THER MELIAN: CHRONICLE

THER MELIAN: CHRONICLE
Episode 8


__ADS_3

Leighton terngaga. Dia sama sekali tidak menyadari keha­ diran pria di belakang mereka sampai pria itu melontarkan senjatanya, sebuah pisau berujung melengkung yang terhubung dengan rantai besi panjang. Pisau itu menghunjam Vrey tepat di perutnya, membuat gadis itu jatuh menimpa kios dagangan, memporak­porandakan deretan keramik di atasnya.



Pria yang melontarkan pisau itu mengenakan jubah hijau panjang yang menutupi wajah dan tubuhnya. Sebelum Leighton sempat bereaksi, penyerang mereka menarik kembali pisaunya. Gemerincing rantai memenuhi gendang telinga Leighton, untuk sepersekian detik hanya itulah suara yang terdengar sebelum seluruh gang sempit itu meledak dalam jeritan.



Desna yang pertama bertindak, dia mencabut dua belati dengan mata pisau melengkung dari pinggangnya dan melompat ke arah penyerang mereka. Terdengar benturan keras saat kedua belati Desna beradu dengan pisau besar milik pria itu.



Tudung kepala si pria misterius tersingkap sedikit. Leighton hanya sempat melihat warna rambut kelabu di dalamnya, tapi dia langsung mengenalinya. Itu Shazin yang di dipanggil Karth—salah satu teman Valadin.



Sementara Desna dan Karth bertarung, Leighton buru­ buru menghampiri Vrey. Rion sudah duluan membantu menyingkirkan kepingan­kepingan keramik yang menutupi Vrey. Tak disangka­sangka, Vrey bangkit. Dia duduk di atas pecahan keramik, wajahnya pucat dan dia tampak kesakitan.



Leighton segera menangkupkan tangannya, hendak meng­ gunakan sihir penyembuh pada Vrey.



“Nggak usah, aku nggak terluka.” Vrey mencegah Leighton menghabiskan tenaganya.



Rion terbelalak. “Mustahil! Pisau besar itu baru menusukmu tepat di perut!”



Leighton menyibak jubah Vrey, dia mengamati perut Vrey. Semuanya terlihat baik­baik, sama sekali tidak ada luka, apalagi darah.



“Jubah Nymph,” bisik Vrey. “Kau lupa, ya?”



Leighton lega luar biasa, pembuluh darahnya seperti baru dilewati aliran air dingin.



Vrey sedikit gemetaran, walaupun pisau itu tidak menembus tubuhnya, tapi kekuatan lontarannya yang keras membuatnya terpental cukup jauh. “Teman Valadin?” tanyanya setelah berhasil berdiri.



“Iya,” jawab Leighton. “Aku tidak mengharapkan ini terjadi saat kita hampir kembali ke Granville.”



Leighton mengawasi pertarungan antara Karth dan Desna. Walaupun tinggi badan mereka terpaut jauh—sangat jauh malah, tapi Desna tidak kesulitan mengimbangi gerakan Karth. Kedua orang itu menggunakan senjata di kedua tangan mereka dengan begitu cekatan. Karth sedikit diuntungkan dengan rantai panjang di ujung pisaunya, dia bisa menggunakan senjatanya untuk menyerang dari jarak jauh. Sementara Desna sepenuhnya mengandalkan kemampuan akrobatik dan kegesitannya untuk menghindari serangan­serangan jarak jauh Karth.



Sinar matahari yang tiba­tiba menyembul dari balik sebuah rumah berlantai dua menyilaukan mata Leighton. Saat itulah dia menyadari sesuatu, sesosok bayangan hitam di atas rumah, seseorang bertudung mengarahkan busurnya ke arah mereka.



“Awas!” serunya.



Sebuah anak panah dilepaskan dan akan tepat mengenai kepala Vrey andai Leighton tidak segera menggunakan pedangnya untuk menepis panah itu.



Pemanah di atas atap kembali melontarkan beberapa anak panahnya. Leighton tidak bisa menepis semuanya. Dia melompat maju, bersembunyi di balik sebuah kios buah­buahan untuk menghindari anak panah yang bertubi­tubi menyerang ke arahnya.



Vrey berniat mendekat ke arahnya, tapi tiba­tiba sebuah anak panah berdesing dan melesat tepat di samping kepalanya, memecahkan sebuah pot besar berisi air. Beberapa anak panah diarahkan pada Vrey dan Rion, memaksa mereka berlindung. Hujan anak panah terus berdatangan, menancap di dinding­ dinding kayu di sekitar mereka.



Leighton melihat area terbuka yang membentang dari tempat persembunyiannya sampai ke tempat Vrey dan Rion berada. Terlalu jauh ... Dia tidak mungkin mencapai tempat mereka sebelum salah satu panah mengenainya, dia terjebak di sini.



Si pemanah kini mengarahkan serangan panahnya pada Desna yang bertarung dengan Karth. Kemampuan menghindar Desna yang luar biasa membuatnya selamat dari anak panah yang terus berdesing di sekitarnya. Akan tetapi, terus­menerus didesak dari dua arah seperti itu, Desna kewalahan juga, salah satu anak panah menggores lengannya dan melukainya cukup dalam.



Leighton tahu hanya ada satu hal yang bisa dilakukannya saat ini. “Kalian pergilah!” serunya pada Vrey dan Rion. “Lari menuju kanal, cepat!”



Vrey terbelalak. “Bagaimana denganmu?”



“Aku akan melindungi kalian! Bawa ini.” Dia melepaskan kalungnya yang selama ini tersembunyi di dalam pakaiannya— emblem Kerajaan Granville.



Leighton membungkus emblemnya di dalam surat dari Putri Ashca dan melemparnya ke arah Vrey. Gadis itu menangkapnya tepat sebelum jatuh ke tanah, lalu bersembunyi lagi di balik kios. Vrey memandangi kalung di tangannya dan Leighton bergantian.



“Pergilah duluan, Vrey,” desak Leighton. “Bawa kalungku ke Laguna Biru. Ceritakan segalanya pada mereka!”



“Nggak! Aku nggak akan meninggalkanmu, larilah sekarang saat perhatian mereka teralihkan,” kata Vrey.



“Dan meninggalkan Desna melawan mereka sendirian karena sesuatu yang kita perbuat?” Leighton tersenyum getir. “Aku tidak bisa melakukannya. Tunggu aku di Istana Laguna Biru.”



“Kalau begitu kita lawan mereka bersama!” bantah Vrey.



“Tidak! Pergilah! Kalian akan ketinggalan kapal udara!” seru



Leighton.



“Kau nggak berhak memerintahku!” sahut Vrey sengit.



Leighton mengalihkan pandangannya pada Rion. “Kau mengerti, kan? Bawa Vrey ke Istana Laguna Biru. Aku akan menggandakan hadiah untukmu saat aku kembali nanti!”



Rion segera menarik lengan Vrey. “Aku mengerti, tapi kau sebaiknya segera menyusul kami,” katanya. “Dan aku ingin tiga kali lipat!”



Leighton mengangguk. Rion menyeret Vrey melewati gang panjang yang memisahkan tempat persembunyian mereka dengan kanal. Beberapa anak panah segera melesat memburu mereka.


__ADS_1


Tapi Leighton juga melesat ke depan gang. Dia menghunus pedangnya dan membuat pelindung sihir yang mementalkan anak panah yang diarahkan pada Vrey dan Rion. Mereka berdua sudah nyaris berada di luar jangkauan tembak si pemanah.



Menyadari hal itu, Karth melemparkan salah satu ujung rantai berpisaunya ke arah Leighton. Pisaunya menukik lalu melengkung hingga ke samping, menghindari pelindung sihir Leighton dan nyaris mengenai bagian samping tubuhnya yang tidak terlindungi. Tapi Desna lebih cepat bereaksi. Dia menendang Karth, kakinya mendarat keras di punggung Karth dan membuat pisaunya meleset.



Karth terpental ke samping karena tendangan Desna, tudung kepalanya terlepas dan menunjukkan identitasnya.



Desna berjengit. “Elvar!” desisnya.



Karth merentangkan dua belah pisaunya dengan sikap meng­ ancam. “Jangan ikut campur,” katanya.



Hujan panah dari atap mendadak berakhir, sepertinya si pemanah kehabisan amunisi. Leighton melirik ke belakang, Rion dan Vrey sudah berlayar jauh menyusuri kanal dengan perahu Putri Ashca. Dia menarik napas lega saat melihatnya.



Leighton maju ke depan dan menghunuskan pedangnya pada Karth. Dia dan Desna kini mengepung sang Shazin dari dua arah. Karth mengamati Leighton, seperti berusaha mengingat di mana mereka pernah bertemu sebelumnya. Mereka memang pernah bertemu saat berada di Gunung Ash, tapi saat itu Leighton masih menyamar sebagai Aelwen.



Si pemanah turun dari atap, Leighton melihat sosok mungil bertudung hijau berlari melintasi gang dan menghampiri Karth. “Maaf, mereka lolos,” ujar suara wanita di balik jubah.



“Nggak apa, Laruen,” kata Karth. Dia kembali mengarahkan pandangannya pada Leighton. “Katakan ke mana dua orang itu pergi!” bentaknya. “Kami akan berbaik hati untuk memberikan kematian yang cepat dan tidak menyakitkan pada kalian!”



Leighton tidak gentar, dia meremas pedangnya. Desna menyipitkan matanya, memandang kedua sosok bertudung hijau di depannya dengan penuh kegeraman. “Lihat di mana kau berada sebelum mengancamku! Para prajurit Lavanya sebentar lagi akan mengepung kalian!”



Karth tidak memedulikan ucapan Desna, dia bahkan tidak memedulikan keberadaan Desna. Perhatiannya terus terfokus pada Leighton. “Aku mengingatmu,” katanya tiba­tiba. “Kau Eldynn yang menahan sihir Eizen.”



“Dia!?” ujar Laruen tak percaya. “Tapi bukannya Eldynn waktu itu seorang wanita!”



“Nggak jadi masalah buatku,” kata Karth. “Pria atau wanita, aku akan membuatnya mengatakan di mana Relik Safir berada.”



Leighton terkesiap, Relik Safir! Sekarang dia tahu nama benda yang dicuri Vrey dari Eizen. Dan sesuai dugaannya, benda itu memang berharga sehingga Valadin dan teman­temannya menginginkannya kembali.



Pisau besar yang tiba­tiba berdesing tepat ke arahnya me­ ngejutkan Leighton. Dia menggunakan pedangnya untuk menepis. Dia melihat Desna menepis pisau Karth yang satunya. Secepat datangnya, kedua pisau berantai itu ditarik kembali ke tangan Karth.



Nyaris bersamaan, Leighton dan Desna menerjang maju dengan senjata terhunus. Karth melompat mundur, meng­ hindari sabetan pedang Leighton, tapi Leighton memang tidak mengincar pria itu. Dia menusukkan pedangnya tepat ke sela­ sela rantai pisau Karth, mengunci senjata itu di tanah.



Desna tidak menyia­nyiakan kesempatan yang dibuat Leighton, dia menerjang ke depan sambil mengayunkan kedua belatinya. Tapi dia belum mencapai sasarannya saat tiba­tiba terdengar siulan yang amat nyaring. Seekor burung elang men­ dadak terbang menukik, menyambar tepat ke wajahnya. Burung itu nyaris mencakar matanya andai Desna tidak menghindari­ nya di detik terakhir.



Si burung elang kembali menukik, tapi kali ini sasarannya adalah Leighton. Dia berguling menghindari cakar elang. Saat itulah Leigthon melihat Laruen tersenyum puas. Dia segera menyadari apa yang terjadi. Laruen yang memerintahkan elangnya untuk menyerang mereka.



Sementara si elang membuat mereka sibuk, Karth bersiap dengan kedua bilah pisaunya. Dia mengangkat tangannya tinggi­tinggi, siap melemparkan pisaunya pada Leighton dan Desna.




***



Entah berapa lama Leighton kehilangan kesadarannya. Kepala­ nya sakit bukan kepalang setelah membentur lantai. Dia bergerak perlahan­lahan, menyingkirkan puing­puing yang menindihnya sebelum bangkit berdiri.



Dia menyadari Karth dan Laruen sudah tidak berada di sana. Tak jauh dari tempat itu, di balik atap­atap bangunan, Leighton melihat asap hitam mengepul. Sesuatu atau sebuah bangunan tak jauh dari tempatnya sedang terbakar dengan hebatnya. Sepertinya itulah penyebab ledakan barusan. Kebetulan? Tidak, tidak mungkin terjadi ledakan acak bersamaan dengan munculnya teman-teman Valadin. Semua ini pasti berkaitan! pikir Leighton.



Setengah mati dia mencari Desna yang tertimbun di antara sela­sela reruntuhan toko. Leighton menggeser meja­meja kayu yang menimpa tubuh Desna dan memeriksa keadaannya. “Kau



baik­baik saja?” tanyanya.



“Ya,” kata Desna. Dia meringis kesakitan sambil memegangi perutnya, pakaiannya sobek dan dia berdarah. Leighton melihat sebuah pecahan kaca besar yang tergeletak di samping Desna, kaca itu yang melukai perutnya.



“Untung tidak dalam.” Leighton memeriksa luka Desna. Dia menggunakan sihir penyembuh secukupnya untuk menghentikan pendarahan.



“Di mana mereka?” tanya Desna. “Aku mendengar ledakan yang amat keras, apa yang terjadi?”



“Saat aku tersadar mereka sudah pergi,” jawab Leighton. “Sedangkan ledakan tadi, sepertinya berasal dari sana.” Dia me­ nunjuk ke arah kepulan asap yang membubung semakin tinggi.



Desna terlonjak saat melihatnya. “Itu Ateliya Putri Ashca!” serunya panik. “Aku harus memastikan Tuan Putri baik­baik saja.” Dia berbalik dan menyusuri kembali jalanan menuju



Ateliya.



“Aku ikut,” kata Leighton segera berlari menyusul Desna. Jantungnya berdegup kencang begitu mengetahui sumber ledakan tersebut adalah Ateliya sang Putri. Dia semakin yakin para Elvar komplotan Valadin adalah dalang di balik semua ini. Dia perlu mengetahui apa yang mereka inginkan. Kali ini Leighton tidak mau melarikan diri seperti saat di Gunung Ash. Dia akan menghadapi mereka.



Jalanan yang tadinya ramai dan penuh dengan kesibukan kini diwarnai jerit tangis dan kepanikan. Beberapa prajurit bergerak cepat untuk menenangkan para penduduk agar kepanikan tidak bertambah parah. Sementara sebagian lainnya terus berjalan menuju ke arah yang sama dengan Leighton.



Semakin mendekati Ateliya, kepadatan di jalan sempit itu semakin parah. Kerumunan orang yang ingin tahu dan para prajurit yang hendak mengamankan lokasi membuat mustahil bagi Leighton untuk mendekat, untungnya dia bersama Desna.



“Beri jalan!” teriak Desna pada beberapa prajurit yang menutup jalan masuk menuju Ateliya. Melihat kedatangan Desna, mereka segera membuka jalan.



Setelah terbebas dari kerumunan massa, Leighton dan Desna akhirnya tiba di depan Ateliya Putri Ashca. Leighton terperangah, tempat itu berubah total dibanding saat terakhir dia mengunjunginya—yang sebenarnya baru beberapa menit yang lalu.

__ADS_1



Rumah dan toko­toko di sekitar Ateliya hancur berantakan. Puing­puing batu dan serpihan kayu berserakan di sepanjang jalan, begitu juga dengan pecahan kaca, genting, dan benda­ benda kecil lainnya. Ratusan perkamen melayang­layang dari langit, menutupi jalanan. Abu menghujani tubuh­tubuh meng­ hitam yang tergeletak di sepanjang jalan.



Desna meledak marah. “Siapa yang bisa melakukan hal sekejam ini!?”



“Kurasa aku tahu,” jawab Leighton. “Namanya Eizen, dia sekelompok dengan Elvar yang tadi menyerang kita.”



“Kau membawa mereka pada kami!” seru Desna geram. “Aku tidak akan memaafkanmu kalau sampai terjadi sesuatu pada Putri Ashca.”



Leighton tercengang, mendadak dia merasa lemas. Apa mungkin para Elvar itu menghancurkan tempat ini setelah melihat dirinya, Vrey, dan Rion memasuki tempat ini? Jika itu benar, jangankan Desna, dia pun tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.



Ateliya Putri Ashca sudah berubah menjadi puing hitam, seluruh bangunan nyaris rata dengan tanah. Hanya sebagian dindingnya yang belum hancur, sementara sisanya sudah tidak berbentuk lagi. Beberapa prajurit sudah ada di sana. Mereka berusaha memadamkan api dan memeriksa tiap puing, mencari kalau­kalau ada yang selamat.



Leighton merasa mual setiap kali melihat tubuh menghitam ditarik keluar dari bawah puing. Kepalanya pusing memikirkan kenapa semua ini terjadi. Apakah orang­orang ini tewas karena dirinya?



Jeritan salah seorang prajurit menyadarkannya. “Di sini! Ada seseorang yang selamat!”



Dia buru­buru mengikuti arah suara itu. Para prajurit berhasil mengeluarkan seorang rekannya yang terperangkap di bawah dinding yang ambruk.



Desna segera menanyai prajurit itu. “Apa yang terjadi?”



“Seorang pria ... jubah hijau ...” katanya terbata­bata. “Dia menculik Tuan Putri, lalu ... Ateliya ... meledak!”



“Ke mana mereka pergi?” tanya Desna lagi



Tapi prajurit itu tidak menjawab, dia sudah mengembuskan napasnya yang terakhir.



Desna menghantamkan tinjunya dengan geram ke atas reruntuhan. Dia mengalihkan perhatiannya pada Leighton yang tertunduk kelu. Desna meraih kerah baju Leighton dengan kasar. “Kau tahu sesuatu!” tuduhnya. “Aku tidak peduli kau seorang Pangeran, kalau kau tidak mulai bicara—”



Ucapan Desna terpotong ledakan lain, kali ini tidak sebesar sebelumnya. Datangnya kira­kira beberapa blok dari tempat mereka berada sekarang. Leighton terlonjak, begitu juga dengan Desna. Teriakan panik dan jeritan ketakutan kembali terdengar dari sekeliling mereka. Desna mencampakkan kerah baju Leighton dan segera berlari menuju arah ledakan kedua.



Leighton mengikuti. Dia mulai yakin kejadian ini tidak ada hubungannya dengan dirinya. Terlalu berlebihan kalau para Elvar itu meledakkan seluruh jalanan hanya karena dia dan Vrey pernah mengunjunginya. Semua kejadian ini ada alasannya, dan dia harus mencari tahu alasan itu.



Desna melintasi gang­gang yang amat sempit; sepertinya jalan pintas. Dalam sekejap, mereka tiba di lokasi ledakan kedua. Tempat itu sebuah pasar atau—tadinya—pasar. Kini semua kios beserta barang dagangannya hancur berantakan. Air menyembur keluar dari lubang besar yang menganga di atas jalanan berbatu, membanjiri seluruh gang.



Beberapa orang terluka, beberapa yang lain tergeletak di atas atap kios, tidak bernyawa. Leighton terus mengikuti Desna sampai akhirnya mereka bertemu beberapa prajurit yang berjaga di area itu.



“Apa ada yang melihat siapa yang melakukan semua ini?” tanya Desna.



“Tidak,” jawab salah satu prajurit. “Tiba­tiba saja tanah di bawah kami meledak dengan dahsyat, menyemburkan air dan puing ke mana­mana.”



Leighton mengerutkan alisnya. “Ada apa di bawah tanah?” tanyanya.



“Terowongan air yang sangat tua,” jawab Desna. “Selain kanal, kami menggunakan terowongan itu sebagai saluran air untuk mencegah banjir.”



“Kita perlu masuk ke dalam terowongan itu. Putri Ashca mungkin ada bersama mereka di dalam sana.”



“Tidak mungkin! Tidak ada apa pun di sana kecuali—” ucapan Desna terhenti, dia menyadari sesuatu.



“Apa?” desak Leighton. “Apa yang ada di bawah sana?”



Tanpa menjawab pertanyaan Leighton, Desna meloncat turun melalui lubang besar yang menganga.



Leighton memutuskan ikut melompat masuk. Bau tak sedap memenuhi penciumannya saat dia meluncur turun melewati lubang pengap itu. Dia mendarat di genangan air setinggi lutut. Saluran air itu gelap, satu­satunya cahaya datang dari lubang tempat dia masuk tadi. Dia sama sekali tidak dapat melihat apa yang ada di hadapannya.



“Desna, tunggu.” kata Leighton. “Aku tidak bisa melihat apa­apa, seharusnya tadi kita membawa lentera.”



“Tidak perlu,” jawab Desna. “Tutup matamu.”



Leighton memejamkan matanya. Terdengar suara sesuatu yang dipecahkan dan seberkas cahaya yang amat menyilaukan terlihat dari balik kelopak matanya. Leighton membuka matanya perlahan saat cahaya itu mereda. Permukaan air dalam terowongan memancarkan cahaya putih terang. Leighton bisa melihat segalanya dengan jelas sekarang.



“Apa ini?” tanya Leighton.



“Cairan lumines,” jawab Desna. “Dibuat dari batu lumines yang diuraikan dengan proses alkimia dan akan bercahaya dalam kegelapan. Tapi pancaran cahaya yang dikeluarkan saat botolnya dipecahkan bisa membuatmu buta sesaat, makanya aku menyuruhmu menutup mata.”



“Praktis sekali.” Leighton sangat terkesan.



“Cairan ini tidak akan bertahan lama,” kata Desna. “Ayo!”



“Tunggu dulu.” Leighton menahan langkah Desna. “Katakan padaku, ada apa di bawah sini! Aku tidak bisa membantumu kecuali aku tahu kenapa mereka menculik Putri Ashca!” desak Leighton.

__ADS_1



Desna balas menatap Leighton. “Mereka menculik Putri Ashca karena Tuan Putri adalah satu dari sedikit orang yang tahu jalan rahasia bawah tanah menuju Naian Mujdpir,” katanya. “Yang mereka incar adalah Istana Kerajaan Lavanya!”


__ADS_2