
Bel sudah menandakan akhir dari semua jam pembelajaran,
seperti biasa Adelia selalu pulang lebih akhir dengan harapan kakek lingga
menemuinya. Namun setelah ditunggu hampir 15 menit tak kunjung menemui akhirnya
Adelia memutuskkan untuk kembali pulang.
Sampai di rumah, Adelia langsung membersihkan diri dan bersiap untuk membantu
ibu untuk mencari ubi di ladang. Ditemani Anom, mereka bertiga berjalan santai
menuju ladang.
Ladang yang berada di bawah lereng gunung kawai memiliki lahan yang tidak
terlalu besar, namun dengan lahan peninggalan dari ayah adelia yang sudah 8
tahun terakhir ini pergi secara tiba” cukup untuk memenuhi kebutuhan dari 3
orang tersebut.
Yahh, ayah Adelia merupakan seorang petani muda yang lahir dan tumbuh di lereng
gunung kawai ini. Ayah Adelia memiliki nama pak Cakra.
kembali ke masa lampau
"Kamu mau kemana mas ?" – tanya bu lina
"seperti biasa bu, sudah saatnya untuk mengecek aliran irigasi diatas sana,
sepertinya banyak matrial tanah dan batuan yang sudah menyumbat pipa" – jawab
pak cakra (sambil menyembunyikan niat tujuanya pergi)
"namun apakah tidak bisa ditunda dulu mas, cuaca lagi tidak bersahabat aku takut
terjadi apa sama kamu mas" - ajak bu
lina ( entah kenapa hari itu perasaanku menjadi sangat was” dan khawatir )
__ADS_1
"tak apa bu, lagian aku sudah terbiasa melewati gunung ini, gunung ini sudah
menjadi rumah keduaku setelah rumah ini bu, tak apa tak usah khawatir doakan
aja agar tidak ada marabahaya" – kata pak cakra seraya menenangkan
"hemmm" – helaan nafas bu lina menandakan kekawatiran yang tidak seperti hari hari
biasanya
"ibu tak perlu khawatir ya, bapak nanti di persimpangan desa akan ditemani
beberapa warga kok biar lebih cepat pengecekanya" – alasan pak cakra dia takut
untuk berkata jujur tujuan aslinya
Setelah meminta restu kepada istrinya pak cakra berjalan mendekati adelia
kecil yang sedang tidur di dekapan ibunya.
"Jadi anak yang baik ya nak, doakan bapak selamat dan bisa menyaksikan kamu
tumbuh menjadi anak yang baik untuk orang lain" – kata pak cakra sambil menicum
"aku jalan dulu ya bu, kamu harus tetap sehat dan aku titip Adelia" – lanjut pak
cakra
"Iya mas, hati hati doaku selalu menyertaimu" – kata bu lina sambil memeluk pak cakra
dengan air mata yang berlinang
sore itu, disaksikan megahnya awan gunung kawai pak cakra mulai berjalan keluar
dari rumahnya dan berjalan menujuu jalan setapak ke arah puncak gunung, setelah
cukup yakin keberadaanya jauh dari perkampungan, akhirnya pak cakra langsung
bermeditasi untuk membuka gerbang gaib. Hari itu memang adalah hari terakhir
pak cakra harus kembali ke dimensi asalnya, karena waktu yang sudah habis mau
__ADS_1
gamau pak cakra harus pulang walaupun meninggalkan keluarga kecil yang selama
ini sangat disayanginya.
Setelah bermeditasi cukup lama akhirnya pak cakra bisa masuk ke lingkungan
kerajaan yang selama ini ditinggalkanya, perlahan dia berjalan menyusuri jalan
setapak hingga ada lorong kecil yang dipenuhi dengan cahaya putih. Pak cakra
masuk secara perlahan hingga ada seseorang yang menepuk pundaknya dari
belakang, ketika ia menoleh kebelakang tiba tiba ....
"Akhirnya engkau siuman kakang" – peluk karna kepada
cakra
"kemana ayahanda dan ibunda dik ?" – tanya pak cakra
"sebentar lagi kesini kang, sudah kuperintahkan dayang untuk menyampaiakan kabar
kakang sudah siuman" – jawab kurna
Seluruh orang di ruangan besar tersebut merasakan rasa haru melihat pangeran
dari kerajaan bratabuana siuman dari tidur panjangnya selama lebih dari 8 tahun
lamanya.
"akhirnya engkau sadar anakku, jangan bangun dulu anakku berbaringlah dulu
keadannmu masih dalam pemulian" – peluk sang ayah baginda raja Dwi prabu arya
"ibunda dimana yah ? kenapa tidak bersamamu ?" – tanya pak cakra gelisah
"istirahatlah dulu nak, keadaanmu masih lemah. Ayah akan pergi sebentar, nanti
ketika kondisimu sudah membaik banyak hal yang ingin ayah sampaikan padamu
putraku" – jawab sang raja selepas itu beliau memerintahkan kepada para pelayan
__ADS_1
istana.