
“Paman paman, gawat paman” – teriak Karna di
depan pintu masuk ruangan patih
“Ada apa karna ada apa, masuk dulu masuk dulu” – jawab sang patih sambil
menutup pintu
“Ini minum dulu karna, setelah itu kamu bicara” – lanjut sang patih
“Kakang paman, dia ingin mencari tau sumber kematian ibundanya. Aku takut semua
ini terbongkar” – suara Karna
“Tenang karna, aku sudah menduga hari ini akan terjadi. Tp yang terpenting kita
harus tenang” – jawab sang patih sambil menhela nafas panjang
“Aku akan menghubungi lubang hitam, biar mereka mengikuti kemana perginya
pangeran itu kalau perlu biar mereka habisi nyawanya” - lanjut sang patih
“Lakukan yang terbaik paman, jangan sampai rahasia besar ini terbongkar” - pinta
Karna
“tenang anakku, aku akan selalu menjadi orang yang paling membantumu” - lirih
sang patih
“tumben paman memanggilku anak” – tanya Karna
“oh, karena kamu anak raja jadi sudah kuanggap anakku sendiri Karna” – jawab
sang patih sambil menyembunyikan sesuatu
__ADS_1
“baiklah paman, kalau begitu aku akan menemui ayahanda” – kata Karna
“baiklah, sampaikan pesanku. Katakan aku akan mengujungi adikku untuk beberapa
hari” – perintah sang paman
“baik paman” – kata Karna sambil berlalu pergi
*kembali ke masa lalu pangeran Cakra Buana awal di jatuhi hukuman*
“Cakra ..... ! ikut ayahanda kita bicara di dalam kamar pribadi ayah dan ibumu
!!!” - perintah Sang Raja
“Baik ayah” - jawab pangeran Cakra sambil menundukkan kepala
“Ada apa ini kanda, kenapa raut wajahmu mengisyaratkan sebuah kemarahan besar?” - tanya permaisuri arimbi
“Bagaimana aku tidak marah, anakmu ini sudah mencoreng nama besar kerajaan” - jawab sang raja
“Mohon maaf ibunda dan ayahanda, saya sama sekali tidak pernah melakukan
tindakan keji seperti yang ayahanda tuduhkan” - elak sang pangeran
“Sebenarnya ada masalah apa anakku” - tanya permaisuri sambil menggandeng
putranya untuk duduk diatas ranjang
“Kamu tau Cakra, atas perbuatanmu ini nama baik ayahmu ini tercoreng dan yang
paling penting akan terjadinya gejolak dari berbagai macam golongan yang
menganggap ayahmu ini tidak becus mengurus istana !” - hardik sang raja
“tapi yah .... “ - sanggahan sang pangeran
__ADS_1
“Cukup CAKRA ! sekarang kamu siapkan barang”mu, aku akan menentukan hukuman
yang harus kamu jalani” - hardik sang raja sambil berlalu pergi
“kanda, apa tidak bisa di bicarakan dulu” tanya sang permaisuri namun tidak ada
jawaban dari sang prabu
“Tak apa ibunda, aku rela menjalani hukuman ini demi kebaikan ayah dan kerajaan.
Ibunda jangan bersedih, aku akan baik baik saja” - suara sang pangeran coba
menenangkan ibundanya
“Hiks hiks hiks, nak berjanjilah kamu akan cepat untuk kembali kesini lagi. Ibu
tidak bisa jauh lama lama darimu” - jawab sang permaisuri sambil air mata jatuh
membasahi pipinya
“Baik ibunda, hamba meminta doa restunya” - kata sang pangeran sambil mencium
kaki ibunya
“Ibunda akan selalu merestui di setiap langkahmu nak, semoga ini adalah awal
yang baik dari perjalanan Cakra Buana anakku” - jawab sang permaisuri
Nama Pangeran Cakra Buana menjadi topik perbincangan hampir di setiap masyarakat yang bermukim di kerjaaan Bratabuana, mereka tidak menyangka jika sang pangeran yang selama ini dikenal sangat merakyat dan
sangat dekat dengan rakyat bisa melakukan tindakan yang bergitu keji. Ia dituduh melakukan persekutuan dengan iblis hitam dengan menumbalkan banyak sekali hewan ternak milik warga, memang sang pangeran dari kecil telah
menguasai ilmu kanuragan serta ilmu Ghoib namun tuduhan itu sangat tidak berdasar dan membuat Kerajaan Bratabuana geger. tanpa mereka sadari, di balik tuduhan keji tersebut ada seorang yang sedang
tertawa puas merayakan keberhasilanya.
__ADS_1