Tiada Akhir Dari Sebuah Perjalanan

Tiada Akhir Dari Sebuah Perjalanan
AWAL PENYELIDIKAN


__ADS_3

Matahari menyingsing di ufuk timur tanah nusantara, Pangeran yang sudah beranjak bangun mulai berjalan


sambil memperhatikan pelayan istana kerajaan memulai aktifitas. Hari ini


pangeran berniat untuk memulai penyelidikan kasus yang mengakibatkan ibundanya


meningal, hal pertama pangeran akan menemui Tabib kerajaan.


"Selamat pagi tabib Wisnu" – salam pangeran Cakra sambil membungkukkan badan ke arah tabib wisnu yang sedang berdiri ditaman kerajaan.


"Selamat pagi pangeran, ada apa gerangan pagi pagi pangeran


menemui saya ?" tanya tabib yang nampak keheranan


"Ada beberapa hal yang ingin saya


sampaikan kepada tabib, ini mengenai tentang kematian ibunda" – jawab sang


pangeran


"Hemmm" – hembusan nafas panjang sang tabib sebelum memberikan jawaban


"Ayo ikuti aku ke ruangan pangeran, tidak baik bicara hal sepenting ini disini" – ajak sang tabib


sesampaiinya di ruangan si tabib


"Permaisuri sakit tidaklah lama pangeran,hanya 3 bulan. Namun banyak kejanggalan yang saya rasakan begitu pula dengan ayahanda pangeran. Namun sampai saat ini saya masih belum menemukan jawaban pasti


tentang penyakitnya permaisuri pangeran.


"hufft" – hembusan nafas panjang kembali keluar dari nafas sang tabib menandakan perkataan yang sangat berat akan dia katakan


"namun pangeran .... "– lanjut sang tabib yang sedikit menjeda kalimatnya


"namun kenapa tabib" ? – tanya sang pangeran

__ADS_1


"Saya curiga, kematian permaisuri ini bukan penyakit biasa. Saya curiga penyakit


permaisuri ini sengaja diciptakan oleh orang lain karena gejalanya mirip


sekali dengan teluh namun lebih ganas" – jawab sang tabib


"Apa yang tabib utarakan benar adanya ? kalau memang benar harus kemanakah saya


mencari tau kebenaran itu ? dan kalau memang itu benar saya sendiri yang akan


membalaskanya !" – geram sang pangeran


"Hemmmm" – sang tabib nampak berfikir


"Coba tabib temui dayang Ratih yang dulu setia menemani permaisuri dan pernah


mengasuh pangeran, setau saya dayang Ratih memiliki saudara yang mempunyai ilmu


seperti itu" – jawab sang tabib


bertemu beliau namun saya lupa menanyakan rumahnya" – tanya pangeran


"Dia tinggal di desa Cempoko Arum pangeran, terletak 3 desa dari pusat kerajaan.


Pangeran jalanlah ke selatan" – jawab sang tabib


"baik tabib, saya undur diri saya akan berkemas untuk mencari keberadaan dayang


ratih. Terimakasih atas petunjuknya" – hormat sang pangeran kepada sang tabib


setelah menemui tabib, pangeran berniat untuk menemui ayahanda guna


mengutarakan maksudnya untuk pergi sementara dari kerajaan. Namun di tengah


perjalanan ke ruangan pribadi sang raja, pangeran dikejutkan dengan kehadiran

__ADS_1


adiknya Karna.


"Darimana kakang,tumben pagi” kakang sudah berada di luar istana" – tanya sang adik sambil turun dari kuda


"Oh, aku dari ruangan tabib Wisnu dik. Ada beberapa hal yang harus aku tanyakan


mengenai kematian ibu permaisui "– jawab sang pangeran


"Oh, terus apakah kakang menemukan sesuatu informasi ?" – tanya sang adik dengan


wajah yang cemas


"Ada dik, ini aku mau menemui ayahanda untuk meminta ijin berkelana beberapa


hari. Selama aku pergi, kamu bantu ayahanda untuk mengurus kerajaan ini dan


jangan sampai ada keributan" – perintah sang pangeran


"baik kang, namun sebaiknya apa aku ikut kakang aja ? lagian kondisi kakang juga


belum pulih 100%" - jawab sang adik


"Tak usah Karna, kamu tetap bersama ayahanda saja temani beliau mengurus


kerajaan"– jawab sang pangeran


Karna mencoba untuk terlihat tenang di hadapan


kakaknya, walaupun dalam hatinya terus berdebar keringat dingin pun terus


mencoba untuk memberontak lewat pori” tubuhnya, setelah pertemuanya dengan


kakaknya karna langsung bergegas menuju ruangan patih untuk membicarakan soal


ini.

__ADS_1


__ADS_2