
“KALIAN SEMUA RAKYATKU, TERIMAKASIH ATAS KEHADIRAN KALIAN SEMUA TERIMAKASIH
JUGA ATAS PANJATAN DOA YANG TIADA HENTI KEPADA PUTRAKU PANGERAN CAKRA BUANA
SELAMA DIRINYA SAKIT PANJANG DAN HARI INI KALIAN BISA LIHAT PANGERAN CAKRA
BUANA SUDAH SEMBUH SEPERTI DULU, DAN SIAP UNTUK MEMBANTUKU UNTUK MENGABDIKAN
KEPADA KALIAN SEMUA RAKYATKU. HARI INI AKU MENGUNDANG KALIAN SEMUA SEBAGAI
WUJUD RASA TERIMAKASIHKU, SILAHKAN MENIKMATI HIDANGAN YANG SUDAH DISEDIAKAN” –
Titah Sang Raja
Seluruh rakyat Bratabuana tampak bahagia malam itu, beberapa dari mereka
tampak menyalami dan memberikan pelukan serta senyuman kepada sang pangeran.
Hal itu membuat Sang Raja tampak bahagia.
selain rakyat dan beberapa pejabat istana yang sedang berbahagia, disisi lain
ada seseorang yang begitu tampak memberikan tatapan sinis. Itu adalah karna,
adik satu”nya dari pangeran Cakra Buana. Karna merupakan anak dari selir
Anjayani yang terlebih dulu meninggal ketika ibunya melahirkan Karna.
"Apa yang kau pikirkan Karna ?" - tanya paman Patih Aji laksono
"paman Patih pasti lebih penyebab aku terlihat seperti ini kan ? - jawab Karna kesal
"Baiknya bertindaklah seperti biasanya nak, jangan biarkan adanya kecurigaan"
– perintah paman Patih
__ADS_1
"Baik paman, aku akan coba seperti biasa. Aku akan menemui pangeran dulu" –
jawab karna
Di sudut lain ruangan, pangeran nampak terharu mendapatkan perlakuan dari
rakyatnya, di antara banyaknya manusia yang berada di depanya sekilas netra pak
cakra mendapatkan satu sosok yang tak asing.
"Terimakasih sudah mau datang bibi ratih ?" -tanya pangeran Cakra
"Hehe siapa yang tidak mau datang melihat seorang pangeran sudah sehat kembali,
lagian aku juga ingin menyaksikan anak dari permaisuri sekar arum yang selama
kecil aku asuh" – jawab bibi Ratih
"hehe, bibi gimana kabarnya ? kenapa sudah tidak berada di istana lagi bi ?" –
"panjang ceritanya pangeran, aku tidak bisa bercerita untuk saat ini. Kapan kapan
datanglah ke gubuk reotku ada banyak hal yang ingin aku sampaikan kepadamu" –
jawab bibi Ratih seraya
"baik bi" – jawab pak Cakra
“oh iya bi, bibi datang bersama siapa?” – tanya sang pangeran
“oh iya bibi hampir lupa, perkenalkan ini keponakkan bibi namanya Mentari
pangeran” – jawab bibi
“selamat atas kesembuhanya pangeran Cakra Buana” – salam Mentari sambil
__ADS_1
menundukkan kepala”
“terimakasih Mentari, dan tausah mendudukan kepala sepertii itu” – jawab pangeran
cakra sambil berjabat tangan dengan Mentari
“bibi, menginaplah sejenak di istana bi. Sudah sangat lama aku tidak bertemu
dengan bibi Ratih” – ajak pangeran Cakra
“hehe lain kali ya nak, bibi ada beberapa urusan yang tidak bisa bibi
tinggalkan” – penolakan halus dari bibi Ratih (andai tidak ada orang itu nak,
bibi pasti dengan senang hati menemanimu) batin bibi Ratih
“yaudah bibi, kalau memang demikian. Tp saya bolehkan secepatnya bermain ke
rumah bibi ?” tanya pangeran Cakra
“dengan senang hati pangeran” – jawab bibi
Acara berlangsung begitu meriah, banyak pertunjukkan yang ditunjukkan oleh rakyat dan
para pelayan dari istana. Acara dimulai mulai petang hingga tengah malam hari,
tanpa terasa waktu sudah memasuki puncak acara. Terlihat sudah banyak rakyat
yang sudah mulai kembali ke rumah masing”. Tak hanya rakyat, para pejabat dan
sang raja sudah tampak tidak terlihat di aula kerajaan, namun berbeda dengan
pangeran Cakra Buana. Mulai awal acara sampai akhir acara, pangeran Cakra buana
masih setia menemani rakyat maupun pejabat istana untuk sekedar basa basi
__ADS_1
ngobrol maupun memberikan hiburanda rajanya.