THER MELIAN: CHRONICLE

THER MELIAN: CHRONICLE
Episode 7


__ADS_3

Awan mendung keperakan bergelayut memenuhi pandangan Vrey. Hutan­hutan di tepi sungai telah menghilang, digantikan rawa­rawa dan daerah pertanian. Padi yang berwarna



hijau terang melambai­lambai dipermainkan angin.



Sungai Yami mengalir membelah ibu kota Lavanya, bahkan bisa dikatakan sungai inilah pusat kota itu. Saat ini mereka semakin dekat dengan pusat kota. Vrey melihat ribuan kelopak bunga berwarna jingga memenuhi sungai. Di tepian sungai, dia melihat pasar apung, lebih besar dari pasar apung di Yamuna.



Vrey menyadari ada sebuah pulau di tengah­tengah sungai. Walaupun jarak kapal mereka dengan pulau itu masih sangat jauh, tapi mata Vrey yang tajam mampu mengamatinya dengan sangat jelas. Di sekeliling pulau dibangun tembok kokoh yang amat tinggi, pada tiap­tiap sudut tembok terdapat menara jaga yang dipenuhi prajurit.



Dari kapalnya, Vrey tidak bisa melihat apa yang ada di balik tembok tinggi itu, tapi dia bisa memperkirakan. Instingnya mengatakan bangunan­bangunan yang amat penting ada di balik tembok, mungkin sebuah kuil atau bahkan istana. Tanpa sadar, Vrey tersenyum. Dia tidak bisa membayangkan harta apa yang tersimpan di tempat seperti itu. Dalam keadaan yang berbeda, mungkin saat ini dia sudah memikirkan cara untuk menyelinap ke dalam.



Terdengar suara Rion dari belakangnya. “Aku tahu apa yang kau pikirkan, tapi lupakan saja.”



Vrey menoleh. “Memangnya kau tahu apa yang kupikirkan?” balasnya sebal.



“Mudah ditebak,” kata Rion. “Aku berani taruhan kau sudah membayangkan harta apa yang bisa kau jarah di dalam sana.”



Vrey tersenyum masam. “Yeah,” ujarnya nakal.



“Kalian membicarakan apa?” Tiba­tiba, Leighton sudah berada di atas dek dan bergabung dengan mereka.



Rion menoleh padanya. “Vrey tertarik pada Naian Mujdpir,” katanya.



Vrey mengerutkan alisnya. “Itu namanya? Aneh banget.” Leighton tersenyum. “Itu bahasa Sancaryan,” dia menjelaskan. “Di tengah sungai ini dulunya tidak ada pulau. Para penduduk Lavanya membangunnya seribu tahun yang lalu, kemudian mendirikan Naian Mujdpir yang artinya Kota Batas Air di sana. Tempat itu sudah menjadi rumah bagi keluarga kerajaan dan bangsawan Lavanya.”



“Kenapa repot­repot membangun pulau di atas sungai sederas ini?” tanya Vrey.



“Ya, masuk akal, kan? Dengan sungai selebar dan sederas ini di sekelilingnya, tidak ada seorang pun bisa mendekati pulau itu tanpa terlihat,” kata Leighton.



Vrey memasang senyum menghina seolah hendak berkata ‘jangan terlalu yakin dulu’.



Tapi sebuah bendungan besar di tengah sungai menghalangi mereka berlayar lebih dekat ke Naian Mujdpir. Kapal mereka terpaksa berbelok ke arah pelabuhan. Pelabuhan berbatu­batu itu terletak di bawah sebuah tembok tinggi. Setelah turun dari kapal, mereka harus memanjat ratusan anak tangga yang terbuat dari batu sungai.



Vrey terengah. “Untuk apa membangun tembok setinggi ini?”



Leighton menjelaskan. “Ini tembok sungai. Dibangun untuk mencegah banjir. Saat musim hujan, permukaan air sungai bisa naik dalam sekejap. Tanpa tembok ini, sebagian wilayah kota akan langsung terendam.”



Ucapan Leighton tidak berlebihan. Dari atas tembok sungai, Vrey menyadari mereka tepat berada di tengah kota. Sebagian kota terbentang di sisi bawah tembok. Sedangkan sisanya terbentang di seberang sungai, di belakang tembok lain yang serupa. Kecuali daerah yang berdampingan langsung dengan tepian sungai, hampir seluruh wilayah kota Lavanya terletak lebih rendah dari permukaan sungai. Tidak heran mereka membangun tembok setinggi itu di kedua sisi sungai.



Selain sungai dan tembok tinggi, Vrey juga melihat ratusan kanal air. Kanal itu digunakan untuk mengatur aliran air dari sungai menuju lembah dan wilayah pertanian di tepian kota. Kanalnya juga cukup besar untuk bisa dilalui perahu. Sehingga kanal itu sekaligus berfungsi sebagai jalan raya bagi kapal­kapal yang membawa berbagai macam barang, mulai dari barang dagangan, hewan ternak, hingga penumpang.



Rion menyusul dari belakang Leighton. “Benarkan posisi tudungmu,” katanya. “Atau para pemburu hadiah di kota ini akan langsung mengenalimu.”



“Bagaimana denganku?” tanya Vrey. “Aku juga dicari untuk pencurian dan pembakaran di Rilyth Lamire, kan?”



Rion menjelaskan. “Selebaran dari Rilyth Lamire nggak akan sampai ke Kerajaan ini. Tapi kurasa kau perlu menutupi kupingmu, orang­orang di sini nggak terlalu suka pada Elvar.”



“Kenapa begitu?” tanya Vrey.



Leighton menoleh pada Vrey. “Hubungan Kerajaan Lavanya dengan Bangsa Elvar buruk sejak dulu. Bahkan salah satu alasan kenapa kerajaan ini nyaris tidak didirikan adalah karena ditentang Bangsa Elvar.”



Rion mengangguk. “Saat pertama bertemu kalian di Telerim, aku mengira kalian akan lari ke Lavanya. Ini tempat paling aman untuk bersembunyi kalau kau bermasalah dengan Elvar.”



“Aku mengerti,” kata Vrey.



Rion bergegas menuruni dinding sungai dan menuju jalanan. “Ayo, lapangan udara terletak sedikit jauh dari sini. Kita harus buru­buru.”



Mereka mulai menjelajah. Ibukota Lavanya merupakan kota yang amat cantik, dipenuhi dengan bangunan­bangunan berarsitektur indah yang terbuat dari kayu­kayu bercat terang. Terletak di antara bangunan­bangunan indah itu adalah jalan­ jalan setapak yang teramat sempit.



Jalanan menjadi semakin sesak dengan parade dan penari yang memenuhi jalanan. Sepertinya ini bagian dari festival yang diceritakan Leighton tadi siang. Suasana festival di sini jauh lebih terasa dibanding di Yamuna. Para penduduk mencat bingkai pintu dan jendela mereka yang bundar dengan warna merah terang. Saat matahari semakin tengelam, banyak anak kecil yang menyalakan kembang api di depan rumah.



Semakin mereka menjelajah, Vrey menyadari sesuatu yang tidak biasa. Selain Bangsa Sancaryan, kota ini juga dipenuhi Bangsa Draeg. Seperti Elvar, Bangsa Draeg adalah penduduk asli Ther Melian. Mereka juga memiliki indra yang tajam, tapi perawakan mereka seperti anak kecil. Kulit mereka terang, dengan telinga lebih panjang dari kaum Elvar.



Leighton rupanya menyadari Vrey asyik memperhatikan para Draeg. “Ada banyak sekali Draeg, ya?” ujarnya.



“Yeah,” kata Vrey. “Kenapa bisa begitu?”



“Saat Bangsa Elvar menentang pendirian Kerajaan Lavanya, Bangsa Draeg justru mendukungnya. Karena itulah hubungan mereka sangat baik,” jawab Leighton.



Rion memutus cerita Leighton. “Kita sampai,” katanya. “Ini lapangan kapal udara.”



Mereka bergegas menyusuri jalan sempit, lalu menaiki undakan dan keluar di tanah lapang yang terletak di tepian kota. Di hadapan mereka terhampar lapangan kapal udara yang luar biasa besarnya.



Tanpa sadar Vrey ternganga ketika melihat deretan kapal udara yang berjejer di lapangan. “Banyak banget kapal udaranya,” kata Vrey. “Bentuk dan ukurannya juga nggak seperti yang kulihat di Granville.”



Leighton tersenyum. “Itu wajar,” katanya. “Kerajaan Lava­ nya adalah yang pertama mengembangkan machina yang me­ mungkinkan Manusia menciptakan kapal udara.”



Mereka berjalan melintasi padang rumput selama sekitar sepuluh menit sebelum tiba di bagian depan lapangan. Sebuah pagar kayu dibangun mengelilingi lapangan yang luar biasa luas itu. Para pekerja hilir mudik membawa berbagai macam barang, kayu, kain layar, hingga gerobak­gerobak besar yang penuh berisi kargo. Orang­orang itu bekerja dengan giat walau hari sudah gelap.



Rion meminta mereka menunggu sementara dia masuk. Seorang pria jangkung menyambut Rion.



Mereka bicara cukup lama, dalam bahasa Lavanya tentunya, yang tidak Vrey pahami sedikit pun.



Leighton mengerutkan alisnya. “Kelihatannya tidak bagus,” katanya.



Benar saja, tak lama kemudian Rion kembali dengan wajah kecewa. “Kita terlambat,” katanya. “Semua kapal udara yang akan berangkat sudah penuh terisi muatan dan penumpang. Kita nggak bisa meninggalkan Lavanya sampai setelah festival selesai.”



“Bagus,” kata Vrey sebal. “Kurasa kita terjebak di sini sampai minggu depan.”



“Ya, sebenarnya masih ada kapal udara yang belum penuh dan akan lepas landas besok siang,” kata Rion ragu.

__ADS_1



“Apa kita boleh menaikinya?” tanya Vrey.



“Sayangnya nggak semudah itu,” kata Rion. “Kapal itu milik Kerajaan Lavanya. Orang­orang biasa seperti kita nggak boleh menaikinya.”



“Tapi kita harus menaikinya,” kata Vrey. “Apa nggak ada cara lain?”



“Mungkin ada,” kata Rion. “Salah satu putri Kerajaan Lavanya adalah seorang alkemis, dia sering membeli rumput­ rumput obat dariku. Tapi aku nggak mengenalnya, aku bahkan nggak pernah bertemu dengannya. Biasanya, dia hanya me­ nyuruh pengawalnya, Desna, untuk bertransaksi denganku.”



“Salah satu putri?” kata Vrey. “Memang ada berapa putri di kerajaan ini?”



“Ratu Lavanya memiliki tiga putra dan tujuh putri. Putri Ashca adalah putri ketujuh,” kata Rion.



Leighton tiba­tiba menyahut. “Kau bilang Putri Ashca?”



“Ya, kau mengenalnya?” tanya Rion.



Leighton mengangguk. “Dia pernah datang ke pesta dansa di Granville tiga tahun lalu, sebelum aku melarikan diri. Aku sempat berkenalan dengannya, antar aku padanya, mungkin dia masih ingat padaku.”



Rion mendongak menatap langit yang gelap. “Selarut ini, kurasa dia sudah kembali ke Naian Mujdpir. Tapi besok pagi, dia pasti sudah kembali ke Ateliya pribadinya di kota. Kita bisa menemuinya besok.” Ateliya adalah tempat seorang alkemis bekerja.



“Kalau begitu kita istirahat dulu malam ini,” kata Leighton. “Ayo kembali ke kota.”



Vrey berbalik untuk kembali ke arah kota, tiba­tiba dia melihat ribuan lentera memenuhi seluruh kanal dan sungai serta melayang di atas langit yang menaungi kota. Vrey menengadah, memandangi ribuan lentera yang menghiasi langit malam. Festival lentera telah dimulai.



“Cantik sekali,” bisiknya tanpa sadar.



Leighton berdiri di sampingnya. “Ini jauh lebih indah dari yang pernah kubayangkan,” katanya. “Aku senang bisa melihatnya bersamamu, Vrey.”



Vrey melirik ke samping dan menyadari Leighton me­ mandanginya. Mendadak, dia merasa wajahnya panas, Vrey buru­buru berpaling dan menyadari sebuah lentera terbang rendah di hadapannya. Leighton menangkap lentera itu dan kemudian, berbisik dalam bahasa Lavanya seolah memanjatkan sebuah permohonan sebelum menerbangkannya kembali.



Vrey penasaran, tapi dia tidak berani menanyakan apa yang baru saja diucapkan Leighton. Dia hanya terdiam sampai festival lentera berakhir dan mereka semua menuju ke sebuah penginapan kecil di tepi kota untuk bermalam.



Esok harinya, mereka meninggalkan penginapan saat jalanan masih sepi. Rion memimpin mereka berjalan melalui gang­gang sempit yang diapit rumah­rumah beratap merah dan kanal­ kanal besar.



Setelah beberapa saat, akhirnya mereka tiba di depan Sungai Yami. Sebuah jembatan melengkung berwarna kelabu berdiri dengan kokoh di atasnya. Jembatan itu sangat panjang, kaki­kakinya didirikan di atas pulau­pulau kecil yang sengaja dibangun di sepanjang sungai dan diperkuat dengan logam.



Leighton berdecak kagum. “Luar biasa,” katanya.



“Ayo, jangan cuma mengaguminya, kita harus menyeberang,” kata Rion sambil mendorong Leighton.



Vrey menyadari jembatan ini terletak di sisi berlawanan dari bendungan kemarin. Dia berada di bagian belakang Naian Mujdpir, sepertinya jembatan dan bendungan kemarin sekaligus berfungsi sebagai tembok pertahanan di atas air.



Setelah menyeberangi jembatan, mereka terus berjalan sampai di sebuah gang sempit. Vrey mencium bau obat­obatan yang menyengat begitu mereka tiba. Di sana terdapat banyak sekali






Di sebuah rumah yang paling besar di antara yang lain, Rion berhenti. Beberapa prajurit berseragam kerajaan berjaga di depan pagar rumah bercat terang itu. Vrey melihat papan kayu yang berbau harum tergantung di depan pintu rumah, di atasnya terukir ‘Ateliya Putri Ashca’ dalam huruf Granville dan Lavanya.



Rion berjalan ke arah pintu Ateliya, para prajurit Kerajaan Lavanya—yang sudah mengenalnya—membiarkannya lewat. Tapi tidak demikian dengan Vrey dan Leighton. Mereka harus menunggu di luar pagar sementara Rion mengetuk pintu.



Vrey merengut sebal. “Ketat sekali pengamanannya,” rutuknya.



“Wajar, kan?” jawab Leighton kalem. “Putri Ashca merupa­ kan salah satu anggota keluarga kerajaan. Jika dia pergi me­ ninggalkan Naian Mudjpir, setidaknya ada satu pasukan kecil yang mengawalnya.”



Tak sampai semenit, pintu dibuka oleh seorang pemuda bertubuh mungil, tapi kokoh dan berotot



Rion tersenyum ramah. “Lama tak jumpa, Desna.”



Pemuda yang disebut Desna itu memiliki rambut cokelat gelap. Dia mengenakan bandana bercorak di balik rambutnya, sangat kontras dengan kulitnya yang pucat. Desna menatap Rion dengan matanya yang jernih.



Vrey cukup terkejut ketika menyadari bahwa pengawal pribadi Putri Ashca adalah seorang Draeg.



Desna menutup pintu di belakangnya. “Kau membawa sesuatu untuk Tuan Putri?” tanyanya dalam bahasa Granville yang fasih.



“Kali ini tidak, tapi aku membawa seorang tamu untuknya,” kata Rion.



“Kau tahu tidak begitu caranya, ada serangkaian tata cara yang harus diikuti kalau seseorang mau bertemu Tuan Putri,” balas Desna tidak senang.



“Percayalah, Desna,” kata Rion kalem. “Yang kubawa ini tamu yang sangat istimewa,” tambahnya berbisik.



Desna melirik ke belakang Rion, ke arah Vrey dan Leighton yang sedang menunggu. “Suruh mereka membuka tudungnya,” perintahnya.



Rion menoleh ke arah Leighton. “Bisakah kau mem­ perkenalkan diri pada Desna?”



Leighton melepaskan tudung yang menutupi kepalanya. “Aku adalah Pangeran Leighton ftaddeus Granville. Aku datang kemari untuk bertemu dengan Putri Ashca Shela Lavanya.”



Desna mendongak, mengamati wajah Leighton. “Mata biru jernih, rambut kuning terang. Kau memiliki semua ciri­ciri keluarga Kerajaan Granville. Tapi apa kau membawa bukti?”



Tiba­tiba terdengar suara nyaring seorang wanita dari dalam rumah. “Biarkan mereka masuk, Desna.”



“Tuan Putri, orang ini bisa saja hanya berpura­pura menjadi Pangeran Leighton. Anda tahu Beliau menghilang dari Granville tiga tahun lalu, kan?” Desna tidak mengalihkan pandangannya dari Rion dan teman­temannya.



“Tiga tahun mungkin waktu yang lama, tapi aku masih ingat suara Pangeran Leighton, biarkan mereka masuk,” kata suara itu lagi.



Desna merengut tak senang sebelum membukakan pintu dan mempersilakan Rion dan Leighton masuk. Tapi ketika Vrey akan melangkah masuk, dia merentangkan tangan dan mencegahnya. “Tanggalkan dulu tudung kepalamu sebelum masuk,” ujarnya tegas.



Vrey melepas tudung kepalanya dengan cepat. “Puas?”

__ADS_1



“Vier­Elv,” desis Desna. “Aku tidak bisa mengizinkanmu



menemui Tuan Putri. Kau harus menunggu di sini!”



Suara wanita itu kembali terdengar. “Tidak apa­apa Desna. Teman Pangeran Leighton selalu diterima di sini, biarkan dia masuk.”



Mendengar hal itu, Vrey tersenyum penuh kemenangan sebelum berjalan menuju ke ambang pintu. Dia sengaja menabrak Desna yang ada di depannya sebelum berjalan masuk ke dalam.



Rumah itu tidak terlalu luas, ada banyak bufet dan lemari antik di dalamnya. Lampu­lampu minyak tergantung di langit­langit rumah yang rendah dan memberi cahaya remang­ remang. Jendela di kanan kiri dinding rumah tertutup rapat, hanya terdapat lubang angin kecil yang diperkuat dengan jeruji besi di bagian atas dinding. Tepat di tengah ruangan terdapat meja kayu yang amat besar. Puluhan botol kaca dan mangkuk keramik berserakan di atasnya.



Seorang gadis berambut hitam berdiri di pojok ruangan. Dia membelakangi mereka dan tengah menambahkan beberapa jumput dedaunan kering ke atas sebuah kuali tanah liat yang berisi air mendidih. Tercium aroma harum dari kuali itu.



Gadis itu berbalik dan menyapa mereka semua dengan ramah. “Maaf, saya tidak sempat bersih­bersih untuk menyambut kehadiran Anda, Pangeran Leighton. Saya baru saja merebus ramuan yang baunya menyengat, semoga aroma wangi ini bisa menutupinya.”



Putri Ashca berdiri di hadapan mereka dan tersenyum. Wajahnya cantik sekali saat tersenyum. Vrey terkesiap, kemarin malam Leighton dan Rion memang sempat bercerita tentang betapa cantiknya Putri Ashca, tapi dia mengira mereka hanya melebih­lebihkan.



Putri Ashca tinggi semampai, setinggi Leighton. Kulitnya yang kuning kecokelatan tampak begitu bersih. Rambutnya hitam legam dihiasi berbagai macam batu berharga. Sang putri mengenakan gaun dari bahan sutra yang membalut erat tubuhnya, kecuali pada bagian lutut ke bawah yang dibiarkan terbuka. Dia berjalan mendekat dan menatap mereka dengan matanya yang hijau menyala.



Leighton maju ke hadapan Putri Ashca dan berlutut dengan satu kaki memberi hormat. “Saya senang Anda masih mengenali saya, walaupun tiga tahun telah berlalu.”



Putri Ashca balas memberi salam kepada Leighton. Dia mengatupkan kedua telapak tangannya di depan leher sambil menekuk sebelah kakinya untuk memberi hormat. “Sudah lama sekali, saya dengar Anda menghilang selama tiga tahun. Apa yang Anda lakukan di sini, bersama dua pengawal Anda yang unik ini?” tanya Putri Ashca sambil melirik Rion dan Vrey.



Sang putri membimbing Leighton menuju ruang sebelah yang hanya dibatasi tirai manik­manik. Rion, Vrey, dan Desna mengikuti.



Di dalam ruangan bundar itu beberapa pelayan telah me­ nunggu, mereka menuangkan teh ke cangkir­cangkir yang di­ letakkan di atas sebuah meja berkaki pendek. Di sekeliling meja terdapat bantal­bantal bundar.



Putri Ashca duduk di salah satunya. Leighton duduk di sebelahnya, sementara Rion dan Vrey duduk di seberang mereka. Desna berdiri di ujung ruangan, mengawasi mereka semua dengan matanya yang tajam.



Leighton mencicipi teh yang disajikan untuknya. “Saya benar­benar minta maaf karena datang tanpa pemberitahuan. Seandainya saya punya waktu untuk menjelaskan apa yang terjadi selama tiga tahun ini, saya pasti akan menjelaskannya kepada Anda,” katanya. “Tapi saat ini kami semua diburu waktu dan kami sangat membutuhkan bantuan Anda.”



“Bagaimana saya bisa membantu?” tanya Putri Ashca.



“Kami perlu kembali ke Granville hari ini juga. Bisakah anda menuliskan surat izin khusus bagi kami bertiga supaya bisa menaiki kapal Kerajaan Lavanya?” tanya Leighton.



Putri Ashca tersenyum. “Itu bukan masalah,” katanya. Kemudian, dia memberi isyarat kepada salah satu pelayannya untuk membawakan nampan berisi perkamen, kuas, dan tinta. Si pelayan meletakkan nampan di atas meja tepat di hadapan Putri Ashca.



Dengan gerakan yang anggun dan cepat, Putri Ashca meng­ ambil kuas dan menggoreskannya di atas perkamen. Dia mem­ bacanya sekali lagi sebelum membubuhkan tanda tangannya dan memberi cap kerajaan di atas tetesan lilin merah. Putri Ashca menyerahkan perkamen itu kepada Leighton.



“Apa ini sudah cukup?” tanyanya.



Leighton mengamati surat itu sebelum melipatnya dengan hati­hati dan menyimpannya di sakunya. “Terima kasih, Tuan Putri, saya sungguh berutang pada Anda,” kata Leighton



Putri Ashca menggeleng. “Anda sudah menyelamatkan saya saat kunjungan saya ke Istana Laguna Biru tiga tahun lalu. Kali ini giliran saya yang menolong Anda.”



“Kami harus berangkat sekarang, perjalanan ke lapangan kapal udara memakan waktu cukup lama. Saya harap Anda mengerti,” kata Leighton.



“Anda akan berjalan sejauh itu di antara festival?” tanya Putri Ashca. “Kenapa tidak naik kapal saja? Kapal pribadi saya ada di kanal, sangat dekat dari tempat ini. Desna bisa mengantar Anda ke sana.”



“Terima kasih,” kata Leighton. “Anda sudah sangat membantu.”



“Sama­sama, Pangeran Leighton. Undanglah saya ke Gran­ ville saat Anda sudah pulang nanti. Saya ingin sekali mende­ ngarkan tentang apa yang terjadi selama tiga tahun ini.”



“Pasti, saya pamit dulu,” ujar Leighton



“Selamat tinggal kalau begitu, atau mungkin lebih tepat kalau saya bilang sampai jumpa lagi.”



Vrey hanya duduk dan mendengarkan kedua orang itu berbicara. Dia nyaris tidak mengenali Leighton. Pemuda itu seolah berubah menjadi orang lain saat dia berbincang dengan Putri Ashca. Perbedaan kelas dan status sosial mereka tampak begitu jelas saat ini, bagaikan sebuah jurang yang seolah muncul dan merobek ruangan kecil ini tepat di tengahnya.



Leighton akhirnya selesai berpamitan, dia menunduk dan mengecup punggung tangan Putri Ashca. Vrey mendadak merasa napasnya sesak saat menyaksikannya. Dia berbalik ke arah pintu agar tidak perlu melihatnya lebih lama lagi.



Mereka akhirnya meninggalkan Ateliya. Desna dan Rion berjalan di depan sementara Leighton dan Vrey mengikutinya setelah memasang kembali tudung kepala masing­masing.



Vrey tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya. “Memangnya kau menyelamatkan gadis itu dari apa sampai dia merasa berutang padamu?”



Leighton tertawa. “Putri Ashca terlalu melebih­lebihkan,” katanya. Dia sudah kembali ke gaya bicaranya yang biasa. “Waktu itu Kerajaan Granville mengadakan jamuan untuk memperingati hubungan baik antara dua kerajaan. Putri Ashca hadir sebagai salah satu perwakilan kerajaan Lavanya. Saat itu, dia masih lima belas tahun. Tanpa mengetahui adat istiadat Granville, Putri Ashca mengajakku berdansa. Di Lavanya, sudah merupakan tradisi bagi seorang wanita untuk terlebih dulu mengajak pria berdansa. Sedangkan di Granville, yang berlaku adalah sebaliknya. Agar tidak mempermalukannya, aku menerima ajakannya. Seusai berdansa, baru dia mengetahui kesalahan yang diperbuatnya. Putri Ashca meminta maaf berkali­kali malam itu, tapi aku hanya tertawa dan mengatakan padanya tidak ada yang perlu dimaafkan,” Leighton mengakhiri ceritanya.



Vrey mengangkat alisnya, dia sungguh­sungguh tidak me­ ngerti bagaimana seseorang bisa merasa ‘diselamatkan’ hanya karena hal sesepele itu. Sepertinya kehidupan lama Leighton adalah sebuah dunia yang tidak akan pernah bisa dia mengerti.



Buru­buru dia mengalihkan topik pembicaraan. “Daripada masalah itu,” kata Vrey. “Aku lebih penasaran kenapa seorang Draeg bisa menjadi pengawal bagi Keluarga Kerajaan Lavanya?”



Dia melirik Desna yang berjalan di depan.



“Kau masih ingat ceritaku?” tanya Leighton. “Saat Kerajaan ini didirikan, Bangsa Draeg mendukungnya sementara Bangsa Elvar tidak. Saat itu Bangsa Draeg mengirimkan beberapa prajuritnya untuk mengawal keluarga Ratu Ashcansa, khawatir Bangsa Elvar akan mengirimkan para Shazin untuk menghabisi keluarga Kerajaan. Hal itu tidak pernah terjadi tentunya, tapi prajurit Draeg yang ditugaskan kemari akhirnya mengabdi turun­temurun sebagai pengawal keluarga Kerajaan, seperti Desna.”



“Kenapa Bangsa Elvar nggak menyetujui didirikannya Kerajaan Lavanya dan kenapa Bangsa Draeg justru sebaliknya?” tanya Vrey lagi.



“Pada saat Perjanjian Tiga Bangsa ditandatangani, Bangsa Elvar mendapat kawasan Hutan Telssier dan lembah sungai Yami ini,” Leighton menjelaskan. “Kemudian, Bangsa Sancaryan datang dan menetap di wilayah ini. Tentu saja Bangsa Elvar tidak ingin wilayahnya dikuasai oleh para pendatang,” Leighton menjelaskan.



“Jadi Bangsa Draeg sengaja memihak kaum pendatang untuk membuat kesal Bangsa Elvar, begitu?” tanya Vrey



“Mungkin saja,” kata Leighton. “Tapi Bangsa Draeg dan kaum Sancaryan memiliki banyak kesamaan. Mereka menyukai segala sesuatu yang berhubungan dengan pengolahan logam dan menciptakan penemuan baru seperti machina.”



Mereka terus menyusuri jalanan yang dipenuhi toko dan Ateliya sampai tiba di gang sempit. Di ujung gang ada sebuah kanal. Beberapa kapal kecil ditambatkan di kanal. Salah satu kapalnya dicat merah dan lebih terawat dibanding kapal­kapal lainnya.



Desna yang memimpin rombongan berhenti tepat di ujung gang. “Itu kapalmu,” katanya. “Tunjukkan saja surat dari Tuan Putri kepada pengemudinya. Dia akan mengantar kalian sampai kapal udara.”



“Kami sangat berterima kasih,” kata Leighton. “Sesampainya di Granville kami akan mengirimkan surat kepada Putri Ashca.”


__ADS_1


Vrey baru saja hendak berjalan menuju kapal, ketika tiba­ tiba sesuatu yang besar dan berbentuk melengkung melintas di hadapannya. Dia nyaris tidak berkedip saat melihat benda mengilap itu menghujam tepat ke perutnya.


__ADS_2