
Matahari menyingsing di ufuk timur tanah nusantara, Pangeran yang sudah beranjak bangun mulai berjalan
sambil memperhatikan pelayan istana kerajaan memulai aktifitas. Hari ini
pangeran berniat untuk memulai penyelidikan kasus yang mengakibatkan ibundanya
meningal, hal pertama pangeran akan menemui Tabib kerajaan.
"Selamat pagi tabib Wisnu" – salam pangeran Cakra sambil membungkukkan badan ke arah tabib wisnu yang sedang berdiri ditaman kerajaan.
"Selamat pagi pangeran, ada apa gerangan pagi pagi pangeran
menemui saya ?" tanya tabib yang nampak keheranan
"Ada beberapa hal yang ingin saya
sampaikan kepada tabib, ini mengenai tentang kematian ibunda" – jawab sang
pangeran
"Hemmm" – hembusan nafas panjang sang tabib sebelum memberikan jawaban
"Ayo ikuti aku ke ruangan pangeran, tidak baik bicara hal sepenting ini disini" – ajak sang tabib
sesampaiinya di ruangan si tabib
"Permaisuri sakit tidaklah lama pangeran,hanya 3 bulan. Namun banyak kejanggalan yang saya rasakan begitu pula dengan ayahanda pangeran. Namun sampai saat ini saya masih belum menemukan jawaban pasti
tentang penyakitnya permaisuri pangeran.
"hufft" – hembusan nafas panjang kembali keluar dari nafas sang tabib menandakan perkataan yang sangat berat akan dia katakan
"namun pangeran .... "– lanjut sang tabib yang sedikit menjeda kalimatnya
"namun kenapa tabib" ? – tanya sang pangeran
__ADS_1
"Saya curiga, kematian permaisuri ini bukan penyakit biasa. Saya curiga penyakit
permaisuri ini sengaja diciptakan oleh orang lain karena gejalanya mirip
sekali dengan teluh namun lebih ganas" – jawab sang tabib
"Apa yang tabib utarakan benar adanya ? kalau memang benar harus kemanakah saya
mencari tau kebenaran itu ? dan kalau memang itu benar saya sendiri yang akan
membalaskanya !" – geram sang pangeran
"Hemmmm" – sang tabib nampak berfikir
"Coba tabib temui dayang Ratih yang dulu setia menemani permaisuri dan pernah
mengasuh pangeran, setau saya dayang Ratih memiliki saudara yang mempunyai ilmu
seperti itu" – jawab sang tabib
bertemu beliau namun saya lupa menanyakan rumahnya" – tanya pangeran
"Dia tinggal di desa Cempoko Arum pangeran, terletak 3 desa dari pusat kerajaan.
Pangeran jalanlah ke selatan" – jawab sang tabib
"baik tabib, saya undur diri saya akan berkemas untuk mencari keberadaan dayang
ratih. Terimakasih atas petunjuknya" – hormat sang pangeran kepada sang tabib
setelah menemui tabib, pangeran berniat untuk menemui ayahanda guna
mengutarakan maksudnya untuk pergi sementara dari kerajaan. Namun di tengah
perjalanan ke ruangan pribadi sang raja, pangeran dikejutkan dengan kehadiran
__ADS_1
adiknya Karna.
"Darimana kakang,tumben pagi” kakang sudah berada di luar istana" – tanya sang adik sambil turun dari kuda
"Oh, aku dari ruangan tabib Wisnu dik. Ada beberapa hal yang harus aku tanyakan
mengenai kematian ibu permaisui "– jawab sang pangeran
"Oh, terus apakah kakang menemukan sesuatu informasi ?" – tanya sang adik dengan
wajah yang cemas
"Ada dik, ini aku mau menemui ayahanda untuk meminta ijin berkelana beberapa
hari. Selama aku pergi, kamu bantu ayahanda untuk mengurus kerajaan ini dan
jangan sampai ada keributan" – perintah sang pangeran
"baik kang, namun sebaiknya apa aku ikut kakang aja ? lagian kondisi kakang juga
belum pulih 100%" - jawab sang adik
"Tak usah Karna, kamu tetap bersama ayahanda saja temani beliau mengurus
kerajaan"– jawab sang pangeran
Karna mencoba untuk terlihat tenang di hadapan
kakaknya, walaupun dalam hatinya terus berdebar keringat dingin pun terus
mencoba untuk memberontak lewat pori” tubuhnya, setelah pertemuanya dengan
kakaknya karna langsung bergegas menuju ruangan patih untuk membicarakan soal
ini.
__ADS_1