THER MELIAN: CHRONICLE

THER MELIAN: CHRONICLE
Episode 6


__ADS_3

Kapal yang ditumpangi Laruen melaju perlahan membelah Sungai Yami. Dia merapatkan tudung kepalanya, hujan yang turun sejak tadi siang masih belum reda.



Hari telah petang saat kapal yang ditumpanginya akhirnya berlayar mendekati Ibukota Lavanya, cuaca buruk membuat pelayaran mereka sedikit terlambat. Laruen menajamkan telinga­ nya, suara hiruk­pikuk kota terbawa angin dari hilir sungai.



Dia melirik dari kedua sisi tudungnya. Karth dan Eizen berdiri tak jauh darinya, mereka semua mengenakan jubah hijau dan bersandar di sisi kapal. Lourd Valadin tidak bersama mereka, dia bersama Ellanese tengah dalam perjalanan kembali ke Granville.



Valadin memecah kelompok mereka menjadi dua. Laruen, Karth, dan Eizen mendapat tugas untuk melanjutkan perjalanan ke Kota Lavanya, tempat Templia Undina berada, sementara Valadin dan Ellanese menuju Rylith Lamire. Mereka akan mengembalikan amulet kepada Lourd Haldara, lalu menunggu Vrey dan teman­temannya muncul di sana.



Menurut Valadin, Vrey sendiri mungkin akan melarikan diri setelah peristiwa di Gunung Ash kemarin. Tapi dia bersama dua orang teman. Teman­temannya itulah yang mungkin akan meyakinkannya untuk mengadu ke Rylith Lamire. Karena itu, penting bagi Valadin untuk mendahuluinya kembali ke Granville dan mencegatnya sebelum mereka menemui Lourd Haldara.



Vrey ... entah kenapa memikirkan namanya saja sudah membuat Laruen muak. Sampai beberapa hari yang lalu, dia bahkan tidak tahu kalau dia punya saudari. Dia juga tidak tahu ada Vier­Elv lain yang pernah begitu dekat dengan Valadin, sampai­sampai Valadin mengajaknya tinggal di Falthemnar.



Selama ini Laruen merasa istimewa karena perhatian yang diberikan Valadin padanya, dan sekarang dia tahu alasannya. Tapi yang paling membuatnya kesal adalah Vrey.



Bagaimana mungkin gadis berengsek itu menyia­nyiakan kebaikan hati Valadin. Apa dia tidak tahu apa yang harus dialami Valadin agar bisa membawa Laruen dan ibunya ke Benteng Telssier?



Laruen tidak bisa membayangkan apa yang harus dialami Valadin untuk membawa Vrey ke Falthemnar. Bagaimana mungkin Vrey tega mengkhianati kepercayaan Valadin seperti itu, lalu meninggalkannya begitu saja untuk kembali menjadi pencuri? Laruen menggigit bibirnya, emosinya mendidih membayangkan di tubuhnya mengalir darah yang sama dengan seorang pencuri.



Tidak! Dia tidak punya saudari seperti itu, Laruen tidak akan pernah mengakuinya. Dia menolak mengakui Vrey sebagai saudarinya!



Semerbak harum bunga menyeruak memenuhi penciuman­ nya. Laruen bisa melihat asalnya, seluruh sungai di hadapan mereka dipenuhi bunga. Kapal mereka berlayar menembus ratusan bunga. Sebentar lagi mereka akan mendekati pusat kota. Suara bising kota kembali memenuhi gendang telinganya. Dia tidak pernah menyukai berada di kota Manusia.



Tiba­tiba Karth dan Eizen sudah berdiri di sampingnya.



Eizen menunjuk sebuah pulau di tengah­tengah sungai kepada Karth. “Pulau itu adalah Naian Mujdpir, Templia Undina ada di sana,” katanya.



Laruen mengamati baik­baik pulau yang ditunjuk Eizen. Pulau itu sangat besar, mungkin ratusan meter luasnya, jauh lebih luas dari pulau karang tempat Templia Voltress berada. Tapi bentuknya aneh, kotak persegi sempurna, dan segalanya terasa palsu.



Di atas pulau terdapat tembok persegi yang sangat kokoh, memagari bangunan­bangunan besar di dalamnya. Laruen juga melihat beberapa menara yang didirikan di sekeliling tembok, banyak prajurit berjaga di situ.



“Aku pernah mendengarnya,” kata Karth. “Itu istana Kerajaan Lavanya, kan?”



Eizen mengangguk. “Sekarang kalian tahu kenapa dulu para Tetua menentang didirikannya Kerajaan Lavanya. Seluruh lembah ini merupakan wilayah kekuasaan kita. Ditambah lagi mereka mendirikan Naian Mujdpir di atas gua bawah air tempat Templia Undina berada.”



Laruen mengernyit. “Mendirikan Istana mereka di atas Templia Undina? Menghina sekali!”



“Manusia memang makhluk yang merepotkan,” kata Eizen. “Kenapa susah­susah membangun pulau di atas sebuah sungai deras seperti ini cuma untuk mendirikan istana. Aku tidak melihat apa manfaatnya!”



“Aku tidak heran,” timpal Laruen sinis. “Mereka sama saja dengan Bangsa Draeg, selalu menentang hukum alam. Lihatlah mereka, menciptakan machina yang meracuni udara hanya agar mereka bisa terbang.”



“Simpan semua celotehanmu untuk lain waktu,” potong Eizen. “Aku tidak ingin mendengarnya. Kalau kau punya saran bagaimana kita bisa memasuki Templia, baru aku bersedia mendengarkan.”



Karth mengangkat bahu. “Memasuki Templia berarti sama dengan memasuki Istana Lavanya, tidak akan mudah.”



“Aku bisa menyihir semua air di sungai ini untuk membanjiri dan menghancurkan pulau itu,” usul Eizen enteng.



Laruen memelototi Eizen. “Hah! Leganya aku karena Lourd Valadin memercayakan masalah strategi kepada Karth. Apa kau tidak tahu betapa pentingnya menjaga kerahasiaan rencana kita? Yang artinya kita tidak boleh menggunakan sihir sebesar itu secara terang­terangan. Caramu barusan akan menarik terlalu banyak perhatian!”



Eizen melirik heran ke arah Karth. “Partnermu ini tidak punya selera humor, ya?”



Ucapannya hanya membuat Laruen semakin geram. Dia memang sedang tidak ingin bercanda.



“Aku tahu sebuah jalan masuk,” lanjut Eizen. “Saat mendirikan pulau itu, Bangsa Draeg juga membangun saluran air bawah tanah dari pesisir sungai sampai jauh ke dalam lembah. Ada dugaan mereka juga membangun jalan bawah tanah rahasia untuk digunakan keluarga Kerajaan Lavanya pada saat darurat. Saluran itu seperti labirin dengan ratusan jalan buntu dan dipenuhi perangkap mematikan. Hanya anggota keluarga Kerajaan Lavanya yang mengetahui jalan aman untuk melewatinya.”



“Jadi maksudmu kita perlu salah satu anggota keluarga kerajaan untuk menunjukkan jalannya pada kita?” tanya Laruen. “Begitulah,” jawab Eizen. “Tapi itu tidak akan mudah. Ang­ gota keluarga kerajaan seperti mereka jarang sekali meninggalkan istana.”



“Tunggu dulu,” ujar Laruen. “Apa bedanya menculik ang­ gota keluarga kerajaan dengan menghancurkan seluruh istana? Bukankah dua­duanya bisa dituduhkan pada bangsa kita?”



Karth yang menjawab. “Membuat seseorang menghilang adalah perkara mudah. Aku bisa memikirkan beberapa cara untuk membuatnya terlihat seperti kecelakaan atau kejahatan biasa. Orang­orang tidak akan menyangka kita berada dibaliknya. Lain halnya kalau tiba­tiba ada ombak aneh setinggi puluhan meter yang menelan seluruh istana dalam sekejap.” Karth melirik Eizen sambil tertawa kecil.


__ADS_1


Eizen tersenyum puas. “Aku senang melihat seseorang masih punya selera humor,” katanya. “Jadi, dalam beberapa hari ke depan kita akan melakukan pengintaian, lalu memutuskan siapa kandidat terbaik untuk diculik.”



Karth mengangguk. “Misi kali ini jauh lebih berat dari sebelumnya. Akan banyak korban saat rencana ini dijalankan, kita tidak boleh meninggalkan satu saksi mata pun.” Lalu dia berpaling ke arah Laruen. “Aku ingin tahu apa kali ini kau sudah siap?”



Laruen mengangguk mantap, tidak ada sebersit pun ke­ raguan dalam hatinya. Kali ini dia tidak akan ragu lagi, dia siap melakukan apa pun demi Valadin, dan dia akan mem­ buktikannya.



Di saat bersamaan, kapal mereka merapat ke pelabuhan. Diiringi gemuruh guntur dan gerimis yang tak kunjung reda, satu per satu dari mereka turun dan meninggalkan kapal.



***



Vrey nyaris tidak bisa tidur malam itu, keberadaan Leighton yang tidur di atas tikar bambu tepat di sampingnya membuatnya tidak nyaman. Dia sendiri heran, bersama Aelwen dia sudah berbagi kamar selama tiga tahun.



Lantas kenapa Leighton berbeda?



Pikiran itu terus menghantuinya sampai nyaris subuh. Tapi akhirnya Vrey tertidur juga.



Hangat mentari pagi yang masuk dari sela­sela kayu pondok membangunkannya. Dia mengejapkan mata dan menyadari pondoknya sudah kosong. Rion dan Leighton pasti sudah bangun dan meninggalkan pondok. Vrey mendorong salah satu dinding pondok ke atas untuk melihat ke luar, dermaga dan aliran sungai menyambut matanya.



Beberapa anak kecil berlari di atas dermaga sebelum terjun ke sungai. Seorang pawang memandikan seekor gadya tak jauh dari mereka. Gadya itu menyedot air dengan hidungnya yang berotot, lalu menyemburkannya ke arah anak­anak yang berenang.



Vrey sebenarnya juga sudah gerah sejak semalam, dia ingin sekali ikut bermain air bersama mereka. Dia berjalan keluar dari pondok menuju dermaga. Saat itulah dia sadar Rion dan Leighton sudah lebih dulu bergabung dengan anak­anak itu.



Yang pertama dilihatnya adalah Rion. Pria itu berenang hingga ke seberang sungai. Kemudian dia melihat Leighton yang menyembul keluar dari permukaan sungai. Rambutnya yang pirang panjang basah kuyup. Kulit Leighton yang terang terlihat mencolok di antara para penduduk Lavanya. Walaupun tubuhnya ramping, tapi Leighton cukup berotot, hanya saja selama ini Vrey tidak pernah menyadarinya karena Leighton selalu mengenakan pakaian berlengan panjang.



Leighton menyadari kehadiran Vrey di dekat dermaga dan mengangkat tangannya dan melambai. Vrey membalas lambaiannya asal­asalan. Dia berbalik, mengurungkan niatnya untuk berenang.



Perut Vrey mendadak mual. Dia sudah mengetahui kenyataan ini sejak dua hari yang lalu, tapi kini setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri, segalanya terasa semakin nyata.



Aelwen adalah Leighton, dan dia seorang laki-laki.



Satu jam kemudian mereka melanjutkan perjalanan. Kali ini, Vrey tertidur di sepanjang perjalanan. Udara pengap dan bau busuk dari dasar hutan membuatnya mengantuk. Dia nyaris tidak bisa membuka matanya.




Vrey mengangkat kakinya ke atas kursi. Dia mendongak mengawasi keadaan di sekitarnya. Tidak terlalu jauh di depan­ nya, ratusan rakit kecil terapung di atas permukaan air. Di atas rakit­rakit itu terdapat macam­macam barang, mulai dari sayur­ mayur, buah, daging, ikan, hingga rempah­rempah. Ada banyak sekali orang di atas rakit, mereka melakukan tawar­menawar dan transaksi dari atas rakit mereka.



“Apa itu?” tanya Vrey.



Rion yang menjawab. “Ini pasar apung Yamuna. Kita sudah sampai di tujuan kita.”



Tepat di belakang kumpulan rakit terdapat desa yang seolah terapung di atas sungai. Desa itu seluruhnya didirikan di atas panggung­panggung yang dibangun di atas permukaan sungai. Itulah Kota Yamuna. Aroma dupa dan bunga yang menyengat tercium dari arah sana saat angin bertiup ke arah mereka.



Gadya yang membawa mereka mengitari pasar apung Yamuna dan melintasi sungai yang dipenuhi kelopak bunga.



“Banyak sekali bunganya,” gumam Vrey.



Leighton mengangguk. “Ini saatnya festival bunga.”



“Apa itu festival bunga?” tanya Vrey.



“Upacara melarung bunga,” jawab Leighton. Dia tampak senang Vrey bertanya padanya. “Salah satu festival yang diadakan untuk merayakan hari jadi kerajaan ini.”



“Hari jadi kerajaan?” tanya Vrey lagi.



“Bangsa Sancarya mulai berdatangan ke wilayah ini sekitar dua abad setelah Kerajaan Granville didirikan,” Leighton menjelaskan. “Semakin lama jumlah mereka semakin besar, tapi mereka menolak bergabung dengan Kerajaan Granville dan tidak mengindahkan perjanjian pembagian wilayah Tiga Bangsa. Keberadaan mereka nyaris menimbulkan peperangan. Tapi akhirnya, semua pihak sepakat untuk berunding.



“Setelah itu Kerajaan Lavanya akhirnya resmi diakui. Sekarang, setiap tahun mereka merayakan hari jadi kerajaan mereka dengan festival­festival besar, salah satunya festival melarung bunga. Bunga­bunga ini adalah bunga kesukaan Ratu Ashcansha, ratu pertama Lavanya. Para penduduk melarung bunga di sepanjang sungai selama masa festival untuk menghormati Beliau.” Leighton mengakhiri penjelasannya.



Vrey memandangi sungai penuh bunga yang terbentang di hadapannya. Mendengar cerita Leighton barusan, dia menyadari betapa asingnya sejarah dan nama­nama itu baginya. Dia tidak pernah merindukan rumahnya seperti saat ini. Sepertinya baru sekarang Vrey menyadari betapa jauhnya dia telah meninggalkan Mildryd.



Vrey menarik napas dalam­dalam, berusaha mengusir rasa tak nyaman yang menyeruak. Tapi harum bunga memenuhi penciumannya, aroma yang teramat asing, berbeda dari semua kota di wilayah Granville yang pernah dikunjunginya.

__ADS_1



Gadya mereka akhirnya merapat ke dermaga. Vrey, Rion, dan Leighton segera turun. Mereka berjalan menyusuri panggung kayu yang berderak­derak setiap kali disapu gelombang air sungai.



Rion mendongak dan memandang matahari yang bersinar terik di atas kepala. “Aneh, aku nggak lihat satu kapal udara pun.”



“Aku juga nggak lihat,” kata Vrey. “Kau yakin kita ada di tempat yang benar?”



Wajah Rion berkerut cemas. “Tunggu sebentar di sini. Aku akan memeriksanya.”



Sementara Rion pergi, Vrey berjalan ke ujung dermaga. Dia mengamati sebagian kota yang terbentang di seberang sungai.



Vrey menyadari banyak sekali lentera yang digantung di depan setiap rumah. Para wanita dan anak­anak bekerja menggunakan bambu dan kain untuk membuat lebih banyak lagi lentera baru.



Leighton berdiri di sisinya. “Lentera­lentera itu akan digunakan untuk festival lentera,” katanya.



Vrey melirik dan menyadari Leighton tersenyum padanya. Dia memaksakan seulas senyum sebelum mengalihkan pandangannya ke arah kota.



“Apa itu festival lentera?” tanya Vrey, mengalihkan perhatian.



“Para penduduk menyalakan lentera, lalu melepasnya ke sungai atau menerbangkannya sambil memanjatkan doa. Sayang sekali siang ini kita sudah harus berangkat ke Granville. Kalau



tidak, aku ingin sekali melihat festival itu.”



Suara Rion menghentikan percakapan mereka. “Kurasa kalian akan sempat melihat festival itu.”



Vrey mengerutkan alisnya. “Apa maksudmu?”



“Kita terlambat, kapal udara terakhir baru saja berangkat kemarin. Nggak ada kapal udara yang datang atau pergi sampai seluruh rangkaian festival ini selesai,” jawab Rion.



“Apa?” kata Vrey. “Dan kapan itu?”



Rion berusaha mengingat­ingat. “Festival bunga, festival lentera, festival perahu, festival kembang api, dan masih banyak lainnya, semua itu akan memakan waktu sekitar satu sampai dua minggu.”



Vrey terbelalak. “Kita nggak bisa menunggu di sini selama itu. Valadin mungkin sudah dalam perjalanan ke Mildryd saat ini.”



“Bukannya nggak ada harapan,” kata Rion. “Kita bisa naik kapal, mengarungi Sungai Yami dan menuju Ibukota Lavanya. Kata orang­orang masih akan ada kapal udara di sana sampai dua­tiga hari lagi.”



“Itu lebih baik daripada menunggu di sini, ayo berangkat,” kata Vrey.



Mereka menyusuri dermaga lebih jauh hingga menemukan dermaga lain. Puluhan kapal pengarung sungai bersandar di dermaga. Vrey menyadari kapal­kapal besar itu tidak memiliki layar, sebagai gantinya ada kincir air di tiap sisi kapal. Di dalam kincir terdapat puluhan bilah kayu yang berfungsi sebagai kayuh. Di bagian tengah kapal ada cerobong besar yang mengeluarkan asap hitam. Vrey mengenali bau asap itu—bahan bakar yang sama dengan kapal udara, aereon.



Rion bicara sebentar dengan salah satu awak kapal dalam bahasa Lavanya, lalu merogoh kantongnya dan membayar beberapa keping perunggu pada awak kapal sebelum orang itu mengizinkan mereka naik ke atas kapal.



Vrey menjelajahi bagian geladak atas kapal dengan gembira, ini pertama kalinya dia naik kapal air. Dia memang pernah naik kapal udara, tapi berada di atas kapal air rasanya berbeda. Setiap kali ombak bergerak, seluruh badan kapal juga ikut berderak. Rasanya menakutkan sekaligus menyenangkan. Dia menyandarkan tubuhnya di pagar depan kapal, mengamati ombak sungai yang menampar­nampar buritan. Tak lama kemudian kapal itu memulai perjalanannya mengarungi sungai.



Leighton berjalan menghampiri Vrey, ikut bersandar di pagar kapal.



Vrey menggigit bibirnya kuat­kuat. Dia bukannya belum memaafkan Leighton. Entah sejak kapan, yang jelas kemarahan dan kekecewaannya perlahan terhapus selama perjalanan me­ ngarungi sungai dua hari ini. Tapi itu bukan berarti dia sudah bisa memperlakukan Leighton sebagai temannya lagi seperti se­ belumnya.



Vrey mencuri pandang ke sebelahnya. Leighton hanya berdiri diam di sampingnya, memandang ke arah sungai, kepangnya yang panjang dimainkan embusan angin. Pemuda itu terlihat benar­benar asing baginya.



Tapi Aelwen dan Leighton orang yang sama, kan?



Vrey tidak bisa menyangkal lagi. Jauh di dalam hatinya, dia menyadari Leighton dan Aelwen adalah orang yang sama, kalau mengabaikan fakta bahwa Leighton adalah seorang pria, seorang Eldynn dan, yang paling penting, seorang pangeran!



Walaupun begitu, bukankah semua itu seharusnya tidak mengubah fakta bahwa Leighton adalah temannya?



Vrey tidak tahu jawabannya, dia benar­benar bingung. Dia tidak ingin memikirkan masalah itu. Tapi semakin tidak ingin memikirkannya, hal itu malah semakin mengganggunya.



Perjalanan setengah hari itu terasa seperti bertahun­tahun baginya, sebelum akhirnya kapal mereka perlahan­lahan mendekati Ibu kota Lavanya.

__ADS_1


__ADS_2