THER MELIAN: CHRONICLE

THER MELIAN: CHRONICLE
Episode 2


__ADS_3

Vrey memang seorang gadis kecil berusia tiga belas tahun. Tap gadis belia itu sama sekali tidak menunjukkan ke­ khawatiran—apalagi ketakutan—walau saat ini tengah meng­endap­endap di tengah malam buta tanpa berbekal penerangan apa pun.



Dia berada di Hutan Telssier, kawasan hutan yang dikuasai Bangsa Elvar. Manusia penduduk kota Mildryd tidak berani mendekati hutan itu. Tapi Vrey berbeda, dia seorang Vier­Elv; setengah Elvar setengah Manusia. Vrey memiliki pendengaran dan penglihatan setajam rubah, seperti layaknya Elvar berdarah murni.



Vrey memegangi perutnya yang keroncongan, dia belum makan sejak siang. Gill—pemimpin komplotannya—tidak memberinya jatah makan hari ini. Sudah seminggu Vrey tidak mendapat buruan. Sebagai salah satu pencuri yang tinggal di rumah Gill, peraturannya sangat jelas: tidak ada makanan bagi yang tidak bekerja. Malam ini Vrey harus menangkap sesuatu, kalau tidak besok dia akan kelaparan lagi.



Biasanya Vrey tidak pernah sendirian. Teman­temannya Rufius, Blaire, dan Clyde, selalu menemaninya berburu. Tapi hari ini mereka ke luar kota. Gill mengutus mereka untuk mengirim pesanan kepada para kolektor dan penadah di kota­ kota sekitar.



Vrey menunggu dengan napas tertahan saat mendengar suara dari kerumunan pohon jati. Berbagai makhluk bisa muncul dari balik pepohonan, dan Vrey bersiap untuk segala kemungkinan. Kalau dia beruntung, seekor Shadhavar jantan yang diincarnya. Kalau nasibnya kurang baik, seekor Daemon atau lebih parah, prajurit Elvar.



Sesosok makhluk setinggi anak kecil melangkah keluar dari balik pepohonan, cahaya perak bulan purnama menyinari bulu keemasannya. Angin memainkan alunan musik lembut saat bertiup melewati rongga di tanduk makhluk itu. Shadhavar yang dinanti­nantikan Vrey akhirnya muncul.



Mendadak, hewan itu berhenti melangkah seolah ada sesuatu yang mengejutkannya. Secepat kemunculannya, dia melompati semak­semak dan menghilang kembali ke dalam hutan. Vrey segera menyadari penyebabnya, kehadiran sepasang Elvar dari sisi hutan yang berlawanan. Seluruh tubuh Vrey menegang, dia sampai tidak berani bernapas, khawatir kehadirannya disadari kedua Elvar itu.



Salah satu Elvar—seorang wanita berambut kuning jagung yang tergerai hingga ke pinggul—menemukan umpan yang disiapkan Vrey di tengah tanah terbuka. Dia menggeram kesal, lalu menghantamkan tongkat putih panjang yang dibawanya ke jebakan itu.



Elvar satunya adalah pria berambut keemasan yang menge­ nakan zirah mengilap, sebilah pedang berkilauan tersemat di ikat pinggangnya. Dia berdiri di tengah tanah terbuka, sosoknya yang tegap tampak menawan di bawah sinar bulan. Dia mengawasi keadaan di sekitarnya dengan sepasang bola matanya yang sewarna emas.



Untuk sepersekian detik, Vrey merasa jantungnya berdegup kencang kala melihat pria itu. Ada sesuatu dari paras dan sorot matanya yang anggun, yang membuat Vrey tidak bisa mengabaikan Elvar itu begitu saja. Tapi, pengalaman hidupnya sebagai pencuri selama beberapa tahun telah mengajarkan sesuatu pada Vrey.



Jangan pernah kehilangan kewaspadaan di hadapan Elvar!



Vrey mengalihkan perhatiannya dari pria itu, berkonsentrasi untuk menyembunyikan keberadaannya. Keadaan seperti itu berlangsung selama beberapa menit. Vrey merasa dadanya sesak karena harus bernapas dengan sangat pelan. Untunglah sang Elvar pria segera mengakhiri pencariannya. Dia membantu teman wanitanya membersihkan jebakan jala dan umpan tebu di tanah, kemudian kembali ke arah pepohonan.



Vrey lega luar biasa. Dia lumayan kesal karena umpan dan jebakan yang susah payah dibawanya dari Mildryd diambil mereka. Tapi keadaan bisa lebih buruk, mereka bisa saja menangkapnya.



Untuk sesaat, Vrey termenung. Dia kehilangan umpan dan jebakannya. Tapi dia tidak bisa pulang ke Mildryd dengan tangan kosong, Gill bisa menghajarnya. Saat ini, dia hanya membawa sebuah belati. Vrey tidak yakin dia mampu melumpuhkan seekor Shadhavar hanya dengan belatinya.



Sebuah suara berat tiba­tiba terdengar dari belakangnya. “Halo, gadis kecil.”



Vrey terkesiap, dia berbalik secepat kilat. Jantungnya hampir melompat keluar saat menyadari Elvar pria tadi sudah berdiri tepat di belakangnya. Pedangnya yang berkilauan terhunus, pria itu tersenyum sinis. “Kalau aku jadi dirimu, aku tidak akan mencoba melawan,” ujarnya.



Tapi Vrey tidak peduli. Dia mengayunkan belatinya untuk menepis pedang itu, tindakan yang justru mengakibatkan belatinya patah. Vrey terbelalak, sementara pria di depannya tersenyum senang. Vrey buru­buru melompat ke belakang, berdiri di tengah tanah terbuka sekarang.



Sang Elvar melangkahkan kakinya dengan ringan menuju tempat Vrey. Dengan senyum angkuh dan pandangan merendahkan, dia mengamati Vrey bagai pemangsa mengamati buruannya.



Vrey terus melangkah mundur hingga cahaya bulan keperakan menyinari dirinya. Mendadak sang Elvar menghentikan lang­ kahnya. Seolah membeku, dia menatap Vrey lekat­lekat.



Vrey balas menatapnya. Dia memang ketakutan, tapi dia tidak berniat menunjukkannya. “Kau nggak akan menangkapku hidup­hidup! Aku akan melawan sampai mati kalau perlu,” tantang Vrey ketus.



Tapi Elvar di depannya tidak menjawab, dia bergeming dan terus menatap Vrey.



Vrey bertanya sekali lagi. “Jadi? Apa kau berniat membunuhku di sini?”



“Tidak,” jawabnya pelan. Suaranya terdengar tenang walau­ pun ada sedikit getaran aneh dalam nada bicaranya. “Aku hanya ingin bertanya padamu,” tambahnya.



“Tentang apa?” balas Vrey ketus.



“Beri tahu aku namamu?”



“Vrey!”



“Vrey, apakah ayahmu seorang Elvar bernama Reuven?”



Vrey terkesiap. Dia menduga Elvar itu akan menginterogasinya tentang komplotannya di Mildryd. “Entahlah,” Vrey meng­ geleng. “Aku nggak pernah bertemu dengannya.”



“Kalau begitu ibumu, apakah dia Manusia bernama Lyra?” tanya pria itu lagi.



Jantung Vrey berdegup semakin kencang saat mendengar sang Elvar menyebut nama wanita yang mungkin adalah nama ibunya. “Aku nggak tahu, sejak kecil aku dibesarkan kakekku. Apa kau mengenal mereka, ayah dan ibuku?” tanya Vrey ragu. Vrey tidak pernah mengetahui apa­apa tentang orangtua kandungnya. Kakeknya meninggal saat dia masih berusia lima tahun, setelah itu Gill menampungnya.



Sang Elvar mengangkat bahu. “Aku tidak yakin apa kau adalah putri mereka. Tapi wajahmu mirip sekali dengan Lourd Reuven. Usiamu juga sesuai, terlalu mustahil kalau hanya kebetulan,” jawabnya, tidak mengalihkan perhatiannya dari Vrey.



Lalu tiba­tiba dia menyarungkan pedangnya. “Aku Valadin Illiyara,” katanya. “Kau tidak berdarah murni, jadi kurasa kau boleh memanggilku Valadin. Lourd Reuven adalah sahabat baikku, dia sudah seperti kakak bagiku. Dia menghilang lima belas tahun yang lalu untuk menikah dengan Manusia, tapi aku tidak akan pernah melupakan wajahnya.”



Vrey merasa jantungnya berdegup lebih kencang dari sebelumnya. Baru kali ini dia mendengar dan mengetahui begitu banyak tentang orangtua kandungnya. Dia bahkan hampir lupa Valadin tadi bermaksud menangkapnya, Vrey berjalan menghampirinya. “Apa kau benar­benar yakin, temanmu yang bernama Reuven itu ayahku?” tanyanya.



“Melihat kemiripan wajah kalian, aku ingin sekali menjawab iya,” jawab Valadin lembut. “Tapi aku harus memastikannya lebih dulu sebelum menjawab pertanyaanmu. Aku tidak akan menangkapmu kali ini, pulanglah, dan jangan datang lagi ke hutan ini.”



“Tapi aku ingin tahu lebih banyak tentang orangtuaku,” bantah Vrey. “Siapa mereka? Kenapa mereka meninggalkanku? Apa mereka masih hidup? Kau harus menceritakan tentang mereka padaku!”



“Mungkin malam ini bukan waktu yang tepat,” kata Valadin bijaksana. “Banyak dari pertanyaanmu yang aku sendiri tidak tahu jawabannya. Aku akan mencari tahu tentang mereka semampuku, setelah itu kita akan bicara lagi.”



“Kapan?” cecar Vrey tak sabar.



“Malam bulan purnama yang akan datang, temui aku di hutan dekat Mildryd. Jangan kembali ke hutan ini, kalau prajurit lain yang menangkapmu, aku tidak akan menolongmu,” dia memperingatkan.



Selesai mengatakannya, Valadin berpaling, jubahnya yang panjang berkelebat sebelum dia menghilang kembali ke arah pepohonan rimbun.



***



Bulan yang tampak merah menggantung di atas langit yang menaungi kota Mildryd. Malam cukup cerah, tidak ada awan tebal dan Kabut Gelap yang menggelayut di sekitar hutan.



Vrey mengenakan jubah bertudungnya, lalu membuka jendela kamarnya yang terletak di lantai dua. Gelak tawa terdengar dari lantai bawah, Gill dan teman­temannya belum tidur. Mereka tengah minum­minum untuk merayakan ke­ berhasilan perburuan mereka.



Dengan pelan dan berhati­hati Vrey memanjat turun dari atap bangunan. Dia menggapai papan kayu lapuk bertulis ‘Kedai Kucing Liar’ yang bergantung di depan pintu sebelum melompat turun ke atas jalanan batu. Saat itu tepat sebulan sejak pertemuannya dengan Valadin di Hutan Telssier. Vrey sudah berjanji untuk bertemu dengannya lagi di hutan kecil yang terletak di tepi kota Mildryd.



Malam ini dia mungkin akan mengetahui segalanya tentang masa lalunya. Masa lalu yang selama ini tidak pernah diketa­ huinya. Sebelum ini Vrey tidak terlalu mempermasalahkan ke­ nyataan bahwa dia tidak mengetahui apa­apa tentang orangtua kandungnya. Tapi saat Valadin mengucapkan nama­nama me­ reka, mendadak dia ingin tahu tentang jati dirinya, tentang asal­ usulnya.



Vrey melesat melintasi jalanan berbatu yang diapit deretan bangunan kayu. Dia berjalan melewati pusat kota yang masih disesaki para pedagang. Sesampainya di gerbang yang terletak di sisi kota, Vrey berlari menuju hutan.



Valadin tidak mengatakan tepatnya di bagian hutan mana mereka akan bertemu. Tapi hutan itu tidak terlalu luas, Vrey sudah hafal seluruh bagiannya, apalagi dengan indranya yang tajam, tidak akan susah menemukan Valadin.



Malam itu hutan terasa amat pengap. Vrey mengibaskan tudung kepalanya sambil mengelilingi tepian hutan, mencoba mencari tanda­tanda keberadaan Valadin. Tapi setelah hampir setengah jam berkeliling tanpa arah, dia tidak mendengar apa­ apa selain kicauan burung malam dan suara serangga. Tidak ada tanda­tanda kehadiran Valadin.



Apa mungkin dia lelah menunggu dan akhirnya pulang?



Vrey menggeleng. Malam memang sudah larut, tapi Valadin juga tidak mengatakan kapan tepatnya mereka akan bertemu.



Atau dia lupa?



Tidak. Seorang Elvar terhormat tidak mungkin mengingkari ucapannya sendiri.



Bermacam­macam pertanyaan dan jawaban melintas silih berganti dalam kepala Vrey, sampai akhirnya dia tiba pada satu kesimpulan. Mungkin Valadin telah menyelidiki dan mengetahui bahwa Vrey bukanlah putri Reuven, jadi dia memutuskan tidak ada gunanya menemui Vrey lagi.



Semangat yang tadinya bergelora dalam diri Vrey mendadak sirna. Dia mengusap matanya yang terasa panas dengan ujung lengan bajunya. Emosinya terasa menggumpal di dalam dada, tapi dia sendiri tidak tahu apa penyebabnya. Apa karena dia tidak akan pernah tahu tentang masa lalunya atau karena dia tidak akan melihat Valadin lagi?



Itu konyol! Vrey menyeka matanya. Ngapain sedih karena nggak bisa bertemu lagi dengan orang yang baru sekali kutemui?



Orang yang bahkan nggak kukenal sama sekali! Nggak masuk akal.



“Kita bertemu lagi, gadis kecil.”


__ADS_1


Suara itu membuat Vrey menoleh, asalnya dari balik rerimbunan pohon jati. Dia menyibak semak kaliandra dan tanaman menjalar yang tumbuh di antara dua pohon besar. Sinar bulan purnama menerangi tanah bersemak di balik celah sempit itu.



Valadin duduk di atas tanah, wajahnya yang tampan me­ mucat karena menahan sakit. Sesuatu yang terbuat dari logam menjepit kakinya, menembus sela­sela sepatu zirahnya dan menghujam ke dalam kulitnya.



Vrey langsung menyadari apa yang terjadi, Valadin meng­ injak perangkap hewan. Perangkap yang diinjaknya sangat kuat, mungkin digunakan untuk menjebak hewan­hewan besar seperti babi hutan. Vrey buru­buru mendekat untuk melihat keadaannya.



“Hati­hati,” Valadin memperingatkan. “Mungkin masih ada yang lain.”



Setelah memastikan jalur yang dilaluinya bersih dari perang­ kap, Vrey menghampiri Valadin. “Apa yang terjadi?” tanyanya prihatin.



“Saat menunggumu, beberapa pemburu melintasi daerah ini. Aku bersembunyi di balik pepohonan, berharap menghindari kecurigaan dan pertanyaan mereka tapi malah menginjak perangkap tua ini.” Valadin tersenyum kecut. Dalam keremangan cahaya bulan pun wajahnya masih terlihat menawan.



“Berapa lama kau menungguku?” tanya Vrey sambil meraba­ raba semak di sekitarnya, mencari dahan yang cukup besar dan kuat untuk membuka perangkap.



“Aku sudah berada di hutan ini sejak matahari terbenam,” jawab Valadin.



Vrey terkesiap, Valadin sudah menunggunya selama de­ lapan jam lebih. “Maaf, aku baru bisa datang selarut ini, ada



pekerjaan yang harus kuselesaikan,” jawabnya. Perasaan bersalah menderanya. Vrey terlambat karena tadi dia dan teman­ temannya berburu ke Hutan Telssier, yang sebetulnya sudah dilarang Valadin.



Vrey semakin gugup, dia terus mencari­cari di antara semak belukar. Tapi Valadin tiba­tiba menggengam tangannya erat­ erat. “Tidak perlu merasa bersalah seperti itu,” katanya tenang. “Yang penting kau sudah datang. Ada banyak yang ingin kuceritakan padamu.”



Vrey merasa jantungnya berdegup kencang saat Valadin menyentuhnya. Dia buru­buru menarik tangannya, sehalus mungkin agar Valadin tidak tersinggung. “Kau bisa bercerita sementara aku merawat lukamu,” katanya.



Valadin mengangguk setuju. Setelah mencari cukup jauh Vrey akhirnya menemukan dahan yang kokoh untuk melepaskan kaki Valadin dari perangkap. Pria itu memperhatikan saat Vrey membersihkan luka di kakinya. “Kau memang putri Reuven,” katanya tanpa basa­basi.



Ucapan Valadin membuat Vrey menghentikan pekerjaannya. Dia memandang lurus ke mata Valadin, tidak tampak keraguan di mata pria itu. “Jadi kau mengenal ayahku. Di mana dia sekarang?” tanya Vrey.



Valadin melanjutkan ceritanya. “Lima belas tahun yang lalu, Reuven jatuh cinta pada Ibumu, Lyra. Walau sudah mengetahui hukuman bagi Elvar yang menikahi Manusia, dia tetap melaku­ kannya. Saat itu semua orang, termasuk diriku, menentangnya. Kemudian ayahmu memutuskan untuk memulai kehidupan baru bersama istrinya yang kaum gipsi. Mereka hidup berpin­ dah­pindah dari satu tempat ke tempat lain, dan aku tidak pernah mendengar kabarnya lagi sejak saat itu.” Valadin menatap mata Vrey dalam­dalam. “Setelah bertemu denganmu bulan lalu, aku mulai melacak keberadaan kelompok gipsi itu. Untung mereka masih ingat ayahmu walau waktu sudah lama berlalu.”



Valadin berhenti sejenak untuk menarik napas. “Mereka menceritakan padaku, ibumu meninggal saat melahirkanmu. Ayahmu merawatmu seorang diri sampai kau berusia tiga tahun, tapi rasa sedih akibat ditinggal ibumu terlalu berat untuk ditanggungnya. Dia menyerahkanmu pada kakekmu, ayah dari ibumu yang menetap di Mildryd lalu dia pergi.”



Dahi Vrey berkerut. “Pergi? Ke mana?”



Valadin menggigit bibir, dia terlihat ragu saat menjawab. “Kaum kami tidak bisa bertambah tua, kami tidak akan meninggal. Banyak dari kaumku yang menikahi Manusia tidak bisa menahan kesedihan setelah ditinggal mati pasangannya. Daripada harus menjalani hidup abadi tanpa orang yang mereka kasihi, mereka memutuskan untuk mengakhiri hidup abadi mereka.”



Penjelasan Valadin menyentak Vrey “Jadi maksudmu dia. ”



Raut wajah Valadin nyaris tidak berubah saat dia mengang­ guk. “Entah kenapa aku tidak terkejut saat mengetahui hal itu,” katanya. “Sejak Reuven menyatakan niatnya untuk menikahi ibumu, aku selalu menduga akan seperti inilah akhirnya.” Suara Valadin terdengar berat dan penuh penyesalan.



Vrey menundukkan wajahnya dalam­dalam, berusaha mencerna informasi yang baru diceritakan Valadin padanya. Pikirannya terasa kosong, dia tidak tahu harus merasa lega atau sedih setelah mendengar semua itu.



Kedua orangtuaku sudah tiada....



Entah kenapa kenyataan itu tidak membuat Vrey terkejut. Dia sudah menduganya. Mungkin karena bertahun­tahun hi­ dup di bawah asuhan orang lain tanpa pernah mengetahui siapa dan di mana orangtuanya yang sesungguhnya. Vrey juga tidak pernah berharap bisa bertemu lagi dengan mereka setelah sekian lama. Tapi dia merasa sedikit lega, setidaknya sekarang dia mengetahui siapa mereka semasa hidup.



Saat matahari mulai mengintip dari arah timur, Vrey selesai merawat luka di kaki Valadin. Perlahan­lahan Valadin mencoba berdiri, dia meringis kesakitan dan harus menyeret kakinya setiap kali melangkah. Vrey menuntun Valadin sampai ke jalan setapak yang lebih mudah dilalui.



Valadin membungkukkan badannya sedikit. “Aku sangat berterima kasih kau sudah merawatku.”



Tapi Vrey menggeleng lemah. “Cuma ini yang bisa kulakukan untukmu. Kau sudah begitu baik padaku sejak kita bertemu.” Wajah Vrey merona tertimpa sinar matahari pagi. “Lebih baik kau pergi sekarang,” lanjut Vrey. “Sebentar lagi hutan ini akan dipenuhi Manusia.”



Sebenarnya Vrey ingin bertanya apa mereka bisa bertemu lagi, tapi dia tidak berhasil mengumpulkan keberaniannya. Kali ini, dia tidak punya alasan untuk mengajak Valadin bertemu.



Tapi, justru Valadin yang bertanya. “Bisakah kita bertemu lagi? Aku memang tidak mengetahui kehidupan ayahmu setelah dia menikah. Tapi aku bisa menceritakan berbagai hal yang kuketahui tentang dirinya saat dia masih menjadi bagian dari kaum kami.”



Vrey sulit memercayai pendengarannya saat mendengar kalimat itu meluncur dari bibir Valadin. Butuh beberapa detik baginya untuk menanggapi. “Kapan?”




Vrey mengangguk. Valadin tersenyum puas, dia berbalik dan kemudian melangkah pelan menyusuri jalan setapak yang bermandikan cahaya keemasan matahari yang hangat. Vrey menatap lekat­lekat sosoknya sampai Valadin berbelok di ujung jalan dan menghilang dari pandangan.



***



Seperti itulah awal persahabatan mereka terbentuk. Sejak peristiwa itu, Vrey selalu menyempatkan waktu untuk menemui Valadin di hutan Mildryd atau di tepian Hutan Telssier. Mereka akan duduk selama berjam­jam di bawah sinar bulan dan membicarakan berbagai hal, mulai dari Lourd Reuven, ayah Vrey, hingga kehidupan mereka sendiri.



Entah kenapa, Vrey selalu menantikan pertemuannya dengan Valadin. Berada di sisi Valadin membuatnya merasa nyaman. Persahabatan mereka merupakan rahasia yang tidak pernah diceritakannya pada siapa pun, termasuk pada teman­temannya di Kedai Kucing Liar.



Gemericik air terdengar dari anak sungai kecil berbatu yang mengalir di samping padang rumput tempat Vrey berada. Valadin merebahkan dirinya di atas rumput, tepat di samping Vrey. Tidak banyak yang mereka bicarakan hari ini. Valadin tampak sangat lelah, sepertinya dia sedang banyak pekerjaan.



Valadin merupakan salah seorang pemimpin Legiun Falthemnar, prajurit elit Bangsa Elvar. Setiap kali mereka ber­ temu, dia selalu mengenakan seragam resmi—lengkap dengan jubahnya. Vrey seringkali heran, bagaimana Valadin menyem­ patkan waktu untuk datang kemari di sela­sela kesibukannya.



Vrey melirik ke samping. Beberapa kunang­kunang beter­ bangan di sekeliling Valadin, memercikkan pendaran cahaya yang berkilau. Dia melihat mata pria itu terpejam.



Apa dia tertidur atau hanya mengistirahatkan matanya?



Vrey tidak tahu. Tapi dia tidak ingin mengganggu istirahat Valadin, jadi dia merebahkan punggungnya juga di atas ham­ paran rumput. Bau rumput basah bercampur aroma Valadin menenangkan pikirannya. Vrey baru saja memejamkan mata saat Valadin tiba­tiba memanggilnya. “Ada sesuatu yang ingin kutanyakan.”



Vrey memiringkan badannya, menyadari Valadin juga sudah melakukan hal yang sama. Wajah mereka berhadapan, begitu dekat. Mata Valadin yang berada sangat dekat dengannya membuat Vrey serba salah.



“Ya?” jawab Vrey setelah berhasil mengendalikan perasaan­ nya.



“Maukah kau tinggal bersamaku, di Falthemnar?”



Untuk sesaat, Vrey tidak yakin dengan pendengarannya. “Apa?”



“Maukah kau tinggal bersamaku, di Falthemnar?” Valadin mengulangi pertanyaannya dengan sabar.



Vrey menelan ludah. “Tapi, aku ... Bukannya Falthemnar tertutup bagi orang­orang sepertiku?”



“Kau tidak perlu khawatir soal itu,” kata Valadin serius. “Apa maksudmu?”



“Aku sudah mengatur segalanya. Aku juga sudah men­ dapatkan persetujuan dari para Tetua Elvar untuk membawamu tinggal bersama kami. Ini kesempatan sekali seumur hidup, Vrey, belum pernah ada Vier­Elv yang mendapat hak istimewa seperti dirimu.”



Vrey merasa jantungnya meledak saat mendengarnya, dia sangat senang sekaligus cemas. Tinggal di Falthemnar berarti dia bisa bersama Valadin. Tapi itu juga berarti dia harus meninggal­ kan teman­teman dan kehidupannya selama ini.“Aku senang kau menawariku,” kata Vrey. “Tapi aku nggak bisa meninggal­ kan teman­temanku.”



“Oh.” Valadin berusaha keras menyembunyikan kekecewaan di wajahnya, tapi Vrey langsung tahu.



“Maafkan aku. Aku senang sekali kau menawarkannya, aku benar­benar berterima kasih. Tapi aku harus memikirkannya dulu. Aku nggak bisa membayangkan berpisah dengan mereka.”



“Aku mengerti,” kata Valadin “Teman­temanmu sudah se­ perti keluarga bagimu. Kau sangat menyayangi mereka, kau bah­ kan tidak pernah bercerita tentang mereka padaku.” Kekecewaan



masih terdengar jelas dari suaranya. “Tapi kau harus ingat, darah Elvar yang mengalir di tubuhmu adalah bagian dari dirimu yang tidak bisa kau sangkal. Ada bagian dari dirimu ingin datang ke Falthemnar dan mengetahui kehidupan lain yang bisa saja kau miliki. Jika teman­temanmu peduli padamu, sebesar kepeduli­ anmu pada mereka, mereka pasti mengerti.”



Valadin bangkit berdiri dalam satu gerakan, tubuh tegapnya yang tertimpa cahaya keperakan membuat zirahnya berkilauan. “Pikirkan kata­kataku dan berikan jawabanmu saat pertemuan kita berikutnya dua minggu lagi.”



***



Vrey menggenggam tangan Valadin saat mereka berjalan me­ masuki Falthemnar, deretan pohon raksasa yang menjulang tinggi menyambut kedatangan mereka. Pepohonan berlumut hijau itu sangat besar, bahkan cukup besar untuk membangun rumah­rumah bundar beratap lancip di puncaknya. Puluhan jembatan gantung malang­melintang menghubungkan beranda­ beranda rumah, bagaikan jalan raya yang melintasi seluruh penjuru kota.



Matahari baru terbenam, cahaya kemerahan mengintip di antara sela­sela puncak pohon di atas kepala mereka. Bebatuan kecil yang tertata apik di atap dan beranda rumah memancarkan cahaya lemah. Kota Falthemnar berkelip dan berpendar dengan warna putih lembut.



Tapi pucuk­pucuk pepohonan yang berkilau indah itu tidak mampu mengalihkan perhatian Vrey dari para Elvar yang berdatangan. Para Elvar mencondongkan tubuh mereka di atas jembatan gantung untuk mengamati Vrey, jelas tidak menyukai kehadiran Vrey—seorang Vier­Elv—di kota mereka.

__ADS_1



Sambutan para Elvar membuat Vrey takut. Dia melirik se­ kelilingnya; kecuali Valadin, tidak ada satu pun yang menatapnya



dengan ramah. Vrey merasa langkahnya terombang­ambing, dalam hati kecilnya ada penyesalan karena memutuskan untuk datang ke kota ini dan meninggalkan teman­temannya di Mildryd. Dia bahkan tidak berani berpamitan dengan mereka saat akan pergi, mereka pasti khawatir.



Tapi Valadin meremas erat jemari Vrey, membuatnya tersentak kaget dan tersadar dari lamunannya. “Tidak usah takut, ada aku di sini,” katanya menenangkan.



Vrey menarik napas dalam­dalam. Dia membiarkan Valadin membimbing langkahnya menyusuri jalan setapak di sela­sela pepohonan raksasa. Setelah itu mereka berjalan menyusuri jembatan­jembatan gantung. Vrey mengacuhkan pandangan sinis yang ditujukan padanya, tapi dia masih bisa menangkap cemoohan yang ditujukan padanya.



“Lihat Vier­Elv itu, benar­benar tidak tahu malu,” bisik seorang wanita dari pohon di atasnya.



“Kelihatannya dia senang sekali bisa masuk ke kota ini,” sahut seorang pria.



“Penampilannya aneh, ya, kulitnya pucat seperti Manusia.”



Jantung Vrey berdegup kencang, dia berada di tempat yang sangat asing. Tidak seperti di kotanya yang ramah, semua orang di sini membencinya. Sekalipun Valadin ada di sebelahnya, Vrey takut dia tidak akan sanggup bertahan. Tapi dia tidak bisa mundur lagi, dia sudah membuat keputusan dan sekarang, dia harus menjalaninya.



***



Beberapa bulan berlalu sejak Vrey memutuskan tinggal di Falthemnar. Valadin memberinya tempat tinggal yang sangat nyaman, sebuah rumah tamu yang letaknya sedikit terpisah dari rumah keluarga Valadin.



Vrey sangat menyukai rumah mungil itu, letaknya yang amat tinggi memungkinkan dirinya untuk mengamati seluruh penjuru kota dengan tenang. Apalagi lokasinya juga terpencil, jadi Vrey tidak perlu bertemu dengan banyak orang setiap harinya.



Saat Valadin tidak sibuk, dia pasti mengunjungi Vrey. Mereka akan bicara selama berjam­jam hingga matahari terbenam sambil mengamati seluruh kota menyala dari sebuah jembatan gantung di dekat rumah Vrey. Dan Valadin akan menanyakan kemajuan Vrey dalam pelajaran sihir.



Sejak Vrey pindah kemari, Valadin memberikan kesempatan padanya untuk mempelajari sihir bersama para Elvar lain. Walau jelas sekali gurunya tidak antusias mengajarinya—dan hanya melakukannya karena desakan Valadin—tapi Vrey tidak mempermasalahkannya. Dia sangat senang mengetahui dirinya memiliki bakat sebagai seorang Magus.



Tapi selain satu hal itu, Vrey tidak menemukan hal lain yang membuatnya betah tinggal di sana. Semua Elvar di Falthemnar membencinya. Mereka akan berhenti beraktivitas bahkan ber­ henti berbicara begitu Vrey lewat, seolah takut Vrey akan men­ curi dengar dan mengetahui hal­hal yang tidak boleh dia keta­ hui.



Vrey juga sangat terkejut saat mengetahui dirinya tidak di­ izinkan meninggalkan Falthemnar, apalagi mengunjungi teman­ temannya di Mildryd. Para Elvar sangat protektif terhadap hutan mereka, mereka khawatir Vrey adalah mata­mata sehingga memperlakukan dirinya tak ubahnya seorang tawanan.



Valadin selalu mengatakan padanya untuk bersabar, belajar meninggalkan cara hidupnya yang lama dan mulai hidup seperti para Elvar. Dengan begitu, cepat atau lambat mereka akan memercayainya.



Walaupun kesal, mau tak mau Vrey menerima saran Valadin karena dia ingin hidup bebas di Falthemnar. Elvar hidup dengan menjaga keseimbangan alam. Menurut mereka, alam hanya me­ nyediakan secukupnya untuk memenuhi kebutuhan, dan meng­ ambil lebih dari yang dibutuhkan akan merusak keseimbangan alam. Para Elvar sangat memuja alam, mereka bahkan memiliki nama­nama khusus untuk menyebut setiap unsur alam.



Vrey berusaha hidup seperti Elvar, bahkan mulai dari membatasi makan daging seperti yang dilakukan para Elvar. Dia bisa melakukannya karena sudah terbiasa hanya makan sayur di rumah Gill apabila keuangan sedang menipis. Tapi dia tidak tertarik dengan aktivitas lain yang biasa dilakukan para Elvar.



Kehidupan Bangsa Elvar sederhana jika dibanding Manusia. Hanya ada beberapa profesi yang umumnya mereka tekuni, antara menjadi prajurit—seperti Valadin, pemburu, penyanyi, atau pengrajin. Tapi tak satu pun dari kegiatan itu yang membangkitkan minat Vrey, kecuali berburu mungkin. Berburu adalah satu­satunya hal yang dikuasainya sejak kecil. Walaupun berburu ala Elvar sangat berbeda dengan yang biasa dilakukan Vrey.



Bangsa Elvar sangat selektif memilih buruan mereka. Mereka tidak memburu hewan yang masih muda atau yang sedang menyusui. Jumlahnya pun dibatasi, mereka hanya berburu seperlunya, tidak pernah berlebihan.



Andai saja para Elvar mengizinkannya ikut berburu, Vrey ingin sekali menunjukkan kemampuannya pada mereka. Tapi Valadin juga melarangnya. Menurut Valadin, itu hanya akan membuatnya semakin berat melepaskan kehidupannya yang lalu.



Lepaskanlah kehidupanmu yang lalu! begitu yang selalu dikatakan Valadin.



Vrey sangat sedih tiap kali Valadin mengucapkannya. Dia tahu Valadin ingin agar dia menjadi seperti Elvar lain, bukan dirinya sendiri, dan itu membuatnya berkecil hati. Dan saat merasa sedih, Vrey akan menghabiskan waktunya dengan ber­ senandung, menggumamkan satu­satunya lagu yang dia ketahui sejak masih kecil.



Diam­diam, Valadin sering mendengarkannya. Menurutnya, suara Vrey amat merdu dan seharusnya dia belajar menyanyi dalam bahasa Elvar agar bisa menjadi Rahval atau penyanyi, seperti ayahnya.



Jadilah seperti ayahmu, kata Valadin padanya suatu hari.



Tapi aku bukan ayahku, pikir Vrey.



Vrey tahu betapa besar pengorbanan dan perjuangan Valadin agar dia bisa tinggal di Falthemnar. Dia mencoba tidak menyia­ nyiakan semua itu dan berusaha menyenangkan Valadin, melakukan segala yang diminta pria itu, walaupun untuk itu, dia harus menjadi orang yang sama sekali berbeda.



Tapi semakin lama, Vrey semakin tidak sanggup lagi melakukannya. Dia merasa terperangkap, bagai seekor burung di dalam sangkar yang indah. Vrey sadar sekarang, satu­satunya rumahnya adalah di Mildryd, bersama Gill dan teman­temannya. Vrey sungguh menyesal kenapa dia baru menyadarinya sekarang.



***



Air mata menggenang di pelupuk mata Vrey saat meninggalkan rumah mungil yang ditempatinya selama setahun. Matahari masih belum terbit. Vrey tidak membawa apa pun dari rumah itu, hanya mengenakan pakaian yang dikenakannya saat datang ke Falthemnar setahun yang lalu.



Vrey telah menetapkan hatinya. Dia akan meninggalkan Falthemnar dan kembali ke Mildryd, tempat di mana dia seharusnya berada. Perlahan tapi pasti, Vrey melangkahkan kaki dan menyeberangi jembatan gantung di depan rumah. Ada begitu banyak kenangan di jembatan itu, kenangannya bersama Valadin. Itulah satu­satunya hal yang akan dirindukannya setelah dia kembali nanti.



Vrey belum berpamitan pada Valadin. Dia bukannya merasa tidak perlu menjelaskan apa­apa kepada pria yang sudah begitu baik padanya. Hanya saja, dia tidak tahu harus berkata apa padaValadin. Alasan apa yang bisa dilontarkannya untuk menjelaskan kenapa dia meninggalkan kota ini dan mengabaikan semua rencana untuk masa depannya yang telah disusun Valadin? Tidak ada penjelasan yang bisa dia ucapkan yang tidak akan mengecewakan Valadin, dan wajah kecewa Valadin adalah hal terakhir yang ingin dilihatnya.



Vrey menyusuri pelataran yang luas, deretan batu putih yang berjajar di sepanjang pagar menerangi langkahnya. Dia menoleh ke arah rumah besar di kejauhan, rumah Valadin. Vrey mencondongkan tubuhnya untuk mengamati rumah itu dan menghitung jendelanya untuk menemukan kamar Valadin.



Kamar Valadin gelap gulita, dia pasti tertidur pulas saat ini. Vrey tidak berani membayangkan betapa kecewanya Valadin besok saat menyadari dirinya telah pergi. Hati Vrey berkecamuk, kecemasan dan kegelisahan kembali membanjirinya. Tapi dia memantapkan kembali hatinya dan berjalan menuju perbatasan kota. Dia berhati­hati agar tidak ada prajurit jaga Elvar yang melihatnya saat menyelinap di antara kaki­kaki pohon raksasa dan meninggalkan Falthemnar.



Malam itu bulan baru, langit hitam pekat tak berbulan dan kabut yang tebal membantu memuluskan pelariannya. Saat sudah cukup jauh berjalan ke arah hutan, Vrey berbalik, Falthemnar sudah menghilang dari pandangannya. Kota itu memang dilindungi dinding sihir agar orang­orang yang tidak berkepentingan tidak bisa melihatnya.



Vrey tertawa getir, hal itu seolah menegaskan sejak awal dia memang tidak diinginkan di sana. Kabut Gelap yang menyelimuti hutan bagaikan kepalsuan, begitu juga dengan kebohongan yang dijalaninya selama setahun ini. Dia sangat lega meninggalkan semua itu di belakangnya. Vrey bergeming selama beberapa saat, matanya kering, dia terlalu lelah untuk menangis.



Desau dedaunan memecah keheningan, angin malam terasa begitu menggigit. Vrey menggosok lengannya dengan kedua telapak tangan, menggigil. Seharusnya tadi dia membawa jubah bertudung yang dihadiahkan Valadin padanya beberapa hari yang lalu. Jubah itu mampu menyamarkan keberadaannya di antara para Elvar, jadi dia bisa berjalan­jalan di kota dengan tenang tanpa ada yang mencemoohnya.



Tapi dia belum pernah mencoba jubah itu untuk bepergian. Pasti akan sangat menyenangkan bisa berjalan­jalan dengan tenang bersama Valadin, menggandeng tangannya melintasi jembatan­jembatan gantung dan alun­alun kota tanpa harus memedulikan pandangan menusuk dari yang lain.



Vrey menggeleng untuk mengusir pikiran itu dari kepalanya. Dia memutar tubuhnya, bersiap kembali ke Mildryd. Saat itulah dia melihat sosok tegap yang tiba­tiba muncul di hadapannya, Valadin.



Zirah Valadin tampak kusam di tempat segelap itu, hanya pedang di pinggangnya yang memancarkan pendaran cahaya.



“Vrey,” katanya. “Kenapa kau pergi tanpa pamit, padahal kupikir selama ini kau bahagia di sini.”



Vrey melangkah mundur, lidahnya terasa kelu dan bibirnya mendadak kering. Dia tidak tahu harus berkata apa. “Aku nggak mau merepotkanmu lebih lama lagi, jadi aku memutuskan untuk pulang ke Mildryd.”



“Bicara apa kau ini? Keberadaanmu sama sekali tidak merepotkan. Lagi pula kau sudah bukan lagi dirimu setahun yang lalu, kau sudah berubah, aku yakin perlahan­lahan semua orang di sini akan menerimamu.”



Tapi Vrey bergeming. “Lihat aku, Valadin,” ujarnya dengan suara bergetar. “Lihat aku baik­baik, inilah diriku yang sesung­ guhnya! Aku berusaha berubah untuk membahagiakanmu. Tapi aku hanya menipu diriku sendiri, aku nggak akan pernah bisa menjadi seperti yang kau harapkan. Aku nggak seharusnya tinggal di sini dan kau tahu itu!” Vrey menatap Valadin lekat­ lekat saat mengatakan semua itu. Dia ingin Valadin tahu bahwa dia bersungguh­sungguh.



“Jangan bilang begitu,” kata Valadin “Aku tidak pernah berpikiran seperti itu, tidak sedikit pun. Apa ada sesuatu yang bisa kulakukan untuk mengubah pikiranmu?”



Lagi­lagi Vrey menggeleng. “Aku cuma ingin pulang. Aku bukan pergi karena membencimu. Aku nggak tahu harus bagaimana membuktikannya padamu, kuharap suatu hari nanti kau akan mengerti.”



Valadin mengulurkan tangannya, dengan penuh keputusasaan menatap Vrey seolah memohon agar dia memikirkan kembali semuanya. Tapi Vrey meremas tangannya dan tidak membalas.



“Aku mengerti,” ujar Valadin. “Keputusanmu sudah bulat rupanya.”



Vrey mengangguk. “Lagi pula, nggak ada seorang pun di kota ini yang akan kehilangan diriku.”



“Kau tahu itu tidak benar, aku akan sangat kehilangan dirimu.” Valadin tersenyum getir.



“Satu­satunya yang kau rindukan adalah sosok ayahku,” kata Vrey. “Maaf, tapi aku nggak bisa menjadi pengganti dirinya, nggak lagi.”



“Tidak!” bantah Valadin.



Tapi Vrey sudah tidak ingin mendengarnya. “Jangan men­ coba menyangkalnya. Kau tahu apa yang kuucapkan barusan benar, walaupun lidahmu mengatakan sebaliknya. Apa kau pikir aku nggak bisa mengetahui hal sesederhana itu sendiri?” Vrey mengakhiri kata­katanya dan kemudian berjalan lurus melewati Valadin, meninggalkan Falthemnar.



Valadin tidak memanggilnya lagi, tidak memohonnya untuk tinggal.



Dan saat Vrey semakin jauh dari Falthemnar, sosok Valadin menghilang dari sudut matanya. Dia menghentikan langkahnya dan mendongak. Matanya sudah basah dan berair dari tadi, tapi Vrey



tidak ingin ada air mata yang mengalir di pipinya. Vrey tahu begitu dia menangis, dia tidak akan bisa berhenti, dan saat ini, dia harus terlihat kuat di depan Valadin. Kelip­kelip bintang di atas langit terlihat bagai kunang­kunang yang beterbangan di mata Vrey yang basah.

__ADS_1



Walaupun berat akhirnya dia bisa meninggalkan segalanya di belakang. Vrey tahu, dia harus melakukannya, apa pun akibat yang menunggunya nanti.


__ADS_2