
Laruen memijit lehernya yang terasa kaku. Semalaman dia hampir tidak tidur, dan itu bukan karena dia bermalamdi gua stalaktit yang keras dan pengap. Ada begitu banyak yang terjadi kemarin, Laruen bahkan tidak tahu harus mulai memikirkannya dari mana.
Dia menatap berkeliling, kelihatannya semua orang masih tertidur pulas. Mereka semua pasti masih sangat lelah setelah perjalanan panjang dan pertarungan kemarin. Eizen beristirahat di sebuah ceruk tersembunyi di balik sebuah stalakmit, sejak kemarin malam dia menyendiri di sana. Sementara itu Ellanese tidur bersandarkan dinding gua, nyala api yang remangremang menyinari wajahnya yang pucat saking lelahnya.
Peregrine melengking pelan, elang itu sudah bangun dari tadi. Laruen meletakkan Peregrine di pundaknya sambil menambahkan ranting kering ke dalam api untuk memperbesar nyalanya. Dia terus mencari di sekeliling tempat itu, tapi tidak menemukan Karth. Kemudian, dia menoleh ke arah mulut gua dan melihat Valadin masih berjaga di sana. Semalam Valadin memang meminta mereka semua beristirahat sementara dia berjaga kalaukalau ada Daemon yang menyerang mereka.
Apakah Lourd Valadin terus berjaga di sana semalaman?
Gelegar guntur terdengar dari kejauhan, hujan yang turun sejak semalam masih belum reda juga. Laruen berdiri dan menghampiri Valadin. “Anda tidak tidur, Lourd?” tanyanya.
“Aku sempat tidur sebentar.” Valadin tersenyum ramah. “Karth sempat menggantikanku semalam.”
“Oh,” ujar Laruen lega. “Lalu, di mana dia sekarang?”
“Dia keluar untuk berburu,” kata Valadin. “Dia akan kembali sebelum kondisi di lereng memburuk.”
Laruen menoleh pada elangnya yang bertengger di pundak nya, lalu menggeleng lemah. “Peregrine juga ingin pergi berburu, tapi aku khawatir.”
Valadin tertawa ringan, “Kurasa cukup aman untuk melepasnya sebentar. Hujan tidak terlalu lebat, pastikan saja dia tahu untuk segera pulang sebelum cuaca berubah buruk.”
“Anda benar.” Laruen memindahkan Peregrine ke lengannya. “Kau mengerti kan, Peregrine? Jangan pergi terlalu jauh,” katanya lembut. Peregrine memekik pelan seolah menjawab Laruen sebelum gadis itu akhirnya melepasnya pergi untuk mencari makan.
Valadin masih memandangi Laruen, dia tersenyum lembut, seperti biasa. Laruen balas tersenyum, tapi ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Dan Valadin menyadarinya, dia menatap Laruen dan berkata, “Kau sepertinya memikirkan sesuatu. Mau menceritakannya?”
Laruen tertunduk kelu. “Sebenarnya ada sesuatu yang ingin sekali kutanyakan sejak kemarin, tapi aku tidak ingin mengganggu Anda.”
“Katakan saja,” kata Valadin lembut.
Selama beberapa detik Laruen terus memandangi wajah Valadin, dia mengumpulkan seluruh keberaniannya sebelum akhirnya bertanya. “Anda dan gadis yang bernama Vrey itu jelas saling mengenal. Selama ini Anda begitu baik padaku dan aku tidak pernah menanyakan alasannya. Tapi saat melihatku kemarin, Vrey berkata kalau Anda menemukan ‘peliharaan’ baru. Apa benar Anda menganggapku semacam—”
Valadin menghentikan Laruen sebelum dia menyelesaikan kalimatnya. “Tolong, jangan katakan apaapa lagi.”
“Maaf,” ujar Laruen penuh sesal. “Aku seharusnya tidak bertanya.”
Valadin menggeleng. “Jangan minta maaf. Akulah yang harus minta maaf karena menyimpan semua ini darimu, sehingga kau harus mendengar hal yang begitu menyakitkan dari gadis itu. Dari semua orang yang ada di sini, kaulah yang paling berhak mengetahui tentang masa laluku dan Vrey.”
Laruen mendongak menatap Valadin. “Apa?” tanyanya tak percaya.
“Akan kuceritakan segalanya padamu,” kata Valadin. “Enam tahun yang lalu aku menangkap Vrey di Hutan Telssier. Saat melihatnya aku terkejut melihat wajah dan penampilannya yang mirip sekali dengan Lourd Reuven.”
“Siapa dia?” tanya Laruen
“Lourd Reuven adalah partner sekaligus sahabat karibku,” Valadin menjelaskan. “Tapi suatu hari dia bertemu dengan seorang Manusia, seorang gadis muda bernama Lyra. Mereka jatuh cinta, dan Reuven memutuskan untuk meninggalkan Falthemnar agar bisa bersama dengan wanita yang dicintainya. Aku tidak pernah bertemu dengannya lagi setelah itu.
“Begitu melihat Vrey, aku langsung tahu dia putri Reuven. Aku mencari kelompok gipsi yang bepergian bersama Lyra dan Reuven. Dari mereka, aku mengetahui Lyra meninggal saat melahirkan dan Reuven menghilang, aku menduga dia memilih mengakhiri hidup abadinya karena tidak dapat menahan kepedihan setelah ditinggal mati wanita yang dicintainya. Tapi sebelum pergi Reuven menyerahkan putriputrinya kepada orang lain untuk dirawat.”
Laruen mengerutkan alisnya. “Putriputrinya?”
“Benar,” jawab Valadin. “Reuven memiliki sepasang anak kembar. Dari yang berhasil kuketahui, awalnya dia berniat menitipkan keduanya pada ayah Lyra, tapi kakek Vrey hanya bersedia menerima seorang anak yang menyerupai Manusia— Vrey. Reuven terpaksa menitipkan anak satunya, yang penampilannya mirip Elvar berdarah murni pada seorang kenalannya di Dominia.”
Mereka saling berpandangan, Valadin tersenyum lemah sementara Laruen masih kebingungan.
“Kau tidak menyadarinya?” tanya Valadin. “Nama kalian berdua, Vrey dan Laruen, adalah anagram dari Reuven dan Lyra. Kaulah putri yang dititipkannya di Dominia, Laruen.”
Laruen terbelalak, dia tidak memercayai pendengarannya sendiri. Lututnya langsung terasa lemas, dia sampai harus mengempaskan punggungnya ke dinding gua dan bersandar di sana agar tidak jatuh terkulai. Butuh beberapa menit sampai dia bisa mengatur kembali emosi dan perasaannya yang campur aduk. “Vrey … adalah ... saudaraku?” tanyanya terbatabata. “Dan ibu ... adalah ibu angkatku? Kenapa Anda tidak pernah menceritakannya padaku?”
“Itu merupakan kesepakatanku dengan ibu angkatmu,” jawab Valadin. “Mulanya aku ingin membawamu ke Falthemnar dan memperkenalkanmu dengan Vrey. Tapi Ibumu ingin menunggu sampai kau sedikit lebih dewasa sebelum dia sendiri yang akan mengatakannya padamu. Itulah kenapa aku tidak pernah mengatakan apa pun sampai hari ini, baik pada Vrey maupun padamu. Aku minta maaf, aku tidak pernah bermaksud membuatmu mengetahuinya dengan cara seperti ini. Tapi aku menyayangimu, Laruen,” kata Valadin terus terang. “Sama seperti aku menyayangi Vrey.”
Laruen tidak tahu lagi harus berkata apa, dia membiarkan tubuhnya merosot di dinding gua sebelum membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya. Emosinya meluap tak terkendali, dia mulai menangis. Valadin hanya diam dan mengawasinya, tidak tahu harus berkata apa untuk menenangkan gadis itu. Laruen sendiri juga tidak tahu kenapa dia tibatiba merasa begitu hancur.
Apa karena mengetahui dirinya bukanlah putri kandung ibunya seperti yang selama ini disangkanya? Atau karena mengetahui tentang Vrey?
Mereka berdua terdiam selama beberapa saat. Suara rintik hujan dari arah mulut gua terdengar di selasela isak tangis Laruen.
Valadin berlutut di depannya dan menyentuh pundaknya dengan lembut. “Aku tahu semua ini pasti sangat berat bagimu. Jadi aku ingin kau mengetahui sesuatu.”
“Apa?”
“Vrey mungkin masih hidup dan membawa Relik Safir, kita mungkin harus berhadapan dengannya lagi. Jika kau ingin mundur sekarang, aku mengerti.”
Laruen mendongak menatap Valadin, matanya terasa perih dan bengkak akibat menangis. “Tidak,” katanya, “aku tidak ingin mundur dan tidak akan mundur. Aku akan membantu Anda sampai akhir, Lourd Valadin.”
“Bahkan jika kau harus menyakiti saudarimu sendiri?” tanya Valadin.
Laruen menggeleng. “Aku tidak punya saudari, apalagi seorang pencuri dan pemburu liar seperti itu!”
__ADS_1
Valadin menghela napas, sudah menduga jawaban Laruen. “Kalau memang itu keputusanmu. Tapi aku akan berusaha semaksimal yang aku bisa agar hal itu tidak perlu terjadi.”
“Beri tahu aku satu hal lagi,” pinta Laruen. “Apa Anda membenci kaum VierElv sepertiku? Apakah satusatunya alasan Anda baik padaku karena aku adalah putri Reuven?”
Valadin terdiam sesaat. “Harus kuakui, aku dulu memang memandang rendah kaum VierElv,” jawabnya getir. “Tapi aku juga mengakui bahwa aku keliru. Setelah mengenalmu, aku menyadari sesuatu. Kalian tidak patut disalahkan atas perbuatan Manusia. Selama ini kalian telah diperlakukan secara tidak adil karena kepicikan para Tetua, dan aku berjanji akan mengubah hal itu! Kaum VierElv akan mendapat tempat yang pantas di era baru yang akan kita bentuk. Kalian berhak diperlakukan dengan adil dan hormat, begitu juga dengan Manusia jika mereka bersedia hidup mengikuti tata cara kita.”
Di saat itulah Karth kembali, dia berjalan masuk ke dalam gua dengan tergesagesa. Tubuhnya basah kuyup, di tangan kanannya dia menenteng dua ekor kelinci. Kehadirannya membuyarkan pembicaraan Valadin dan Laruen.
Laruen buruburu menyambut Karth, bersamasama mereka berjalan menuju bagian tengah ruangan yang hangat dan nyaman. Di luar sana deru hujan dan gelegar guntur terdengar semakin keras, seiring dengan gerimis yang berubah menjadi hujan lebat.
***
Leighton tidak bisa tidur malam itu. Dia bolakbalik di atas di pan, mencoba untuk beristirahat. Sesampainya di kota, dia me ninggalkan Vrey di kedai penginapan bersama Rion, sementara dia kembali ke kamarnya sendiri dan tidur—atau lebih tepatnya mencoba untuk tidur.
Dia belum yakin Vrey sudah memaafkannya, tapi setidaknya Vrey sudah mau bicara dengannya. Itu pertanda baik, kan?
Leighton tidak tahu, dia tidak bisa berpikir karena terlalu lelah. Rentetan pertanyaan yang dari tadi memenuhi kepalanya membuatnya semakin resah.
Apa aku masih bisa pulang ke Mildryd setelah identitasku terbongkar? Apa Gill dan yang lainnya mau menerimaku lagi?
Tapi satu hal yang paling mengganggunya, Apa segalanya bisa kembali seperti semula atau Vrey akan terus bersikap canggung padaku? Dia tidak tahu jawabannya dan tidak mau memikirkannya lebih lanjut. Leighton memejamkan matanya dan berusaha untuk tidur.
Butuh beberapa jam sampai dia benarbenar tertidur. Tapi tak lama kemudian, dia terbangun saat mendengar pintu kamar nya digedor keraskeras. Leighton menggeliat bangun sambil mengucek matanya, lalu beringsut ke pintu. Sekilas dia melirik ke arah jendela, langit sudah terang, warna merah muda lembut menghiasi ufuk.
Sudah pagi, pikirnya tak percaya. Dia merasa baru tertidur beberapa menit. Suara ketukan di pintu terdengar makin keras, Leighton mau tak mau segera meneruskan langkahnya dan membuka pintu.
Rion berdiri di ambang pintu. “Boleh aku masuk?” tanyanya. Leighton memiringkan badannya sedikit untuk membiarkan Rion masuk, tepat di belakangnya ada Vrey. Leighton tersenyum untuk menyapanya, tapi Vrey memalingkan tatapannya dengan
canggung lalu duduk di kursi kamar Leighton.
Leighton menutup pintu kamar. “Apa yang ingin kalian bicarakan?”
“Vrey dan aku berbincangbincang cukup lama semalam setelah kau pergi tidur,” Rion memulai. “Kami mencoba mencari pemecahan masalah dengan Valadin dan temantemannya.”
Leighton mengerutkan sebelah alisnya. “Apa?”
Rion melanjutkan. “Menurut Vrey, Valadin cukup berkuasa di antara Bangsa Elvar, mencoba melapor ke Rilyth Lamire sama saja dengan bunuh diri. Kita juga nggak tahu siapa yang bisa kita percaya di antara para Elvar. Lagian kau dan Vrey dicari atas kejahatan kalian di sana. Kurasa mereka juga lebih memercayai ucapan saudara sebangsanya dibanding sepasang pencuri.”
“Kau benar,” kata Leighton. “Kita tidak bisa kembali ke Rilyth Lamire. Lalu apa yang kau sarankan?”
Kali ini Leighton tidak menjawab.
“Kau sadar, kan, para Elvar itu akan terus memburu kita?” kata Rion lagi. “Satusatunya harapan kita adalah menjelaskan segalanya pada ayahmu, Raja Granville.”
Leighton menghela napas. Ini ide Rion rupanya, seharusnya dia sudah bisa menduganya. “Aku sudah memikirkannya jauh sebelum kalian, tapi aku tidak bisa pulang. Tidak setelah apa yang terjadi di sana.”
“Sampai kapan kau mau lari?” cecar Rion. “Kau nggak berniat melarikan diri selamanya, kan?”
Leighton tersenyum pahit. Dia memang tidak ingin pulang. Lagi pula kalau dia pulang, dia mungkin tidak bisa kembali lagi ke Mildryd dan dia tidak akan bertemu lagi dengan Vrey
Apa Vrey menyadarinya? pikir Leighton. Apa kekecewaan dan kemarahannya padaku sudah sedalam ini, sampai dia tidak ingin bertemu denganku lagi selamanya?
Vrey tibatiba bertanya. “Jadi, apa keputusanmu? Rion bersedia mengawal kita sampai Istana Laguna Biru kalau kau setuju dengan rencana ini.”
Rion buruburu menambahkan. “Dengan imbalan tentunya. Aku cukup puas dengan hadiah dari mengembalikanmu ke istana.”
Leighton tertunduk. Sesuai dugaannya, Rion tidak ingin melewatkan kesempatan emas. Selain menyelamatkan dirinya sendiri, dia juga mengincar kesempatan untuk memperoleh hadiah.
Vrey bertanya sekali lagi. “Jadi?”
Leighton menghela napas panjang. “Baiklah,” katanya. “Rion benar. Kita akan kembali ke Istana Laguna Biru dan menceritakan segalanya pada ayahku.”
Rion bangkit dari kursinya. “Keputusan yang bijaksana!”
Vrey segera mengikuti. “Kalau begitu, aku akan berkemas sekarang.” Dia hendak meninggalkan kamar, tapi Leighton menahannya.
“Vrey, tunggu,” panggilnya.
“Ya?”
“Kalau aku kembali ke Istana Laguna Biru, kita mungkin tidak bisa bertemu lagi, selamanya.”
“Aku tahu,” sahut Vrey cepat.
“Dan kau tidak keberatan dengan itu?”
__ADS_1
Vrey tidak menjawab, memilih berlalu dari kamar Leighton. Rion juga hendak meninggalkan kamar, tapi Leighton menghentikannya. “Semua ini idemu, kan?” tanyanya.
“Yeah, aku mengakuinya,” jawab Rion.
“Kukira kemarin kau bilang tidak akan menyeretku kembali ke Granville!”
Rion mengerutkan alisnya. “Menyeretmu? Bukankah kau memutuskan kembali ke Granville dengan sukarela? Aku, kan, hanya mengawalmu sampai tujuan.”
“Aku mungkin telah membohongi Vrey,” kata Leighton. “Tapi yang kau lakukan saat ini juga nggak ada bedanya!”
“Setidaknya aku punya alasan kuat kenapa aku melakukannya!”
“Alasan kuat? Oh, maksudmu uang?” sindir Leighton.
“Benar, uang!” Rion menjawab tanpa ragu. “Karena aku nggak ingin melihat keluargaku hidup dalam kemiskinan selamanya! Apa ada yang salah dengan itu?” Suara Rion terdengar begitu getir, sehingga Leighton tidak berani membantah.
“Tidak,” hanya itu dia yang ucapkan.
“Bagus! Sekarang mulailah berkemas atau kita akan ter lambat,” kata Rion sebelum meninggalkan kamar.
Tak lama kemudian Leighton selesai berkemas. Dia mengencangkan tudung kepalanya sebelum meninggalkan penginapan. Tanpa samaran, dia harus sangat berhatihati agar tidak menunjukkan wajahnya.
Saat Leighton tiba di luar, Vrey sudah menunggunya. Dia merasa seperti ditusuk ribuan jarum saat matanya beradu pandang dengan Vrey. Mereka samasama terdiam, tidak tahu harus mengucapkan apa pada yang lain. Rion yang menyusul di belakang Leighton memecah kebekuan di antara mereka.
“Ayo jalan,” katanya.
Vrey bergegas mengikuti Rion yang memimpin di depan. Dia berjalan dengan cepat dan meninggalkan Leighton di belakang. Gadis itu tidak mau dekatdekat dengannya.
Leighton mengikuti mereka dengan langkah gontai. Sebenarnya, dia tidak ingin berpisah dengan Vrey seperti ini. Tapi mungkin ini untuk yang terbaik. Hanya ini satusatunya cara agar Valadin dan kelompoknya berhenti mengejar dan menyakiti Vrey.
Ya, asalkan Vrey baikbaik saja, dia rela walaupun tidak bisa bertemu lagi dengan gadis itu, selamanya.
Tak lama kemudian mereka sudah meninggalkan Kota Shailaja. Rion membawa rombongan mereka ke arah lembah. Mereka harus menuruni ratusan anak tangga yang dibuat dari tanah liat padat. Undakan batu itu licin karena gerimis yang turun semalam. Semakin jauh mereka turun, Leighton bisa mendengar suara air walaupun tidak melihat ada sungai di sekitarnya.
Mereka akhirnya tiba di dasar undakan dan berjalan di antara sawah. Sepanjang jalan mereka berpapasan dengan para penduduk desa yang berangkat ke sawah bersama lembu peliharaan mereka.
Setelah beberapa menit, mereka akhirnya tiba di sebuah kelokan besar. Di baliknya, terbentang sebuah sungai. Di sekitar sungai, Leighton melihat banyak rumah yang terbuat dari bambu. Rumahrumah mungil itu berdinding terbuka serta beratap ilalang. Di terasnya para wanita menggendong bayi dengan keranjang anyam di atas punggung sambil mencuci pakaian.
Rion menjelaskan sementara mereka berjalan menyusuri desa. “Kita harus melintasi sungai ini. Ini adalah rute tercepat menuju Kota Yamuna. Dari sana kita bisa mencari kapal udara yang akan membawa kita kembali ke Granville.”
Vrey menoleh pada Rion. “Berapa lama perjalanannya?”
“Perjalanan menuju Kota Yamuna mungkin sekitar satu setengah hari.”
“Jadi kita akan naik kapal?” tanya Vrey lagi.
Rion menggeleng. “Untuk menuju Yamuna kita akan me lintasi sungai dan hutanhutan yang terendam air. Kita perlu hewan khusus untuk melintasi medan seperti itu.”
“Hewan apa?” tanya Vrey dengan wajah antusias seperti anak kecil.
Rion menunjuk tepi sungai. “Kita naik itu,” katanya.
Leighton melihat sungai yang lebih lebar mengalir tepat di depan mereka. Di tepian sungai, para penduduk desa membangun sebuah dermaga besar dengan panggungpanggung tinggi di atasnya. Beberapa orang memanjat panggung itu untuk naik ke dalam keranjang besar yang ditambatkan di atas punggung seekor hewan besar berwarna kelabu. Seekor gajah raksasa, atau yang biasa mereka sebut gadya.
Leighton sudah pernah melihat gadya saat kunjungannya ke Kerajaan Lavanya beberapa tahun lalu. Tapi Vrey, yang baru pertama kali melihatnya, membelalakkan mata lebarlebar.
Gadya itu besar sekali, lebih tinggi dari empat ekor komodo jantan ditumpuk jadi satu. Telinganya yang lebar mengepak ngepak di samping wajahnya. Tubuhnya sangat kokoh, berkilat terkena siraman air sungai yang disemprotkannya dari ujung hidungnya yang panjang dan kuat. Sepasang gading besar menyembul dari balik hidungnya.
Rion berlari menuju dermaga. “Ayo, kita harus cepat, kelihatannya mereka sudah mau berangkat!” serunya.
Leighton dan Vrey buruburu mengikuti Rion. Mereka menuju sebuah pondok terbuka yang ada di depan dermaga. Rion merogoh kantongnya dan membayar biaya naik gadya untuk tiga orang. Untung dia mau membayar untuk semua orang karena Leighton sudah tidak punya uang lagi. Semua uangnya habis untuk biaya pengobatan Vrey dan biaya hidup mereka di Kota Shailaja.
Vrey mendahului Leighton menaiki tangga dan menuju bagian atas panggung, lalu melompat masuk ke dalam keranjang di atas punggung gadya. Vrey benarbenar bersemangat menempuh perjalanan ini. Leighton tersenyum simpul sebelum menyusulnya.
Segera setelah mereka duduk, seorang pekerja di dermaga melepaskan tali penambat gadya dan kusir mulai mengarahkan hewan itu ke depan. Si gadya berjalan dengan cukup cepat mengikuti aliran sungai. Awalnya Leighton merasa terombang ambing, tapi akhirnya dia terbiasa.
Mereka menyusuri perairan yang cukup dangkal selama beberapa saat. Di tepian sungai masih banyak desadesa kecil yang bisa mereka lihat. Tapi setelah berjalan cukup lama, pemandangannya mulai digantikan oleh hutanhutan yang terendam air dan berkabut. Permukaan air sungai juga semakin tinggi, si gadya sampai harus mengangkat hidungnya di atas permukaan air agar dapat bernapas.
Gadya itu terus berjalan menuju tepi sungai. Mereka kini menembus hutan yang dipenuhi pohon cemara hitam. Bagian dasar permukaan hutan digenangi air sampai kirakira sedalam pinggang orang dewasa. Kanopi hutan yang amat tebal mencegah masuknya sinar matahari atau udara segar, mengakibatkan tanah yang mereka lalui terendam air dan berbau aneh.
Leighton menyadari Vrey menutup hidungnya, dia terlihat terganggu karena bau itu. Tanpa berpikir dia mencondongkan badannya ke arah Vrey. “Ini bau gambut,” katanya. “Tanah yang tergenang air ini menghalangi daun dan pohon mati membusuk dengan sempurna, sehingga menjadi lapisan gambut.”
Vrey melirik Leighton saat mendengar penjelasannya. “Kau belajar itu waktu menjadi Acolyte di biara?” sindirnya.
Leighton tertawa, dia menyadari Vrey menggigit bibirnya untuk menahan tawa. Sepertinya sikap Vrey mulai melunak, lagi pula perjalanan ini masih panjang. Dia berharap saat mereka sampai di Granville nanti, Vrey sudah benarbenar memaafkannya.
__ADS_1
Saat petang tiba, gadya mereka akhirnya keluar dari wilayah hutan. Mereka tiba di sebuah daerah pedesaan yang terletak di tepi sungai dangkal. Mereka turun dari punggung gajah dan akan menghabiskan malam di desa itu.