
“tenanglah di alam sana Anjayani, akan aku pastikan putra kita menjadi Raja besar di Kerajaan Bratabuana ini” gumam sang patih
Patih Aji Laksono merupakan patih sekaligus sahabat dari raja Dwi prabu arya, mereka bersahabat dari kecil sampai tumbuh menjadi seorang remaja yang memiliki ilmu kanuragan serta ilmu strategi politik tingkat tinggi. Mereka berdualah yang membawa harum nama Kerajaan Bratabuana sampai seantero Nusantara.
Selir anjayani merupakan kekasih dari Patih Aji Laksono, seorang selir yang dilahirkan dari rahim permaisuri dari kerajaan Galuh ranci. Sebuah kerajaan yang besarnya dibawah 3 tingkat dari Kerajaan Bratabuana. Selir Anjayani mengenal Patih Aji laksono sudah cukup lama, persahabatan dari 2 insan manusia yang memiliki kasta berbeda. Dari hanya bersahabat menjadi ikatan cinta.
Patih Aji laksono merupakan anak dari adipati pilang arum yang berada dibawah kerajaan Galuh rinci, pertemuan sang patih dengan sang raja bermula saat mereka bertemu di hutan belantara saat berburu. Dari pertemuan singkat itulah, mereka bersahabat sampai tumbuh menjadi orang dewasa.
namun takdir mengatakan lain, Dari kecil sang raja sudah dijodohkan dengan Selir anjayani. Walaupun Sang raja sudah memiliki permaisuri namun ia tidak bisa menolak permintaan dari mendiang kedua orangtuanya, walaupun dengan terpaksa mereka akhirnya menikah.
sebuah pernikahan yang tidak didasari oleh cinta inilah yang membawa malapetaka untuk keberlangsungan hidup dari Kerajaan Bratabuana. Selir anjayani sama sekali tidak memiliki rasa kepada suaminya, nama Ajilaksono masih sangat melekat di hatinya. Apalagi, pernikahan tersebut bersamaan dengan pengangkatan Aji Laksono sebagai Adipati puncak wengi di kerajaan Bratabuana.
walaupun sudah memiliki status yang berbeda, namun hubungan selir anjayani dan Adipati Aji laksono masih tetap berlanjut sampai di suatu malam hal yang tidak seharusnya terjadi akhirnya terjadi.
dendam yang dimiliki Aji laksono membuat ia gelap mata, dan berniat untuk merebut tahta dari sahabatnya Raja Dwi Prabu arya. Walaupun bukan ia yang menggantikanya, namun dengan adanya selir Anjayani ia harap Penerusnyalah yang akan menggantikan posisi sang baginda raja. Karena siasat dendam itulah, langkah pertama yang harus diambil Patih Aji adalah menyingkirkan Pangeran Cakra buana yang dianggap tameng untuk menyingkirkan permaisuri Arimbi.
__ADS_1
Di dalam aula kerajaan, Pangeran dihadapkan di depan baginda raja Dwi Prabu Arya dengan disaksikan pula Pejabat tinggi kerajaan. Pangeran Cakra Buana dinyatakan bersalah dan sebagai hukumanya mulai hari itu juga Pangeran Cakra Buana dilarang menginjakkan kaki di istana kerajaan selama 8 tahun.
*KEMBALI KE PERTEMUAN PANGERAN DAN SANG RAJA*
Pangeran Cakra Buana tampak mematung lama di hadapan pintu ruangan pribadi sang raja. Bayangan masa lalu saat dirinya difitnah dan diusir tiba” melintas di fikiranya dan membuat perasaan bersalah kepada Ibundanya semakin menjadi jadi.
“aku janji akan menemukan penyebabnya ibu, Istriahatlah dengan tenang” gumam Pangeran Cakra sebelum memasuki ruangan
“ayahanda, saya mohon menghadap” – suara pangeran membuyarkan lamunan sang raja
“saya mohon maaf, jika pagi pagi sekali saya sudah mengganggu ayahanda. Saya sudah bertemu degan tabib wisnu dan sudah menemukan informasi kemanakah saya harus memulai menyelidiki kasus kematian ibunda” – penjelasan sang pangeran
“terus apa rencanamu nak ?” – tanya sang raja
“kalau ayahanda mengijinkan, hari ini juga saya akan mulai mengembara ke desa cempoko arum” – jawab sang pangeran
__ADS_1
“hemmm, kamu mau berjanji kepada ayahanda untuk segera kembali lagi ?” – tanya sang raja
“saya janji ayahanda, setelah selesai semuanya saya akan kembali lagi dan membantu ayahanda untuk mengurus kerajaan kembali” – jawab sang pangeran meyakinkan
“baiklah anakku, jika memang hal itu harus ditempuh berangkatlah restu dan doa ayahmu ini selalu menyertaimu” – jawab sang raja sambil memeluk putranya
“oh iya, kamu berangkat bersama siapa ? aku akan utus 10 prajurit untuk mengawalmu” – lanjut sang raja
“tak usah ayah, saya ingin berangkat sendiri. Dan lagi saya tidak mau perjalanan saya nanti membawa dampak kecurigaan rakyat maupun musuh yang saya lagi selidiki” – jawab sang pangeran
“karna juga sudah saya suruh untuk menemani ayahanda, selama saya pergi” – lanjut sang pangeran
“baiklah, berangkatlah anakku” – restu sang raja (kamu memang calon penerusku yang hebat anakku, analisis dan strategiku menurun kepadamu) gumam sang raja
“baik ayah, saya pamit” - pamit sang pangeran
__ADS_1