Tiada Akhir Dari Sebuah Perjalanan

Tiada Akhir Dari Sebuah Perjalanan
PERAYAAN


__ADS_3

“KALIAN SEMUA RAKYATKU, TERIMAKASIH ATAS KEHADIRAN KALIAN SEMUA TERIMAKASIH


JUGA ATAS PANJATAN DOA YANG TIADA HENTI KEPADA PUTRAKU PANGERAN CAKRA BUANA


SELAMA DIRINYA SAKIT PANJANG DAN HARI INI KALIAN BISA LIHAT PANGERAN CAKRA


BUANA SUDAH SEMBUH SEPERTI DULU, DAN SIAP UNTUK MEMBANTUKU UNTUK MENGABDIKAN


KEPADA KALIAN SEMUA RAKYATKU. HARI INI AKU MENGUNDANG KALIAN SEMUA SEBAGAI


WUJUD RASA TERIMAKASIHKU, SILAHKAN MENIKMATI HIDANGAN YANG SUDAH DISEDIAKAN” –


Titah Sang Raja


Seluruh rakyat Bratabuana tampak bahagia malam itu, beberapa dari mereka


tampak menyalami dan memberikan pelukan serta senyuman kepada sang pangeran.


Hal itu membuat Sang Raja tampak bahagia.


selain rakyat dan beberapa pejabat istana yang sedang berbahagia, disisi lain


ada seseorang yang begitu tampak memberikan tatapan sinis. Itu adalah karna,


adik satu”nya dari pangeran Cakra Buana. Karna merupakan anak dari selir


Anjayani yang terlebih dulu meninggal ketika ibunya melahirkan Karna.


"Apa yang kau pikirkan Karna ?" - tanya paman Patih Aji laksono


"paman Patih pasti lebih penyebab aku terlihat seperti ini kan ? - jawab Karna kesal


"Baiknya bertindaklah seperti biasanya nak, jangan biarkan adanya kecurigaan"


– perintah paman Patih

__ADS_1


"Baik paman, aku akan coba seperti biasa. Aku akan menemui pangeran dulu" –


jawab karna


Di sudut lain ruangan, pangeran nampak terharu mendapatkan perlakuan dari


rakyatnya, di antara banyaknya manusia yang berada di depanya sekilas netra pak


cakra mendapatkan satu sosok yang tak asing.


"Terimakasih sudah mau datang bibi ratih ?" -tanya pangeran Cakra


"Hehe siapa yang tidak mau datang melihat seorang pangeran sudah sehat kembali,


lagian aku juga ingin menyaksikan anak dari permaisuri sekar arum yang selama


kecil aku asuh" – jawab bibi Ratih


"hehe, bibi gimana kabarnya ? kenapa sudah tidak berada di istana lagi bi ?" –


"panjang ceritanya pangeran, aku tidak bisa bercerita untuk saat ini. Kapan kapan


datanglah ke gubuk reotku ada banyak hal yang ingin aku sampaikan kepadamu" –


jawab bibi Ratih seraya


"baik bi" – jawab pak Cakra


“oh iya bi, bibi datang bersama siapa?” – tanya sang pangeran


“oh iya bibi hampir lupa, perkenalkan ini keponakkan bibi namanya Mentari


pangeran” – jawab bibi


“selamat atas kesembuhanya pangeran Cakra Buana” – salam Mentari sambil

__ADS_1


menundukkan kepala”


“terimakasih Mentari, dan tausah mendudukan kepala sepertii itu” – jawab pangeran


cakra sambil berjabat tangan dengan Mentari


“bibi, menginaplah sejenak di istana bi. Sudah sangat lama aku tidak bertemu


dengan bibi Ratih” – ajak pangeran Cakra


“hehe lain kali ya nak, bibi ada beberapa urusan yang tidak bisa bibi


tinggalkan” – penolakan halus dari bibi Ratih (andai tidak ada orang itu nak,


bibi pasti dengan senang hati menemanimu) batin bibi Ratih


“yaudah bibi, kalau memang demikian. Tp saya bolehkan secepatnya bermain ke


rumah bibi ?” tanya pangeran Cakra


“dengan senang hati pangeran” – jawab bibi


Acara berlangsung begitu meriah, banyak pertunjukkan yang ditunjukkan oleh rakyat dan


para pelayan dari istana. Acara dimulai mulai petang hingga tengah malam hari,


tanpa terasa waktu sudah memasuki puncak acara. Terlihat sudah banyak rakyat


yang sudah mulai kembali ke rumah masing”. Tak hanya rakyat, para pejabat dan


sang raja sudah tampak tidak terlihat di aula kerajaan, namun berbeda dengan


pangeran Cakra Buana. Mulai awal acara sampai akhir acara, pangeran Cakra buana


masih setia menemani rakyat maupun pejabat istana untuk sekedar basa basi

__ADS_1


ngobrol maupun memberikan hiburanda rajanya.


__ADS_2