
Vrey tersentak bangun, keringat dingin mengucur di pung gung dan keningnya. Dia mengejapkan matanya berkalikali, tidak percaya saat melihat atap di atas kepalanya. Vrey men coba menggunakan tangannya untuk membantunya bangun, dan saat itulah dia menyadari ada perban tebal yang membung kus lengan kanannya. Pelanpelan dan bersusah payah, akhirnya Vrey beringsut bangun. Dia duduk di atas dipan dan mengamati ruangan tempatnya berada.
Di dalam kamar itu terdapat dua tempat tidur dan sebuah meja kayu sederhana. Di seberang tempat tidurnya, Vrey melihat jendela bundar. Suara hirukpikuk keramaian kota terdengar dari luar jendela.
Tertatihtatih Vrey berjalan ke arah jendela bundar bercat merah itu dan membuka daun jendelanya. Dia melihat keluar dan menyadari kamarnya terletak di lantai dua. Sebuah kota yang amat asing terbentang tepat di bawahnya.
Vrey menutupi matanya dari cahaya merah mentari sore yang datang dari arah samping. Angin malam yang dingin mulai bertiup, mendentingkan lonceng angin yang tidak hanya berada di jendela kamarnya, tapi juga di seluruh pintu dan jendela di kota itu. Hampir semua rumah dihiasi lonceng kecil.
Aroma dupa yang dibakar di potpot perunggu yang di gantungkan di depan tiap rumah merebak masuk ke dalam kamarnya.
Kota itu mungil, tidak lebih besar daripada Mildryd. Bangunanbangunannya berbentuk bundar dengan atap merah lancip. Selain rumah, Vrey melihat tempattempat penggilingan dan penyimpanan padi. Jalanan kota yang dilapisi batu tampak licin karena gerimis, begitu juga dengan dindingdinding kayu bercat terang dan atap rumah. Di sekeliling kota terdapat terasteras sawah yang dibuat bertingkattingkat, mengikuti kemiringan lereng gunung tempat kota itu berdiri.
Hampir semua orang yang dilihatnya merupakan bangsa Sancaryan; berkulit kuning langsat dengan rambut hitam legam. Vrey menduga dia kini berada di suatu tempat di Kerajaan Lavanya.
Vrey kembali memandangi tangan kanannya yang dibebat erat dengan kain, berusaha mengingat apa yang menyebabkan luka di tangannya. Kepalanya pusing dan perutnya mual, dia juga masih merasa sangat lemah. Sedari tadi jantungnya berdebar tidak keruan. Vrey tidak tahu apa yang telah menimpanya. Yang dia tahu, dia baru tertidur dan bermimpi panjang, bermimpi tentang pertemuannya dengan Valadin enam tahun yang lalu.
Mimpi itu terasa begitu nyata. Vrey bahkan masih bisa membayangkan segalanya dengan jelas, seakan semuanya baru terjadi kemarin. Seolah Valadin berdiri tepat di sampingnya dan tersenyum padanya. Dan mendadak, kilasan peristiwa yang dialaminya melintas di kepala Vrey.
Dia ingat melihat seulas senyum dingin di wajah Valadin Dan Valadin ... Valadin menghunus pedangnya dan mencabut nyawa seorang Elvar.
Vrey tersentak. Napasnya sesak, lututnya gemetar saat meng ingat semua itu. Sedikit demi sedikit kilasan peristiwa yang telah terjadi memenuhi benaknya. Mulai dari pertemuannya kembali dengan Valadin di Gunung Ash, dan bagaimana dia bersama Aelwen dan Rion harus bertarung melawan Valadin dan teman temannya.
Mereka kalah dalam pertarungan itu, Vrey terkena racun pisau Karth, kemudian Eizen melontarkan sihir api padanya dan segalanya menjadi gelap.
Vrey sudah tidak tahu berapa lama telah berlalu sejak peristiwa itu. Mungkin seminggu atau dua minggu, atau bahkan lebih, yang dia tahu hanyalah bahwa dia tidak sadarkan diri selama selang waktu itu.
“Vrey!” Sebuah suara dari belakangnya memanggilnya.
Vrey menoleh, Rion berdiri di ambang pintu kamarnya.
“Kau nggak seharusnya bangun.” Rion memaksa Vrey kembali ke atas dipan. “Racun itu belum sepenuhnya hilang dari dalam tubuhmu. Aku bahkan nggak menyangka kau bisa sadar secepat ini.”
Tapi istirahat adalah hal terakhir yang ada di benak Vrey saat ini. “Apa yang terjadi? tanya Vrey. “Di mana kita? Mana Aelwen? Apa dia baikbaik saja?”
“Tenang dulu,” kata Rion. “Saat ini kita ada di sebuah peng inapan di Kota Shailaja. Aelwen sedang mengurus sesuatu di kota, dia seharusnya kembali sebentar lagi. Dan mengenai yang terjadi, aku akan menceritakannya kalau kau mau berbaring dan mendengarkan.”
Akhirnya Vrey membiarkan Rion membimbingnya untuk berbaring lagi di dipan. Rion menarik napas dalamdalam sebelum memulai ceritanya.
Dia mengawali dari kejadian terakhir sebelum Vrey kehilangan kesadaran, ketika Eizen menyerang mereka dengan sihirnya....
***
Rion melihat pusaran api meluncur dari ujung tongkat Eizen dan menyambar mereka. Aelwen merapal pelindung sihir, tapi kali ini pelindung yang diciptakannya sudah sangat lemah. Dalam sekejap, sihir api Eizen menyelimuti mereka.
Kungkungan api itu meledak dengan kekuatan dahsyat, meruntuhkan lantai gua tempat mereka berpijak. Mereka terbebas dari sihir api Eizen, tapi kini terjun bebas ke dalam lubang. Rion tidak bisa melihat apaapa, matanya perih terkena embusan angin kencang.
Mendadak Rion merasakan Aelwen mencengkeram lengannya, seketika itu juga tubuhnya berhenti sesaat di udara. Benturan keras terdengar tepat di depannya. Rion membuka matanya perlahanlahan, menyadari Aelwen sudah membentuk pelindung sihir baru, yang menghantam tanah tepat semeter di hadapannya, menyelamatkan mereka dari kematian menyakitkan.
Pelindung sihir Aelwen hanya bertahan beberapa detik sebelum kemudian menghilang. Mereka jatuh berdebum di atas tanah berbatu, beberapa meter dari kolam magma yang berpijar. Badan Rion terasa sakit saat menghantam permukaan, tapi dia tahu keadaannya bisa jauh lebih buruk seandainya Aelwen tidak merapal pelindung sihir tepat pada waktunya.
Pijaran magma membantu Rion melihat dalam kegelapan di dasar lubang. Hal pertama yang dilihatnya adalah Vrey yang sudah tidak sadarkan diri. Gadis itu terkulai lemas dalam genggaman tangannya. Dia memalingkan pandangannya ke arah lain saat merasakan cengkeraman Aelwen bertambah erat. Aelwen kelelahan, bahkan nyaris tidak mampu berdiri, tangannya bergetar hebat, wajahnya pucat pasi.
“Idemu bagus!” bisik Rion.
Aelwen mengangguk tanpa menjawab. Napasnya terengah, seakan setiap saat dia bisa jatuh pingsan.
Tibatiba Rion dikejutkan Vrey yang mendadak kejang. Tanpa membuang waktu, Rion mengambil dedaunan dari tasnya. Dia meremas dan mencampurnya ke dalam kantung air lalu meminumkannya pada Vrey dan menyiramkannya ke tangan Vrey yang terluka.
Rion merasakan Aelwen melepaskan genggamannya. Gadis itu menangkupkan tangannya di atas luka Vrey, seberkas cahaya hangat terpancar dari tangannya. Rion hendak mencegahnya, tapi terlambat. Bersamaan dengan redupnya cahaya yang keluar dari telapak tangannya, Aelwen jatuh pingsan.
Rion menatap kedua gadis itu bergantian. Yang satu keracunan parah dan sudah di ambang maut. Yang satunya lagi pingsan karena terlalu banyak menggunakan sihir. Dia memeriksa barangbarang yang dibawa Vrey dan Aelwen sambil memikirkan apa yang bisa dia lakukan untuk menolong mereka.
Sehelai bulu Burung Api menyembul dari tas Vrey. Sebuah ide tibatiba terlintas di kepalanya. Kalau sekarang dia pergi dan membawa bulubulu berharga itu, tidak akan ada yang tahu,
kan?
Harta yang diincarnya tergeletak tanpa penjagaan di depan mata. Tidak ada alasan baginya untuk tidak mengambilnya. Dia sudah memenuhi semua perjanjiannya pada Vrey dan Aelwen, bahkan lebih. Dia berhak atas bayarannya dan tidak punya kewajiban lagi untuk menolong mereka.
Rion menggigit bibirnya. “Sial,” makinya. Dia tidak akan hidup tenang mengetahui dia bertanggung jawab terhadap apa yang akan terjadi pada Vrey dan Aelwen jika dia mengabaikan mereka.
Rion merobek kain mantelnya dan menggunakannya untuk membalut luka di tangan Vrey. Saat itulah dia menyadari ada sesuatu di genggaman Vrey, sebuah bros bertakhtakan batu berwarna indigo kelam yang memancarkan sinar perak aneh
yang menyengat. Itu bros yang sebelumnya dipamerkan Eizen. Rion langsung tahu, dia tidak bisa berlamalama di sana.
Dia memanggul Vrey dan Aelwen sekaligus, lalu membawa mereka menyusuri aliran magma di bagian dasar lubang. Dia tidak butuh waktu lama untuk menemukan jalan keluar. Rion lega sekali saat menyadari dia mengenali daerah itu. Mereka berada di sebuah lembah di sisi lain Gunung Ash. Di dasar lembah ada reruntuhan kota milik Bangsa Elvar yang hancur ribuan tahun lalu. Dia sering membawa pemburu harta karun menjelajah kemari.
Setengah mati dia menyusuri lembah terjal untuk mencapai reruntuhan. Malam akan segera tiba dan sepertinya badai juga akan turun. Dia harus secepatnya mencapai reruntuhan dan menemukan tempat berteduh.
Reruntuhan itu luas sekali. Tapi lapisan abu tebal dan batu apung setinggi beberapa meter telah mengubur sebagian besar kota. Sementara sisanya, hanya ada satu dua bangunan yang masih utuh di bawah timbunan hitam itu.
__ADS_1
Pada saat itu hujan mulai turun. Untungnya Rion me nemukan sebuah bangunan yang relatif utuh. Bangunan itu tidak berjendela dan bagian dalamnya dipenuhi abu. Serpihan tulang hewan dan pecahan tembikar berserakan di lantai. Rion membaringkan kedua gadis itu di lantai dan buruburu menyalakan api unggun dari akar dan dedaunan kering yang bisa ditemukannya. Kemudian dia memindahkan Vrey sedekat mungkin dengan api untuk menjaganya tetap hangat.
Gemuruh petir dan rintik hujan yang semakin deras me menuhi pendengarannya. Rion menghela napas, lega bahwa setidaknya mereka sudah berada di tempat aman. Badai akan menghapus jejak kaki mereka kalaukalau para Elvar memutuskan untuk mengejar. Dan jika nasib mereka baik, Kabut Gelap akan memenuhi reruntuhan ini, menyulitkan para pengejar mereka.
Dia tengah membersihkan luka di tangan Vrey dengan rumput obat ketika Aelwen mendadak terbangun. Gadis itu menjerit tertahan saat melihat sesosok tubuh yang mengerut dan membatu di ujung ruangan. Tapi Aelwen segera menguasai diri saat menyadari tubuh yang dilihatnya sudah tidak bernyawa dan mungkin sudah meninggal ribuan tahun yang lalu.
Aelwen tidak butuh waktu lama untuk membiasakan matanya dengan kegelapan. Begitu menyadari kehadiran Rion dan Vrey, dia berlari ke arah mereka. Aelwen terlihat amat cemas ketika menyadari betapa pucatnya wajah Vrey. Dia menangkupkan tangannya di atas lengan Vrey, hendak menyembuhkannya.
Tapi Rion menghentikannya. “Jangan buang tenagamu,” katanya. “Racun dalam tubuhnya sangat mematikan, ini di luar kemampuanmu untuk menyembuhkannya.”
Aelwen mengepalkan tangannya kecewa. “Di mana kita?” tanyanya dengan suara tercekat.
“Kita berada di reruntuhan kota Elvar nggak jauh dari kaki Gunung Ash,” jawab Rion. “Aku sudah menghambat peredaran racun dalam darah Vrey.”
“Bagaimana caranya?” tanya Aelwen.
Rion mengeluarkan beberapa helai daun kering dari kan tongnya. “Daundaun ini bisa menghentikan peredaran racun untuk sementara. Tapi aku cuma bisa mengobatinya sampai se jauh ini.”
Aelwen menerima dedaunan yang diulurkan Rion dan me ngamatinya. “Ini tanaman yang amat langka. Dari mana kau mendapatkannya?”
Rion mengerutkan alisnya. Pengetahuan Aelwen yang sangat luas benarbenar tidak wajar, bahkan untuk seorang gadis terpe lajar sekalipun. “Kadang aku menemukannya saat menjelajahi hutan di lereng pegunungan ini. Sebagian besar kujual tentu saja, tapi aku selalu menyimpan beberapa. Dalam perjalanan melintasi gunung dan hutan seperti ini, kau nggak pernah tahu apa yang mungkin terjadi. Tapi sayangnya, kekuatan tanaman ini nggak begitu manjur untuk menangkal racun racikan Elvar.”
Aelwen sedikit lega mendengarnya. “Vrey mengeluarkan keringat dingin, jadi kurasa tanaman ini membantu tubuhnya melawan racun itu. Aku akan mengganti pakaiannya, di mana
barangbarang kita yang lain?”
“Hilang! Kita meninggalkannya di lereng gunung bersama dengan kudakuda kita, ingat?”
“Ah, iya. Sudah tidak mungkin mengambilnya lagi ya?” Aelwen duduk di samping Vrey.
Rion meluruskan kakinya di tanah, benarbenar merasa letih. “Padahal dia kuda yang bagus. Aku menyelamatkannya dari pegunungan ini dan merawatnya sejak tahun lalu.”
“Maaf tentang kudamu,” ujar Aelwen tulus. “Ngomong ngomong, kenapa kau membawa kami berdua sejauh ini, kau bisa merawat kami di dekat kaki gunung, kan?”
“Ini penyebabnya.” Rion merogoh kantongnya dan melem parkan bros yang tadi ditemukannya pada Aelwen.
Aelwen menangkapnya dan berjengit seolah sesuatu menye ngat telapak tangannya. Dia mengamati benda itu baikbaik di dekat nyala api unggun.
Rion menjelaskan. “Aku menemukannya di genggaman Vrey. Bros itu sepertinya berharga, para Elvar akan menyadari kalau benda itu hilang. Cepat atau lambat, mereka akan memanjat turun untuk mencarinya.”
Rion menggeleng. “Aku sama sekali nggak punya bakat sihir, nggak seperti kalian berdua.”
“Apa menurutmu mereka sudah menyadari kita masih hidup?” tanya Aelwen lagi.
“Kurasa iya. Mereka mungkin sedang mencari kita sekarang.
Tapi jangan khawatir, kita aman di sini.”
Erangan perlahan membuat Aelwen dan Rion menoleh ke arah Vrey.
“Valadin,” Vrey berbisik lirih di selasela rasa sakitnya.
Mendengar nama itu disebut, Aelwen menggigit bibirnya, wajahnya dipenuhi amarah. Rion tidak terkejut melihatnya, mengingat semua perbuatan Valadin di dalam gua tadi. Teman teman Valadin hampir mengakibatkan mereka semua terbunuh. Lantas kenapa Vrey masih memanggil nama pria itu?
Aelwen menghantamkan tinjunya ke lantai gua. “Saat kami memulai perjalanan ini, aku sudah berjanji, berjanji bahwa kali ini adalah giliranku menolongnya. Tapi di saatsaat seperti ini,
aku malah tidak bisa berbuat apaapa!”
“Jangan salahkan dirimu,” Rion mengingatkan. “Tanpa kau, kita bertiga sudah mati waktu jatuh tadi. Besok kita lanjutkan perjalanan. Kota Shailaja hanya sekitar tiga hari perjalanan dari sini. Kita bisa menemukan penawar racun yang lebih baik di sana.”
“Kau benar,” gumam Aelwen.
Shailaja merupakan kota kecil yang terletak di sebelah utara Kerajaan Lavanya, kerajaan yang terkenal dengan ilmu pengobatan dan alkimia. Jika ada penawar racun untuk Vrey, maka di sanalah tempat mereka bisa menemukannya.
Aelwen merobek secarik kain dari pakaiannya dan meng gunakannya untuk menyeka keringat di dahi dan leher Vrey. “Bertahanlah sebentar lagi, Vrey, sampai kita tiba di Shailaja,” bisiknya di telinga Vrey.
“Ngomongngomong,” ujar Rion. “Kenapa merahasiakan kalau kau seorang Eldynn?”
Aelwen terlihat sangat kaget saat Rion menanyakannya. Dia tidak mampu menyembunyikan kegelisahannya.
Rion segera melanjutkan. “Aku mungkin nggak punya bakat sihir, tapi aku tahu sihir pelindung saat aku melihatnya. Hanya Vestal, Magus, dan Eldynn yang mampu menggunakan sihir semacam itu. Kau jelas bukan Magus, apalagi Vestal. Melihat dari kemampuanmu bertarung menggunakan pedang, kurasa kau seorang Eldynn. Tapi itu bukan profesi yang lazim untuk seorang gadis terhormat, kan? Bahkan mengayunkan pedang saja dianggap sebagai hal memalukan, apa itu alasan kenapa kau menyembunyikannya?” Rion melirik Aelwen.
Aelwen menghela napas panjang. “Dengar, Rion ... aku sangat berterima kasih atas apa yang sudah kau lakukan untuk kami. Tapi tolong jangan bertanya lagi tentang masalah pribadi seperti itu.” Dia balas menatap Rion dengan tajam.
“Aku takut rasa ingin tahuku terlalu besar untuk diabaikan,” sahut Rion. “Kau menyimpan rahasia besar, aku bahkan ragu Vrey benarbenar mengenal siapa dirimu yang sesungguhnya.”
Aelwen menggigit bibirnya geram, kemudian meraih pe dangnya dan mengarahkan ujungnya ke leher Rion. “Kalau kau terus mengungkit hal ini, aku tidak akan raguragu mengguna kan pedangku!” ancamnya. “Jadi tutup mulutmu, jalankan saja tugasmu, antarkan kami sampai ke Kota Shailaja dan kau akan dibayar dengan pantas!”
__ADS_1
Rion berdiri dan mengangkat bahu. “Hei, aku, kan, cuma bertanya, nggak perlu marahmarah seperti ini. Dan ingat, kau membutuhkanku untuk keluar dari tempat ini. Jadi letakkan pedangmu sebelum kau melakukan sesuatu yang akan kau sesali nantinya.”
Setelah mengucapkannya, Rion berjalan menuju koridor sambil membawa kantong air. Hujan belum reda, Rion akan mengisi kantongnya dengan air. Dia memang tidak mendapatkan jawaban apaapa dari Aelwen, tapi dia sudah memastikan satu
hal. Aelwen menyimpan sebuah rahasia dari mereka semua. Rahasia yang amat besar.
***
Vrey masih mencerna ringkasan kejadian itu. Cerita Rion tentang Aelwen yang menggunakan pelindung sihir untuk mencegah mereka menghantam dasar jurang membuat ingatan Vrey mundur ke saat kejadian di Rilyth Lamire. Waktu itu, Aelwen selamat tanpa luka serius setelah jatuh dari lantai tiga dan menghantam lantai batu. Pasti saat itu Aelwen juga menggunakan sihir yang sama tanpa disadari Vrey.
Ya ... Aelwen adalah seorang Eldynn. Bahkan mungkin Eldynn yang sangat kuat, seperti Valadin.
Rion mengembuskan napas panjang setelah bercerita. “Aku bukan bermaksud mengadukan Aelwen,” katanya. “Aku juga nggak bermaksud membuatmu mencurigai temanmu sendiri. Tapi dia memang menyimpan rahasia dari kita, entah apa alasannya.”
“Kenapa dia merahasiakan semua ini dariku?” kata Vrey. “Siapa dia sebenarnya?”
Rion mengangkat bahu. “Ada satu kemungkinan yang kupikirkan saat ini, tapi aku harus memastikannya lebih dulu.” “Kalau kau nggak keberatan, bisa mengatakannya padaku setelah mengetahuinya? Aku benarbenar ingin tahu apa yang disembunyikan Aelwen.” Vrey menatap Rion. “Tapi, aku nggak punya apaapa lagi untuk membayarmu.”
“Kau nggak perlu membayarku. Lagian, aku sama penasaran nya denganmu.”
Vrey tersenyum lemah. “Terima kasih.”
“Tapi, ingat,” ujar Rion. “Selama kau nggak sadar, Aelwen terus menjagamu dan memanggulmu tanpa lelah sepanjang perjalanan menuju kota ini. Tidak peduli apa pun yang kutemukan nanti, jangan lupakan itu.”
Mendadak pintu kamar terbuka dan Aelwen masuk. Dia terlonjak kaget saat matanya beradu pandang dengan Vrey. Aelwen menghampiri Vrey dan berlutut di sisinya. “Kau sudah sadar? Apa kau baikbaik saja?” Kelegaan terpancar jelas dari wajahnya.
Vrey menatap wajah Aelwen lekatlekat. Temannya terlihat kusut dan pucat, garisgaris kelelahan tergambar jelas di bawah matanya. Vrey memaksakan seulas senyum agar Aelwen tidak terlalu cemas. “Sedikit kaku dan lumpuh, tapi kurasa aku akan baikbaik saja,” jawabnya.
Rion bangkit berdiri. “Kalau begitu, aku akan meninggalkan kalian berdua. Masih ada banyak hal yang perlu kuurus,” katanya sambil mengerling penuh arti pada Vrey sebelum meninggalkan kamar.
Vrey langsung tahu, Rion akan menyelidiki tentang Aelwen.
“Jadi,” kata Aelwen tibatiba, “sepertinya Rion sudah menceritakan segalanya padamu.”
Vrey mengangguk. “Yeah. Maaf aku melibatkanmu dalam semua ini.”
Aelwen tersenyum. “Jangan bilang begitu. Kita melakukan semua ini bersamasama, kan?”
Untuk sesaat Vrey merasa perutnya bagai dihantam. Aelwen terus bersamanya melalui semua ini, bahkan mempertaruh kan nyawanya demi menyelamatkan Vrey. Tapi kenapa Aelwen menyimpan rahasia darinya? Apa Aelwen tidak memercayainya? Vrey buruburu mengendalikan emosinya. “Ngomong ngomong ... dari mana saja kau?” tanyanya.
Aelwen tersenyum. “Aku mengambil ini dari tempat seorang pengrajin.” Dia merogoh ke dalam tas kain kecil yang dibawanya dan mengeluarkan isinya, sehelai baju.
Sekilas baju itu terlihat seperti baju biasa, tapi setelah Vrey mengamatinya, dia tertegun. Bahannya bukan dari kain katun atau sutra, melainkan sesuatu yang berkilau, seolaholah hidup dan disatukan oleh benang yang menyala bagai api. Jubah Nymph!
“Astaga,” desis Vrey. “Aku bahkan sudah lupa dengan benda ini.” Dia nyaris tidak bisa berkatakata. Gemetaran, Vrey meraih Jubah Nymph dan memeriksanya. Benda itu sempurna sekali, berkilau bagai pelangi, sungguh luar biasa. Lebih dari apa yang pernah dibayangkannya. “Tapi, bagaimana caranya?”
Aelwen menjelaskan. “Selama kau tidak sadar, aku dan Rion sibuk berkeliling kota. Kami akhirnya menemukan seorang pengrajin buta yang bisa mengubah bulu Burung Api menjadi gulungan benang, yang kemudian digunakan untuk menjahit Jubah Nymph. Sisa benangnya kugunakan untuk membayar tabib, jasa Rion, dan penginapan ini.”
Selama beberapa menit, Vrey terus mengamati jubah di tangannya. Dia masih belum sepenuhnya memercayai semua yang dialaminya beberapa minggu terakhir. Meninggalkan Mildryd, mencuri amulet di Rilyth Lamire, kemudian bertemu Rion, dan memburu Burung Api. Pencariannya akan Jubah Nymph sudah membawanya ke tempat yang amat jauh dan mempertemukannya kembali dengan orang yang paling ingin dilupakannya.
Vrey tertunduk lemas. “Kita sudah nggak bisa pulang ke Mildryd, ya?”
“Kenapa begitu?” Aelwen mengerutkan alisnya.
“Menurutmu mereka nggak sadar aku sudah mencuri bros
itu?” tanya Vrey. “Kalau mereka tahu kita masih hidup, Mildryd adalah tempat pertama yang akan dituju Valadin! Kalau kita kembali, kita hanya akan membahayakan temanteman kita di sana.”
Aelwen duduk di sampingnya. “Tapi, mereka tidak mungkin berani berbuat seperti itu, kan? Maksudku Mildryd itu ramai, apa mungkin mereka akan membuat keributan di tempat seperti itu?”
Vrey mengangkat bahu. “Kau lihat sendiri apa yang mereka lakukan di dalam gua itu, kan? Bahkan menurutku, Magus yang bernama Eizen itu nggak akan ragu menghanguskan seluruh Mildryd demi mendapatkan bros itu sekaligus melenyapkan saksi mata.”
Aelwen mencoba menenangkan Vrey. “Mungkin tidak perlu sampai seperti itu,” katanya. “Kita hanya harus menyingkir sementara dari Mildryd sampai keadaan lebih tenang.”
“Dan berapa lama itu?” tanya Vrey tajam. “Setahun? Dua tahun? Sepuluh tahun? Mereka Elvar, mereka nggak akan mati kecuali seseorang membunuh mereka! Menurutmu berapa lama sampai mereka nggak memburu kita lagi?”
Aelwen menyentuh pundaknya perlahan, berusaha menghi bur, tapi Vrey sedang tidak ingin dihibur.
“Tinggalkan aku sendiri,” katanya dengan suara parau. Dia memunggungi Aelwen.
“Baiklah. Aku akan ada di bawah kalau kau memerlukanku.” Dia meninggalkan kamar mereka.
Vrey sebenarnya tidak bermaksud mengusir Aelwen seperti itu, tapi dia sudah tidak mampu membendung emosinya lagi. Dia takut air matanya akan tumpah. Vrey tidak mau menangis di depan Aelwen atau siapa pun.
Cahaya mentari senja menerobos masuk dari jendela kamar, membuat seluruh ruangan menyala dengan warna lembayung yang menyakitkan mata.
__ADS_1
Vrey menggigit bibirnya, rasa sakit menyeruak memenuhi dadanya. Tapi dia tidak ingin membiarkan hal itu menguasainya. Vrey kembali mengalihkan tatapannya pada Jubah Nymph yang ada di pangkuannya. Akhirnya dia memperoleh harta yang diidamidamkannya. Tapi untuk mendapatkannya, dia harus menukarnya dengan semua yang berarti bagi dirinya.