
Satu minggu setelah kedatangan Tristan di Kanada tempat yang
menjadi sejarah perjalanan hidupnya yang penuh drama.
"Tristan, Hari ini kamu ke kantor kan? om minta tolong
antar Lea ya, om ada meeting sebentar lagi."
"Iya om, Nanti aku yang antar sekalian searah kok"
"Baiklah, Terimakasih nak."
"sama-sama om, oh yah Om aku mau pindah nanti sore aku
udah dapat apartemen dekat dengan kantor jadi aku ingin pindah ke sana bukan
karena tidak nyaman hanya saja aku masih butuh waktu om" Hendrick yang
mendengar itu sebenarnya tidak setuju tetapi dia juga tidak terlalu berhak atas
kehidupan Tristan
"Baiklah sayang om tak masalah tapi kamu harus janji
untuk sering berkunjung."
"Terimakasih banyak om"
***
Tristan pun mengantar Lea ke kampus.
"Lea, tidak bisa kah kau lebih cepat lagi?"
"sebentar"
"Sebentar mu itu sudah melebihi menunggu nenek-nenek
melahirkan Lea"
"Tristan berisik" kata Lea marah
Hana yang mendengar perdebatan itu hanya bisa menggeleng
kepala nya
"Ma, Lea berangkat. Nanti gak pulang ya nginap di
__ADS_1
tempat Neta"
"Neta atau Hans?"
"Hehehe, mama tenang saja gak macam-macam kok percaya
deh."
"Tante kami berangkat ya"
"Hati-Hati sayang" kata Hana dan menunggu mobil
itu menghilang dari pandangan nya.
***
Belum lagi sampai di depan pintu kampus Lea sudah sangat
heboh untuk menurunkan dia.
"Tristan, turunkan aku cepat."
"Lea ini bukan tempat pemberhentian"
"Aku bilang berhenti" yang membuat Tristan hanya
"Makasih Tristan"
Dia langsung keluar, berlari mengejar seseorang itu. Saat sedang Tristan melihat itu entah kenapa
perasaan nya jadi hancur.
Hancur karena dia bahkan tak mengenali Tristan, Selama ini
dia hanya bisa memantau Neta dari jauh. Memandang foto saja, seharusnya sekarang
dia bisa saja datang untuk menjumpai Neta tetapi ia belum siap apalagi setelah pertemuan mereka di bandara minggu kemarin.
"Ma, aku rindu pada nya. Tapi aku takut untuk menjumpai dia, aku takut kembali menyakiti dia seperti dulu." gumam Tristan dengan sangat sedih. Ia pun melajukan mobilnya menuju kantor.
***
"Neta, Tunggu" Kata seseorang sambil berlari menuju seseorang yang berhenti itu
"Lea bisakah kau sehari saja tak berteriak?"
"Maafkan aku Neta, aku terkadang lupa punya mlu jika itu menyangkut dirimu"
__ADS_1
"Terserah"Kata Neta cuek dan kesal.
"ihkkkk Neta nyibelin, Hans aku dicuekin sama Neta" adu Lea kepada Hans
"Gak masalah dong sayang, yang penting itu kamu gak cuekin aku." Kata Hans yang datang menjumpai mereka.
"Tuh kan aku malas melihat kalian berdua." Kata Neta semakin kesal
"Baiklah, maafkan kami berdua,Neta nanti siang kita jalan ke mall yuk, Buat acara miggu depan."
"Emang ada acara apa minggu depan?"
"Ya ampun Neta,Minggu depan itu ada acara amal dan acara kali ini sangat penting dan kita harus datang karena katanya Pemiik kampus akan hadir, Ini itu sejarah banget jadi kita harus datang kamu tau kan katanya Pemilik ampus ini sangat Tampan."
"Ehem... aku masih di sini Lea" kata Hans Cemburu
"Gak usah cemburu, kau tau kan jika hanya kau yang bisa menghadapi aku jadi gak ada gunanya wajah gantengnya."
"I Love you, Baby." sambil mengecup pipi Lea
"Hans malu." katanya manja dan menutup wajah nya pada dada bidang Hans
"Ayolah Lea kau sudah seperti perawan yang baru di perawanin saja" kata Hans dan mencubit Hidung Lea gemas
"Jika kalian tak mau diam juga akan ku hancurkan kaian berdua." Kata Neta jerah pada kedua sahabat nya yang memang otaknya sudah bergeser menurutnya.
"Jadi gimana Neta jadikan kita pergi. Oh aku tak menerima penolakan dan bantahan ya."
"Jadi mengapa harus menanyai pendapat ku jika kau sudah memutuskan? Aku ke kelas dulu ada tugas, Nanti kabari jika mau pergi aku mau ijin dulu ke tempat kerja ku."
"Ok Neta" lalu Neta pergi tanpa membalas percakapan Lea lagi
"Tadi di antar Tristan?" tanya Hans
"Iya, jadi dia sudah jumpa dengan Neta?"
"Aku kurang tau, tapi kemungkinan dia melihat tadi."
"Lea dia pasti sedih apalagi sekarang Keadaan Neta tak megingat dia sama sekali."
"Sudah lah, aku tau jika Tristan itu juga sangat merindukan dia, aku melakukan hal itu karena aku ingin Tristan berjuang jika memang ia betul masih menyimpan rasa pada nya."
"Aku hanya tak ingin Tristan semakin tertekan Lea."
"Jika dia tidak bertindak maka kebahagiaan dia yang sesuangguhnya telah hilang, aku tak ingin dia jadi pengecut selamanya Hans."
"Baiklah sayang jika itu yang baik menurut mu." kata Hans lalu mereka menuju kelas masing-masing.
__ADS_1