Tinta Kelam

Tinta Kelam
3


__ADS_3

Keesokan harinya semua bekerja sebagaimana mestinya.


"Neta, kakak hari ini mau ketempat sepupu kakak katanya dia baru datang minggu kemarin dari luar kota dan lagi kerja disini jadi dia mau jumpa, mungkin kakak akan lama pulang"


"Kak Zura ikut?"


"Iya dek, gak apa-apa kan dek atau kamu mau ikut dek?


"Gak usah lah kak, aku di rumah saja hari ini ada kerjaan"


"Dek sudah berapa kali sih kakak bilang jangan kerja lagi" Kata Aksa kesal pada adik angkatnya itu


"Kak aku kan kerja agar menambah pengalaman saja, kalo aku hanya fokus pada kuliah yang ada restoran nya terlantar kak."


"Iya kakak tau, tapi kakak tak ingin kau sampai ikut menjadi waitterss juga"


"Apa salah nya sih kak jadi pelayan, aku kan jadi lebih banyak teman, sudah deh kita jangan bahas lagi atau aku akan menghubungi mama sekarang juga."


"Ada apa sih? kok pagi-pagi udah pada ribut? Gak ada kegiatan lain lagi?" kata Zura yang baru keluar dari kamar karena perdebatan kakak beradik itu.


"Kak Aksa melarang aku kerja kak, kakak tau kan aku bosan dirumah kalo cuma kuliah."


"Siapa yang larang sih dek? Kakak bukan nya melarang tapi kakak tidak suka jika kamu itu jadi pelayan"


"Tuh kan aku dilarang  Kak Zura."


"Dek, maksud kakak mu itu kan baik, biar kamu gak capek dek, lagi pula kamu jauh dari pantauan kami dek, gimana kalo kamu sakit dan kami lagi di Prancis, siapa yang akan menjaga mu?"

__ADS_1


"Kak aku janji aku gak akan sakit"


"Oke baiklah, memang kekerasan kepala mu tiada tandingan nya." Kata Aksa kesal


"Makasih kak, Kakak yang terbaik"


"Mari hari ini kakak antar"


"Oke, Kak Zura aku berangkat dulu"


"Iya dek, Hati-hati"


Selama perjalanan Aksa dan Neta hanya bercerita tentang Bisnis, dan Aksa sangat senang berbagi dengan Neta karena dia mudah nangkap bahkan banya hal yang Aksa pelajari dari Neta, Neta mirip sekali dengan kedua orang tuanya.


"Dek, apa kamu tak berniat untuk menyembuhkan ingatan mu?"


"Aku tak ingin kak, aku sudah bahagia sekarang dan aku tak ingin menambah beban ku hanya karena masa lalu yang tak pantas"


"Sesekali sih iya tapi sekarang aku lebih suka menyibukkan diri agar sampai rumah aku langsung tidur walau mimpi itu masih kadang sering muncul dan membuat kepala ku sakit, semuanya masih seperti Puzzel yang perlu ku susun dan aku belum siap menerima kenyataan itu." kata Neta seolah hal yang terjadi padanya itu adalah hal yang biasa namun Aksa sudah sangat Khawatir dengan keadaan adik nya itu.


"Kak berhenti mengkhawatirkan aku, aku akan baik-baik saja percayalah."


"Tapi dek...." kata Aksa namun terpotong oleh perkataan sang adik


"Kakak percaya padaku kan jika itu memang sakit aku akan bilang pada kakak, lagi pula tanpa harus ku kasih tau kakak dan orang mama pasti sudah tau terlebih dahulu kan? Jangan kira aku tak tau banyak yang mengikuti aku kak selama ini dan aku tau itu kakak."


"Itu perintah papa, apa kau merasa tidak nyaman biar nanti kakak bilang pada papa."

__ADS_1


"Gak perlu kak, aku sudah gak terlalu peduli dengan kehadiran mereka. Oh yah kak Makasih banyak telah mengkhawatirkan aku bahkan menjaga aku layaknya seorang adik."


"Mengapa harus berterimakasih itu sudah jadi kewajiban ku sebagaimana janjiku pada om Rafa dan Tante Tere untuk menjaga mu hungga kau dapat mencari sendiri kebahagiaan mu." kata Aksa sambil memeluk sang adik. Tanpa mereka sadari seseorang di sebrang sana sedang melihat dan menatap tajam mereka berdua karena kesal marah dan cemburu dengan kedekatan Aksa sepupunya sendiri dengan sang pujaan Hati yang walau pun hana di alam mimpi dan tak akan terwujud.


"Aku duluan ya kak, kakak hati-hati"


***


Saat jam makan siang seseorang yang sedang duduk melamun dalam ruangan VIP salah satu restoran dan sedang menunggu kedatangan Sepupunya yang membuat sampai sekarang ia masih sangat dalam emosi yang Tak terkontrol.


"Tristan"  seseorang datang dan mengejutkan dia namun bukan Tristan namnya jika dia tak bisa menyembunyikan seluruh ekspresinya dengan mimik datarnya


"Apa kau seorang wanita hingga  menunggu mu saja melebihi dari menunggu presiden?"


"Apa kau tak tau jika aku ini anak seorang presiden salah satu perusahaan terbesar di sini?" Kata Aksa kesal namun ia kembali memperhatikan wajah Tristan. Dia sungguh amat tau jika sekarang dia sangat kesal kepada Aksa tapi kapan lagi dapat mengerjain Sepupunya itu


" Maaf tadi tunangan ku masih ada pekerjaan."


"Maaf sayang, tadi aku keasikan cerita sama teman lamaku, Eh kok suasananya tegang banget sih?"


"Biasa sayang ada makhluk tak kasat mata berwujud manusia"


"Ihl Aksa kok nyibelin sih, aku kan jadi takut"


"Sudah, Kenalkan ini Tristan sepupku"


"Hai, Zura Tunangannya Aksa, Wajah mu seperti kata orang sangat datar." kata Zura kesal karena tidak mendapat respon Dari Tristan

__ADS_1


"Tristan" Jawab Tistan setelah cukup lama terdiam


Makan siang itu berlanjut dengan keheningan.


__ADS_2