidak bisa menilai hal baik atau buruk didepan mereka. Sama seperti orang bodoh, mereka hanya akan menjadi sampah di tanah kultivator.
Huang Chen tahu betapa pentingnya metode pengamatan, tidak, Enam Deva Indrawi melebihi metode pengamatan biasa. Karena dari keenamnya adalah pilar dari enam indra itu sendiri. Mata Tuhan yang bisa melihat segalanya, Telinga Langit yang bisa mendengar suara sekecil apapun, Hidung Surga yang mampu mencium bau meski sangat jauh, Lidah Neraka yang bisa tahu kebohongan, Kulit Hawa yang bisa merasakan niat buruk dan Hati Besi yang kokoh dalam penindasan keinginan besar manusia.
Setiap Indra memiliki tugas masing-masing dan perlu penanganan yang seimbang agar terbentuknya kesempurnaan pada varian Enam Deva Indrawi yang akan sangat bermanfaat dimasa depan.
Akhirnya saat membuka matanya, itu tidak terlihat seperti mata biasa. Matanya yang dipenuhi kedalaman misteri sangat sakral yang mampu membuat jatuh linglung orang yang menatapnya. Saat Mata Tuhan aktif, itu memancarkan sinar keemasan pada kornea mata Huang Chen yang nampak mistis.
Seluruh Indra beresonansi dengan cara seksama dan saling terhubung satu sama lain membentuk benang yang bertautan melalui jaringan tubuh. Sebagai pusat, Iron Heart menjadi stasiun antar lalu lintas hubungan tersebut yang juga memperbarui organ hati Huang Chen yang memiliki penampilan baru dengan warna emas gelap.
Perasaan senang mengalir dalam benak Huang Chen, dia tersenyum karena teknik bisa berhasil dipasang. Sebenarnya Enam Deva Indrawi bukanlah teknik paten yang langsung tercipta dengan enam kemampuan indra, itu dulunya hanya satu kemampuan yaitu “Mata Deva”. Namun berkat usahanya yang keras dalam meneliti dan merenovasi, teknik itu bisa maju dengan enam pilar indra seperti saat ini.
Setelah mandi dan sarapan, Huang Chen membawa Huang Qing untuk pergi berlatih. Dia memiliki harapan tinggi pada Huang Qing karena penemuannya baru-baru ini mengenai tubuh bawaan yang dimiliki oleh Huang Qing.
__ADS_1
Pada saat itu Huang Chen meminta izin pada Ayahnya untuk pergi berlatih ditempat yang tenang. Sebagai Ayahnya tentu Duke Huang menyetujuinya, apalagi baru-baru ini nama Huang Chen menyebar menjadi perbincangan di ibukota, membuat Duke Huang yakin akan kebangkitan sejati anaknya.
Duke Huang kemudian menyuruh Huang Chen untuk berlatih di Gunung Mistik, karena selain masih merupakan wilayah kepemilikannya dan tidak terlalu jauh dari ibukota, itu juga tempat terbaik untuk berlatih karena ketenangan tempatnya. Duke Huang sebelumnya telah mengatur formasi di sekitar gunung itu demi menjaga kedamaian yang ada. Itu adalah tempat favorit Duke Huang selain untuk tempat pelatihan kadang juga untuk hanya sekedar menikmati kedamaian.
Sebenarnya ibukota Bluefire lebih luas dari yang diperkirakan. Selain ibukota yang dikelilingi tembok besar membentang puluhan mil, diluar tembok juga masih dalam wilayah ibukota Bluefire yang bahkan lebih luas. Yah, meskipun Kerajaan Liu sangat luas, itu masih perlu ditangani oleh para bangsawan terpilih untuk menjaga setiap wilayah yang dikuasai.
Sebagai Adipati Bluefire, tentu Ayahnya memiliki wilayahnya sendiri yang diawasi. Itu berada di bagian tenggara dalam lingkup wilayah Kerajaan Liu.
Namun sebagai silsilah keluarga utama, Duke Huang dan Huang Chen harus tinggal di ibukota sementara paman, sepupu dan kakeknya harus tinggal di wilayah yang berkuasa. Itu juga berlaku pada bangsawan lainnya, karena dengan pengaturan ini ditujukan demi menjaga keselamatan keluarga kerajaan dan kekuatan ibukota tetap kokoh.
Itu demi menjaga invasi dari kerajaan lain. Kehilangan suatu daerah memang akan menjadi kerugian besar, tapi itu lebih baik daripada kehilangan ibukota.
“Ayah, Aku berangkat. ”Huang Chen menaiki kudanya dan melambai.
“Jaga dirimu baik-baik, semoga kesuksesan akan menantimu saat kembali. ”Duke Huang tersenyum sambil melambai melihat anaknya yang sudah pergi jauh.
Duke Huang tidak menjawab langsung pertanyaan penjaga, dia menatap cakrawala yang jauh memejamkan matanya dan menghela nafas lega. “Jalan Dao sangat sulit dan penuh bahaya, ini adalah awal agar Huang Chen bisa melihat luasnya dunia, selain itu, ini juga menjadi bagian dari latihannya. Seorang Kultivator memerlukan visi yang luas, agar kedepannya lebih bijak dalam mengambil tindakan. ”
Penjaga hanya bisa menghela nafas karena dia tahu tuannya adalah orang tegas dan menentukan. Dia hanya bisa berdoa untuk keselamatan Tuan Mudanya, meski Tuan Muda tidak memiliki hubungan darah yang sama dengannya, tapi sejak ia sudah merawat Tuan Muda layaknya cucu sendiri.
Berdiri diam Duke Huang yang menatap kejauhan memiliki pemikiran penuh kontemplasi, “Anak kita telah dewasa, Ling'er... Dia pasti akan menjadi seseorang dengan kekuatan yang luar biasa seperti dirimu... ”
...
Wilayah pegunungan Mistik tidak terlalu jauh dari luar tembok ibukota, cukup berkuda dua belas jam untuk tiba.
Sampai pada daratan tinggi, mereka bisa melihat banyaknya lembah serta tebing-tebing tinggi menjulang yang ditutupi awan dikejauhan. Huang Qing yang baru pertama kali melihat takjub oleh pemandangan yang ada. Suasana yang diberikan benar-benar seperti surga alam yang asri. Tempat ini juga menjadi tempat tinggal para Beast yang lemah, atau tidak membahayakan para pembudidaya. Saat Ayahnya bertanggungjawab atas tanah ini, ia menetapkan untuk melarang membunuh Beast apapun yang tinggal di Pegunungan Mistik. Itu ditujukan agar beberapa Beast tidak mengalami kepunahan.
__ADS_1
Setelah melewati rute yang ditentukan, akhirnya sampai pada kaki gunung yang dituju. Gunung itu menjulang paling tinggi dari gunung lainnya, dan menjadi tempat yang dibicarakan Ayahnya.
Jika mengatakan bahwa di daerah pegunungan disini tidak ada manusia maka itu salah, Duke Huang membuat beberapa bangunan di setiap sisi tertentu pegunungan ini untuk tempat tinggal orang-orang yang mengawasi tempat ini. Huang Chen sudah bertemu beberapa dari mereka yang kemudian mengantarkannya ke kaki gunung.
Menatap tinggi ke atas, Huang Chen bisa melihat sedikit siluet rune pagar pembatas yang diciptakan dari formasi; dia beranggapan bahwa ini adalah ciptaan Ayahnya. Kekaguman melintas dimata Huang Chen karena meski bagi dia formasi ini tampak tidak signifikan, tapi untuk Kerajaan Liu, itu sudah cukup untuk menahan seseorang yang telah mencapai Alam Roh Akhir.
Perlu diketahui bahwa kekuatan terkuat di Kerajaan Liu adalah Sang Raja yang mencapai Alam Roh Ketiga, meski ada desas-desus mengatakan bahwa leluhurnya telah mencapai Martial Warrior tapi itu tidak akan mudah keluar dari pengasingan jika kerajaan tidak dalam keadaan darurat.
Jadi mengatakan bahwa Gunung Mistik adalah tempat teraman, itu tidak sepenuhnya salah.
Huang Chen kemudian mengeluarkan kunci yang diberikan Ayahnya untuk dapat masuk dalam formasi, karena formasi diciptakan olehnya maka tentu ia akan mengenal dan membuat kunci agar lebih efisien untuk masuk tanpa membongkar formasi.
Saat kunci menyentuh dinding pembatas, segera dinding sekitar area kunci berkilau putih sebelum suara gemuruh terjadi akibat terciptanya gerbang dari pembatas. Huang Chen dengan segera memasuki gerbang bersama Huang Qing, setelah masuk gerbang secara otomatis menghilang seperti sebelumnya.
Gunung Mistik sangat tinggi, bahkan dengan pengamatan Mata Tuhan ia masih belum melihat puncaknya. Tentu itu demikian, karena Mata Tuhan baru mencapai level 16, karena Kultivasi-nya baru mencapai Alam Batin Tengah, ia hanya bisa mencapai level itu untuk saat ini, jika Kultivasi-nya naik lebih tinggi, maka mencapai level 17 sampai 20 bisa menjadi syarat mudah saat dia mencapai Alam Batin Akhir. Itu berlaku untuk semua Enam Deva Indrawi.
Pada Gunung Mistik, ada tangga yang menjulang ke puncak, itu memudahkan Huang Chen untuk mendaki. Huang Chen tidak mau berlama-lama dan segera naik dengan Huang Qing. Ditengah perjalanan kadang Huang Qing akan mengeluh karena kelelahan, dia mengeluhkan karena seberapa tingginya gunung ini, Huang Chen hanya mentertawakan karena kelucuannya. Namun Huang Chen tidak membantu dan mengatakan bahwa ini juga sebuah latihan. Huang Qing mengerucutkan bibirnya dan menangis, tapi dia masih bersusah-payah untuk mendaki.
Satu jam kemudian mereka mencapai puncak, disana ada sebuah kuil yang tampak bersih, selain itu ada cukup halaman meski banyak pohon rindang yang tumbuh, tapi karena itulah tempat ini terlihat sejuk dan kedamaiannya.
“Baiklah kita sampai Huang Qing... ”dia menoleh untuk menemukan...
“....”
Huang Qing sudah pingsan ditempat.
Gulir untuk melanjutkan!
__ADS_1