Tiada Akhir Dari Sebuah Perjalanan

Tiada Akhir Dari Sebuah Perjalanan
KEPANIKAN


__ADS_3

“Paman paman, gawat paman” – teriak Karna di


depan pintu masuk ruangan patih


“Ada apa karna ada apa, masuk dulu masuk dulu” – jawab sang patih sambil


menutup pintu


“Ini minum dulu karna, setelah itu kamu bicara” – lanjut sang patih


“Kakang paman, dia ingin mencari tau sumber kematian ibundanya. Aku takut semua


ini terbongkar” – suara Karna


“Tenang karna, aku sudah menduga hari ini akan terjadi. Tp yang terpenting kita


harus tenang” – jawab sang patih sambil menhela nafas panjang


“Aku akan menghubungi lubang hitam, biar mereka mengikuti kemana perginya


pangeran itu kalau perlu biar mereka habisi nyawanya” - lanjut sang patih


“Lakukan yang terbaik paman, jangan sampai rahasia besar ini terbongkar” - pinta


Karna


“tenang anakku, aku akan selalu menjadi orang yang paling membantumu” - lirih


sang patih


“tumben paman memanggilku anak” – tanya Karna


“oh, karena kamu anak raja jadi sudah kuanggap anakku sendiri Karna” – jawab


sang patih sambil menyembunyikan sesuatu

__ADS_1


“baiklah paman, kalau begitu aku akan menemui ayahanda” – kata Karna


“baiklah, sampaikan pesanku. Katakan aku akan mengujungi adikku untuk beberapa


hari” – perintah sang paman


“baik paman” – kata Karna sambil berlalu pergi


*kembali ke masa lalu pangeran Cakra Buana awal di jatuhi hukuman*


“Cakra ..... ! ikut ayahanda kita bicara di dalam kamar pribadi ayah dan ibumu


!!!” - perintah Sang Raja


“Baik ayah” -  jawab pangeran Cakra sambil menundukkan kepala


“Ada apa ini kanda, kenapa raut wajahmu mengisyaratkan sebuah kemarahan besar?” - tanya permaisuri arimbi


“Bagaimana aku tidak marah, anakmu ini sudah mencoreng nama besar kerajaan”  - jawab sang raja


“Mohon maaf ibunda dan ayahanda, saya sama sekali tidak pernah melakukan


tindakan keji seperti yang ayahanda tuduhkan” - elak sang pangeran


“Sebenarnya ada masalah apa anakku” -  tanya permaisuri sambil menggandeng


putranya untuk duduk diatas ranjang


“Kamu tau Cakra, atas perbuatanmu ini nama baik ayahmu ini tercoreng dan yang


paling penting akan terjadinya gejolak dari berbagai macam golongan yang


menganggap ayahmu ini tidak becus mengurus istana !” - hardik sang raja


“tapi yah .... “ - sanggahan sang pangeran

__ADS_1


“Cukup CAKRA ! sekarang kamu siapkan barang”mu, aku akan menentukan hukuman


yang harus kamu jalani” - hardik sang raja sambil berlalu pergi


“kanda, apa tidak bisa di bicarakan dulu” tanya sang permaisuri namun tidak ada


jawaban dari sang prabu


“Tak apa ibunda, aku rela menjalani hukuman ini demi kebaikan ayah dan kerajaan.


Ibunda jangan bersedih, aku akan baik baik saja” - suara sang pangeran coba


menenangkan ibundanya


“Hiks hiks hiks, nak berjanjilah kamu akan cepat untuk kembali kesini lagi. Ibu


tidak bisa jauh lama lama darimu” - jawab sang permaisuri sambil air mata jatuh


membasahi pipinya


“Baik ibunda, hamba meminta doa restunya” - kata sang pangeran sambil mencium


kaki ibunya


“Ibunda akan selalu merestui di setiap langkahmu nak, semoga ini adalah awal


yang baik dari perjalanan Cakra Buana anakku” - jawab sang permaisuri


Nama Pangeran Cakra Buana menjadi topik perbincangan hampir di setiap masyarakat yang bermukim di kerjaaan Bratabuana, mereka tidak menyangka jika sang pangeran yang selama ini dikenal sangat merakyat dan


sangat dekat dengan rakyat bisa melakukan tindakan yang bergitu keji. Ia dituduh melakukan persekutuan dengan iblis hitam dengan menumbalkan banyak sekali hewan ternak milik warga, memang sang pangeran dari kecil telah


menguasai ilmu kanuragan serta ilmu Ghoib namun tuduhan itu sangat tidak berdasar dan membuat Kerajaan Bratabuana geger. tanpa mereka sadari, di balik tuduhan keji tersebut ada seorang yang sedang


tertawa puas merayakan keberhasilanya.

__ADS_1


__ADS_2