THER MELIAN: CHRONICLE

THER MELIAN: CHRONICLE
Episode 9


__ADS_3

Telinga Laruen berdenging hebat setelah ledakan itu terjadi. Dia terjatuh sangat keras di atas tanah berbatu, bermacam­macam benda berjatuhan menimpa tubuhnya. Lutut dan lengannya sakit setelah membentur tanah. Karth segera membantunya berdiri.



Sedikit terhuyung­huyung, Laruen menoleh ke belakang untuk mencari asal ledakan. Asap hitam tebal mengepul dari balik atap­atap lancip berwarna merah.



“Eizen!” umpat Karth. “Dia bahkan nggak menunggu kita kembali!”



“Itu ulahnya?”



“Siapa lagi?” rutuk Karth. “Ayo, kita harus melanjutkan rencana.” Karth berbalik untuk meninggalkan gang kecil itu.



“Tunggu!” kata Laruen. “Bagaimana dengan dua orang tadi? Kita harus membereskan mereka dan mencari petunjuk untuk mendapatkan kembali Relik Safir!”



“Itu bukan tujuan kita di sini. Kita sudah mencoba meng­ hentikan mereka, tapi gagal. Kau nggak ingin misi utama kita juga gagal, kan?”



“Tapi—” Laruen mencoba membantah.



“Lourd Valadin sudah bilang dia sendiri yang akan mengatasi mereka. Kita harus melanjutkan sesuai rencana,” kata Karth tegas.



“Baiklah,” ujar Laruen terpaksa.



Dia memanggil Peregrine, untunglah elangnya tidak apa­ apa, hanya sedikit terguncang karena ledakan barusan. Burung itu segera hinggap di bahunya.



Laruen menyusul Karth berlari meninggalkan lokasi pertarungan. Tidak lupa dia mengencangkan kembali tudung kepalanya agar tidak dikenali orang. Dia dan Karth segera mendekati asal ledakan—Ateliya milik Putri Ashca yang terbakar dengan hebatnya. Mereka segera menyelinap di antara orang­ orang yang datang karena keributan tadi. Tanpa disadari siapa pun, mereka masuk ke sebuah rumah kosong di ujung jalan. Dari tempat itulah mereka memata­matai Putri Ashca selama beberapa hari terakhir.



Laruen mengambil dua tabung berisi anak panah sementara Karth mendahuluinya menuju halaman belakang. Di sana sebuah lubang menganga sudah menunggu mereka. Dahulu sekali, sepertinya lubang itu adalah sumur dan terhubung dengan saluran bawah tanah yang melintas di dasar kota. Dengan sihirnya, Eizen telah memanipulasi batu­batu penutup lubang dan membuatnya terbuka kembali.



Karth melompat turun, Laruen segera menyusul. Dia me­ rasakan kakinya mendarat di genangan air setinggi lutut. Bau pengap dan jamur memenuhi penciumannya begitu dia memasuki saluran air.



Peregrine mengeratkan cengkeraman kakinya di bahu Laruen, tidak merasa nyaman berada di bawah tanah seperti ini. Laruen mengelus lembut tengkuk Peregrine untuk menenangkannya. Dia dan Karth berjalan maju ke depan selama beberapa menit, lalu berhenti di sebuah saluran besar.



Eizen sudah menunggu mereka, bersamanya ada seorang gadis berambut hitam. “Lama sekali kalian,” sambutnya. “Dan coba kutebak, kalian gagal menangkap para pencuri itu?”



Laruen menjawabnya dengan tajam. “Kami hampir berhasil,” jawabnya kesal. “Tapi kau sudah mulai duluan tanpa kami!”



Eizen tertawa. “Aku, kan, sudah bilang aku akan mulai sesuai waktu yang dijadwalkan, dengan atau tanpa kalian. Lagi pula, misi kita bukan untuk mencari Vrey, melainkan menaklukkan Templia Undina.”



“Tapi mereka tepat di depan mata kami!” sahut Laruen gusar. “Mereka memasuki Ateliya yang kita amati. Dan kau ingin aku mengacuhkan mereka begitu saja?”



“Iya,” jawab Eizen enteng. “Valadin sudah mengatakan dia yang akan menangani masalah Vrey. Misi kita adalah mendapatkan Relik Elemental. Lagi pula, kau pikir aku tidak tahu tujuanmu yang sebenarnya? Aku dengar pembicaraanmu dengan Valadin hari itu. Aku tahu kau cemburu pada saudarimu karena Valadin lebih memperhatikannya. Kau ingin mengejar mereka hanya untuk melampiaskan kemarahanmu saja, kan?”



Tidak ada yang menyadari saat tangan Laruen tahu­tahu melayang menampar wajah Eizen, termasuk Laruen sendiri. “Kau boleh mengataiku sesukamu,” katanya. “Tapi jangan pernah menyebut pencuri rendah itu saudariku. Aku tidak punya saudari seperti dia!”



Karth menengahi. “Cukup,” hardiknya. “Kalian bisa terus berdebat atau melanjutkan misi!” Dia mengalihkan perhatian­ nya pada gadis berambut hitam yang bersama Eizen.



“Nah, Putri Ashca, tolong tunjukkan pada kami jalan menuju Naian Mujdpir,” ujar Karth dalam Bahasa Granville, tapi sepertinya Putri Ashca paham.



“Kalian ingin pergi ke Naian Mujdpir?” tanya Putri Ashca. Dia terlihat cukup tenang untuk orang yang baru saja diculik dan menyaksikan setengah blok jalanan meledak. “Untuk apa? Aku tidak akan membiarkan kalian menghancurkan istana seperti kalian menghancurkan Ateliyaku. Lagi pula kalau ingin ke sana, kalian seharusnya lewat sungai, bukan lewat saluran ini.”



“Kami tahu tentang jalan rahasia di saluran ini,” kata Karth.



“Kami hanya ingin pergi ke bagian bawah Naian Mujdpir, kami tidak berniat menyakiti siapa pun di sana.”



“Aku tidak akan mengantar kalian, apa pun yang akan kalian katakan,” kata Putri Ashca. “Tempat itu adalah istana dan kuil suci bangsa kami!”



Laruen mendelik. “Sebelum nenek moyangmu tiba di tem­ pat ini, seluruh sungai dan lembah ini adalah milik kami! Apa kau tidak sadar kalian telah membangun istana di atas Templia kami?”



Putri Ashca mengernyit. “Kalau kau mengatakan hal­hal sepenting ini padaku, sepertinya kalian tidak berniat mem­ biarkanku hidup setelah ini. Lalu untuk apa aku mengantar kalian? Lebih baik kalian bunuh saja aku di tempat ini.”



Eizen mengacungkan tongkatnya ke atas mereka dan menyerukan sesuatu. “Erumptio!”



Sebuah ledakan dahsyat terjadi tepat di belakang Laruen, meruntuhkan dinding dan atap saluran air. Laruen dan Karth terempas ke depan, Peregrine mengepak­ngepakkan sayapnya dan menjerit panik.



Laruen berdiri pelan­pelan sambil menyingkirkan debu dan batu­batu kecil yang berjatuhan ke kepalanya. Dia menoleh ke belakang. Lorong di belakangnya—tempat dia dan Karth datang tadi—kini remuk redam. Langit­langitnya runtuh, menyisakan asap hitam dan awan debu yang terus menyebar. Ledakan itu pasti luar biasa besar, Laruen yakin seluruh blok kota yang ada di atas lorong juga ikut hancur.



Karth melotot ke arah Eizen. “Apa yang kau lakukan?” tanyanya gusar.



“Cuma pertunjukan kecil,” jawab Eizen. “Dan untuk mene­ gaskan pada tamu kita. Setiap kali dia menolak menunjukkan jalan menuju Naian Mujdpir, aku akan menghancurkan satu blok kota di atas kita, dan begitu terus sampai dia mau bekerja sama.”


__ADS_1


Karth berdiri dan menghampiri Putri Ashca. Gadis itu tampak luar biasa terguncang. “Nah, Tuan Putri, Anda sudah melihat sendiri apa yang bisa dilakukan temanku, kusarankan Anda menurut dan bekerja sama dengan kami.”



Putri Ashca menghela napas pelan. “Baiklah, aku akan mengantar kalian, tapi tolong beri tahu aku apa yang kalian inginkan di sana?”



Eizen sudah akan mengacungkan tongkatnya lagi, tapi kali ini Karth berhasil mencegahnya.



“Kami tidak bisa memberitahukannya pada Anda,” kata Karth. “Yang jelas, akan semakin banyak orang yang terluka kalau Anda terus menunda­nunda, jadi mulailah berjalan.”



Putri Ashca mengangguk. “Aku mengerti,” katanya lirih. “Tapi aku butuh cahaya. Aku tidak bisa melihat dalam kegelapan seperti ini.”



Eizen menyentak ringan tongkat sihirnya dan membuat beberapa bola api kecil yang berputar­putar mengitari mereka. Cahaya api memantul di sepanjang dinding saluran dan permukaan air. Beberapa ekor tikus yang sebelumnya ada di dekat mereka mencicit dan lari saat bola api Eizen menerangi mereka.



Tanpa bicara lagi, Putri Ashca berjalan. Laruen dan teman­ temannya mengikuti tepat di belakangnya.



Setelah berjalan beberapa saat, terowongan itu semakin me­ nyempit. Mereka harus berjalan satu per satu untuk melewati­ nya. Laruen berjalan paling depan, Putri Ashca mengikutinya, sedangkan Karth dan Eizen mengawal di belakang.



Dari beberapa lubang kecil di bagian atap saluran, air kotor merembes masuk ke bawah. Tidak ada cahaya di dalam saluran air, kecuali api yang dibuat Eizen.



Saat sampai di sebuah pertigaan, Putri Ashca berhenti, lalu mendongak ke atas. Laruen mengikuti arah pandangannya. Dia melihat di langit­langit saluran terdapat pahatan yang membentuk tulisan. Pahatan itu ditorehkan begitu dalam agar tak lekang dimakan waktu.



Laruen mengerutkan alisnya. “Apa itu?”



“Ini teka­teki,” jawab Putri Ascha. “Kami, keluarga Kerajaan Lavanya, sudah menghafal ratusan teka­teki ini dan mengetahui jawaban yang tepat untuk setiap pertanyaannya.”



“Jadi jawaban yang tepat menunjukkan jalan yang benar?” tanya Laruen lagi.



“Betul.” Putri Ashca berjalan mendahuluinya dan masuk ke lorong yang paling kanan.



“Tapi kalau semudah itu, artinya siapa pun yang bisa mem­ baca bahasa kalian bisa melewati saluran ini dengan aman?”



Putri Ashca menggeleng. “Teka­teki ini tidak ada jawaban pastinya, semua jawaban bisa benar. Yang penting adalah mengetahui jawaban mana yang tepat untuk menuju arah yang kita inginkan. Satu jawaban bisa membawa kita ke istana sementara jawaban lain membawa kita semakin jauh ke luar kota, atau bahkan jalan buntu.”



Eizen mendorong punggung Putri Ashca dengan ujung tongkatnya. “Dan aku yakin kau cukup cerdas untuk tidak membawa kami ke luar kota, apalagi jalan buntu!” ancamnya serius. “Ayo, percepat sedikit langkahmu!”



Sayup­sayup, Laruen bisa mendengar aliran sungai yang deras dari atas mereka. Sekarang dia yakin Putri Ashca membawa mereka ke arah yang benar. Mereka sedang melewati terowongan di bawah sungai.




Akhirnya mereka tiba di sebuah lorong panjang yang tidak bercabang. Lorong itu menurun curam, mereka harus melangkah dengan sangat hati­hati agar tidak terseret air.



Setelah menuruni lorong, mereka akhirnya tiba di sebuah ruangan bundar beratap tinggi, mungkin sekitar tujuh sampai delapan meter di atas kepala Laruen. Dari dinding ruangan, beberapa lubang mengucurkan air tanpa henti yang membawa serta dedaunan kering dan berbagai macam benda kecil lainnya. Sepertinya di atas mereka terdapat semacam kolam.



Walaupun air terus mengalir, tapi ketinggian air di dalam ruangan bundar itu tidak melebihi lutut Laruen. Dia langsung mengetahui penyebabnya ketika melihat dua belas saluran air di sekeliling ruangan. Saluran itu cukup besar, kira­kira setinggi orang dewasa.



Eizen berjalan sampai ke tengah ruangan. “Templia Undina berada tepat di bawah kaki kita, aku bisa merasakannya.”



“Bagaimana kita akan turun?” tanya Laruen dengan alis berkerut.



Eizen mengangkat tongkatnya, dan sedetik kemudian air berhenti mengalir dari lubang­lubang di atas kepala mereka.



Laruen menyadari genangan air yang ada di dasar ruangan terbelah dan terangkat ke atas. Air merambat dari dinding lalu membentuk semacam kubah di atas kepalanya. Eizen menggerakkan tongkatnya lagi. Tiba­tiba lantai batu di bawah kaki Laruen terbuka. Mereka semua jatuh ke dalamnya, bersamaan dengan air yang tiba­tiba mengalir kembali.



Mata Laruen langsung beradaptasi, dia masih bisa melihat sekelilingnya walaupun sedang meluncur di antara derasnya air. Mereka meluncur di dalam gua bawah tanah, lorongnya alami, bukan buatan manusia. Batu­batunya hitam, kasar, dan berkerut­kerut, serta dipenuhi lumut yang berpendar dalam kegelapan.



Aliran air yang deras membawa mereka melewati lorong yang amat panjang. Beberapa kali mereka berbelok, menukik naik dan turun sebelum akhirnya berakhir di sebuah lorong vertikal.



Laruen melihat ruangan besar tepat di bawah lorong, air mengempasnya ke bawah. Dia terjun dengan cepat dan tercebur ke sebuah kolam yang berair dalam. Laruen menendang­ nendang air untuk kembali ke permukaan. Begitu kepalanya menyembul di atas air, dia melihat Peregrine mengapung­apung tak jauh darinya. Burung itu menggepak­ngepakkan sayapnya sambil memekik dengan suara keras, jelas tidak suka dijatuhkan



ke air dengan cara seperti itu.



Laruen berenang ke tepi, membawa serta Peregrine dengannya. Dia melihat Eizen dan Karth, yang memegangi Putri Ashca, sudah berada di tepian kolam.



Susah payah dia memanjat keluar, batuan licin berlumut di tepian kolam menyulitkannya, apalagi dia juga harus membawa Peregrine yang masih meronta­ronta liar. Tapi dia berhasil naik. Dia baru saja akan memaki Eizen, tapi pria itu mendahuluinya. “Jangan mengeluh,” sela Eizen. “Itu satu­satunya cara masuk ke tempat ini.”



Laruen kesal bukan kepalang, tapi tidak bisa berkata apa­ apa. Dia melepas jubah Chamaelnya yang basah kuyup lalu mengamati sekelilingnya. Ruangan itu besar, dinding­dinding­ nya yang tinggi dan melengkung ditumbuhi berbagai macam lumut dan jamur yang bersinar kebiruan. “Di mana kita sekarang?” tanyanya.



Eizen menunjuk sesuatu di dinding gua yang letaknya tak jauh dari mereka. “Kita ada di pintu masuk Templia.”



Laruen takjub sampai ternganga. Dia tidak memperhatikan tempat yang ditunjuk Eizen sebelumnya. Di situ ada sebuah lubang seperti mulut gua yang sangat besar, mungkin sekitar sepuluh meter tingginya. Lubang bundar itu sebenarnya biasa saja andai tidak ada dinding air yang menutupinya.

__ADS_1



Walaupun permukaan dinding airnya tampak begitu te­ nang, Laruen tidak dapat melihat apa yang ada di baliknya. Sebaliknya, seluruh isi ruangan tempat Laruen berada terpantul di sana bagai sebuah cermin besar. Dinding air itu begitu biru. Laruen baru sadar lumut dan jamur yang tumbuh di ruangan ini bercahaya kebiruan karena pantulan cahaya dari dinding air itu.



Mereka berjalan mengitari kolam dan menuju dinding air. Baru saat itulah Laruen menyadari ada enam patung menempel di mulut gua, yang terdiri dari tiga pasang Elvar pria dan wanita. Masing­masing terlihat seolah sedang berpelukan. Selain rona kulit mereka yang kebiruan, mereka tampak seperti hidup. Wajah mereka yang rupawan tampak pucat dengan mata terpejam erat. Karth mengamati mereka. “Ini bukan patung,” katanya.



“Siapa mereka?”



“Mereka para Gardian yang menjaga Templia ini,” jawab Eizen. “Saat penduduk Lavanya mendirikan istana di tempat ini, mereka mengorbankan diri untuk menyegel jalan masuk menuju Templia agar tidak ada Manusia yang bisa memasukinya. Mereka menggunakan jiwa mereka untuk menciptakan dinding air abadi ini. Tubuh mereka terus hidup, terperangkap dalam wujud patung batu itu.”



Laruen menyentuh salah satunya. Patung wanita itu terasa dingin, permukaannya licin tapi tak berlumut. Seluruh tubuh, pakaian, dan rambutnya mengeras seperti batu. Posisinya—be­ serta seorang Elvar pria yang mungkin merupakan partnernya— melengkung bagai tengah tertidur sambil bepelukan. Tapi me­ reka tertidur dalam keadaan berdiri dan menempel di dinding batu. Mendadak Laruen merasa ngeri, dia tidak bisa memba­ yangkan apa yang dialami para Gardian ini. “Tapi kalau me­ reka menyegel pintu masuk, artinya kita juga tidak bisa masuk?” tanyanya.



Eizen melangkah ke dinding air. “Manusia tidak bisa. Tapi Gardian yang tahu caranya bisa.”



Karth mengikuti Eizen ke depan cermin air. “Aku dan Eizen akan masuk untuk menghadapi ujian dari penjaga Templia.” katanya. “Kau tinggal di sini. Kau boleh menggunakan kekerasan



kalau tawanan kita berusaha lari. Tapi jangan membunuhnya, kita mungkin masih membutuhkannya untuk menunjukkan jalan keluar.”



“Aku mengerti,” ujar Laruen. “Kami semua mengandalkan kalian. Tapi kalau keadaan menjadi terlalu berbahaya, jangan memaksakan diri, cepatlah keluar.”



Karth mengangguk. Eizen mengisyaratkan Karth untuk berdiri menghadap cermin air sebelum dia mengayunkan tongkatnya.



Cermin air bersinar luar biasa terang, Laruen harus memicingkan matanya. Samar­samar dia melihat sosok Karth dan Eizen melangkah maju dan masuk ke dalam cermin air. Seiring dengan lenyapnya sosok mereka, cahaya itu pun padam.



***



Leighton mengikuti Desna menyusuri lorong, tapi langkah mereka terhenti saat tiba di sebuah bagian lorong yang runtuh.



Desna menghantamkan tinjunya keras­keras ke reruntuhan di hadapan mereka. “Sial!” desisnya. “Ledakan itu membuat langit­langit runtuh di beberapa tempat. Mustahil untuk melewati selokan ini sekarang!!”



“Apa kita bisa memutar lewat jalan lain?” tanya Leighton. “Bisa,” jawab Desna. “Tapi saat kita tiba di sana, mereka pasti sudah terlalu jauh dan kita akan tersesat dalam saluran ini. Hanya Putri Ashca yang tahu rute aman melewati selokan ini.”



“Kalau memang begitu, kenapa kita tidak mencegat mereka dari dalam Naian Mujdpir?” usul Leighton. “Kalau saluran ini terhubung ke sana, pasti ada jalan masuk dari dalam istana,



kan?”



“Kau benar, tapi aku bisa saja salah. Bagaimana kalau mereka tidak menuju ke sana?” tanya Desna ragu.



“Itu harapan kita satu­satunya,” kata Leighton. “Kurasa kita harus mempertaruhkan kemungkinannya.”



Untuk sesaat Desna masih ragu. Dia menggigit bibirnya sambil mengetuk­ngetukkan jarinya ke dinding. “Baiklah,” katanya akhirnya. “Kembali ke atas, kita ke Naian Mujdpir!”



Leighton akhirnya keluar dari saluran air. Dia menarik tubuhnya ke atas dari lubang di tengah jalan sambil menghirup udara segar. Tapi dia tidak bisa bersantai, Desna sudah memimpin mereka menuju kanal. Ada beberapa perahu yang ditambatkan di sana. Dia melompat naik ke salah satu perahu, dan Leighton mengikutinya. Dengan cekatan, Desna melepas tali penambat dan mulai mengayuh, tidak memedulikan teriakan dan caci­ maki pemilik perahu di dermaga.



Mereka menyusuri kanal­kanal air di sepanjang kota selama beberapa menit. Tak lama kemudian, kapal mereka berbelok dan tiba di sebuah kanal besar. Sebuah dinding yang amat tinggi menjulang di ujung kanal. Itu merupakan dinding yang memisahkan Sungai Yami dengan kanal­kanal di kota.



Di bagian tengah dinding terdapat sebuah gerbang besar yang terbuat dari logam. Di dekat gerbang itu, Leighton melihat machina bergerigi besar. Beberapa prajurit berjaga di pos yang terletak di atas dinding.



Desna memberi isyarat kepada para prajurit. Mereka me­ mutar sebuah roda besi besar di pos jaga mereka. Decitan logam yang beradu membahana dan memenuhi pendengaran Leighton. Gerigi besi yang ada di machina di dekat gerbang bergerak seiring dengan terbukanya gerbang.



Kanal sepanjang sepuluh meter menyambut mereka di balik gerbang. Kanal itu dikelilingi dinding yang amat tinggi. Di ujung kanal ada gerbang lain. Desna mengayuh kapalnya ke dalam kanal. Beberapa prajurit yang mendapatkan kapal menyusul masuk sebelum gerbang kembali menutup.



Lubang­lubang air yang ada di dinding di sekitar mereka terbuka, air sungai memenuhi kanal kecil itu. Setelah tinggi air nyaris mengisi setengah tinggi kanal, barulah gerbang di depan mereka terbuka. Sekarang Leighton bisa melihat Sungai Yami terbentang di depannya.



Perahu kecil yang dikemudikan Desna melesat di depan saat mereka berlayar menuju Naian Mujdpir. Pulau buatan tempat berdirinya Naian Mujdpir dikelilingi tembok kokoh dengan gerbang tinggi besar berwarna merah. Saat perahu Desna mendekat, gerbang itu perlahan terbuka, sepertinya juga digerakan oleh machina. Leighton merasa sangat kecil saat mereka berlayar melewatinya.



Di dalam gerbang terdapat kanal raksasa. Ada ratusan kapal yang ditambatkan di dermaga­dermaga kayu di sepanjang kanal. Mereka berhenti di salah satu dermaga kosong. Dari sana, Leighton dan Desna menaiki serangkaian anak tangga sebelum mencapai sebuah tembok tinggi. Mereka berhenti di depan sebuah pintu gerbang berwarna jingga yang dipenuhi ornamen.



Desna memberi isyarat kepada para penjaga di atas tembok untuk menjalankan machina yang akan membuka pintu. Gerbang menjeblak terbuka, di hadapan mereka terbentang alun­alun yang amat luas.



Batuan pipih berwarna putih melapisi seluruh alun­alun. Halaman luas di kedua sisinya dipenuhi pepohonan hijau yang rimbun. Di tepian alun­alun terdapat rumah­rumah besar dan beberapa kuil. Di kota kecil itulah para bangsawan dan keluarga Kerajaan Lavanya tinggal.



Desna melesat ke depan menuju tembok ketiga. Para prajurit jaga di atas tembok membukakan gerbang saat melihat kehadirannya. Dan gerbang yang dipenuhi ukiran emas itu pun terbuka.



Istana utama Naian Mujdpir terbentang di hadapan Leighton, dipisahkan oleh pelataran panjang yang amat luas. Pelataran itu dipenuhi para bangsawan dan pejabat istana yang sekadar berjalan­jalan atau hendak menuju bagian lain istana. Setiap jengkalnya dijaga ketat oleh para prajurit. Istananya sendiri dibangun di atas undakan yang amat tinggi. Atapnya berbentuk lancip dengan warna merah menyala dan disangga ratusan pilar kayu yang dipenuhi berbagai macam ukiran.



Mereka terus berjalan hingga tiba di bagian tengah pelataran, tempat terdapat sebuah kolam bundar. Ada patung bunga tera­ tai di tengah kolam dan air mengalir dari kelopak patung bu­ nga itu. Air di dalam kolam sangat jernih dan luar biasa terang. Leighton mendekati kolam untuk melihat bagian dasarnya yang ternyata dilapisi cermin besar. Cermin itu memantulkan cahaya matahari, membuat seluruh kolam terlihat amat terang.



Desna melompat masuk ke dalam kolam dan berdiri tepat di atas cermin. Dia mencabut kedua belatinya dan berjalan mengitari kolam sambil mengetuk­ngetuk permukaan kaca dengan kakinya seolah mencari sesuatu. Saat dia menemukan apa yang dicarinya, dia memutar kedua belatinya bersamaan dan kemudian menghantamkan gagangnya keras­keras sampai kaca itu hancur berkeping­keping.

__ADS_1


__ADS_2