
Karth akhirnya tiba di dasar lubang yang seolah tak berdasar itu. Dia menuntun Laruen menuruni tanjakan terakhir sebelum mereka mulai menjelajah. Tempat itu sangat gelap, kecuali nyala sungai magma di hadapan mereka, nyaris tidak ada apaapa lagi di sana. Gelegak magma yang keras sungguh
terasa memekakkan telinga.
“Berpencar,” katanya. “Jurang ini nggak luas, kita akan segera menemukan mereka.”
“Itu kalau mereka nggak tercebur ke dalam sungai magma,” rutuk Laruen. “Kenapa, sih, Eizen harus menjatuhkan mereka ke dalam jurang segala? Orang itu terlalu mendramatisasi segalanya!”
Karth tertawa. “Ayolah, semakin cepat kita menemukannya, semakin cepat kita keluar dari sini.”
Mereka terus mencari selama beberapa menit tanpa hasil, tidak ada tandatanda para pencuri itu sama sekali.
Laruen terlihat putus asa. “Ini gawat,” katanya. “Bagaimana kalau mereka benarbenar jatuh ke sungai magma?” Kekhawatiran mulai terdengar dari nada suaranya.
“Kurasa itu nggak mungkin. Lihat jarak antara sungai magma dengan dinding tebing, jaraknya terlalu jauh, mereka nggak akan terlontar sampai ke sana.”
Laruen mengerutkan alisnya. “Jadi, di mana mereka?” Karth tidak menjawab. Dia menajamkan penglihatannya,
mencoba mencari petunjuk yang mungkin tersimpan di antara bebatuan yang memenuhi dasar jurang. Saat itulah dia me nemukan sesuatu.
“Lihat,” katanya menunjuk ke arah tumpukan abu tebal yang membentuk semacam kawah kecil. “Mereka terjatuh di sini, kurasa mereka menggunakan semacam sihir pelindung untuk menahan jatuh mereka.”
Laruen berlutut mengamati tumpukan abu itu. Dia meng amati sekitarnya dan menyadari sesuatu yang lain, sebuah jejak kaki berjalan menjauhi tumpukan.
“Sesuai dugaanku,” kata Karth. “Mereka sudah lama melarikan diri.”
“Mustahil!” Laruen terbelalak. “Mereka masih hidup? Tapi bagaimana dengan gadis itu? Dia kena racunmu, kan?”
Karth ikut berlutut dan meraba permukaan abu yang meng gumpal, sepertinya sempat basah karena terkena semacam cairan. Karth memungut gumpalan sebesar kerikil itu dan mencium aromanya. “Ini aroma tanaman langka yang bisa menawarkan racun,” katanya. “Dengan ini, gadis itu mungkin masih bisa bertahan hidup dua atau tiga hari lagi.”
Laruen bangkit berdiri. “Mereka nggak mungkin jauh! Ayo kita cari mereka!”
Karth dan Laruen mengikuti jejak kaki sampai tiba di sebuah terowongan yang menuju ke luar. Mereka mengikuti jalan dan tiba di sebuah lembah yang terbentang di belakang Gunung Ash. Saat mereka tiba gerimis sudah turun. Tepat di tengah lembah, Karth melihat reruntuhan sebuah kota yang nyaris hilang tertelan abu.
Laruen tersenyum puas. “Mereka pasti bersembunyi di suatu tempat di sana.” Dia sudah hendak melesat, tapi Karth menahannya.
“Tunggu dulu,” katanya. “Apa?” desis Laruen tak sabar.
“Lihat itu.” Karth mengarahkan mata partnernya ke arah gumpalan Kabut Gelap yang amat pekat, yang karena tiupan angin tampak bagai dinding yang merangsek maju ke arah mereka.
“Sebentar lagi seluruh lembah ini akan tertutup Kabut,” Karth menjelaskan. “Kita bisa berada dalam masalah kalau sampai terjebak di tengah Kabut.”
Mata Laruen terbeliak. “Jadi kita akan membiarkan mereka kabur begitu saja? Kabutnya masih cukup jauh, masih cukup waktu untuk menemukan mereka dan kembali lagi ke tempat ini!” Laruen bersikeras.
Karth bergeming. “Hujan semakin deras. Sebentar lagi jejak mereka akan terhapus, kita nggak punya cukup waktu untuk mencari mereka. Yang terbaik yang bisa kita lakukan sekarang adalah melaporkan masalah ini kepada Lourd Valadin.”
Laruen baru akan membantah lagi, tapi Karth menyela. “Kau sendiri yang bilang, mereka nggak bisa pergi jauh dengan kondisi mereka sekarang. Nggak susah bagi kita berlima untuk menyusul dan menemukan mereka. Kita pernah melakukannya sekali, aku yakin kita bisa melakukannya lagi.”
Walaupun enggan, Laruen akhirnya menuruti keinginan Karth. Mereka berbalik dan kembali menuju tempat Valadin.
***
Valadin menghela napas panjang untuk kesekian kalinya. Dia nyaris tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya dari Ellanese dan Eizen yang duduk di sebelahnya. Sudah cukup lama sejak Karth dan Laruen menjelajah ke dasar gunung untuk mencari Relik Safir. Semakin lama dia menunggu, perasaannya menjadi semakin tidak tenang.
Dia mengeluarkan sebuah cincin berbatu merah dari sakunya dan menatapnya dengan pandangan kosong. Relik Rubi dari Sang Aether Vulcanus, salah satu dari tujuh Relik Elemental yang harus mereka dapatkan dari ketujuh Aether. Untuk mendapatkan benda ini, dia harus membayar dengan harga mahal, sangat mahal.
Valadin harus melenyapkan dua Gardian penjaga Templia Vulcanus. Sebuah dosa yang pada akhirnya menyebabkan dirinya kehilangan Schalantir, pedang kepercayaannya yang telah melayaninya selama ini.
Tapi di atas segalanya—dan mungkin yang paling disesali nya—dia juga harus kehilangan Vrey. Masih terbayang jelas di benaknya saat Eizen melontarkan sihir apinya pada Vrey, melemparkan gadis itu dan temantemannya ke dalam lubang. Seolah kejadian itu belum cukup menghantuinya, dia kini dihadapkan dengan kenyataan pahit lain. Relik Safir yang mereka dapatkan dari Sang Aether Voltress hilang. Sepertinya Vrey mengambilnya dari saku Eizen saat mereka bertarung.
Karth dan Laruen turun ke jurang untuk mencarinya. Setiap saat mereka bisa kembali untuk melaporkan bahwa mereka telah menemukan jenazah Vrey dan Relik Safir.
Jenazah? pikir Valadin. Dia begitu yakin Vrey sudah mati. Valadin tidak bisa membayangkan ada yang bisa selamat setelah jatuh dari ketinggian itu. Kalaupun Vrey selamat, racun Karth yang akan menghabisinya.
Jauh di dalam lubuk hatinya, Valadin menyimpan harapan bahwa Vrey tidak mati. Tapi dia tahu tidak ada gunanya mengharapkan keajaiban. Kegelisahan kembali menyeruak memenuhi pikirannya.
Kabar macam apa yang diharapkannya saat Karth dan Laruen kembali nanti? Bahwa mereka menemukan jenazah para pencuri beserta Relik Safir? Itu jelas kabar baik yang dinantikan teman temannya. Tapi di sisi lain, itu sekaligus merupakan kabar duka yang begitu mendalam baginya, karena itu sama saja dengan memastikan Vrey telah benarbenar tiada.
Beberapa saat berlalu sebelum Karth dan Laruen akhirnya kembali. Mereka tidak tersenyum, mereka tampak lelah.
Ellanese tidak membuang waktu untuk mencecar mereka. “Apa kalian menemukan Reliknya?”
Laruen menggeleng lemah. “Ada kabar buruk,” katanya. “Entah bagaimana para pencuri itu masih hidup dan sekarang mereka ada di suatu tempat di luar sana.”
Nyaris semendadak kemunculannya, kekecewaan di hati Valadin berganti dengan seberkas kelegaan. Ada sedikit perasaan tenang yang menyelimutinya saat mengetahui Vrey mungkin masih hidup. Walaupun dia kehilangan Relik Safir, tapi dia belum kehilangan Vrey.
Karth menambahkan. “Kami mengikuti jejak mereka sampai lembah di bagian belakang gunung, tapi hujan turun dan menghapus sisa jejaknya. Lalu Kabut Gelap mulai muncul, aku tidak ingin mengambil risiko mencari mereka di tengah kepungan Kabut.”
Ellanese terbelalak. “Jadi kau membiarkan mereka pergi begitu saja?”
Laruen mendengus tak senang. “Kurasa Anda melewatkan bagian di mana Karth menyebutkan tentang Kabut Gelap.”
Sebelum Ellanese sempat membalas, Valadin segera mene ngahi.
Ellanese merengutkan bibirnya dan menoleh pada Valadin. “Kita harus mencari mereka. Saat ini mereka pasti tidak jauh, dalam keadaan terluka begitu kita bisa meringkus mereka.”
Tapi Valadin menggeleng. “Lihatlah kondisi kita sendiri,” katanya. “Kita juga tidak dalam kondisi terbaik, mencari mereka di lembah penuh Kabut Gelap hanya akan mencelakakan diri sendiri. Kita akan menunggu hingga fajar,” perintahnya.
Ellanese tidak bisa membantah Valadin. Dia menumpahkan kemurkaannya pada Eizen. “Ini semua salahmu, kalau kau berhatihati—”
Tapi Valadin kembali memotong ucapannya. “Sudah cukup!
Siapa pun bisa berbuat kesalahan seperti itu.”
Karth melirik Valadin. “Jadi apa yang akan kita lakukan sekarang?”
“Malam ini kita beristirahat.” Valadin tahu dia harus memikirkan sebuah rencana baru untuk mengantisipasi kejadian ini sekaligus melanjutkan misi mereka. Tapi tidak sekarang, dia terlalu lelah. Valadin tidak bisa berpikir jernih. “Aku akan memikirkan langkah kita selanjutnya dan mendiskusikannya dengan kalian semua besok pagi,” katanya.
Karth mengangkat bahu. “Kurasa kita tidak ada pilihan lain. Aku akan ke lereng gunung di arah mulut gua, mencari hewan hewan kecil atau tanaman yang bisa dimakan.”
Laruen ingin ikut, tapi Karth melarang. “Kita nggak bisa bermalam di tempat seperti ini. Bantu Lourd Valadin dan yang lainnya kembali ke atas. Ada tempat yang cukup nyaman, yang tadi kita lewati saat masuk ke gua ini, kau pasti tahu tempat yang kumaksud.”
Laruen mengangguk. Dia membiarkan Karth pergi ke atas. “Mari, Lourd Valadin,” ujarnya dengan suara lirih. “Aku akan mengantar sampai ke tempat yang dimaksud Karth.”
__ADS_1
Valadin mengangguk dan membiarkan Laruen membim bingnya. Dia berjalan tertatihtatih memanjat tebing yang licin sebelum menyusuri loronglorong panjang dan gelap untuk kembali ke bagian atas gua. Seluruh tubuhnya terasa ngilu dan kaku. Dia masih belum pulih sepenuhnya setelah pertarungannya melawan si golem lava. Tapi ada satu hal yang memenuhi kepalanya, membantunya mengatasi rasa sakit. Vrey masih hidup....
***
Vrey mengenakan penutup kepala untuk menutupi telinganya sebelum meninggalkan penginapan. Kemarin setelah Aelwen meninggalkan kamarnya, Vrey terus mengurung diri. Tapi hari ini dia memutuskan untuk menjelajahi Kota Shailaja dan menjernihkan pikirannya.
Kota Shailaja benarbenar menarik dan berbeda dari semua kota yang pernah dilihatnya di Kerajaan Granville. Semua pedagang di pasar terlihat sangat bersemangat, tidak perlu menguasai Bahasa Lavanya untuk memahami bahwa mereka sedang menawarkan dagangan.
Vrey kagum melihat berbagai macam barang yang dijual di sepanjang jalan. Kulit buaya, bola mata dalam botol, ular hidup, dan kalajengking kering. Semua hal aneh yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Jalanan yang sempit penuh sesak dengan barangbarang dagangan. Vrey harus berjalan pelanpelan agar tidak menginjak apa pun, serta menghindari keretakereta dorong yang membawa padi dan sayurmayur yang melintas.
Puas melihat pasar, Vrey berbelok ke sebuah gang yang dipenuhi kedai teh. Para pelayannya mengenakan jubah biru terang dan menjinjing teko bermulut panjang untuk menuang kan teh. Penjual gulagula berderet di depan kedai, mereka menggoyangkan sesuatu yang kelihatan seperti semacam alat musik tradisional untuk menarik perhatian pembeli. Vrey tertarik sekali mencoba gulagula itu ketika dia mendengar ada suara yang memanggilnya.
“Vrey, di situ kau rupanya.”
Dia menoleh dan mencari asal suara di antara kerumunan pejalan kaki, Rion berdiri tidak jauh di belakangnya.
Rion menghampirinya. “Aku mencarimu di penginapan, tapi kata Aelwen kau pergi ke kota,” katanya.
“Ada apa?” tanya Vrey.
“Aku sudah mengetahui siapa Aelwen,” jawab Rion.
Vrey terkesiap. “Apa kau yakin?” Rasanya baru kemarin dia meminta Rion menyelidiki masa lalu Aelwen.
Rion mengangguk. “Saat pertama melihatnya, aku sudah merasa wajahnya nggak asing. Awalnya kupikir karena aku pernah melihatnya di selebaran yang mengumumkan kejahatan kalian di Rylith Lamire, tapi aku salah,” Rion berhenti sebentar untuk mengatur napas. “Setelah mencari lebih teliti, aku menemukan selebaran lain, dengan wajah Aelwen di dalamnya.”
“Selebaran lain?!” Vrey mengangkat sebelah alisnya. “Untuk
Aelwen?”
“Selebaran itu dikeluarkan tiga tahun yang lalu. Wajahnya terlihat berbeda, tapi aku yakin itu dia.” Rion menatap Vrey dalamdalam. “Kau mau lihat?”
Dengan perasaan tidak menentu, Vrey menggangguk ragu. Rion merogoh sakunya dan menyodorkan selembar perka
men lusuh bergambar wajah seseorang padanya. Gemetaran, Vrey menerima perkamen rapuh dan menguning itu. Dia mem bacanya dalam hati dan tertegun.
Untuk beberapa saat, Vrey membeku di tempatnya. Dia membaca perkamen itu berulangulang, mengamati setiap detail tulisan dan gambar wajah yang tertera di situ. “Kau yakin ini Aelwen?” tanyanya risau.
Rion mengangguk. “Semuanya cocok. Kemunculannya di Mildryd tiga tahun yang lalu, usianya, karakternya, dia juga seorang Eldynn. Aku yakin sekali!”
“Tapi ini nggak mungkin, kan? Karena orang di pengumuman ini—” Vrey tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya.
“Betul. Kurasa inilah alasannya kenapa dia matimatian merahasiakannya darimu.”
Tanpa pikir panjang, Vrey langsung berbalik berlari mening galkan pasar. Vrey menabrak beberapa pedagang dan menjatuh kan dagangan mereka hingga berhamburan di atas tanah. Di antara cacian para pedagang, Vrey tidak memperlambat larinya, dia bahkan tidak bisa mendengarnya. Telinganya seperti tertu tup, kepalanya terasa panas, dia terus berlari. Vrey tidak percaya dengan apa yang baru dibacanya, dia tidak ingin memercayainya.
Setelah beberapa menit, dia tiba di penginapan. Dia setengah berlari melewati koridor lantai dua yang sempit dan membuka pintu kamarnya. Rion mengikuti di belakang.
Aelwen terperanjat melihat mereka menghambur masuk seperti itu. “Ada apa?” tanyanya.
Sepanjang perjalanan kembali ke penginapan Vrey sudah memikirkan bermacam pertanyaan untuk Aelwen. Tapi se karang, saat berhadapan dengan Aelwen, dia seolah kehilangan katakata. Vrey bergeming.
Rion yang tiba belakangan mendorong Vrey masuk ke dalam kamar sebelum menutup pintu, kemudian berpaling menatap Aelwen. “Kami kemari untuk memastikan sesuatu,” katanya.
Rion menjelaskan. “Selama mengantarmu dalam perjalanan dari Telerim sampai kemari, aku mencurigai sesuatu.”
Aelwen memasang tampang seolah dia tidak mengerti apa yang dibicarakan Rion. “Maksudmu?” tanyanya lagi.
Pertanyaan Aelwen menyulut amarah Vrey. “Hentikan sandiwaramu!” hardiknya gusar.
Aelwen menoleh ke arah Vrey. “Aku sungguh tidak mengerti apa yang kalian bicarakan. Kalau kalian mengatakannya, aku mungkin bisa menjelaskan.”
Vrey menjulurkan pengumuman di tangannya ke depan Aelwen. “Kalau begitu, jelaskan ini!”
Wajah Aelwen mendadak pucat. Dengan tangan gemetaran, dia menerima perkamen itu.
Sementara Aelwen membaca, Vrey terus mengamatinya, menunggu Aelwen membantah atau mengatakan sesuatu untuk menepis kecurigaan mereka. Tapi Aelwen tidak mengatakan apaapa, dia hanya melipat perkamen itu lalu duduk di kursi.
Rion berjalan mengitari Aelwen bagai pemburu yang meng intai mangsanya. “Kau nggak membantahnya. Jadi kuduga tebakanku benar?” katanya. “Aku sudah curiga sejak awal. Pertama, kau sangat terpelajar. Kedua, kau seorang Eldynn. Dan terakhir, kemunculanmu di Mildryd tiga tahun yang lalu sesuai dengan menghilangnya orang di selebaran itu.”
Vrey menatap mata Aelwen. “Jadi itu benar?” tanyanya. “Kau adalah orang yang ada di selebaran itu?”
Aelwen menghindari tatapan Vrey, membuat Vrey semakin yakin akan kebenaran perkataan Rion. “Dari awal, nggak ada yang namanya Aelwen, kan?” Suara Vrey terasa tercekat di dalam tenggorokannya. “Dari awal kau bukan perempuan, kan? Kau lakilaki yang purapura jadi perempuan!?”
Rion melanjutkan. “Awalnya, aku juga nggak percaya! Rasanya mustahil ada lakilaki yang bisa menyamar sebagai perempuan selama tiga tahun dan nggak menimbulkan kecurigaan orang orang di sekitarnya. Tapi kau bukan sembarang lakilaki, kau adalah Pangeran Leighton ftaddeus Granville, pewaris takhta Kerajaan Granville yang menghilang tiga tahun yang lalu! Sebagai anggota keluarga Kerajaan, kau memiliki postur yang ramping dan paras yang anggun. Selain itu tata bicaramu lembut, nggak terlalu susah bagimu untuk menyamar jadi perempuan, kan?”
Rion berhenti sebentar, memberi waktu bagi Aelwen—atau Leighton—untuk membantah. Tapi Leighton hanya tertunduk kelu, dia sama sekali tidak membantah penjelasan Rion.
Tatapan Vrey terpaku pada Leighton. “Katakan sesuatu!” hardiknya. “Benarkah? Benarkah semua yang dikatakan Rion? Benarkah kau membohongiku? Tidak ... tidak hanya aku, kau membohongi semua orang di Kedai Kucing Liar walaupun kami memercayaimu selama ini?”
Akhirnya Leighton mengangkat wajahnya yang sepucat mayat. Dengan suara yang sedikit berbeda dari suara ‘Aelwen’ yang biasa, dia mulai bicara. “Dugaan kalian benar,” katanya. “Namaku yang sesungguhnya adalah Leighton ftaddeus Granville, Pangeran Pertama Kerajaan Granville.”
Rion tidak tampak terkejut mendengarnya, malah dia tam pak tenang dan terkendali. Sebaliknya Vrey tidak tahu harus bagaimana menanggapinya. Kemarahan yang tadi sempat muncul mendadak sirna, digantikan dengan kekecewaan yang teramat sangat.
Leighton menghampiri Vrey, berniat memberikan menjelas kan, tapi Vrey spontan mundur.
“Jangan dekati aku,” kata Vrey.
“Dengarkan aku, Vrey,” pinta Leighton putus asa. “Aku tidak pernah bermaksud menipumu. Ada alasan kenapa aku melarikan diri dari Istana Granville tiga tahun lalu. Setelah itu aku menghindari kejaran para prajurit dan pemburu hadiah yang ingin menangkapku. Saat itulah kusadari bahwa dengan sosokku, aku bisa dengan mudah menyamar menjadi perempuan. Aku akhirnya sampai ke Mildryd sebagai Aelwen, lalu bertemu denganmu. Aku bukan berniat menipumu atau temanteman yang lain,” kilahnya.
Vrey memicingkan matanya. “Tapi setelah itu, kau tinggal bersama kami selama tiga tahun. Tiga tahun! Dan kau terus berbohong pada kami! Kenapa?” Suaranya bergetar menahan amarah.
“Aku ... aku takut mengatakan yang sebenarnya pada kalian,” jawab Leighton dengan suara datar.
“Takut?” desis Vrey. “Oh ... aku mengerti.” Dia menyambar selebaran dari tangan Leighton. “Ada hadiah bagi yang mengem balikanmu ke istana, kan?” Vrey mengacungkan selebaran itu. “Kau takut kami akan mengadukanmu demi uang, begitu?”
“Tidak!” bantah Leighton cepat. “Tiga tahun di Mildryd adalah masamasa terbaik dalam hidupku. Perjalanan denganmu adalah pengalamanku yang paling luar biasa. Aku ingin terus bersama kalian. Karena itulah aku mempertahankan identitasku sebagai Aelwen.”
“Berhentilah membohongiku!” jerit Vrey. Matanya sudah basah, butiran air mata menetes di pipinya tanpa bisa diken dalikan, kemarahan dan kekecewaan yang dari tadi bercampur aduk dan matimatian ditahannya seakan meledak begitu saja. “Aku mengerti kok ... Nggak kamu, nggak Valadin, semua sama saja. Pada akhirnya, di mata kalian aku hanya seorang pencuri, iya, kan?!”
“Aku tidak pernah berpikiran seperti itu,” bantah Leighton. “Kau temanku. Tiga tahun ini kita melalui segalanya bersama sama, kan?” Leighton melangkah mendekati Vrey.
Tapi Vrey tidak mau mendengar apaapa lagi. Dia berbalik dan berlari keluar kamar, tidak sanggup lagi berada di tempat itu.
__ADS_1
***
Leighton menuju ke pintu untuk mengejar Vrey, tapi Rion menghadangnya. “Minggir!” hardik Leighton.
“Kurasa lebih baik kau biarkan dia sendiri dulu,” ujar Rion kalem. “Hal terakhir yang ingin dia lihat saat ini adalah kau.”
Lidah Leighton terasa kelu. Rion benar. Dia menyadari semua ini memang kesalahannya. Menutupi satu kebohongan dengan kebohongan lain, dan saat segalanya terbongkar dia malah melukai perasaan orang yang paling dekat dengannya.
“Apa yang harus kulakukan?” tanyanya
“Sudah jelas, kan? Aku akan menyeretmu kembali ke Granville dan mengambil hadiah atas dirimu,” jawab Rion enteng.
Leighton melongo, tapi Rion malah tertawa. “Tenang, aku cuma bercanda.”
“Terima kasih, Rion. Andai Vrey bisa memaafkanku semudah dirimu.”
“Jangan samakan kami,” kata Rion. “Aku baru mengenalmu dua minggu, kalian sudah bersama tiga tahun. Aku bahkan nggak bisa membayangkan perasaannya saat ini.”
Leighton tersenyum masam. Rion benar, selama ini dia begitu khawatir rahasianya terbongkar. Leighton sama sekali tidak memikirkan bagaimana perasaan temantemannya seandainya mereka mengetahui dia telah menipu mereka selama ini.
“Aku nggak ngerti,” kata Rion tibatiba. “Kau seorang Pangeran dari Kerajaan terbesar di benua ini. Kenapa kau me ninggalkan semua itu untuk hidup di kota terpencil seperti Mildryd?”
Leighton menundukkan kepalanya. “Aku tahu kau akan menanyakannya. Dan jawabannya panjang sekali.”
“Nggak apaapa. Aku ingin mendengarnya, aku juga nggak ada kerjaan.”
Leighton mengembuskan napas panjang. “Sejak kecil aku dididik dan dipersiapkan sebagai calon Raja Granville. Lalu suatu hari aku mengetahui bahwa aku adalah anak dari selir Raja. Permaisuri tidak bisa memberikan keturunan setelah sepuluh tahun menikah dengan Raja, sehingga menurut hukum, Raja harus mengambil selir untuk melahirkan pewaris kerajaan.
“Aku tidak punya masalah dengan hal itu, tapi mendekati waktu penobatanku sebagai putra mahkota tiga tahun yang lalu, Permaisuri hamil dan melahirkan seorang bayi lakilaki. Kemudian, mendadak semua berubah.” Leighton berhenti untuk menghela napas. “Keluarga Permaisuri menuntut agar penobatanku dibatalkan, dan Pangeran kedualah yang harus dinobatkan sebagai pewaris takhta. Tapi keluarga ibuku tidak setuju karena aku dilahirkan terlebih dulu.”
Rion mengangguk. “Aku pernah mendengar masalah itu sekitar empat tahun yang lalu, ketegangannya bahkan terasa sampai di Telerim.”
“Begitulah,” kata Leighton. “Itu adalah masa terburuk dalam hidupku. Aku melihat bagaimana keserakahan bisa mengubah wajahwajah orang yang kukenal. Orangorang yang kupercaya dan temantemanku tibatiba tidak seperti dulu lagi. Ternyata mereka hanya memberikan kesetiaan dan persahabatan mereka karena aku adalah pewaris yang sah.”
“Itu bisa dimengerti. Konflik semacam itu akan memecah belah seluruh Kerajaan. Orangorang nggak tahu harus memberikan kesetiaan mereka pada permaisuri atau selir. Semua pasti sibuk mengamankan posisi masingmasing sampai diputuskan siapa yang akan menjadi Raja berikutnya.”
“Tapi bukan itu yang membuatku memutuskan untuk lari,” lanjut Leighton. “Saat itu aku mengetahui ibu kandungku sendiri dan keluarga besarnya diamdiam berencana menghabisi pangeran kedua, adik kecilku.”
Rion terbelalak. Leighton tersenyum sedih, lalu melanjutkan lagi. “Demi kekuasaan, mereka tega menghabisi anak kecil yang tidak berdosa. Aku tidak bisa membiarkannya terjadi, aku tidak bisa hidup dengan menanggung semua itu. Saat itulah aku memutuskan untuk menghilang, jauh dari istana dan politik busuk.”
“Jadi kau memutuskan lari ke Mildryd?”
“Ya ... Setelah aku tiba di Mildryd, Vrey dan temantemannya menerimaku dengan tangan terbuka di rumah mereka. Padahal mereka pencuri. Kaum yang dianggap rendah, jahat, bahkan barbar oleh kebanyakan orang. Tapi bersama mereka aku merasakan kehangatan, aku menemukan temanteman sejati, sesuatu yang belum pernah kumiliki di Granville. Bukan itu saja, Vrey mengajariku cara berpikir yang baru dalam memandang hidup. Dialah alasan aku menjadi diriku yang sekarang. Jadi bukannya aku tidak mau mengatakan identitasku padanya. Aku takut kalau dia tahu, sikapnya padaku akan berubah.”
Rion memecah keheningan yang menyusul. “Kurasa kepala Vrey pasti sudah cukup dingin sekarang,” katanya. “Sebaiknya kita cari dia sebelum gelap. Tapi sebelumnya kurasa kau perlu pakaian baru. Melihatmu seperti ini hanya akan menyulut amarahnya.”
Leighton setuju. Kali ini dia akan menemui Vrey dan menghadapi gadis itu sebagai dirinya sendiri.
***
Vrey berlari meninggalkan kamar penginapan, dia sudah tidak bisa lagi menahan air matanya. Vrey tidak tahu ke mana dia akan pergi, yang jelas untuk saat ini dia tidak ingin mendengar suara Leighton, apalagi melihat wajahnya. Dengan air mata berderai, dia terus berlari sampai tiba di gerbang atas Kota Shailaja.
Vrey berhenti untuk mengatur napasnya yang tersengal sengal. Dia sudah berhasil mengendalikan diri, air mata sudah tidak lagi mengalir di pipinya, tapi dia merasakan ada kekosongan besar dalam hatinya. Sampai tadi pagi, dia memiliki seorang teman yang sangat berarti baginya. Teman yang telah mengajarinya begitu banyak hal, teman yang selalu ada saat dia membutuhkan, teman yang sudah menyelamatkan nyawanya berkalikali. Tapi sekarang, dia tahu temannya itu tidak nyata.
‘Aelwen’ hanyalah tokoh yang diperankan Leighton dengan begitu sempurna selama tiga tahun!
Mata Vrey terasa panas. Pandangannya mulai kabur, dia merasakan cairan panas kembali mengaliri pipinya. Vrey mena ngis sejadijadinya. Tanpa disadarinya, kehadiran ‘Aelwen’ se lama tiga tahun, khususnya dua bulan terakhir ini, telah begitu berarti baginya. Walaupun dia tidak tahu dari semua kenangan nya itu, berapa banyak yang kenyataan dan seberapa banyak yang hanya kebohongan belaka.
Vrey jatuh berlutut di sebelah gerbang kota, menatap langit dengan mata kosong. Palsu atau tidak, Leighton alias Aelwen adalah alasan dia bisa menyelesaikan Jubah Nymph. Leighton telah setia mendampinginya selama ini dan telah berbuat begitu banyak untuk dirinya. Vrey tahu dia tidak akan bisa sampai sejauh ini sendirian.
Untuk sesaat, ada sebersit perasaan bersalah yang me nyerangnya karena meninggalkan Leighton dan Rion begitu saja. Mengetahui sifat Rion, dia pasti tidak akan menyianyiakan kesempatan untuk menangkap Leighton dan meminta hadiah yang dijanjikan.
Tapi kemarahan dan kekecewaan yang telanjur menyeruak di dalam dirinya membuatnya buta. Dan Vrey tidak akan membiarkan dirinya mengakui itu. Saat itulah, Vrey menyadari penduduk kota mulai memperhatikan dirinya. Dia buruburu menyeka air matanya, berlari, dan menjauhi kota.
Vrey melangkah tanpa tujuan, berjalan melewati sawah sawah berteras yang ada di tepi kota. Sesekali, dia melewati altar kecil beraroma dupa dan kemenyan, atau rumah penduduk yang masih sangat sederhana. Suasana pedesaan yang hening dan tenang membantunya menjernihkan pikiran dan melupakan sejenak masalahnya.
Gerimis tipis turun dari awan kelabu yang menutupi matahari. Vrey duduk berteduh di sebuah gubuk yang terbuat dari bambu dan ilalang. Di sekelilingnya tanaman padi yang hijau berkilauan menghampar. Vrey tidak tahu berapa lama dia duduk di sana.
Gerimis reda, langit biru berubah menjadi ungu gelap. Matahari juga sudah lama terbenam, sinarnya digantikan cahaya bulan yang pucat.
Vrey bersenandung lirih, menyanyikan satusatunya lagu yang dia tahu. Kunangkunang dan serangga lain mulai bermunculan dari balik tanaman padi, terbang mengitari Vrey. Suara nyanyiannya berbaur dengan desiran angin dan gemericik air. Dia menikmati ketenangan itu sampai ketika mendengar suara langkah kaki.
Vrey menoleh ke belakang. Dia melihat seorang pemuda bertubuh ramping berdiri di situ. Pemuda itu bermata biru, sebiru langit. Wajahnya sangat menarik, cantik sekaligus tampan. Rambutnya yang pirang panjang dikepang rapi.
“Vrey,” pemuda itu menyebut namanya. “Untung aku menemukanmu. Aku mencarimu seharian sampai aku men dengar nyanyianmu. Kita bisa bicara, kan? Aku janji akan menceritakan padamu apa pun yang ingin kau ketahui tentang diriku. Tidak akan ada rahasia lagi.” Dia kini berdiri tepat di hadapan Vrey, wajahnya terlihat semakin jelas di bawah sorotan sinar bulan.
Vrey tersentak dan segera berdiri. “Aelwen ... mmaksudku, Leighton!?” Dia benarbenar tidak mengenali Leighton dalam pakaian pria. Meski begitu, Vrey cepatcepat menyembunyikan keterkejutannya. “Tinggalkan aku sendiri!” Vrey berbalik dan berjalan menyusuri pematang sawah.
Tapi Leighton mengikutinya. “Aku memang takut mengatakan kebenarannya padamu. Tapi bukan karena aku takut kalian akan mengadukanku. Aku takut kalian akan berubah setelah mengetahui siapa aku sesungguhnya.”
Langkah Vrey terhenti, Leighton melanjutkan penjelasannya. “Aku benarbenar menganggapmu temanku, Vrey. Aku selalu menepati janjiku padamu, kan?”
Vrey melirik dari balik bahunya. “Saat di rumah Pedric,” kata Vrey, “aku bertanya apa kau masih menyembunyikan sesuatu dariku. Dan bahkan pada saat itu pun kau membohongiku. Bagaimana mungkin aku bisa memercayaimu lagi sekarang setelah kau berbohong tepat di depan mataku?”
“Aku benarbenar menyesal sudah berbohong padamu.” Leighton berjalan mendekat. Dengan pelan dan raguragu dia menyentuh lengan Vrey dengan jemarinya. “Kau adalah teman pertama yang kumiliki, kau sangat berarti bagiku. Aku tidak ingin kehilangan dirimu, Vrey,” katanya.
Vrey merasa tubuhnya gemetar saat jari Leighton menyentuh lengannya yang terbuka. Rasanya aneh sekali, sentuhan Aelwen yang biasa kini terasa sangat berbeda.
Tanpa sadar Vrey menarik lengannya dan menjauhi Leighton. “Yang benar saja!” Vrey spontan menukas untuk menutupi kegugupannya. “Seorang pangeran sepertimu menganggap pencuri sepertiku berarti!?”
Leighton tampak terpukul mendengar ucapan Vrey. “Aku tahu kau pasti akan mengatakan halhal semacam itu,” ujarnya datar. Tapi kekecewaan terdengar jelas dari suaranya.
Vrey segera menyadari kesalahannya. “Aku nggak bermaksud begitu. Aku—”
“Sudahlah,” potong Leighton. Dia tersenyum getir. “Kau berhak berpikiran apa pun tentangku. Tapi sekarang sudah larut, kau harus kembali ke penginapan dan beristirahat, kau baru sembuh.”
Leighton mengulurkan tangan, tapi Vrey tidak menerimanya. Dia sebenarnya ingin sekali mendekati Leightveon, menggandeng tangannya seperti dia biasa menggandeng tangan Aelwen Tapi dia tidak bisa, semua ini terasa aneh. Vrey merasa canggung berhadapan dengan Leighton.
Pemuda yang berdiri di hadapannya saat ini adalah ‘Aelwen’, sahabatnya selama tiga tahun, sekaligus orang yang asing.
Leighton menghela napas pendek sambil memasukkan tangannya kembali ke dalam saku pakaiannya. “Aku mengerti,” ujarnya lirih. “Tapi aku ingin kau tahu satu hal. Semua ini mungkin diawali dengan kebohongan. Tapi aku benarbenar senang bisa bertemu dan mengenalmu, Vrey.”
Vrey menundukkan wajahnya, menatap tanaman padi yang melambailambai tertiup angin di antara kakinya. Dia berusaha mencari katakata yang tepat untuk menanggapi ucapan Leighton, tapi lidahnya kelu, bibirnya terkatup rapat. Dan tahu tahu, Leighton sudah berjalan kembali menuju ke arah kota. Sedikit enggan, Vrey mengikuti di belakangnya.
__ADS_1