
Beberapa saat setelah sadar dan megejah perkataan dari Neta akhirnya Tristan sadar jika Neta sekarang sedang mengejek nya dan entah mengapa dia bahagia karena dapat melihat kembali senyum di wajah nya.
“Apa kamu cukup bahagia di atas kata-kata kasarmu itu wanita batu?”
“Apa kamu bilang wanita batu? Dasar lelaki berwajah Es kamu kira kamu udah merasa paling segalanya karena wajah mu itu?”
“Apa aku kelihatan menarik Wanita batu? Aku tau dan cukup sadar bukan hanya kamu yang mengakui hal itu, Kamu mungikin wanita kesekian yang terkagum-kagum dengan wajah dan tubuh ku ini” Kata Tristan membanggaan dirinya.
Seketika tawa dari Neta pecah sudah bahkan beberapa karyawan yang memang tau tingkah dari bos mereka itu yang sangat jarang tertawa lepas seperti itu sangat terkejut, mereka menjadi bertanya-tanya tentang siapa lelaki itu? Apa hubungan nya dengan Bos mereka yang cantic dan menyeramkan itu? Yang mereka ketahui bos mereka itu tidak pernah mau terlalu beramah tamah dengan pelanggan nya yang kadang membuat dia hanya akan membantu-bantu membersihkan, Walau begitu mereka cukup kagum dengan senyum sang bos yang mereka anggap seperti kakak mereka sendiri bahkan Chika yang sudah cukup lama mengenalnya sangat cukup tersentuh dengan tawa Neta, selama mereka kenal Chika hanya mengenal Neta yang senyum nya selalu di paksakan bahkan hanya di anggap sebagai formalitas.
“Apa kamu bilang?” sambil berusaha menghentikan tawanya dan megerutkan kening nya seakan-akan apa yang diucapka oleh lelaki di depannya ini hanya lah sebuah lelucon.
“Lelaki Rese biar ku beri tahu, tingkat kepercayaan dirimu itu cukup mengagumkan tetapi kamu harus sadar bahwa
kamu bahkan tak sebanding dengan wajah-wajah para artis idolaku.” Kata Neta kembali sambal tertawa terbahak-bahak kembali. Melihat tiada respon dari seseorang yang tidak ada sama sekali akhirnya Neta terdiam
“Maaf tuan saya hanya bercanda, mungkin saya terlalu terbawa oleh suasana”kata Neta merasa bersalah
__ADS_1
“Tiada kata maaf untuk mu, sekarang duduk temani aku” kata Tristan tersadar dari rasa terpesonanya setiap melihat tawa dari Tristan.
“Maaf saya lagi banyak kerjaan.” Kata Neta sudah mulai tidak nyaman dengan keberadaan Tristan.
“Santai saja wanita batu aku tidak akan melakukan hal apa pun yang akan membuat
mu rugi, Baiklah jika kamu keberatan tidak masalah aku akan menunggu mu hingga semua pekerjaan mu selesai."
“APA?” kata Neta terkejut dengan tingkah sosok lelaki tampan di depannya ini. Dia tidak cukup munafik untuk mengatakan jika lelaki di depannya ini sangat tidaklah menarik nyatanya hampir semua wanita yang ada di disini sangat jelas tatapan mengagumkan dari mata mereka bahkan beberapa sesekali mencuri perhatian laki-laki dihadapannya ini dengan terang-erangan namun lelaki di depannya ini seolah sangat biasa saja bahkan tak memperdulikan keadaan yang ada, dan sebenarnya Neta cukup tertarik walau hanya dalam beberapa detik. Namun
itu tidak bertahan lama karena sifat rese dan menyebalkan lelaki ini sudah membuat pandangan Neta menjadi tidak suka.
“Jadi sudah deal aku akan menunggu mu disini.” Kata Tristan dengan santai dan kembali duduk di tempat duduk nya dengan santai sedangkan Neta sudah sangat kesal dengan keadaan yang ada bahkan amarahnya hamper saja meledak jika ia tidak ingat jika sekarang ia masih memakai baju yang sama dengan karyawan lainnya.
“Aku bahkan belum menjawab apa pun”
“Dan aku tidak membutuhkan jawaban apa pun.”
__ADS_1
“Oh….Sh..”
“Berhenti mengumpat Wanita Batu”
Sedangkan Neta yang terlihat begitu kesal meninggalkan Tristan dengan wajah yang sangat merah untuk menahan emosi yang ia rasakan sekarang ini, rasanya stok kesabarannya habis total meghadapi tingkah laku lelaki rese yang ada ia hadapi itu.
“Hei kamu belum menulis pesanan ku” kata Tristan memanggil Neta yang meninggalkan dia dengan senyum yang masih terpampang jelas di wajah nya, seakan menggoda Neta merupakan hal yang sangat menyenangkan sudah berapa tahun dia tidak pernah tersenyum dan untuk hari ini dia sangat bahagia rasanya hatinya yang kosong kini terisi oleh sedikit kehangatan yang Neta beri.
Tak lama setelah itu seseorang yang memakai seragam sama dengan Neta datang ke meja Tristan.
“Ada yang bisa kami bantu pak?”
“Tolong buatkan coffe latte satu dan Dessert nya pudding coklat”
“Maaf pak hari ini kita tidak menyediakan dessert coklat karena ibu Neta sedang dalam keadaan mood yang sedikit kurang baik dan itu ada bukan setiap hari pak.”
“Saya pesan itu dan tidak ada perubahan.” Kata Tristan dengan nada dominasi dan perintahnya yang membuat suasananya jadi sedikit tegang.
__ADS_1
“Baik pak, akan kami laksanakan” kata wanita itu panic karena tatapan tajam dari pelanggan nya itu. Setelah kepergian dari seorang pelayan itu Tristan kembali larut dalam fikiran nya.